Perempuan-perempuan Wakanda : Representasi Perempuan dalam Versi yang SEHARUSNYA.

  • Whatsapp

Ada hal yang membahagiakan dan terasa berbeda ketika saya menyaksikan film terbaru dari Marvel, yang rilis resmi di Indonesia pada 14 Februari 2018 kemarin, yaitu Black Panther. Dan kali ini saya akan fokus membahas mengenai perempuan-perempuan yang direpresentasikan dengan seharusnya di sana.

 

Read More

Wakanda merupakan sebuah negara yang terletak di benua Afrika. Yang berada di pedalaman, bersembunyi dibalik semak-semak agar tidak terjamah oleh dunia luar yang penuh dengan konflik. Namun Wakanda menutup dirinya bukan karena malu dengan identitasnya atau miskin pun terbelakang—layaknya representasi masyarakat kulit hitam dalam film Hollywood pada umumnya ; Yaitu miskin, menjadi lapis kedua dan minoritas, serta orang-orang yang selalu memegang posisi sebagai pihak antagonis. Namun kali ini Wakanda dibawakan dari sisi yang begitu berbeda. Mengingat pemain di film ini dipegang oleh 90% pemain kulit hitam, dan malah hanya meletakkan pemain kulit putih sebagai pemeran tambahan saja, maka bisa dipastikan bahwa penyembunyian identitas Wakanda tersebut bukan dikarenakan alasan sebagai minoritas. Karena jika dilihat lagi, King T’Challa bahkan bisa dikatakan lebih kaya dari seorang Tony Stark.

 

Tidak hanya representasi dari masyarakat kulit hitam yang berbeda dalam film ini, namuan juga representasi dari perempuan-perempuannya.

Dalam tulisan ini penulis akan membahas mengenai tiga perempuan, yaitu Nakia yang diperankan oleh Lupita Nyong’o, Shuri yang diperankan oleh Letitia Wright, dan Okoye yang diperankan oleh Danai Gurira.

 

 

Nakia (Lupita Nyong’o)

http://www.greenscene.co.id

Nakia merupakan mantan kekasih dari King T’Challa, yang diperankan oleh Chadwik Boseman. Ia berasal dari River Tribe (suku sungai), yang merupakan salah satu mata-mata terbaik yang dimiliki Wakanda, untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Nakia juga merupakan prajurit terbaik yang dimiliki oleh River Tribe, hal ini ditunjukkan dengan posisi Nakia yang berada di samping ketua suku pada saat ritual combat, yang dilaksanakan untuk pemilihan raja baru Wakanda. Nakia memiliki passion dalam hal-hal sosial. Karena itulah ia tidak menetap di Wakanda, melainkan berpindah-pindah, sesuai tempat yang membutuhkan.

Sosok Nakia di sini merupakan seorang perempuan kulit hitam, dengan rambut pendek dan keriting. Representasi kecantikan yang dimiliki olehnya benar-benar tidak seperti representasi perempuan kulit putih pada umumnya. Apalagi mengenai batas-batas kecantikan yang normalnya ditampilkan media barat, layaknya tubuh langsing, kulit putih, rambut blonde yang lurus, panjang, sebahu, atau potongan bob. Mata lebar, hidung bangir, dan bibir merah menyala. Khususnya dalam perfilman Hollywood sendiri sosok Perempuan kulit hitam dengan karakter dan porsi seperti Nakia tak pernah ditemui sebelumnya, apalagi dalam seri super hero Marvel, yang bahkan perannya didominasi oleh para laki-laki.

“Don’t freeze.”

“Did He freeze?”

Adalah kalimat yang dilontarkan Shuri dan Okoye kepada T’Challa, ketika menatap wajah Nakia.

Apa artinya?

Nakia memberikan sesuatu yang berbeda dalam pemaknaan kecantikan diri seorang perempuan. T’Challa sampai terpaku, dan diolok-olok oleh adik dan jenderalnya karena terpaku pada kecantikan yang dimiliki oleh Nakia. Dari sini dapat kita pahami bahwa kecantikan bukanlah hanya milik segelintir orang dengan standar kehidupan orang-orang kulit putih. Bahkan karakteristik wujud Nakia dengan penuh percaya diri disampaikan dalam film tersebut, tanpa keraguan sedikitpun merupakan pembuktian bahwa mereka tidak bergantung pada standar orang-orang kulit putih. Tanpa basa-basi, tanpa kata-kata tapi, Nakia tampil sebagai sosok yang mengedukasi kita tentang cantik dalam sudut pandang yang sebelumnya lebih sering terlupakan.

 

Nakia tidak bergantung pada laki-laki, ia tidak ngebet dinikahi, ia juga tidak mengeluh karena masih jomlo.

