Connect with us

Idea

Melarang Perempuan Kerja, tapi Pingin Dilayani sama Tenaga Kerja Perempuan. Hmm…….

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Baru-baru ini saya membaca perdebatan di media sosial, dikarenakan sebuah status, yang mengatakan bahwa perempuan di Indonesia nggak seharusnya bekerja. Katanya perempuan seharusnya dipertanggungjawabkan oleh negara, nggak perlu bekerja di luar rumah.

Dalam hal ini sebenarnya ada beberapa hal yang janggal dan bikin gatal buat dikomentari ya.

 

1. Kenapa memangnya kalau perempuan kerja?

Istri pertama Rasulullah SAW, Siti Khadijah r.a merupakan seorang womanpreneur yang luar biasa. Ia merupakan pengusaha yang sukses, kaya raya, menjalankan dan mengepalai sendiri perdagangannya. Bahkan beliaulah yang membiayai dakwah Rasulullah SAW, tak tanggung-tanggung sampai menghabiskan hartanya.

Dari kenyataan ini maka mengatakan kalau perempuan itu nggak seharusnya kerja adalah sebuah kesalahan. Rasulullah sebelum menikah dengan Khadijah r.a, hanyalah seorang karyawannya. Artinya sejak awal Khadijah r.a memang memiliki uang dan pekerjaannya sendiri. Beliau bukanlah seorang perempuan yang hanya mengurusi kegiatan domestik, namun juga sebagai salah satu tauladan dalam hal kerja.

Jadinya kalau billang perempuan nggak seharusnya kerja, harusnya ditanggung doang….yaelah, diketawain pasti sama Khadijah r.a!

Perempuan ataupun laki-laki sama-sama punya kapabilitas untuk kerja kok. Keduanya bisa belajar, bisa berkembang, dan juga punya daya yang sama buat mengusahakan kehidupannya. Bukan hanya Khadijah r.a, namun perempuan apda masa perjaungan Islam kala itu juga bukan hanya sebagai pedagang, namun hadir juga sebagai guru, bahkan prajurit perang.

Lalu dimana letaknya perempuan nggak sharusnya kerja? Ckckck.

 

2. Nggak mau perempuan kerja..tapi pinginnya kalau kemana-mana dilayani sama pekerja perempuan??

Sebagian perempuan mengatakan bahwa perempuan nggak seharusnya bekerja. Baiknya di rumah aja dengan anak-anak dan mengurus hal yang sudah semestinya jadi kodratnya. Tapi di saat yang bersamaan, mereka juga menginginkan, dan menuntut tenaga pelayanan khusus perempuan.

Maunya jangan dilayani sama laki-laki yang bukan mahramnya….
… katanya.
Maunya ojek online perempuan, pijit perempuan, dokter perempuan, salon perempuan, cafe perempuan, ini perempuan, itu perempuan.
Supaya sesuai syariat. Jauh dari maksiat. Dan jangan jadi sebab turunnya azab.
Tapi di saat yang sama katanya perempuan jangan kerja…
…tapi.. tapi juga maunya tenaga pelayanan dan jasa perempuan..
Menarik ya..
Jadinya maunya apa nih??
Kalau mau melahirkannya ditangani sama dokter perempuan, artinya perempuannya harus sekolah tinggi, di luar rumah, dan kerja meninggalkan rumah. Kalau mau dilayani sama ojek perempuan, berarti dia harus latihan pakai motor dan berkendara seharian, yang artinya adalah meninggalkan rumah juga. Apalagi kalau layanan kecantikan, berarti perempuannya harus dilatih, dan bekerja setidaknya di luar rumah.
Begitu juga dengan guru perempuan, pelatih perempuan, satpam perempuan, security check bandara perempuan, semuanya memang menuntut perempuan untuk belajar, berlatih, dan bekerja di luar rumah.
Jadi pada dasarnya keinginan dilayani oleh perempuan, tapi melarang perempuan bekerja…adalah harapan dari statement yang masih mentah.
Ingin dilayani oleh sesama perempuan, tapi menolak prinsip perempuan kerja di luar rumah. Menolak dilayani oleh laki-laki yang bukan mahram, mengeluhkan tenaga kerja yang bikin nggak nyaman, tapi juga nggak mau perempuan memiliki potensi yang dimaksimalkan. Nggak mau perempuan ke luar dan mengusahakan kehidupannya.
Kalau mau perempuan berjaya, punya posisi yg bisa melayani dan membantu sesamanya,
let them be a thinker.
Send them to the best school.
Give them time to learn.
To earn the great skills.
Buat siapa?
Buat KAMU.
PEREMPUAN.

3. Kerja itu bukanlah sebuah konotasi negatif…

Dalam pandangan Marxisme kerja merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhan seseorang. Entah itu kebutuhan ekonomi maupun aktualisasi diri. Jadinya konsep kerja ini seharusnya bersifat netral ya, bukan malah langsung disangkutkan dengan pemahaman negatif. Jika kerja ini dilakukan oleh laki-laki, maka seharusnya kerja juga bisa dilakukan oleh perempuan…kenapa??

Karena pada dasarnya kerja ini merupakan sesuatu yang menjadi bagian dari aktualisasi diri manusia. Ia harus bekerja, untuk bisa bertahan.

Ketika sampai ke kasus perempuan, seharusnya perempuan dan kerja bukanlah hal baru yang harus dihebohkan. Karena pada dasarnya mau itu kerja di luar ataupun di dalam rumah, lokasi kerja nggak pernah menjadi legitimasi atas baik dan buruknya pekerjaan tersebut.

Sehingga keliru sekali kalau mengatakan bahwa perempuan lebih baik di dalam rumah aja, tanpa harus bekerja di luar rumah. Pemikiran tersebut terlalu sempit, dan mengabaikan hak-hak perempuan sebagai seorang manusia.

Konsep ‘kerja’ dan ‘luar rumah’ merupakan dua hal yang harus dilhat lagi dengan lebih bijaksana. Karena perempuan tauladan di zaman Rasulullah SAWpun banyak yang melakukan tugasnya dengan  berada di luar rumah. Begitu juga dnegan konsep kerja, harus kembali dilihat dengan melepaskan diskriminasi gender. Bahwa laki-laki dan perempuan memang SAMA-SAMA memiliki hak atas bekerja. Memiliki hak untuk menjadi manusia dan menghidupi kehidupannya sendiri.

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter
[jr_instagram id="2"]

Beri Komentar

Trending