Tolak Pemikiran Kolot PELAKOR! Stop Sampai di sini! Perselingkuhan itu BUKAN Hanya Salah Perempuan!

  • Whatsapp

Tahun 2018 ini masyarakat Indonesia berkenalan sama istilah baru, yang sebenarnya muncul pertama kali dari akun-akun gosip. Dari kemunculan yang dimulai dari seorang artis, kemudian istilah ini jadi semakin besar dan terkenal. karena mulai banyak yang ternyata menyebut sana-sini, dan menggunakan untuk kepentingan yang bermacam-macam. Ada yang ikut menghujat, ada yang bersimpati, ada juga yang cuma menjadikan istilah ini untuk tertawaan.

Setelah munculnya artis tersebut, istilah itu semakin heboh di sosial media dan di televisi. Apalagi katanya si perempuan yang diisukan jadi istri simpanan ini nyebabin keluarga si laki-laki carut-marut, dan dia sampai mukul anak perempuannya sendiri. Nggak cukup sampai di sana, istilah ini makin populer dengan muncul lagi kasus yang sama, tapi dari kalangan masyarakat biasa. Yaitu si istri yang melakukan tebar-tebar uang buat membeli harga diri si perempuan yang kedapatan berselingkuh dengan suaminya. Si perempuan itu dihujani uang, diteriaki dan diintimidasi oleh si istri tersebut, dan videonya viral sampai kemana-mana.

Read More

Istilah ini makin laris, dan dipasangkan pada perempuan, dengan konteks yang pastinya negatif.

Istilah apakah itu??

Yap. PELAKOR atau Perebut Laki Orang.

Di sini penulis ingin membagikan sudut pandang lain tentang pelakor ini. Bagaimana sebenarnya para perempuan begitu dirugikan atas adanya istilah ini….tapi sampai sekarang malah semakin menjadi-jadi.

 

PELAKOR yang terkenal, harga diri perempuan yang dibuat mental.

Sana sebut pelak0r, sini sebut pelakor. Siapa yang menyebut?? Kebanyakan PEREMPUAN.

Sebenarnya di sini saya nggak mengerti, kenapa yang justru getol menjatuhkan perempuan…ternyata adalah kaumnya sendiri? Yang bergosip sana sini, menyebut pelakor dengan semangat, menghujat, dan mengata-ngatai.

Nggak sadarkah kamu, wahai perempuan…bahwa dengan kamu setuju ada kata pelakor itu, adalah berarti kamu dengan sengaja menghalalkan stigma negatif tentang dirimu sendiri?

 

Perempuan sebagai perebut, genit, gatel, perempuan murahan, perempuan ini, perempuan itu….dengan menggunakan istilah pelakor tersebut, berarti kalian dengan secara langsung merutuki kaum kalian sendiri. Hei…kenapa malah begitu??

Hei, perempuan…nggak sadarkah kamu, bahwa dengan menyebut bangga istilah pelakor, sama aja kamu merendahkan kaummu sendiri? Terlebih lagi istilah pelakor yang gampang banget terkenal dimana-mana ini, menjadikan mindset masyarakat kita semakin mempercayai perempuan sebagai asal usul semua kejahatan.

Terjadi pemerkorsaan…yang salah baju perempuan. Terjadi pelecehan…yang salah cara jalan perempuan…terjadi persekingkuhan…yang salah perempuan lagi?

 

Karena itu penulis berpendapat bahwa istilah pelakor ini hanyalah buat mereka yang berpikiran masih kolot tentang perempuan.

Kenapa???

Perselingkuhan itu terjadi BUKAN hanya karena 1 orang. Dimana-mana perselingkuhan itu terjadi karena adanya kesepakatan dua orang. Nah, karena itu ketika sebuah perselinguhan terjadi, bukan hanya perempuannya yang harusnya didakwa, tapi laki-lakinya juga.

Bukan cuma perempuannya yang disalahkan kenapa merebut laki-laki…ya tapi salahkan si laki-lakinya juga kenapa mau direbut?!

 

Selama ini yang mendapat porsi hujatan paling banyak itu selalu perempuan, sedangkan pihak laki-laki selalu dimaklumi bahwa mereka memang tumbuh dengan porsi cinta yang lebih banyak, poligami, wajar kalau punya banyak istri, wajar kalau berbagi, wajar ini, dan wajar itu. Tapi perempuan? Di sini posisinya malah mendapatkan tekanan yang bahkan berkali-kali lipat. Kalau bisa dibilang, perempuan diposisikan sebagai pihak penyebab utama dalam perselingkuhan. Dan itu nggak adil. Pemikiran ini nggak sehat.

