Connect with us

Smartnews

Serukan Tolak Bayar Pajak Hingga Bikin Surat Wasiat! begini 4 Fakta Klaim Kemenangan Kelima Prabowo-Sandi!

Okti Sulisnia

Published

on

idntimes.com

GIRLISME.COM – Pasangan calon nomor urut 02, Prabowo-Sandi, kembali mengklaim kemenangannya dalam Pilpres 2019. Klaim kemenangan ini adalah klaim kelima yang dilakukan oleh Prabowo-Sandi.

Klaim kelima ini dilakukan oleh Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (BPN) dengan mengatakan bahwa Prabowo-Sandi unggul atas Jokowi-Amin dengan jumlah suara mencapai 54%.

Klaim kemenangan Prabowo-Sandi kali ini dibarengi dengan sejumlah persoalan yang ditimbulkan. Girlisme.com telah merangkum 4 fakta buntut persoalan klaim kemenangan kelima Prabowo-Sandi.

1. Sebut klaim kemenangan 54% ini adalah final, bukan yang 62%

Seword.com

Anggota Dewan Pengarah BPN, Fadli Zon, mengungkapkan bahwa angka perolehan suara Pilpres 2019 sebesar 62% yang dulunya diklaim Prabowo bukanlah hasil final.

“Kan ketika itu bukan dikatakan final. Itu kan dikatakan proses dari (dokumen C1) yang masuk ketika itu 62 persen,” ujar Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

2. Klaim kemenangan kelima dibarengi dengan surat wasiat Prabowo, ini isinya!

idntimes.com

Prabowo Subianto mengatakan bahwa ia akan mengumpulkan ahli hukum untuk membuat surat wasiat.

Isi surat wasiat tersebut kemudian diungkapkan oleh Koordinator Juru Bicara BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. Ia mengatakan bahwa isi suart wasiat tersebut diketahui menyinggung soal kematian.

“Iya memang ada unsur kematian. Demokrasi kita mati,” kata Dahnil di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Rabu (15/5).

3. Ajak masyarakat tolak bayar pajak jika kalah di Pilpres 2019

Merdeka.com

Waketum Partai GerindraArief Poyuono membuat seruan pada masyarakat untuk tidak membayar pajak jika tak terima dengan hasil Pilpres 2019.

“Masyarakat yang telah memberikan pilihan pada Prabowo-Sandi tidak perlu lagi mengakui hasil Pilpres 2019 dengan kata lain jika terus dipaksakan hasil Pilpres 2019 untuk membentuk pemerintahan baru, maka masyarakat tidak perlu lagi mengakui pemerintahan yang dihasilkan Pilpres 2019,” kata Poyuono dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Rabu (15/5/2019).

“Langkah-langkah yang bisa dilakukan masyarakat yang tidak mengakui hasil pemerintahan dari Pilpres 2019 di antaranya tolak bayar pajak kepada pemerintahan hasil Pilpres 2019 yang dihasilkan oleh KPU yang tidak legitimate. Itu adalah hak masyarakat karena tidak mengakui pemerintahan hasil Pilpres 2019,” klaim Poyuono.

4. Sebut Pemilu 2019 banyak kecurangan, kubu Prabowo tak lagi percaya KPU!

Merdeka.com

BPN Prabowo-Sandi mengatakan bahwa telah terjadi kecurangan yang terstruktur sistematis dan masif di Pemilu 2019. Hal tersebut membuat BPN mengatakan bahwa pihaknya sudah tidak percaya dengan perhitungan suara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal ini terbukti dengan ditariknya saksi-saksi BPN yang bertugas mengawal perhitungan suara.

Okti Sulisnia
Content Writer, Books Enthusiast, Public Relations

Beri Komentar

Smartnews

Dituntut 6 Tahun Penjara, Ratna Sarumpaet: Saya Mau Dibuat Stres Seumur Hidup!

