Connect with us

Idea

Masih Menilai Perempuan dari Selembar Selaput Dara? Ini Fakta yang Harus Kamu Baca!

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Perempuan dan seksualitas, dua hal yang menjadi tabu namun paling menarik diperbincangkan. Dua hal yang harus disembunyikan namun di saat yang sama diucapkan dalam hingar bingar. Salah satu hal yang begitu identik dengan seorang perempuan adalah keperawanan. Nilai perempuan diukur dari selembar selaput dara, yang kemudian dijadikan simbol dari sebuah kesucian.

Akibatnya perempuan tidak lagi dilihat sebagai seorang individu yang utuh, yang memiliki nilai prestasi, pendidikan, dedikasi kerja dan lainnya hanya karena sebuah selaput dara.

Posisi perempuan yang sejak dulu dijadikan pengepul asap domestik memang menjadikan selaput dara sebagai wujud diskriminasi paling abadi. Seorang perempuan dipasung dalam pertanyaan masih perawan atau tidak? Di saat laki-laki dirasa wajar dalam absennya keperjakaan yang dimiliki.

Malahan….siapa pula yang perduli pada keperjakaan laki-laki??

Ranah vagina perempuan kemudian jadi ranah publik, yang harus diketahui oleh orang lain. Oleh pasangan, oleh orangtua pasangan, demi mendapatkan gelar perempuan idaman. Alat vital perempuan yang awalnya begitu privat berubah menjadi konsumsi di luar akal sehat, yang kemudian dilabeli sebagai hal yang wajar.

Ya bagaimana mungkin bisa wajar, kamu menanyakan dan mengintervensi selaput dara perempuan??

Tapi di Indonesia, menanyakan hal seperti itu merupakan sesuatu yang biasa, dan bahkan harus dilakukan untuk mengetahui apakah si perempuan tersebut masih suci atau tidak. Apakah sudah digauli atau belum.

Kebanyakan pikiran ini datang dari orang-orang yang masih belum benar-benar mengetahui perihal selaput dara.

Banyak yang bilang bahwa selaput dara yang robek atau rusak menandakan bahwa seorang perempuan bukanlah seorang perawan lagi, padahal faktanya bukan seperti itu. Dalam dunia medis, selaput dara justru tidak pernah ada korelasinya dengan keperawanan. Mengapa?

Sebab yang pertama, ada perempuan yang lahir TANPA selaput dara, dan dalam dunia kedokteran, hal ini merupakan fenomena yang wajar. Karena itulah keperempuanan seseorang tidak diukur dari keberadaan selaput daranya. Pembentukan selaput dara di mulai sejak dalam masa kandungan, dan prosesnya berbeda-beda bagi setiap perempuan. Jaringannya begitu tipis dan rapuh, sehingga memungkinkan pembentukannya tidak sempurna.

Hal ini kemudian mengantarkan kita pada fakta selanjutnya bahwa selaput dara perempuan ada yang TEBAL dan ada yang TIPIS. Bagi perempuan dengan selaput dara tipis, biasanya menjadi begitu entan untuk sobek, bisa karena aktifitas olahraga, bersepeda atau melakukan aktifitas fisik yang berat. Sehingga selaput dara yang tidak utuh lagi BUKAN hanya karena hubungan seksual!

Hal lain yang harus diketahui juga adalah bahwa bagi perempuan yang memiliki selaput dara yang TEBAL, bahkan masih tetap utuh dan tidak robek walaupun sudah terjadi penetrasi atau hubungan intim.

Apa yang dapat ditarik kesimpulan dari sini?

Hal-hal terkait dengan keperawanan bukanlah sesuatu yang dibebankan atas selembar selaput dara. Secara medispun pikiran ini dianggap salah dan sama sekali tidak berdasar.

Sehingga kedepannya kita harusnya lebih bijak dalam melihat fenomena selaput dara ini bukan sebagai sebuah momok yang mengintimidasi perempuan. Mengabaikan hal-hal baik lainnya hanya karena selembar selaput dalam vagina. Faktanya sudah ada, dijelaskan secara medis, bahkan sudah sampai tahap dunia—sebab World Health Organization (WHO) telah mengesahkan perihal pemeriksaan keperawanan lewat selaput dara merupakan sebuah kekerasan!

