Perempuan BUKAN Hanya yang Perawan! : Mendobrak Deskriminasi Perempuan Atas Sebuah Selaput Dara.

  • Whatsapp

GIRLISME – Tiap kali bahasan ini muncul, susah rasanya untuk tidak menjadi begitu emosional. Sedih, marah, ingin menangis dan berteriak protes, tiap kali pikiran-pikiran seperti ini datang dan seperti terus menghantui di depan mata.

Tulisan ini saya peruntukkan kepada mereka yang merasa terpinggirkan. Juga untuk mereka, para perempuan yang menjadi penyulut sumbu kebakaran dan pergosipan. Serta untuk para laki-laki di luar sana yang juga menjadi hakim kesucian.

Read More

Perempuan yang “dirusak” laki-laki…

Salah satu bahasan mengenai perempuan yang begitu riuh didengungkan adalah mengenai kesuciannya. Seberapa bersihnya dia, seberapa pantasnya dia sebagai seorang perempuan, dan seberapa becusnya dia dalam menjaga apa yang dimiliki. Saya yakin, kamu pernah mendengar mengenai kisah-kisah pacaran sahabatmu, atau menguping pembicaraan orang lain, atau bisa juga membaca melalui portal online untuk kemudian mengetahui bahwa kegiatan bercumbu, atau hubungan badan di luar nikah sangat mungkin untuk terjadi di antara para pasangan. Ketika kemudian kamu mengetahui hal ini, pernahkan kamu juga mendengar mengenai…

“Hm, kalau kaya begitu sih, jangan sampai putus. Secara udah dipakai dia. Udah rusak itu mah.”

Pernah?

Atau mungkin seperti kalimat….

“Alah, udahlah, pasti si ceweknya udah jebol, udah bolong. Udah dapet pasti cowoknya.”

Pernah?

Atau mungkin….

“Sumpah si Itu putus sama cowoknya? Ya ampun, kan dia udah dipakai!”

Oh…atau…

“Aku gak mau sama dia. Aku yakin dia udah rusak…”

Hmm, atau…

“Sama yang lain aja, kamu pantes dapat yang baru. Bukan yang bekas.”

Pernah? Atau malah kamu juga salah satu pengucapnya?

Di Indonesia ini berkembang norma dan budaya yang mengatakan bahwa persetubuhan merupakan sesuatu hal yang tabu, menjijikkan dan terlarang—apalagi jika dilakukan di luar ikatan pernikahan yang sah. Malahan baru-baru ini pemerintah sudah mengeluarkan rancangan hukum pidananya–saking tercelanya persetubuhan ini.

Hal ini tidak salah, karena juga memang Indonesia adalah negara yang terkenal dengan sopan satun, budi luhur dan tetek bengek regulasi kenegaraan yang selalu berbasis keagamaan dan Tuhan. Sehingga masalah persetubuhan dan konco-konconya ini kerap dipandang sebagai sesuatu yang hina dan aib. Tapi yang menjadi masalah adalah stigma yang muncul berbarengan dengan itu, yang selalu meletakkan perempuan sebagai pihak yang subordinat. Pihak yang lemah, di bawah dan juga menjadi objek. Sehingga kemudian jika persetubuhan itu dilakukan, lebih sering yang dianggap rusak adalah si perempuannya, bukan laki-lakinya.

Perempuan lebih sering mendapatkan cibiran. Dianggap sudah jebol, bolong, tidak sempurna. Seperti kehilangan tangan dan kakinya sekaligus, sehingga kehidupannya dianggap cacat. Stigma negatif ini lebih dari apa yang diterima oleh laki-laki, sehingga jarang sekali kita mendengar mengenai laki-laki yang
“dirusak” oleh perempuan. Justru perempuan itulah yang rusak, karena telah berhasil “dipakai” oleh si laki-laki. Jadi di sini subjeknya adalah si laki-laki, dan objek yang dipakai adalah si perempuan.

Penggunaan kalimat pada perempuan inipun begitu bias deskriminasi. Seolah-olah perempuan hanyalah barang, yang akan habis masa pakainya ketika selaput daranya sudah sobek. Layaknya perempuan bukanlah makhluk hidup, yang memiliki jiwa juga badan yang merdeka, karena masa depannya terputus begitu ia berhasil disentuh oleh laki-laki.

