Connect with us

Idea

Melarang Perempuan Kerja, tapi Pingin Dilayani sama Tenaga Kerja Perempuan. Hmm…….

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Baru-baru ini saya membaca perdebatan di media sosial, dikarenakan sebuah status, yang mengatakan bahwa perempuan di Indonesia nggak seharusnya bekerja. Katanya perempuan seharusnya dipertanggungjawabkan oleh negara, nggak perlu bekerja di luar rumah.

Dalam hal ini sebenarnya ada beberapa hal yang janggal dan bikin gatal buat dikomentari ya.

 

1. Kenapa memangnya kalau perempuan kerja?

Istri pertama Rasulullah SAW, Siti Khadijah r.a merupakan seorang womanpreneur yang luar biasa. Ia merupakan pengusaha yang sukses, kaya raya, menjalankan dan mengepalai sendiri perdagangannya. Bahkan beliaulah yang membiayai dakwah Rasulullah SAW, tak tanggung-tanggung sampai menghabiskan hartanya.

Dari kenyataan ini maka mengatakan kalau perempuan itu nggak seharusnya kerja adalah sebuah kesalahan. Rasulullah sebelum menikah dengan Khadijah r.a, hanyalah seorang karyawannya. Artinya sejak awal Khadijah r.a memang memiliki uang dan pekerjaannya sendiri. Beliau bukanlah seorang perempuan yang hanya mengurusi kegiatan domestik, namun juga sebagai salah satu tauladan dalam hal kerja.

Jadinya kalau billang perempuan nggak seharusnya kerja, harusnya ditanggung doang….yaelah, diketawain pasti sama Khadijah r.a!

Perempuan ataupun laki-laki sama-sama punya kapabilitas untuk kerja kok. Keduanya bisa belajar, bisa berkembang, dan juga punya daya yang sama buat mengusahakan kehidupannya. Bukan hanya Khadijah r.a, namun perempuan apda masa perjaungan Islam kala itu juga bukan hanya sebagai pedagang, namun hadir juga sebagai guru, bahkan prajurit perang.

Lalu dimana letaknya perempuan nggak sharusnya kerja? Ckckck.

 

2. Nggak mau perempuan kerja..tapi pinginnya kalau kemana-mana dilayani sama pekerja perempuan??

Sebagian perempuan mengatakan bahwa perempuan nggak seharusnya bekerja. Baiknya di rumah aja dengan anak-anak dan mengurus hal yang sudah semestinya jadi kodratnya. Tapi di saat yang bersamaan, mereka juga menginginkan, dan menuntut tenaga pelayanan khusus perempuan.

Maunya jangan dilayani sama laki-laki yang bukan mahramnya….
… katanya.
Maunya ojek online perempuan, pijit perempuan, dokter perempuan, salon perempuan, cafe perempuan, ini perempuan, itu perempuan.
Supaya sesuai syariat. Jauh dari maksiat. Dan jangan jadi sebab turunnya azab.
Tapi di saat yang sama katanya perempuan jangan kerja…
…tapi.. tapi juga maunya tenaga pelayanan dan jasa perempuan..
Menarik ya..
Jadinya maunya apa nih??
Kalau mau melahirkannya ditangani sama dokter perempuan, artinya perempuannya harus sekolah tinggi, di luar rumah, dan kerja meninggalkan rumah. Kalau mau dilayani sama ojek perempuan, berarti dia harus latihan pakai motor dan berkendara seharian, yang artinya adalah meninggalkan rumah juga. Apalagi kalau layanan kecantikan, berarti perempuannya harus dilatih, dan bekerja setidaknya di luar rumah.
Begitu juga dengan guru perempuan, pelatih perempuan, satpam perempuan, security check bandara perempuan, semuanya memang menuntut perempuan untuk belajar, berlatih, dan bekerja di luar rumah.
Jadi pada dasarnya keinginan dilayani oleh perempuan, tapi melarang perempuan bekerja…adalah harapan dari statement yang masih mentah.
Ingin dilayani oleh sesama perempuan, tapi menolak prinsip perempuan kerja di luar rumah. Menolak dilayani oleh laki-laki yang bukan mahram, mengeluhkan tenaga kerja yang bikin nggak nyaman, tapi juga nggak mau perempuan memiliki potensi yang dimaksimalkan. Nggak mau perempuan ke luar dan mengusahakan kehidupannya.
Kalau mau perempuan berjaya, punya posisi yg bisa melayani dan membantu sesamanya,
let them be a thinker.
Send them to the best school.
Give them time to learn.
To earn the great skills.
Buat siapa?
Buat KAMU.
PEREMPUAN.