Vagina dan selaput dara perempuan merupakan ranah personal, yang tidak seharusnya terus-terusan diberikan ruang untuk mengintimidasi, bahkan menghilangkan nilai perempuan itu sendiri.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Idea

Drama Kolosal Pilpres 2019, Sebenarnya Lawan “Kita” Siapa??

Irma El-Mira

Published

on

detikNews

GIRLISME.COM – 17 April 2019 sudah lewat dan saya kira semua drama tahta ini akan selesai. Tapi ternyata episodenya masih berlanjut dengan dramatis, dimulai dengan penolakan kubu 02 akan hasil rekapitulasi suara yang dikeluarkan oleh Quick Count. Detik itu saya sadar kalau…this isnt gonna be easy. Dan benar. Makin ke sini ternyata konfliknya bukan malah reda tapi makin jadi.

Tapi sebenarnya di antara semuanya, satu pertanyaan besar saya…

Kita ini sedang tarung lawan siapa??

Politik Identitas adalah Jalan Ninjaku~

Drama kolosal pemilu Indonesia dimulai jauh sebelum tanggal 17 April 2019. Semuanya dimulai sejak Pilgub 2019 lalu ketika Anies-Sandi Melawan BTP-Djarot…ohiya, di tengah-tengahnya ada Agus-Silvi, hampir lupa.

Politik identitas diartikan sebagai politik perbedaan, yang menekankan strategi pada perbedaan-perbedaan untuk kemudian memunculkan persamaan. Jadi perbedaan dimunculkan dengan sengaja agar membentuk koalisi-koalisi. Jika perbedaan ini tidak ditonjolkan, maka mustahil rasanya menemukan kubu teman dan kubu lawan. Apesnya politik identitas yang ada di Indonesia saat ini dimunculkan dengan dominasi agama. Agama yang mana??

Mana lagi…mana lagi selain yang mayoritas~~

Sejak BTP divonis sebagai aktor penistaan agama, politik identitas telah memecah kita menjadi kubu sesat dan kubu jalan kebenaran. Mulai detik itulah kemudian kualitas diri seseorang ditentukan dari sikap politiknya.

Politik identitas ini terus dibesar-besarkan dengan semangat, ditambah dengan insiden PKI Jokowi, kemudian pembubaran HTI, belum lagi kriminalisasi orang-orang yang mengaku sebagai ustadz. Kita semakin yakin kalau Indonesia CUMA berisi dua jenis ; Yang kafir dan yang tidak kafir. Politik identitas berlatarkan agama makin mewah. Makin seru. Konfilknya bukan cuma di tataran parlemen, tapi sampai ke rumah-rumah.

Asyik!!!

Jalan ninja ini makin terasah seiring dengan berlabuhnya “para ustadz” ke masing-masing kubu. Kita yang rakyat planga-plongo ini jadi dipaksa menentukan mana ustadz yang asli dan mana yang palsu. Yang mana yaaa?? Ya ampun bingung 🙁

 

Semuanya pakai peci, pakai sarung, pakai koko. Semuanya bisa ngaji, bisa dakwah, bisa hafal surat-surat dan ayat walaupun nggak selalu dicek oleh yang dengar. Jadinya makin bingung, sebenarnya yang mana yang ustadz asli dan mana yang cuma doppelganger??

Semuanya klaim untuk kepentingan UMAT.

Katanya demi RAKYAT.

Juga buat kebaikan MASYARAKAT.

Jadi bingung kan, rakyat yang mana? Umat yang mana? Masyarakat yang mana?

Aduh drama kolosalnya makin pelik nih. Setelah kita dipaksa milih jalan ninja, sekarang kita dipaksa buat nentuin kita ini golongan kurma atau golongan babi. Golongan yang halal atau yang haram. Golongan yang nanti beloknya ketemu Malik atau Ridwan.

Kita harus apa sebagai rakyat yang planga plongo ini?

Haruskah kita merelakan saudara dan bertengkar di grup-grup WA keluarga demi politik identitas ini?

Pusingnya kepala Unyil.

