Mau Ngantor atau Ibu Rumah Tangga?? Mau Dimanapun Tempatnya, Perempuan Berhak Dihargai dan Didukung!

  • Whatsapp

Apa definisimu tentang sukses?

Hidup yang kaya gimana yang kamu anggap berhasil??

Read More

Pencapaian apa sih yang menurutmu bisa bawa kebahagiaan di hati?

Selama ini perempuan yang memilih karir selalu dibanding-bandingin sama perempuan yang milih sebagai ibu rumah tangga. Ada banyak versi, yang kemudian bikin dua pilihan ini seolah-olah bertentangan satu sama lain. Seolah-olah yang satu paling juara dari yang lainnya. Seolah-olah yang satu lebih benar dan yang lainnya salah. Padahal kalau dilihat lagi, peran-peran itu adalah bentuk eksistensi diri perempuan, yang seharusnya bebas mereka pilih–tanpa nantinya diembel-embeli.

 

Kata  siapa sih perempuan yang di rumah itu nggak lebih sukses daripada perempuan yang kerja kantoran?

Kata siapa sih perempuan kantoran itu lantas lebih “nggak istri-able” atau “ibu-able” daripada perempuan yang di rumah?

 

Nggak gitu. Setiap peran yang dipilih sama perempuan itu punya konsekuensi, resiko, kewajiban, tantangan, dan ranahnya masing-masing.

 

Ketika perempuan yang sudah punya anak lebih milih kerja daripada diam di rumah, lantas kemudian dengan sebelah mata orang-orang akan melihat dia sebagai ibu yang gagal. Nggak becus urus anak, ninggalin anak buat kerja, dan malah membiarkan anaknya sendiri diurus oleh orang lain.

Hey…apa kalian sudah tau alasan mengapa dia bekerja?

Apa sudah tau gimana kehidupannya dan hal-hal yang sudah dia lewati selama ini, lantas langsung divonis seperti itu?

Dan apakah kalian udah benar-benar masuk dan hidup di dalam rumahnya dia, lantas bisa menghakimi seperti itu?

Kebanyakan orang termakan karena prasangkanya sendiri, dan nggak mencoba buat cari jalan tengah, untuk nerima pikiran-pikiran lain sebagai referensi.

Perempuan itu berhak untuk bekerja di luar rumah. Ia berhak untuk eksplorasi diri. Ia berhak untuk mencoba banyak hal.

 

Bukan hanya masalah uang, tapi perempuan juga bekerja karena memang mereka ingin tetap berkembang, dan nggak berhenti buat belajar, walaupun sudah dalam ranah sebagai istri dan ibu.

 

Dan ketika ia memilih jalan ini, ya jangan langsung dihujani dengan hal-hal negatif dan menjatuhkan. Justru yang ada harusnya kita sesama perempuan itu saling menyemangai dan bertukar pikiran satu sama lain, tentang gimana kiat dan caranya menjadi perempuan yang bisa bekerja dan tetap memerhatikan perkembangan anak.

Dalam hal ini, ibu-ibu rumah tangga juga nggak adil rasanya, jika menganggap diri mereka lebih baik daripada perempuan yang bekerja di luar rumah. Karena bagaimanapun, kedua sisi ini sama-sama memiliki tanggungjawab dan resiko. Dan sebenarnya, menghakimi dan merasa paling benar sendiri itu yang membuat pikiran kita susah buat mau mengerti dan memahami posisi orang lain.

Kebanyakan dari kita berpikir bahwa yang kerja itu suami, yang tukang masak itu istri. Anak itu tanggungajwab ibu, bapak itu tanggungjawabnya uang. Ibu ya ngurus rumah, biar bapak yang keluar cari makan. Karena itulah konsep perempuan yang bekerja, dianggap masih tabu di Indonesia. Masih dianggap kurang baik, dan mendingan memfokuskan diri aja untuk hal-hal dosmestik. Padahal jika bicara masalah domestik, itu adalah tanggungjawab berdua. Anak butuh ibu dan bapaknya. Anak butuh kasih sayang dan materi. Anak butuh perhatian dari sisi laki-laki dan perempuan.

 

Sehingga nggak bisa sebenarnya domestik itu dikhususkan buat perempuan, dan hal-hal kerja di luar cuma boleh buat laki-laki saja.

 

Dan bukankah emang tugas suami istri buat jadi rekan satu sama lain?

Sehingga dalam menyikapi perempuan yang milih buat bekerjapun, itu adalah PR bagi keduabelah pihak, buat menemukan solusi dan jalan tengah yang baik, tanpa berat sebelah atau justru mendeskriminasi salah satu pihaknya.

Kemudian jika perempuan berhak kerja di luar, maka bagi mereka yang lebih milih di rumah dengan anak dan hal-hal di dapur, juga haruslah dapat penghargaan yang sama.

 

Hanya karena perempuan itu di dapur, bukan berarti dia nggak hebat. Bukan berarti aktivitasnya sepele. Dan sama sekali nggak berarti dia nggak melakukan hal-hal yang kompleks. Karena sebenarnya pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu luar biasa beratnya.

 

Enggak punya jam kerja. Selalu dinamis dan nggak punya jam istirahat yang pasti. Banyak yang harus diurus hanya dengan dua tangan…harusnya bisa bikin orang sadar bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu sama sekali nggak kalah saing dengan kerjaan yang lain. Karena kerjaan di rumahpun harus bisa diselesein dengan baik dan profesional juga, sama seperti kerjaan di kantor pada umumnya.

Banyak pandangan orang yang anggep bahwa ibu rumah tangga itu bukanlah sebuah pekerjaan, tapi lebih kepada kewajiban. Karena itu banyak juga yang kurang memberi apresiasi bagi perempuan yang ngasi dedikasi dirinya buat rumah selama 24 jam.  Padahal sebenarnya ibu rumah tangga itu juga merupakan profesi, merupakan pilihan, dan merupakan bentuk eksistensi yang dipilih perempuan. Karena itulah nggak ada yang berhak menyepelekan, mencibir, atau bahkan mandang aktivitas ibu rumah tangga ini dengan rendah. Juga membanding-bandingkannya dengan aktivitas lain di luar rumah, yang katanya lebih baik.

 

Mau berkarir di luar rumah ataupun di dalam rumah, perempuan harus diberi ruang buat milih, buat ngeluarin pendapat dan juga buat punya kesempatan yang sama buat menentukan. Juga buat dapat kesempatan dihargai dan nggak dipandang sebelah mata.

Related posts