3. Kerja itu bukanlah sebuah konotasi negatif…

Dalam pandangan Marxisme kerja merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhan seseorang. Entah itu kebutuhan ekonomi maupun aktualisasi diri. Jadinya konsep kerja ini seharusnya bersifat netral ya, bukan malah langsung disangkutkan dengan pemahaman negatif. Jika kerja ini dilakukan oleh laki-laki, maka seharusnya kerja juga bisa dilakukan oleh perempuan…kenapa??

Karena pada dasarnya kerja ini merupakan sesuatu yang menjadi bagian dari aktualisasi diri manusia. Ia harus bekerja, untuk bisa bertahan.

Ketika sampai ke kasus perempuan, seharusnya perempuan dan kerja bukanlah hal baru yang harus dihebohkan. Karena pada dasarnya mau itu kerja di luar ataupun di dalam rumah, lokasi kerja nggak pernah menjadi legitimasi atas baik dan buruknya pekerjaan tersebut.

Sehingga keliru sekali kalau mengatakan bahwa perempuan lebih baik di dalam rumah aja, tanpa harus bekerja di luar rumah. Pemikiran tersebut terlalu sempit, dan mengabaikan hak-hak perempuan sebagai seorang manusia.

Konsep ‘kerja’ dan ‘luar rumah’ merupakan dua hal yang harus dilhat lagi dengan lebih bijaksana. Karena perempuan tauladan di zaman Rasulullah SAWpun banyak yang melakukan tugasnya dengan  berada di luar rumah. Begitu juga dnegan konsep kerja, harus kembali dilihat dengan melepaskan diskriminasi gender. Bahwa laki-laki dan perempuan memang SAMA-SAMA memiliki hak atas bekerja. Memiliki hak untuk menjadi manusia dan menghidupi kehidupannya sendiri.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Idea

#JusticeforAY : Mau Sampai Kapan Indonesia Hobi Mendamaikan Kebodohan??

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Mulai nulis artikel ini sebenarnya saya harus dalam kondisi kepala dingin dulu, hati juga harus adem dulu, karena takutnya nanti isi artikelnya dipenuhi sumpah serapah semua.

Sebelum ngomong jauh, saya akan rangkum dulu kronologi ketidakberuntungan yang didapatkan oleh AY, siswi SMP di Pontianak yang dikeroyok habis-habisan oleh 12 siswi SMA.

 

Kronologi Pengeroyokan AY oleh 12 Siswi SMA…

Jadi ini adalah asal mula mengapa AY sampai bisa dikeroyok oleh 12 siswi SMA tersebut.

 

Selanjutnya saya akan bahas kronologi kasus pengeroyokannya…

Tanggal 29 Maret 2019

AY dijemput oleh pelaku pada siang hari. Alasannya adalah ingin meminta AY buat mempertemukan mereka dengan kakak sepupunya tersebut. AY mengiyakan, karena memang nggak punya pikiran akan dikeroyok sama sekali, dan sejujurnya dia juga nggak mengenali pelaku, yang ia pahami bahwa mereka adalah teman kakaknya.

AY lalu dibawa ke Jalan Sulawesi dan diinterogasi beberapa pertanyaan. Setelah menjawab, lalu tiba-tiba 3 orang pelaku langsung menghajar AY, yang disambut oleh 9 orang lainnya. AY di sana dalam posisi masih bingung dan juga kaget, karena dia sama sekali nggak paham apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba dijemput, ditanyain, terus dipukul habis-habisan.