 

Nakia adalah representasi seorang perempuan yang begitu menikmati karir dan waktu eksklusif untuk mengeksplorasi dirinya sendiri. Ia bahkan menolak permintaan T’Challa untuk tetap tinggal dan adem-ayem di Wakanda, karena lebih menyukai petualangan di dunia luar. Menurut T’Challa, Nakia harusnya di Wakanda saja, toh dia masih tetap bisa melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Namun Nakia menolak, dengan alasan bahwa berdiam diri di Wakanda tidak cukup untuknya, ia menginginkan petualangan yang lebih.

 

“Harusnya kamu bisa jadi Ratu yang hebat, jika saja kamu tidak sekeras kepala ini.” – T’challa.

“Eh, jangan salah. Justru aku akan menjadi Ratu yang hebat, karena aku keras kepala.” – Nakia.

 

Hal yang dibawakan Nakia betolak belakang dari kebanyakan pandangan saat ini, bahwa ketika kamu punya pasangan yang kaya raya, baiknya kamu diam saja di rumah dan biarkan dia yang bekerja. Juga pandangan yang mengatakan bahwa laki-laki yang lebih pantas bekerja, dan perempuan harusnya diam saja di rumah, mengurusi keperluan domestik dan anak-anak. Karena kali ini, Nakia membuktikan yang sebaliknya. Ia bahkan bahkan baru¬† bersedia pulang ke Wakanda ketika misinya disabotase penyelesaiannya oleh T’Challa, karena menginginkan Nakia pulang dan mendampingi proses pengangkatan dirinya sebagai raja baru, menggantikan ayahnya yang mati karena serangan teroris.

 

Dalam sosok Nakia, kita sama-sama menyaksikan perempuan yang dibutuhkan oleh laki-laki. Yang berkemauan kuat, yakin akan tujuannya, dan sama sekali tidak menunjukkan sisi minder walaupun ia tengah berhadapan dengan seorang laki-laki dengan status sosial yang lebih tinggi.

 

 

Shuri (Letitia Wright)

https://thegrio.com

Shuri, remaja 16 tahun yang merupakan Putri Wakanda, adik dari King T’Challa.

 

Tampil sebagai seorang perempuan kulit hitam yang muda, asyik, cerdas, up to date, berdaya, dan bahkan Wakanda tidak akan dapat hidup tanpa drinya.

 

Shuri merupakan pimpinan Labrtatorium Wakanda. Ia yang memegang kendali dalam pelaksanaan, perencanaan, dan pembaruan teknologi yang ada di Wakanda. Dimulai dari barrier penutup Wakanda dari dunia luar, sistem transportasi, perlengkapan perang, teknologi kesehatan–yang bahkan tak pernah bisa ditemukan oleh para ilmuwan Amerika Serikat—dilakukan oleh remaja-perempuan-dan-berkulit hitam. Bahkan sampai seluruh kebutuhan T’Challa sebagai seorang Black Panther, akan mustahil jadi sehebat itu tanpa adanya Shuri.

 

Kostum, senjata, modifikasi alat-alat yang berkaitan dengan misi Wakanda, semua ada di dalam otak perempuan, yaitu Shuri.

 

Bahkan pengetahuan T’Challa, seorang laki-laki dan raja, masih sangat jauh jika dibandingkan olehnya. Dalam sisi Shuri inilah kita dapat melihat kenyataan bahwa setiap perempuan mampu berdedikasi dan harusnya diberikan kesempatan dan kepercayaan atas ilmu dan skill yang dimiliki. Diberikan ruang untuk berkembang, dan diberikan waktu untuk men-nonaktifkan segala stereotype mengenai ketidakmampuan perempuan dalam memimpin.

Perempuan yang berdaya, akan menghasilkan negara yang berdaya pula. Kemampuan Shuri dalam memodifikasi vibranium bahkan membuat Fross, seorang agen laki-laki CIA, sampai tidak percaya, bahwa teknologi kereta cepat dengan tenaga vibranium—yang bahkan Amerikapun tidak bisa stabilkan penggunaanya, ternyata diselesaikan layaknya mengerjakan 1+1 oleh Shuri, remaja yang 20 tahun saja belum genap. Reaksi yang sama juga ia tunjukkan ketika perempuan 16 tahun itu berhasil mengobati luka fatal di tulang belakangnya karena terkena peluru, dalam waktu hanya sehari saja. Sesuatu yang adalah sebuah keajaiban jika bisa dilakukan oleh orang-orang Amerika.

Perubahan representasi ilmuan, teknisi handal, dan juga orang pintar milik Marvel juga terjadi dalam film ini. Jika sebelumnya identik dengan sosok laki-laki, yaitu Tony Stark dan Bruce Banner, maka dalam Black Panther ini digambarkan sebaga seorang remaja perempuan yang muda, pikirannya cerdas dan bahkan tidak membutuhkan laki-laki untuk dapat menjalankan penelitiannya—kecuali untuk sebagai bahan percobaan.