Okti Sulisnia

Published

on

Breakingnews.co.id

GIRLISME.COM – Kasus berita bohong Ratna Sarumpaet berakhir dengan tuntutan enam tahun penjara. Pihak jaksa menilai Ratna terbukti bersalah dalam menyebarkan berita bohong terkait penganiayaan. Dalam kasus ini, Ratna diduga telah melanggar pasal pidana yang diatur dalam Pasal 14 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana soal Penyebaran Berita Bohong. Hakim memberikan kesempatan bagi pihak kuasa hukum Ratna mengajukan pembelaan atau pledoi pada Selasa (18/6/2019) mendatang.

“Menuntut terdakwa Ratna Sarumpaet dengan pidana penjara selama enam tahun dikurang selama terdakwa menjalani tahanan sementara terdakwa. Terdakwa Ratna terbukti bersalah melakukan tindak pidana dengan menyiarkan berita bohong dengan sengaja menerbitkan ke masyarakat,” ujar Jaksa Daroe Tri Sadono saat membacakan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (28/5/2019), dikutip dari Kompas.com.

Sebelum dituntut enam tahun penjara, polisi telah mengembangkan kembali kasus hoaks Ratna dengan memeriksa beberapa saksi, salah satunya adalah Hanum Salsabiela Rais yang diperiksa pada Senin (27/5/2019). Ia mengaku stres lantaran kasusnya kembali dikembangkan pihak kepolisian.

“Saya stres. Ya bagaimana, mereka yang memaksakan saya masuk ke kejaksaan dan membuat saya stres lagi. Sekarang saya mau dibuat stres lagi seumur hidup,” kata Ratna di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (28/5/2019).

Content Writer, Books Enthusiast, Public Relations

Beri Komentar

Continue Reading

Smartnews

Heboh tentang Penampakan Pocong Misterius di Pemalang! Polisi Ungkap Fakta Tak Terduga!

nawa

Published

on

By

GIRLISME.COM- Remaja di Kelurahan Mulyoharjo, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, membuat resah warga karena menjadi pocong jadi-jadian.

Remaja berinisial AM (15) tersebut diketahui menakut-nakuti warga yang melintasi jalan Tentara Pelajar di kota Pemalang. Aksi tersebut sering dilakukan AM mulai dari jam selesai tarawih hingga menjelang sahur.

Aksi tersebut membuat masyarakat akhirnya mengadu ke pihak kepolisian. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kapolsek Pemalang Kota AKP I Ketut Mara mengatakan, yang mengatakan bahwa masyarakat mengaku diresahkan oleh penampakan pocong.

“Atas dasar laporan tersebut, unit Reskrim dan Sabhara Polsek Pemalang melaksanakan penyelidikan dan patroli,” kata AKP I Ketut Mara, Senin (27/5/2018), dikutip dari Kompas.com.

Akibat pengaduan tersebut, pihak kepolisian akhirnya melakukan penyelidikan dan patroli yang membuatkan hasil pada minggu (26/5/2019) dini hari sekira pukul 03.00 wib. Saat itu, petugas menemukan penampakan pocong di tepi jalan Tentara Pelajar.

” Pocong tersebut menakut-nakuti petugas, setelah dihampiri, pocong tersebut ternyata seorang pemuda laki-laki yang menggunakan kostum mirip pocong,” tambah Kapolsek.

Setelah ditanya apa alasannya melakukan hal tersebut, AM mengatakan hanya iseng menggunakan kostum pocong untuk menakut-nakuti pengendara yang melintas di jalan tentara pelajar.

Ia kemudian diminta berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut.

“Saya menyesal, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi” ujar AM.

Akibat ulahnya tersebut, AM kemudian dibawa ke Mapolsek Pemalang untuk diberikan pembinaan karena masih di bawah umur.

“Pelaku diberikan pembinaan oleh petugas karena masih dibawah umur,” katanya.

Nadhifah Azhar ; Bandung, 22 April 1998 ; Gunungkidul Yogyakarta ; [email protected]com ; Hobbi : Travelling

Beri Komentar

Continue Reading

Trending