AY dihajar di bagian perut, dibenturkan kepalanya di aspal, disiram air, dan salah satu dari mereka mencolokkan jarinya ke alat vital AY dengan tujuan supaya selaput dara AY rusak. Akibatnya bagian vital AY membengkak. Kejadian ini ditemukan oleh warga, yang kemudian melerai si 12 orang yang mengeroyok ini. Warga lalu melihat kondisi AY dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Tanggal 3 April 2019

Hari ini keadaan AY diketahui oleh keluarganya, setelah mengalami muntah-muntah dan mengeluh sakit. Selama dari tanggal 29 Maret saat dikeroyok, AY dipaksa bungkam karena diancam oleh pelaku. Barulah dari sini diketahui bahwa AY sudah mengalami pengeroyokan, dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh orangtuanya.

Tanggal 5 April 2019

KPPAD Kalimantan Barat menerima laporan kasus ini dari ibu AY, dan sebagai responnya AY difasilitasi buat mendapatkan trauma healing. Di hari yang sama, Ibu korban dan para pelaku yang didampingi oleh keluarga mereka maisng-masing melakukan mediasi…tapi hasil akhirnya adalah : tidak ada kata damai.

Tanggal 8 April 2019

KPPAD Kalimantan Barat berkoordinasi dengan Polsek Pontianak Selatan untuk melimpahkan berkas ke Polresta Kota Pontianak, guga melakukan koordinasi dengan sekolah.

Tanggal 9 April 2019

KPPAD menjenguk AY, dan mengatakan bahwa pendampingan bukan hanya akan diberikan untuk korban, tapi juga untuk pelaku, karena mereka semua masih berada dalam kategori di bawah umur.

 

 

 

#JusticeForAY: TIDAK ADA KATA DAMAI…

Pendidikan dan Keluarga…

Dalam membahas mengenai hal ini sebenarnya akan sangat simultan. Kita nggak akan bisa hanya membahas si 12 cewek-cewek beringas ini, tanpa memedulikan keluarga dan pendidikan mereka. Seorang anak yang tumbuh menjadi kejam dan pembuli pastinya sudah melewati proses panjang, sehingga bisa menjadi seperti sekarang. Karena nggak mungkin dong mereka begitu lahir langsung bisa salto dan nampar juga ngehajar. Pasti ada sesuatu yang salah, yang sifatnya laten dan berkembang terus-menerus, maka dari itu bisa memuncak dan ketahuan melalui kejadian ini.

Peran orangtua dan lingkungan terdekat sangat berpengaruh dalam bagaimana tumbuh kembang seorang anak. Dengan adanya kejadian seperti ini, ada 12 orang anak perempuan menakutkan, yang dengan percaya diri menjemput korban di tempat kakeknya, kemudian diinterogasi, dan dipukuli bergiliran sampai harus dilarikan ke rumah sakit…di dalam kepala saya menanyakan sebenarnya orangtua mereka selama ini ngapain?? Kemana aja sih orangtuanya??

Kenapa anak-anak ini bisa tumbuh sekejam ini dan melewati batas, sampai merugikan orang lain secara fisik dan psikis…dan orangtuanya nggak tahu? Kenapa si orang tua ini bisa kecolongan besar?? Kenapa??

Kenapa si 12 orang ini setelah mukulin dan bikin anak orang luka-luka masih bisa unggah story, nongkrong di cafe, sampai bikin bumerang di kantor polisi? Apakah setelah kejadian orangtua mereka masih baik-baik aja melepaskan anaknya untuk keluar rumah dan mengunggah konten ke sosial media? Padahal sosial media adalah alasan pengeroyokan ini dimulai?

Seriusan…saya nggak paham.