Rakyat Planga-Plongo di Bawah Elite yang Planga-Plongo

Akhirnya drama kolosalnya mencapai konflik lanjutan yang lebih seru. Masing-masing barisan sudah ketemu kubu seidentitasnya. Yaitu yang kafir dan yang tidak kafir. Dan yang sumbu panjang versus sumbu pendek. Banyak kampanye kotor dan negatif yang bermunculan, mulai dari isu PKI, isu penistaan agama, isu salah sebut Surat Al-Fatihah, isu mau kontes ngaji, isu ziarah kubur, isu ziarah pembesar agama, isu keluarga yang mau rujuk, isu Orba, isu antek asing, isu saingan umrah.

Wuhuuu…kepala kita sebagai rakyat jelata ini dipenuhi oleh isu yang bertubrukan dan massif, tanpa ada kesempatan untuk menghela napas. Kta harus memproses ledakan informasi, bertarung dengan hoax, melawan segala jenis berita dari berbagai media yang perhari bsa mengeluarkan ratusan judul menarique.

Sekali lagi…kita yang rakyat planga-plongo ini harus apa ya??

Padahal kita sadar nggak sih, yang membuat isu ini adalah mereka yang punya kuasa?

Nggak…kita nggak sadar.

Kita mabok fanatisme atas versi drama yang kita anggap paling juara dan akan masuk surga. Sehingga kita nggak bisa ambil jalan tengah, harus jalan pinggir biar nggak dikick dari grup WA.

Si para elite di atas itu dengan planga-plongonya melanggengkan politik identitas berbasis agama. Sehingga kita juga yang berada di bawahnya mau nggak mau ikut arus. Karena seperti yang tadi saya bilang, kita dipaksa menentukan kita bagian dari yang mana. Kita dipaksa memiliki identitas baru berdasarkan skenario drama yang elite buat.

Kita yang sudah lahir dengan gotong royong, tumbuh dengan rasa korsa, dan besar dengan solidaritas ini makin dibakar dengan bensin agama dan solar demokrasi. Apa jadinya??

Kambing-kambing politik. Dan kuda-kuda elite. Oh…iya..jangan lupa, kita jadi onta-onta agama juga.

Kita kaya nggak punya logika sendiri, selain yang dibuat oleh elite. Kenapa saya pakai kata “elite”? Soalnya ini bukan cuma kerjaan pemerintah sekarang. Banyak juga kerjaan mereka yang nggaka dalam pusaran parlemen tapi punya dampak besar dalam membuat skenario epic.

Elite featuring elite, wow, craziness everywhere.

Pada tahapan ini kita sudah dengan yakin memilih kubu. Bukan Kubu Biasa, karena Kubunya bawa-bawa senjata sakti yang namanya Agama. Siapa berani lawan agama?? Neraka dan dikeluarkan dari KK!

Akibatnya?

Kita yang sudah planga-plongo jadi makin ahem-ahem-iya-iya. Sudahlah ditampuk elite, disodok keluarga, dicacati media…kelar hidup ini.

 

GOLPUT ! BODOAMAT!

Akhirnyaaa muncullah jalan-jalan alternatif bagi rakyat yang planga-plongo ini. Muncul narasi baru, yaitu nggak memilih sama sekali sebagai bentuk pilihannya. Maunya nunjukkin kalau rakyat juga berdaya dan berhak memilih…walaupun itu artinya membiarkan kertas suara tetap kosong. Menganggap kalau pilihan elite 01 ataupun elite 02 sama aja mudharatnya. Sama nggak asiknya. Ogah banget milih dua-duanya!

Saya secara pribadi mengapresiasi jalan ini. Karena di tengah-tengah arus politik elite yang mainstream, muncul sebuah pikiran baru yang bikin kontentasi makin seru. Ide-ide menarik yang keluar dari kebiasaan membuat saya bisa berpikir lebih luas, bukan hanya yang disediakan dalam kandang.

Jenis yang seperti ini yang nggak boleh mati. Di antara kejenuhan, muncullah sebuah pemikiran yang menolak dipaksa. Menolak disuruh jadi kambingnya 01 atau kudanya 02. Walaupun pada akhirnya tujuan adalah sama-sama memunculkan identitas golput, namun tetap saja, yang begini bikin senang. Ada angin segar di luar polusi elite.