Lain kali, dirubah diksinya..”Bukan laki-laki yang merusak Dia. Tapi Dia lah yang merusak laki-laki itu!”

Perempuan yang “tidak punya masa depan”…

Pernah tidak dengar berita mengenai pemerkosaan? Pelecehan seksual? atau hal-hal sejenis itu yang menimpa perempuan kemudian masuk di media? Apa sih yang disorot di sana?

Tentang kemalangan si perempuan, yap!

Headline berita yang digunakan adalah…“si Wanita terenggut kesuciannya.”

“Wanita malang itu sudah kehilangan masa depannya…”

“Ia hanya meratapi keadaannya, yang sudah tidak sempurna lagi sebagai seorang wanita.”

 

Yang lebih disorot adalah keadaan terpuruk si perempuan, tanpa memberikan embel-embel semangat dan dukungan setelahnya. Yang digaungkan hanyalah betapa si perempuan itu begitu malang dan sial, tanpa berusaha membangkitkan kesempatan baginya untuk hidup seperti seutuhnya.

 

Hal ini kemudian berdampak pada pasca kejadian tersebut. Bahkan kejalangan si laki-laki, kebejatan yang dilakukan lebih minor efeknya ketimbang sanksi sosial yang didapatkan seorang perempuan WALAUPUN DIA MENJADI KORBAN. Dia akan tetap dipandang sebagai sebuah barang rusak, yang tidak berfungsi layaknya biasanya. Ia dianggap kehilangan masa depan karena nantinya namanya akan tercoreng, kemudian tidak ada laki-laki yang bersedia menikahinya, dan keluarganya akan malu terhadapnya…PADAHAL DIA HANYA KORBAN.

Kasus yang terbaru yaitu seorang pasien perempuan yang dilecehkan oleh salah satu pegawai kesehatan di salah satu rumah sakit di Surabaya. Tapi apa kata media? Yang disorot malah kemalangan si perempuan, wajah cantiknya, detail akun instagramnya, namanya dan hal-hal pribadi tentang dirinya—yang harusnya sama-sama dilindungi dan ditutupi, bukan malah sebegitu gencarnya dibagikan! Belum lagi diiringi selentingan-selentingan nakal tentang rezeki nomplok yang didapatkan oleh si perawat. Bahkan pembahasan mengenai detail si pelaku tersebut hilang, tenggelam di antara bahasan mengenai si korban,dari sudut yang bukan penuh empati, namun cibiran dan penuh kekepoan.

Begitu pula di kasus-kasus video asusila yang melibatkan laki-kaki dan perempuan. Salah satunya yang baru-baru ini menjerat seorang mahasiswi dari universitas ternama Indonesia. Video tersebut tersebar karena adanya ketidakharmonisan lagi antara mereka berdua. Apa yang terjadi? Si perempuan tersebut langsung seakan masuk dalam 10 daftar penjahat paling antagonis sedunia. Yang disalahkan adalah si perempuan, kenapa bisa sampai ada di dalam video tersebut. Dikatai bodoh, dihina, dan dicaci. Tanpa pernah memberi ruang tentang bagaimana pilunya si perempuan tersebut. Tanpa memberi jeda bahwa dalam hubungan di video tersebut berisi dua orang, yang sekalipun dihujat, harusnya menerima cacian dengan kadar yang imbang. Namun  apa yang terjadi? Berat sebelah, lagi-lagi. Seakan-akan ketika laki-laki masuk dalam kejadian asusila hal itu merupakan sesuatu yang biasa, sedangkan si perempuan yang menjadi korban justru beresiko dipandang menjadi tersangka.

Malahan masih ada otak-otak sakit jiwa yang mengomentari tentang tubuh si perempuan, dengan nada-nada yang melecehkan, seakan-akan perempuan tersebut sudah menjadi milik publik dan sah-sah saja jika dipakai dalam banyolan seksual.

Lain kali, fokuslah pada kasusnya. Suarakan kebejatan si pelaku. Lindungi data diri si korban. Dan jadilah mereka, yang berotak lurus, yang tidak menjadikan suatu kasus pelecehan juga pemerkosaan sebagai ladang banyolan.

Yang perawan yang “boleh sekolah”…

Pernah dengar tentang tes keperawanan sebelum masuk salah satu institut pendidikan di negeri ini?

Yang perempuannya harus dipastikan dulu perawan, sehingga boleh berpendidikan di sana? Saya yakin kita semua sama-sama paham institusi-institusi apa yang saya maksudkan.