Karena menyalahkan 12 orang anak perempuan secara membabibuta nggak akan ada hasilnya kalau pangkalnya juga nggak ikut diperhatikan. Hukuman sosial yang diterima melalui sosial media memang akan memberikan efek, tapi reaksi keluarga dan lingkungan terdekat mereka sesungguhnya memegang peran yang besar dalam membuat mereka sadar dan jera.

Selanjutnya..institusi pendidikan,

Hal seperti ini mencoreng nama sekolah. Sangat. Saya jadi mempertanyakan kebecusan sekolah juga dalam menanamkan nilai moral dan pengawasan terhadap anak didiknya. Mengapa si 12 orang ini bisa berubah jadi sebegitu premannya dengan tanpa rasa bersalah di kemudian waktu. Malah masih bisa menganggap perbuatannya wajar, dan mengatakan bahwa mereka belum tentu dipastikan bersalah.

Bukankah tanggungjawab wajib dari sebuh sekolah adalah mencetak pribadi yang unggul secara moral dan intelektual? Kalau seperti ini…berarti alur pendidikan yang mereka tempuh sejak awal sampai SMA saat ini terdapat lubang besar. Kepada siapa lagi harus saya tanyakan mengenai ini kalau bukan kepada lembaga-lembaga inti pembentuk jati diri sejak anak-anak ini masih dini??

Keluarga dan sekolah nggak bisa cuci tangan, angkat tangan dan membiarkan 12 preman berjenis kelamin perempuan ini jadi tumpuan salah. Kenapa? Karena mereka juga salah!!

Saya menulis ini bukan berarti mengerdilkan kesalahan pelaku…namun harus kita ingat bahwa perilaku dan sifat seseorang nggak terbentuk dengan instan. Kebengisan 12 orang anak perempuan yang memunculkan musibah fatal bagi AY merupakan kesimpulan dari bab-bab kehidupan mereka sebelumnya ; bahwa ada yang nggak beres dengan lingkungan mereka.

Kejadian Mengenaskan Seperti Ini, Haruskah Kita Berdamai??

Petisi tentang keadilan untuk AY dalam waktu 7 jam pertama berhasil mengumpulkan satu juta tanda tangan. Menolak keras perdamaian yang sempat diajukan oleh KPPAD.

Masih segar di ingatan kita bersama mengenai kasus pelecehan seksual Agni yang juga dipatok damai oleh UGM, dan kemudian kasus ini mencuat dengan bau damai yang sama. Masyarakat jadinya berang dan menolak keras. Permintaan penghukuman dari penjara, hukuman mati, jangan diluluskan, diskors, diblakclist dari daftar universitas, bahkan sampai banyak yang mendoakan agar 12 pelaku mengalami hal yang serupa, agar mereka bisa jera…

Lagi..lagi…sebenarnya…haruskah kita berdamai dengan kasus ini?

Saya pribadi menolak keras kata damai, kekeluargaan, diikhlaskan, diselesaikan baik-baik untuk SEGALA KASUS BULLYING. Namun bukan berarti kita BOLEH membabibuta memberikan penghukuman kepada pelaku.

Jangan sampai kita menghadirkan AY kedua, ketiga dan seterusnya. Menurut saya momen ini adalah sebuah batu yang mencocok mata kita bersama agar terbuka dan berhenti menyepelekan kasus bullying yang terjadi di kalangan pelajar. Memaksa kita untuk berhenti menyepelekan potensi membahayakan seperti ini. Juga membuat orangtua menjadi lebih melek keadaan anak-anaknya…bahwa mereka bukan batu. Mereka dinamis, memiliki segala potensi baik dan buruk yang seharusnya jangan sampai membuat orangtua menjadi kecolongan. Menjadi pertanda juga  dari sebuah institusi pendidikan bahwa saat ini mereka sudah kehilangan kemampuan untuk membentuk moral peserta didiknya.

Tapi kembali lagi…haruskah kita berdamai?

TIDAK.