 

Aksi Ego dalam Klaim Damai

Kita sampai pada 21 Mei. Dengan lelah dan jenuh setiap hari dipaksa makan narasi politik. Tanpa ampun para elite dengan bahagianya menggelontorkan komentar-komentar yang ditangkap media, kemudian dihias sebegitunya. Saya selalu berpikir…apakah mereka sebagai elite akan sangat bahagia ya melihat kita gelut? Melihat kita saling bunuh?

Tapi saya juga mikir…kenapa sih pada mau jadi kambing dan kuda-kudaan? Kenapa sih mau dimanfaatkan? Kenapa sih mau repot-repot mengeluarkan semua usaha dan tenaga untuk membela narasi mereka? Kenapa sampai jadi fanatik kelas mujaer?

Buntut dari politik identitas ini kemudian sampai ke hari ini…ketika meledak AKSI DAMAI yang (damainya masih dipertanyakan) di Jakarta.

Yaaa, sudah bisa ditebak kan. Bawanya agama mayoritas, klaimnya jihad, katanya menyerang atas nama Allah, imbalannya nanti surga jalur prestasi. Terlepas dari esensi agama yang sebenarnya, tapi aksi-aksi yang muncul dalam politik saat ini sudah bisa dilihat minyak panasnya adalah agama, dan rakyat cuma jadi kerupuknya. Tinggal dipanasi dan digoreng…sisanya akan jadi renyah sendiri. Tangan elite nggak akan ada kotorannya, karena semuanya dilimpahkan ke kuda-kuda di lapangan.

Andai saja para elite mau berbicara dengan tegas, rekonsiliasi satu sama lain, pastinya hal ini nggak perlu pecah dan meleber kemana-mana. Sampai menewaskan, menutup akses jalan, membakar, membatalkan banyak rencana kerja, meliburkan kegiatan sekolah, sampai merusak fasilitas publik.

Nggak perlu…kalau saja ego elite bisa ditampung dalam bejana yang lebih baik lagi…hingga nggak perlu tumpah dan melukai kita rakyat planga-plongo ini.

Dari aksi yang katanya DAMAI ini, ujungnya akan jadi luka. Luka kepercayaan terhadap sesama, terhadap pemerintah, terhadap agama, dan terhadap perbedaan. Yang tinggal di kepala rakyat nantinya akan didominasi oleh hal-hal mengerikan. Ini merugikan bukan hanya secara personal mereka yang terkena dampak aksi, namun juga secara narasi agama yang dibawa, dan kelompok yang dibela. Jarak antar kubu akan jadi makin renggang dan politik identitas yang terbangun akan jadi makin panjang.

Luka kita akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar.

 

Lalu sebenarnya siapa yang sedang kita lawan??

Siapa sebenarnya musuh kita?

Apakah elite? Apakah kubu sebelah? Apakah antek asing? Apakah agama doppelganger?

Siapa??

Apa benang merah dari pergelutan ini sebenarnya?

Saya pun bingung.

Apakah ini perang kafir dan non kafir?

Apakah ini perang 01 dan 02?

Apakah ini perang khilafah atau Pancasila?

Semuanya bergerumul jadi satu, disulut satu terbakar semua. Disiram bensin yang satu luluh lantahnya semuanya.

Kita selama ini luka dan bergumul dengan saudara kita sendiri, tapi apakah sebenarnya kita tahu…apa yang kita lawan? Apa yang ingin kita hentikan? Dan sebenarnya apa yang ingin kita bentuk untuk masa depan?

Apakah kita yang planga-plongo ini sadar, kalau selama ini kita berperang dengan musuh-musuh fatamorgana, yang akhirnya menghancurkan diri kita sendiri?

 

Akhir Drama Kolosal…

Drama kolosal berakhir saat pihak yang jahat tumbang. Selama yang jahat masih hidup konfliknya akan terus muncul dan membolak-balikkan keadaan. Membuat penonton menyumpah serapah tapi akhirnya tetap asyik menonton dan memilih jagoan.

Jadinya kapan drama kolosal Pilpres 2019 ini tuntas??

Tidak akan pernah tuntas. Yang ada hanya pendinginan, tapi konfliknya akan tetap bersarang, menunggu muncul ke permukaan. Kail yang disebar dengan membentuk politik identitas nggak akan semudah itu ditarik dan dibatalkan.

Lalu kita harus apa? Kita yang planga-plongo dengan gengsi segunung yang tetap membela elite tercinta tanpa ampun…harus gimana?

