Perempuan Sekolah Tinggi-tinggi?? Kurang Ajar!!!

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Selama ini saya tidak pernah melihat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dalam hal pendidikan. Saya anak terakhir dari tiga bersaudara. Yang pertama laki-laki dan dua sisanya perempuan. Sejak kecil hingga sekarang saya tidak pernah merasakan adanya pilih-plih yang dilakukan orang tua kepada saya, Mbak ataupun Mas dalam hal mengeyam pendidikan. Malahan, semuanya harus sekolah. Harus pintar. Harus sukses. Tanpa ada tapi-tapiannya.

Orang tua saya juga bukan jenis yang akan memaksakan kehendaknya pada anak, walaupun itu mengenai sekolah mana yang akan dipilih, atau jurusan apa yang diinginkan, sampai jenis konsentrasi atau bidang yang nantinya didalami. Hanya saja, mereka akan tetap memberikan saran dan masukannya. Namun selebihnya, tetap ada di tangan kami—anaknya sebagai yang menjalani pendidikan tersebut. Lucky me.

Read More

Jadinya mau belajar apa juga, ya ayo, boleh. Belajar jahit—yaa jahitlah sana. Belajar bela diri—ya boleeh. Belajar masak, iya juga, walaupun banyakan hasilnya yang ‘belum’ enak.

Jadinya kami tidak pernah diberikan definisi mengenai

“Yang itu pelajaran anak laki aja lho. Anak perempuan enggak boleh.”

“Ya ampun, masa anak laki kaya begitu, jangan. Itu punyanya anak perempuan.”

No. Semua bidang, kami diberikan izin untuk mencoba.

Tumbuh di keluarga yang demokratis dalam hal pendidikan ini membuat saya tidak memikirkan mengenai pembedaan atau deskriminasi antara perempuan dan laki-laki, dalam hal ilmu. Barulah setelah kuliah, dan selesai saat ini, mulai terbuka pikirannya karena ternyata mengalaminya secara pribadi.

Baru saya menyadari bahwa mungkin ada benarnya ketika ada yang mengatakan bahwa perempuan lebih senang jika dikenal sebagai Istri penemu, daripada penemu itu sendiri. Lebih bahagia dikatakan dibelakang laki-laki hebat ada perempuan hebat, dibandingkan dengan perempuan hebat yang berdiri sendiri.

Kok bisa ya?

Sebenarnya akar masalahnya luas sih. Adat istiadat, bias agama, hal-hal yang berkaitan dengan norma masyarakat dan sebagai-sebagainya, yang ternyata membentuk karakter laki-laki dan perempuan di Indonesia secara keseluruhan. Yang saya amati, Indonesia tanpa bisa dipungkiri memiliki nilai patriarki yang besar. Yang kemudian masuk ke dalam sistem masyarakatnya, dan hidup dalam pola pikir generasi ke generasinya.

Tapi untuk di tulisan ini, saya akan fokus bahas tentang realita perempuan dan pendidikan yang menjadi kegalauan saya.

Sadar tidak sih, kalau misalnya perempuan yang bersekolah tinggi itu bahkan sampai sekarang masih terlihat aneh?

Contohnya, saya, ketika mengutarakan akan menempuh pendidikan S2, yang menurut saya adalah hal yang sangat biasa di masa sekarang ini. Apalagi di zaman yang universitas sudah dimana-mana, lulusan S1 sudah mirip-mirip lulusan SMA banyaknya. Yakali S2 masih asing? Apalagi di dunia orang-orang yang juga mengenyam pendidikan.

Tapi nyatanya reaksi yang saya dapatkan itu rada asem, kaya ketek enggak kena air seminggu.

Pertanyaannya, emang pernah nyicip ketek?

Oke abaikan.

Ketika saya menyampaikan perihal si S2 ini, kepada beberapa orang, ada 1 reaksi sama yang paling banyak ditunjukkan,

“kalo langsung s2, Trus kapan nikah?”