 

Sanksi sosial masih ada, jalur hukum terbuka, dan kesempatan rehabilitasi juga bisa diakses. Jangan sampai kasus ini berhenti di tengah jalan dan terbawa angin, karena efek jera pada pelaku nggak akan muncul. Jangan sampai masalah seperti ini diterima dengan lapang dada dan disikapi hanya sekenanya. Jangan. Kalau seperti itu maka bibit-bibit preman akan lebih subur lagi tumbuhnya.

 

Saya marah. Kesal luar biasa terhadap pelaku. Ingin rasanya mereka tahu bagaimana sakitnya menjadi korban. Bagimana tersiksanya menjaid pihak yang dibuli seperti itu. Apa akibat dari perlakuan mereka yang merugikan fisik dan psikis orang lain secara fatal. Namun pada akhirnya tujuan kita adalah untuk menghentikan kasus serupa, jangan sampai ada lagi kesalahan yang sama…dengan memberikan mereka pendidikan dan rasa jera yang sesuai. Mengumumkan pada masyarakat dan anak-anak di luar sana bahwa kesalahan seperti ini sesungguhnya akan diadili.

Dan masalah ini BUKAN HANYA MASALAH MEREKA…tapi MASALAH KITA BERSAMA.

 

Mendoakan kemalangan bagi mereka nggak akan menyelesaikan apapun. Meminta mereka diblacklist dari sekolah dan seluruh universitas juga akan semakin menghasilkan preman yang bodoh…yang bisa jadi lebih kehilangan moral daripada ini.

 

Dalam tulisan ini saya menuntut penyelesaian kasus AY jangan berhenti di kata damai.

Menuntut para orangtua lebih memperhatikan anaknya dan lebih peka terhadap apa yang mereka lakukan di luar sana. Pergaulannya, teman mainnya, kegiatannya…jangan sampai lengah. Karena akan fatal seperti ini.

Menuntut institusi pendidikan dengan lebih serius mengawasi peserta didik. Bagaimana moral adalah sesuatu yang ditanamkan bukan hanya dalam waktu singkat namun harus dilakukan sejak tingkat pendidikan paling awal. Peka dengan adanya potensi geng-geng seperti ini, bullying, dan rasa senioritas yang sangat mungkin muncul di tiap tingkatan pendidikan….sebagai sesuatu yang penting, jangan sampai diabaikan.

Menuntut kita smeua untuk lebih perhatian lagi terhadap lingkungan, dan jangan segan-segan untuk bertindak kalau sampai mengertahui ada aksi serupa. Dengan besarnya lonjakan dukungan kepada AY sata ini saya yakin ini merupakan momen agar kita bisa lebih peka dan merasa marah terhadap kasus bullying….dan nggak lagi mengabaikan dan menyepelekan sebagai sebuah pertengkaran anak-anak.

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Idea

Maudy Ayunda : Bawa Aura Optimis atau Malah bikin Diri jadi Tambah Miris??

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Maudi Ayunda sudah melalui S1nya di Oxford University, dan saat ini ketika akan menempuh pendidikan S2 ia jadi rebutan Harvard University dan Stanford University. Fenomena ini langsung jadi highlight dimana-mana, entah itu jadi bahan candaan, bahan motivasi, sampai bahan sindiran. Tapi di balik riuh media sosial ngomongin tentang prestasi Maudi Ayunda tadi, sebenarnya yang begini efeknya kaya gimana sih? Jadi semangat berubah macam power ranger atau malah makin kaya butiran debu?

Ada beberapa sudut pandang yang saya lihat dan amati dari perbincangan di sosial media, ada yang mengatakan begitu bangga akan Maudy Ayunda dan memang pantas buat menjadikan panutan. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Maudy nggak perlu bekerja terlalu keras untuk bisa ada di posisinya sekarang, karena dia memang sudah berada dalam kondisi yang menguntungkan dan mendukungnya untuk menuju jalan yang dia inginkan.