Saya mengutip kata-kata Gus Dur, Presiden Indonesia paling woles yang pernah saya ingat. Waktu itu Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan dan diminta keluar dari istana. Apa sih kata Beliau tentang perebutan tahta?

“Tingginya apa sih jabatan Presiden itu kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia. Tidak perlu.”

Yang masih buta sama fanatisme kelompok, yang masih mabok sama agama…bangun. Kamu keliru. Egomu membunuh bukan cuma dirimu, tapi negaramu.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Idea

27 Steps of May : Pertunjukan Ruang Hampa Hidup Korban Kekerasan Seksual

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya saya nonton film ini kemarin malam. Sebenarnya berat buat nonton, karena saya tau di dalam film ini berisi beberapa adegan pemerkosaan, yang saya tau pasti akan membuat saya susah untuk nggak marah dan sedih. Sekedar baca dari berita aja sudah bisa bikin saya menyumpah, apalagi kalau divisualkan dengan baik. Makanya sebenarnya nonton tadi malam merupakan hasil dari pertimbangan panjang.

Dan benar aja….saya mulai terpantik emosinya sejak adegan di latar kedua, sekitar menit kelima. Adegan gang rape.

May adalah gadis berusia 14 tahun, masih SMP. Malam itu May keluar sendiri ke pasar malam, nonton pertunjukkan, makan gula-gula, ketawa-ketawa. Bahagia.

Taunya saat perjalanan pulang, ketika May lewat gang sempit, dia ditarik oleh segerombolan laki-laki dan diperkosa secara bergilir. Mulut May disumpal kain, tangannya disudut puntungan rokok, dan dipaksa makan makanan oplosan sampai muntah.

Ya…May diperlakukan seperti itu sambil dilecuti bajunya dan dipaksa menerima penetrasi alat vital si pemerkosa.

Hanya itu?

Bukan. May dikerjai dari arah depan dan belakang, secara bergiliran dan sekaligus.

Pada adegan-adegan ini saya nggak bisa nahan tangis. Dia baru berusia 14 tahun, masih dalam tahap kenalan sama tubuhnya snediri, dan malangnya diperkosa secara bergilir oleh segerombol lelaki. Saya nggak bisa menghilangkan dari pikiran ini sebagaimana sakit dan traumanya dia.

Secara logika, sayapun nggak mau melakukan hubungan intim apapun bentuknya, walaupun dengan orang yang saya sukai, jika bukan kehendak saya sendiri. Karena akan sangat sakit rasanya jika orang lain menyentuh dan menggerayangi tubuh saya tanpa saya inginkan. Dan May malah dipaksa oleh laki-laki asing, disiksa, diperlakukan bukan hanya disetubuhi namun sampai dibekap, dipaksa makan makanan nggak wajar dan disulut rokok. Dalam pikiran saya nggak bisa membendung akan jadi sesakit apa dia.

Film ini menceritakan efek pemerkosaan itu kepada May dan keluarganya, yaitu Bapak. Kekurangan dalam film ini adalah meloncatkan waktu langsung ke 8 tahun setelahnya, sehingga saya nggak tau di masa-masa sulit di rentang waktu itu apa yang dilakukan oleh Bapak untuk mengusahakan May, merespon May, dan berusaha mendekatkan diri pada May. Yang diperlihatkan pada film langsung pada 8 tahun setelahnya menggambarkan May sebagai seorang gadis yang bahkan nggak PERNAH BICARA sepatah katapun. Bahkan dia nggak pernah berani keluar melebihi batas pintu kamarnya sendiri. May hanya tinggal di dalam sebuah kamar, dan beraktifitas di sana. Ia keluar hanya untuk makan saja.

Hidup May hanya diisi oleh Bapak, yang sayangnya ditunjukkan bukan sebagai sosok yang paham tentang bagaimana caranya menangani korban pemerkosaan.

Bapak juga bingung dan takut melakukan hal-hal yang beresiko mengusik May, karena sekali saja terusik dia akan melukai dirinya sendiri. Bapak buntu, May juga begitu. Keduanya bagai hidup dalam gelembung masing-masing dan nggak saling berhubungan. May sibuk dengan traumanya dan Bapak sibuk melampiaskan rasa bersalahnya pada ring tinju bebas.