Yang membuat saya langsuung berada pada zona bingung. Maksudnya, memang apa hubungannya si S2 ini dengan menikah? S2 ya cari ilmu, menikah ya cari pasangan, yang keduanya dalam otak saya bukanlah 2 hal yang saling bunuh. Tapi bisa berjalan beriringan.

“Jangan terlalu tinggi, nanti laki-laki minder, trus enggak ada yang mau deketin.”

Barulah saya sadar bahwa ada sebuah ketimpangan yang sangat jelas tapi juga dianggap sebagai sistem sah yang selama ini ada dan hidup dalam diri masyarakat kita. Yaitu bahwa jika itu laki-laki, maka sah-sah saja jika mereka sekolah sampai S4, STeler SDoger, Sgoreng.

Tidak ada yang akan protes. Tidak akan ada yang menahan. Tidak ada yang mendesak, “Terus kapan nikah?”

Tidak ada yang menakuti, “Nanti kalau kamu ketinggian istrimu minder. Trus enggak ada yang mau jadi istrimu.”

Laki-laki yang berpendidikan tinggi justru dipercaya masyarakat akan semakin mudah mendapatkan istri, dan menjadi kebanggaan keluarga karena aset kepintaran dan kecerdasan otaknya yang sudah terbukti dan teruji secara sertifikat ijazah kelulusan. Dan diyakini akan membawa keluarganya ke kehidupan yang lebih baik.

Pernah tidak kita menyalahkan laki-laki yang berusaha sekolah tinggi? Mana ada. Yang ada justru bangga, mendukung. Wih salut, orangnya kerja keras, pinter, mau nuntut ilmu.

Tapi ketika itu terjadi kepada perempuan, sadarkah bahwa reaksi yang ada malah sebaliknya? Lihat jauh ke dalam diri sendiri apa reaksi yang kita miliki ketika hal ini dipasangkan pada perempuan?

Hal yang terbersit adalah keanehan. Kecanggungan. Hal yang tdak biasa mengenai kenapa perempuan kok perlu sekolah tinggi-tinggi? Tidak ada yang sebegitu mengelu-elukannya jika perempuan dapat gelar master, doctor, professor—yang ada apa? Ngeri. Ih dia ketinggian. Ih dia kepintaran. Ih dia orangnya belajar terus.

Pernahkah kita berpikir begitu kepada laki-laki? Tidak.

Jika laki-laki dianggap membawa kesejahteraan dengan ilmu dan gelarnya yang seabrek. Maka perempuan, semakin tinggi sekolahnya, makan akan diindikasikan sebagai sosok yang nantinya tidak becus dalam keluarganya.

Ketika laki-laki sekolah tinggi, hal melekat ada dirinya adalah dia sendiri secara individual. Ia membawa dirinya sendiri, tanpa ada yang bertanya, “ih kamu S2 sekarang, emangnya sudah bisa adzan yang bagus?” atau “Eh kamu, ngambil S3, emangnya kamu udah bisa pasang genteng sama bikin pondasi rumah tanpa pake mandor? Atau udah bisa belum ngecat rumah yang rapih?”

Namun perempuan, hal yang melekat padanya bukanlah hal individual, namun dia dan keluarganya kelak secara kolektif. Padahal apa? Laki-laki dan perempuan yang sama-sama aka nada di dalam rumah tangga.

Buat apa S3, kalau masak aja gak bisa?

Buat apa S2, kalau rapihin rumah aja gak bisa?

 

Ya, saya tahu bahwa itu dibutuhkan dalam rumah tangga. Tapi mengenyam pendidikan bukan berarti menjadikan perempuan mati kutu, mati rasa, mati hati, dan mati tugas rumah. Camkan itu.

 

Perempuan, selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bahkan bukan dirinya secara penuh. Selalu ada tambahan yang menjadikan dia—mending jangan sekolah aja—tapi belajar aja jadi perempuan rumahan. Karena setinggi apapun kamu sekolah, kalau enggak bisa kasur dan dapur, kamu enggak sukses. Mudah banget ya kayanya memvonis perempuan itu.