Kedua pandangan ini tentu saja sah, karena memang perspektif tiap orang pastinya nggak bisa disamakan semua. Tapi dari yang saya lihat dari sekian banyak pendapat yang bertebaran, kecenderungannya rata-rata HANYA memperlihatkan kemewahan dari seorang Maudy. Memperlihatkan garis akhirnya, bagaimana dia berhasil, betapa dia sukses mencapai apa yang orang-orang bahkan hanya bisa bayangkan.

Baik dari sisi optimis dan pesimis keduanya memiliki satu celah yang sama ; mereka nggak membicarakan bagaimana proses seorang Maudy yang dulu untuk menjadi Maudy yang sekarang.

 

Maudy yang Nggak Berusaha…

Setiap orang silau karena Maudy sudah ada di tempat yang mumpuni saat ini dan jadi lupa bahwa sebelumnya dia harus berusaha sangat keras, mengubah banyak hal, mengusahakan yang pastinya nggak sepele.

Yang harus kita pahami adalah Maudy Ayunda itu seorang manusia biasa. Dia nggak lahir dalam keadaan langsung jenius, langsung cerdas. Mengertilah bahwa dia menjadi pintar bukan karena kekuatan ajaib. Penyakit yang kita alami saat melihat seseorang sukses adalah fokus pada hasil akhirnya tapi melupakan bahwa dia juga melewati proses yang sama panjangnya.

Okey kita mengatakan bahwa Maudy itu anak orang kaya, keluarganya punya kesadaran pendidikan yang tinggi, dia punya akses, dia nggak harus melakukan pekerjaan kasar layaknya anak-anak di desa, dia nggak perlu usaha ekstra untuk belajar karena lingkungannya sudah tersedia, dia juga nggak perlu capek mikirin bayaran ini dan itu karena masalah uang sudah di luar kepala.

Tapi apakah itu artinya Maudy nggak usaha? NO. BIG NO.

Kalau konteksnya kaya gitu maka semua anak orang kaya bakalan jadi paling pintar, dan anak orang miskin bakalan punya prestasi nol. Tapi nyatanya nggak tuh. Di Indonesia sudah banyak contoh anak-anak cerdas dari keluarga terbatas.

Maudy itu RAJIN. Tolong distempel di pikiran kita semua…dia itu R A J I N.

Dia bilang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan. Setiap hari nangkring di tempat penuh buku itu daripada harus keluar bareng teman-temannya. Sahabat terbaiknya adalah buku, yang menghabiskan waktunya hampir seharian. Dia kecanduan akan BELAJAR. Apakah hal itu adalah sesuatu yang bisa dipaksakan oleh orang lain pada kita? Apakah itu bisa muncul jeng! jeng! ala pensil ajaib?? Enggak.

Rajin itu adalah sebuah perjuangan. Dia dibentuk dengan kesadaran diri sendiri. Maudy itu berjuang untuk menumbuhkan dirinya yang seperti itu. Dan proses itu nggak sebentar, teman-teman yang budiman.

Maudy bukanlah orang ekspert yang sekali baca buku langsung khatam semua ilmu. Nggak. Dia usaha. Apa yang ada di otak dan pikirannya saat ini BUKAN dia dapatkan karena DISKON. Dia beli itu dengan harga penuh.

Yang keliru dari kita ketika merasa pesimis adalah karena kita membandingkan kelemahan kita, dengan kelebihan Maudy, dan kita me-NOL-kan usahanya.

Kita lebih bicarakan tentang segala fasilitas yang dia punya, tapi kita minimkan bahasan tentang bagaimana sebenarnya usaha Maudy atas dirinyalah yang pada kahirnya paling berperan. Tapi kita nggak bahas itu. Kita cuma tau dia anak orang kaya, dia artis, dia sukses, yaaa wajar masuk tempat kuliah bagus. Wajar kalau pintar. Wajar aja kalau gampang. Wjar aja kalau mudah.