Ini memberikan gambaran kondisi masyarakat kita sata ini, yang belum memahami bagaimana cara terbaik untuk merespon kekerasan seksual. Kita kagok, kaku, dan ragu-ragu pada hal yang sebenarnya sudah sangat sering terjadi.

Akibatnya hal ini memutus kemungkinan perubahan dari si penyitas kekerasan seksual, karena kita nggak berusaha membantunya mencari jalan keluar.

Selama ini kita menyepelekan hal-hal terkait pemerkosaan, sebelum akhirnya kena batunya ketika hal itu menimpa orang-orang terdekat kita. Merasa bahwa kekerasan seksual mungkin hanya bagian dari fiksi, sampai kemudian dia benar-benar terjadi. Setelahnya kita mau gimana? Nggak ada. Bingung sendiri dan menyesali diri.

Dalam film ini digambarkan May sangat menderita. Dia hanya bertahan hidup karena siklus, melalui kebiasaan yang dia lakukan sehari-hari. Bangun di pagi hari, membantu Bapak membuat boneka, kemudian makan bersama, dan olahraga sampai capek supaya bisa tidur cepat. Dia harus melawan kilasan-kilasan trauma tentang kejadian pemerkosaan itu dengan cara menghindari segala aktifitas yang mungkin mengingatkannya akan hal itu.

Bajunya hanya satu warna. Ia hanya bisa makan makanan yang polos tanpa rasa, karena traumanya akan makanan oplosan yang diberikan oleh gerombolan preman tersebut membuatnya selalu ketakutan dan memuntahkan segala hal yang memiliki rasa. Ia hanya makan nasi putih, tahu putih dan tauge tanpa bumbu. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 8 tahunpun trauma May masih tetap di sana, nggak beranjak sedikitpun.

Dia terjebak dalam ketakutannya sendiri tanpa tau gimana cara terbaik untuk keluar.

Bagi kamu yang mungkin pernah punya pengalaman masa lalu yang buruk, kamu akan paham gimana tersiksanya ketika kita hidup dengan bayangan hal-hal yang paling ingin kita lupakan.

Yang terus muncul dan jadi hal utama di pikiran. Sampai May harus terus melukai dirinya sendiri untuk bisa tetap sadar. Rasa sakit itu yang membantu dia mengalihkan pikirannya. Selama 8 tahun sendirian tanpa ada yang bantu cari jalan keluar….nggak kebayang gimana sakitnya perempuan berusia 14 tahun dalam diri May.

Sampai akhirnya May ketemu dengan sesosok pesulap, yang diceritakan tinggal di sebelah kamarnya. Pesulap ini diibaratkan sebagai support system, hal yang selama ini May nggak pernah dapatkan. Diceritakan di sana si pesulap ini berusaha meraih May dengan memperlihatkan trik-trik sederhana, yang membuat May nggak harus lagi mengalihkan pikirannya dengan silet. Waktu dan perlakuan yang diberikan si pesulap membuat May mau belajar membuka diri untuk berinteraksi. Walaupun awalnya takut dan stress sendiri, namun ini merupakan sebuah titik balik May untuk keluar dari gelembungnya dan mau menerima hal baru.

Hal ini menunjukkan bahwa support system adalah apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para penyitas kekerasan seksual. Pendukung yang akan membantu dia keluar dari zonanya, dan membuatnya mau berdamai dengan masa lalu. Sesuatu yang justru sangat jarang kita perhatikan.

Bukan lagi saatnya kita melihat korban kekerasan seksual sebagai sebuah aib. Sebagai hal yang harus ditutupi dan membuat malu. Mereka adalah orang yang harusnya dirangkul dan dikuatkan. Bantu mereka percaya bahwa kedepannya mereka masih punya hak yang sama untuk tumbuh sebagai seorang manusia.

Dari langkah-langkah May saya belajar banyak mengenai ruang hampa selama 8 tahun tenggelam dalam trauma. Hal yang selama ini jarang orang berani bicarakan. Dianggap tabu dan dilupakan. Masih selalu dikategorikan ke dalam hal-hal yang membuat aib dan malu.

Kepada May-May lain di luar sana…semua yang nggak baik di waktu dulu, akan jadi membaik kedepannya. We are here for you.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Trending