 

Di dalam institusi ini, tes keperawanan dijadikan sebagai tameng atas kepantasan seorang perempuan dalam mengenyam ilmu. Katanya jika masih perawan, artinya masih single dan belum terlibat perkawinan. Ah, apakah itu benar satu-satuunya alasan? Jika begitu, mengapa tidak ada tes keperjakaan bagi laki-laki? Ataukah, laki-lakinya boleh tidak single, dan malah berkeluarga?

 

Keperawanan seakan-akan dijadikan tiket emas yang menjamin apakah perempuan pantas atas masa depan yang terjamin atau tidak, di saat yang sama bahkan keperjakaan laki-laki tidak dipermasalahkan sama sekali. Pengecekan selaput dara yang dilakukan oleh dokter kepada perempuan-perempuan yang katanya aset bangsa. Memastikan selaput rapuh itu tetap utuh, dan kemudian dijadikan salah satu aspek paling penting untuk bisa menerima gelar sarjana. Lantas, apakah yang selaput daranya robek karena aktifitas fisik, terjatuh, atau juga kaarena penyakit yng penah diderita memasukkan juga perempuan ke dalam lingkup yang tidak pantas?

 

Tapi memangnya apa hubungannya keperawanan dengan kepantasan berpendidikan? Apa hubungannya¬† keperawanan dengan tingkat kecerdasan? Apakah yang tidak perawan lantas pasti IQ nya tiarap? Ah, kalau begitu sayang sekali…kenapa pernikahan muda digembor-gemborkan, kalau nanti perempuan yang tidak perawan malah jadi ajang pembodohan.

Di saat perempuan begitu diperhitungkan keperawanannya, lalu apa kabar laki-laki yang tidak dicoba keperjakaannya? Apakah hanya karena alasan “susah buat tau cowok masih perjaka atau enggak.”¬†lantas kita menerima kenyataan bahwa beban keperawanan hanya dijatuhkan pada perempuan? TIDAK!

 

 

 

Pemikiran yang hanya berfokus pada selaput dara dan keperawanan ini sesungguhnya begitu memberatkan perempuan. Seolah-olah bahwa perilaku yang baik, pekerja keras, dermawan, cerdas, dan juga berprestasi bukanlah sesuatu yang pantas untuk diperhitungkan. Ketika keperawanan ini sudah sobek, maka sisa-sisa penilaian yang lain tersebut seakan runtuh dan tidak punya poin yang cukup untuk mengejar ketertinggalan perempuan.

 

Dianggapnya bahwa keperawanan adalah sesuatu yang wajib dan sisanya tidak. Dianggapnya begitu seseorang tidak perawan maka sisa hidupnya adalah kebejatan. Dianggapnya ketika seseorang perawan maka sudah pasti hidupnya setelah mati akan terbang ke surga.

 

Perempuan korban pelecehan dan perkosaan, mereka adalah korban…namun resiko beban sosial yang diterimanya bahkan lebih berat dibandingkan sibejat pelaku seksual.

Perempuan yang selaput daranya tidak utuh karena satu dan lain hal yang bukan persetubuhan, malah ada yang ditinggalkan dan dicerai karena tidak berdarah saat malam pertama.

Perempuan yang tidak perawan, diketok palu tidak pantas masuk isntitusi kedinasan, karena dianggap sebagai salah satu cacat—terlepas dari apapun penyebab robeknya sekaput dara tersebut.

Orang-orang yang begitu lantang mengatakan penerimaan, tapi juga selalu berpikir dua kali ketika disodorkan pada situasi memiliki pasangan dan hubungan dengan perempuan tanpa keperawanan.

Perempuan-perempuan tanpa keperawanan seolah-olah memiliki penyakit menular, yang harus diwaspadai dan dijauhi. Hal-hal seperti ini sangat merugikan perempuan, di saat bahkan tidak ada yang sebegitu gencarnya mengurusi dan menyumpahi selangkangan laki-laki. Menganggap bahwa perempuan sudah sepantasnya dikasihani dan para lelaki mendapat bagian selalu dimaklumi.

 

Bahkan banyak perempuan yang jadi termakan mengenai hal ini, sehingga ikut-ikutan menghujat perempuan tanpa keperawanan, dan begitu memuja seonggok selaput mereka yang masih bertahan. Dikiranya bahwa hal itu adalah satu-satunya hal yang menjadikan diri mereka berharga, layak, dan mendatangkan kebahagiaan.