Apakah nggak miris, ketika melihat sebuah kejadian perselingkuhan di media sosial, yang medapatkan hujatan paling banyak itu adalah si perempuannya? Dikata-katai, disumpahi, dan diberikan tekanan sosial dari orang-orang sekitarnya secara pasti.

Lha? Kok begitu? Sedangkan perselingkuhannya nggak akan terjadi kalau si laki-laki juga nggak menyetujui. Kenapa lantas hanya perempuannya yang disalahkan paling banyak kalau dua-duanya punya andil sama?

 

Karena itu dari tadi penulis mengatakan bahwa pelakor itu hanya buat orang-orang yang kolot. Karena memang sepantasnya bukan lagi pakai pilihan kata-kata perebut, karena memang si perempuan itu posisinya tidak merebut siapapun. Gaimana bisa bilang ngerebut, kalau yang direbut aja seneng-seneng menerimanya??

Bayangin deh ketika kamu pegang satu boneka. Ujuk-ujuk, datang temenmu, dan tiba-tiba MEREBUT bonekamu. Nah, kenapa dibilang merebut? Karena emang si boneka itu diem. Si boneka itu nggak bisa memilih. Dia nggak bisa teriak dan menolak. Dia cuma diem aja, kaya benda mati.

Nah, di kasus pelakor ini, apakah si laki-laki itu sama kaya boneka? Apakah dia benda mati? Apakah dia nggak bisa bersuara dan menolak? Nggak.

 

Laki-laki itu benda hidup, dia bisa memilih, dia punya kesanggupan buat bertindak. Karena itu, nggak sepantasnya dalam perselingkuhan lantas dikatain bahwa perempuannya yang MEREBUT. Karena memang dia nggak merebut siapapun. Si laki-laki itu punya pilihan, dan dia punya otoritas buat memilih.

Kenapa perselingkuhan ada? Bukan karena perempuan MEREBUT, tapi karena LAKI-LAKI sepakat dengan PEREMPUAN untuk menjalin HUBUNGAN. Jangan lupa di sini pelakunya ada dua. Ada dualisme subjek, bukan hanya satu aja. Ada perempuan dan ada laki-laki. Dan keduanya berperan sebagai yang melakukan, atau sebagai pihak aktif, bukan pasif. Karena itu istilah merebut ini sebenarnya nggak relevan.

Kata-kata pelakor ini nimbulin kesan yang nggak adil dan timpang buat perempuan. Seolah-olah di perselingkuhan  yang jadi pihak aktif hanyalah perempuan. Yang melakukan aksi hanya perempuan…si laki-laki hanya kaya boneka yang nggak punya daya apa-apa ketika direbut. Padahal kan nggak seperti itu.

Nggak mungkin perselingkuhan kejadian dalam konteks cinta bertepuk sebelah tangan. Mustahil. Makanya, ketika perselingkuhan terjadi, pastinya yang harus disalahkan dan dimintai tanggungjawabnya adalah kedua pihak secara sama. Bukan malah perempuannya dihina kemana-mana dan laki-lakinya malah dikasi diskon dan pengertian.

Dan buat para perempuan di luar sana…kenapa mau-maunya jadi agen penyubur stigma negatif buat kaum kalian sendiri? Apakah nggak merasa tersinggung dengan cap perempuan sebagai tokoh utama perselingkuhan? Kenapa malah kalian begitu getol dan hobi ke sana-ke mari menghujat yang jelas-jelas saudari seperjuangan kalian sendiri?

Walaupun kalian hanya menyebutnya sebagai candaan, ketawa-ketawaan, tapi sama aja artinya dengan kalian menerima label negatif itu ke diri kalian sendiri.

Karena itu, kedepannya jangan mau ngikutin pikiran kolot tentang perempuan. Apalagi sampai seneng banget ucapin kata-kata pelakor, menghujat, menghina dan mengata-ngatai. Ayo berpikir lebih kritis. Jangan mau-maunya nyuburin benih-benih yang malah merugikan diri perempuan itu sendiri. Berpikir lebih dalam lagi, kalau perselingkuhan itu TIDAK PERNAH hanya tentang perempuan!

Related posts