Kenapa bisa niat baik menimba ilmu pada perempuan diasosiasikan menjadi hal yang begitu negatif di masa depan? Sedih sekali rasanya.

Pernah tidak sih kita membebankan hal-hal yang spesifik begitu kepada laki-laki?

Pernah tidak kita menyambungkan pendidikannya sebagai salah satu faktor ketidakbecusannya sebagai kepala keluarga kelak, dan sebagai ayah?

No. Kenapa?

Karena kita berpikir, masih berpikir jika perempuan belum layak mengenyam pendidikan setara laki-laki. Karena itulah. Si ilmu. Si gelar tadi, jika diberikan kepada perempuan, maka akan lebih banyak ruginya.

Tulisan ini saya peruntukkan juga kepada laki-laki di luar sana. Laki-laki yang begitu takut dengan perempuan yang tengah mengejar mimpi melalui sekolah dan pembelajarannya. 

Refrensi dari mana yang mengatakan bahwa perempuan yang bersekolah dengan tekun, untuk mengembangkan dirinya akan selamanya menjadi perempuan pembangkang, kurang ajar yang nantinya tidak becus menghormati suami?

Pendamping seperti apa yang kalian inginkan, jika yang mau memperbaiki diri melalui ilmu saja dianggap ngeri?

Apakah kalian yakin bahwa sebuah rumah tangga dan keluarga cukup hanya dengan istri yang sadar bumbu masakan tapi pusing minum puyer jika diajak membicarakan politik, masa depan dan konspirasi?

Kepada laki-laki ini, saya sampaikan, bahwa kalian tidak berhak membatasi perempuan yang bahkan belum kalian miliki. Kalian tidak berhak mengatai kami (perempuan) akan memiliki masa depan sebagai istri yang gagal dan tidak sopan hanya karena gelar di belakang nama kami.

Saya sungguh berpikir bahwa sekolah, belajar, apapun itu adalah satu-satunya cara untuk menyiapkan diri. Dunia ini keras, broh. Dan tolong diperbaiki pikiran yang menganggap bahwa  gelar adalah hal yang mutlak, yang merupakan urutan strata seseorang menjadi lebih tinggi. Jika terfokus pada ini, maka kalian akan susah untuk menghargai proses pencapaian ilmu itu sendiri.

Dan apakah kalian serius tidak ingin pendamping yang membekali diri dengan ilmu, sehingga kedepannya kalian, dan anak-anak kalian akan bisa memiliki sumber-sumber pemikiran dan cara pandang yang lebih baik?

Jika kalian memiliki waktu untuk memenuhi diri kalian. Ke sana-ke mari mencoba banyak hal dengan alasan pengalaman dan ilmu pengetahuan. Maka, perempuan pun  hukumnya sama. Mencukupi dirinya sendiri secara individu, sebelum kalian datang dan bertanggungjawab atasnya. Perempuan berhak atas dirinya sendiri secara penuh, sama seperti laki-laki.

 

Tulisan ini juga saya peruntukkan kepada perempuan-perempuan di luar sana. Jangan takut untuk belajar lagi. Menambah ilmu dan memperbaiki kualitas diri adalah hal yang harus, wajib, dan hukumnya tidak pernah bisa diwakilkan. Jangan pernah terbawa pemikiran bahwa perempuan cerdas akan sulit mendapatkan jodoh, yang kemudian menjadikan kita urung melengkapi diri sendiri. Percayalah, kita tidak perlu menurunkan kualitas diri sendiri demi orang lain. Akan selalu ada jalan yang Tuhan tunjukkan bagi orang-orang yang sama-sama mau berusaha untuk bertemu dan saling menerima. Tuhan tidak sepicik itu. Tuhan malah tidak picik sama sekali.

Perempuan pantas mengenyam ilmu, hal itu tidak menjadikan dirinya mengerikan, seram, aneh, cupu, culun, dan bahkan alergi laki-laki.

Related posts