Hujatan demi hujatan yang dilayangkan bahkan menenggelamkan kewajiban dan jalan keluar yang harusnya lebih baik dilaksanakan. Akomodasi pada sistem seks yang sehat. Edukasi menghindari seks yang tidak sehat. Pembelajaran mengenai kesehatan reproduksi dan bagaimana caranya menjaga diri dari penyakit-penyakit menular, adalah hal yang sebenarnya jauh lebih dibutuhkan untuk saat ini. Daripada hanya caci maki sebelah mata tanpa solusi.

Perubahan pola pikir, yang mengatakan bahwa tanpa selaput dara seorang perempuan bukanlah perempuan adalah hal yang harus mulai untuk dirubah. Karena bagaimanapun, itu hanyalah seonggok selaput yang bahkan ketebalannya begitu rapuh dan tidak sama tiap orangnya. Ia tidak pantas kemudian ditukarkan dengan definisi sebuah kesempurnaan perempuan.

Para korban pemerkosaan dan pelecehan, adalah mereka yang harusnya senantiasa kita rangkul. Kita semangati dan berikan pandangan-pandangan kedepannya, bahwa mereka mampu jalani hari dengan baik-baik saja. Bukan malah dihujat, dikucilkan dan dianggap sampah.

Perempuan-perempuan yang pernah melakukan hubungan sehingga mereka hamil di luar nikah, adalah calon ibu-ibu muda yang harus direngkuh dan diberikan pendidikan instensif, agar mereka mampu mempertahankan dirinya sendiri, dan tidak memutuskan untuk mengugurkan si bayi.

 

Dengan ini bukan berarti kita menghalalkan, melegalkan seks bebas. Bukan. Namun perubahan cara pikir, sudut pandang mengenai obsesi sebelah mata yang menitikberatkan pada selangkagan dan keperawanan perempuan di atas segalanya. Karena sesungguhnya pembelajaran mengenai hubungan yang sehat dan bertanggungjawab adalah hal yang lebih penting untuk disoroti. Bukan masalah selaput daranya—namun masalah kesehatan dan bahaya yang akan terjadi antara keduabelah pihak jika mereka melakukan hubungan-hubungan tersebut.

 

Teruntuk para perempuan tersayang. Untuk saya, untuk kalian, dan untuk kita semua. Tulisan ini adalah sebuah perasaan yang selalu coba saya utarakan…bahwa apapun itu….perempuan berhak atas dirinya sendiri. Saya, kalian, dan kita adalah tetap perempuan seutuhnya, apapun yang terjadi di kemudian hari. Untuk perempuan-perempuan yang begitu kuat, kalian selalu jadi yang paling hebat, karena sudah berhasil bertahan sampai saat ini. Apapun jadinya nanti, jangan pernah absen untuk bangga pada diri kalian sendiri. Dan pantang hukumnya kalian mau terdefinisikan oleh orang lain. Kalian berhak menjadi utuh dan sempurna.

Dan untuk kamu, para perempuan yang masih sempurna selaput daranya. Rengkuhlah mereka, ajak mereka dalam bahagia. Perempuan yang satu adalah penguat perempuan lainnya. Yang satu adalah pembangun yang lainnya. Dan bersama-sama kita akan menjadi perempuan yang lebih berdaya dan bisa berkarya. Bukan ranah kita lagi dalam memojokkan dan justru menghujat sesama perempuan. Karena sungguhlah, harusnya kita sama-sama melindungi…sebab tujuan kita akan selalu satu. Yaitu untuk lebih didengarkan. Lebih yakin. Dan lebih memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri.

Untuk para lelaki, pasangan adalah masalah selera, saya tahu itu. Apapun keputusan kalian akan pasangan kalian adalah sepenuhnya hak milik kalian. Namun di sini saya mencoba untuk memberikan pandangan yang setidaknya bisa kalian baca dan resapi, sehingga kedepannya lebih bisa lagi dalam memahami dan menghargai…bahwa selaput dara bukanlah sebuah ukuran kemanusiaan. Dan selaput dara bukanlah sebuah batas akhir sepuah kepantasan. Dan apapun itu kondisi seorang perempuan, mereka tetaplah utuh dan tidak ada yang pantas untuk dipinggirkan.

Related posts