 

Sebuah negara dengan pemimpin seorang raja, namun bahkan akan lumpuh jika tanpa perempuan. Sebuah pemaknaan yang sangat jarang diberikan oleh Marvel.

 

Membiarkan seorang perempuan memiliki derajat dan peran yang bahkan sama-sama dibutuhkan dan vital, tanpa ada bias tersirat pun tersurat bahwa peran tersebut diberikan karena kasihan atau karena iba, namun benar-benar karena kemampuannya.

 

 

Okoye (Danai Gurira)

https://coolwallpapers.site

Okoye, yaitu jenderal perang sekaligus prajurit paling cakap yang dimiliki oleh Wakanda. Okoye ini direpresentasikan sebagai seorang perempuan yang gundul—tidak ada rambut, wig, ataupun hiasan di kepalanya layaknya perempuan pada umumnya. Yang ada di kepalanya adalah ukiran tato yang merupakan khas dari sukunya. Ketika menonton, reaksi pada penampilannya adalah yang banyak saya dengar dari penonton yang lain. Di saat perempuan lain sibuk dengan rambut patah, ketombe, kulit kepala gatal, memilih warna rambut kekinian—dia bahkan risih dengan satu helai saja rambut di kepalanya.

 

Padanya tidak berlaku kata-kata mainstream “rambut adalah mahkota perempuan”.

 

Dalam film ini penampilan “unik” Okoye tidak dipandang sebagai sebuah olok-olok. Tidak dipandang aneh.¬† Di sini perempuan seperti Okoye justru dihormati, karena merupakan penggambaran dari sosok perempuan kuat, dan semua prajurit Wakanda memang botak, tidak ada yang rambutnya tergerai-gerai manja saat tertiup angin. Dan asal tau saja, Okoye tidak pernah mendapatkan masalah juga dalam hubungan percintaannya–terkait dengan penampilannya itu, karena dalam film tersebut ia telah berpasangan dengan pemimpin Suku Perbatasan.

Okoye adalah perempuan yang kuat, fisiknya kekar, tegas, disiplin, sangat berdedikasi pada negara dan rakyat Wakanda, dan sangat sigap. Bahkan Okoye adalah orang terdekat sebagai pelindung dari T’Challa dan keluarga kerajaan lainnya.

 

Dalam sosok Okoye ini kita menemukan hal yag baru, yaitu penyerahan hidup seorang laki-laki, seutuhnya, tanpa tedeng aling-aling kepada seorang jenderal yang adalah seorang perempuan.

Seorang perempuan yang melindungi laki-laki. Karena perempuan itu mampu dan memiliki ilmu serta kemampuan untuk melakukannya.

 

Dalam film Marvelpun porsi akan kepahlawanan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Layaknya MJ di Spiderman, Tony Stark dan asisten yang sekaligus kekasihnya, Black Widow yang bahkan tidak lebih kuat dari teman cinloknya–Hulk, juga Peggy dalam kehidupan Captain America yang hanya berperan sebagai pelengkap, bukan tokoh utama yang berjuang. Namun kali ini, tidak ada lagi peran yang seperti itu. Sosok Okoye benar-benar berbeda. Jika biasanya laki-laki yang melindungi perempuan, dengan representasi perempuan sebagai sosok lemah yang selalu butuh laki-laki untuk dapat menyelesaikan masalah, maka kali ini bahkan bau-bau minta tolong darinyapun tidak tercium.

 

Okoye merupakan pemimpin pasukan Wakanda, padanya dihadirkan pemaknaan atas perempuan dengan cara yang begitu kuat, mandiri, tegas, dan bahkan tidak memiliki kelemahan fisik walaupun disandingkan dengan rajanya.

 

Apa yang dihadirkan oleh Black Panther mendobrak sekat-sekat kecantikan mainstream yang ada di media. Mulai dari rambut, asesoris perempuan, penampilan dan mode fashion serta warna kulit. Menyajikan perempuan dalam versi-versi yang seharusnya ; yaitu mandiri, tegas, tekun, cerdas, dan berdaya. Perempuan yang memiliki ruang atas dirinya sendiri. Yang tidak galau tanpa laki-laki, dan masih tetap percaya pada putusannya sendiri, walaupun laki-laki yang dekat dengannya meminta hal yang berbeda.

 

Melalui Nakia, Shuri dan Okoye kita dapat melihat bahwa perempuan yang memiliki otoritas atas dirinya sendiri, adalah perempuan yang bahagia dengan kehidupannya.

Related posts