Heyyy…orang-orang negara +62, ini tuh nggak mudah bahkan untuk Maudy. Dia melewati keraguan, dia juga insecure, dia bahkan takut dan pesimis dengan harapan yang dia punya. Dia sampai ngerasa kayanya nggak akan mungkin bisa tembus ke Stanford. Seorang dia, yang harus saingan dengan banyak banget orang mumpuni di bidang bisnis, dia sampai mikir kalau yasudah….kalau yang terpenting adalah dia sudah bisa tumbuh dari proses dia mengejar mimpi itu. Dia menghabiskan waktu intensif berbulan-bulan buat nyusun resume dan motivation letter, karena banyaknya pergolakan dan kebingungan tentang gimana cara supaya bisa memberikan hal maksimal. Dan segalanya ini nggak seharusnya kita abaikan dan remehkan. Usaha Maudy itu nggak pernah setengah jalan.

Apa sih inti dari kalimat-kalimat saya ini?

POLA PIKIR Maudy. Itulah yang dia bangun sejak awal. Itulah inti dari apa yang dia punya sekarang, dan itulah yang akan membawa dia melewati masa-masa berat berikutnya. Dan membuat pola pikir R A J I N, U L E T, T E K U N itu nggak gampang. Mempertahankannya juga jauh lebih berat. Nggak adil rasanya ketika Maudy lulus di tempat yang bergengsi dan yang dibahas adalah fasilitas orangtuanya dan ujuk-ujuk langsung meniadakan usahanya.

Walaupun orangtuamu maksain kamu buat belajar, nggak akan mempan kalau kamunya nggak suka belajar.

Walaupun orangtuamu maksain kamu kuliah sampai S10, nggak akan kejadian kalau kamunya nggak tahan.

Walaupun orangtuamu punya uang segepok, fasilitas segunung, dan ambisi selautan, akan mantul juga kalau kamunya nggak punya kesadaran yang sama.

Jadinya pada akhirnya usaha Maudy atas seorang individu juga berperan sangat besar dalam menentukan visi yang dia ingin capai. Fasilitas melimpah nggak akan berguna kalau diri sendiri memang nggak punya target apa-apa.

 

Maudy ya Maudy. Kamu ya Kamu….

Hanya karena Maudy lulus di universitas bergengsi, bukan berarti kamu langsung harus jadi kaya Maudy. Bukan berarti kamu harus lulus di universitas sangat beken. Bukan berarti kamu harus terbang ke luar negeri.

Adanya Maudy bukan berarti menyepelekan usaha yang kamu punya. Menomorsatukan dia, dan membuat kamu jadi keset tulisan welcome. Nggak.

Maudy dan kamu kan punya zona waktu berbeda, zona usaha yang nggak sama dan latar yang pastinya bukan di satu warna. Apa yang ada pada diri Maudy dan nggak ada padamu, bukan negasi dari sebuah kegagalan. Apa yang Maudy bisa capai dan nggak terjadi di kamu bukan berarti hidupmu penuh kesialan. Bukan.

Maudy adalah Maudy dan kamu adalah kamu.

Apa yang harusnya diambil dari Maudy adalah bahwa mimpi itu ada jalannya. Setiap orang berhak punya mimpi. Dan mimpi yang datang adalah hasil dari sebuah usaha panjang.

Kalau kamu berpikir fenomena Maudy makin bikin kamu jadi ngerasa nggak guna, bukan itu intinya. Hanya karena Maudy berhasil, bukan berarti hargamu jadi kecil.

Karena Maudy ya Maudy, dan kamu adalah kamu.

Pada akhirnya apa yang ada dalam cerita Maudy akan jadi racun di kamu kalau nggak bisa melihatnya dari sisi yang lebih adil. Kalau kamu mengambil semuanya tanpa disaring. Bukan cuma cerita Maudy, cerita keberhasilan orang lain akan selamanya kamu lihat dan nilai dengan dangkal, dan abai terhadap proses panjangnya.

Dalam tiap keberhasilan orang lain, sikapmu ini selamanya akan menjadikan kamu butiran debu yang keras kepala.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Trending