Connect with us

Idea

Kekeliruan Nalar Petisi Penolakan Iklan Shopee Black Pink! Iklan Shopee Diboikot, Sinetron Apa Kabar??

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Baru-baru ini heboh penolakan iklan Shopee yang dibintangi oleh salah satu girlband Korea, Black Pink. Iklan tersebut muncul di platform online dan offline. Tapi sebenarnya, petisi ini jika dilihat secara lebih kritis terlalu tergesa-gesa dan penjelasannya cenderung bolong dan belum rampung.

Sebelum kita membahas lebih jauh, berikut adalah detail tentang petisi mengenai penolakan iklan Black Pink :

Change.org

Teori Efek Media

Dalam Ilmu Komunikasi, ada beberapa teori efek media, yang menjelaskan tentang bagaimana konten di media bisa berpengaruh pada audiens atau penontonnya. Di antara teori-teori tersebut, ada perdebatan tentang apakah si konten media ini bisa mempengaruhi secara langsung, ataukah ada faktor-faktor penghubung lain. Dalam perdebatan itu kemudian diketahui bahwa ketika media memberikan efek kepada penonton, ternyata ada hal-hal lain yang mempengaruhinya, antara lain :

  1. Status sosial dan ekonomi
  2. Cara pengasuhan yang kaku
  3. Hubungan dengan dunia sosial yang buruk
  4. Keadaan psikis yang terganggu
  5. Memiliki pengalaman sebelumnya terhadap kekerasan

Dari penjabaran efek media di atas, bisadilihat bahwa tidak sembarangan mengatakan mengenai efek media, tanpa adanya bukti dan data yang jelas. Mengapa? Karena ini bukan hal yang gampang dan sepele, kalau tidak ada data pasti dan bukti nyata, maka semuanya hanyalah balik ke prasangka dan asumsi.

Karena itu kalimat yang mengatakan bahwa iklan Black Pink akan memberikan gangguan pada jiwa-jiwa yang putih, maka sebenarnya harus ada data pendukungyang sufatnya bukan hanya pemikiran seumur jagung dan analisis yang dangkal.

Analisis tentang Nalar yang Keliru

1. ASUMSI

Dalam iklan tersebut dikatakan bahwa konten iklan yang muncul dalam jam tayang anak-anak anak akan membuat alam bawah sadar mereka terganggu.

Alam bawah sadar yang bagaimana? 🙂

Tahunya dari mana? 🙂

Dalam penuturan latarbelakang petisi di atas bisa ditarik kesimpulan semuanya masih ASUMSI dan PRASANGKA, tanpa ada DATA NYATA 🙂

2. SINETRON APA KABAR?

Konten iklan tersebut tayang dalam waktu sementara, dalam waktu singkat karena memang hadir  untuk keperluan promosi event 12.12 milik Shopee. Dalam waktu yang singkat dan penayangan yang dalam durasi pendek itu, seharusnya kita belum bisa mengatakan bahwa si iklan ini akan memengaruhi anak sampai ke alam bawah sadarnya. Kenapa? Ya apa kabar sinetron dengan konten racun yang ada di tv setiap hari dengan durasi berjam-jam? Apa kabar film dengan konten kekerasan dan cinta-cintaan yang tiap hari jadi komoditaa utama televisi?

Apa itu nggak masuk ke alam bawah sadar? Padahal durasi dan intensitasnya jauh lebih banyak, seharusnya itu dulu yang diboikot dan dibuatkan petisi penolakan dari lama. Bukan iklan dengan alasan rok mini….yang sebenarnya sudah banyak ada di tv jauh sebelum iklan Shopee.

3. ROK MINI DAN PANCASILA

Dalam petisi tersebut dikatakan bahwa pakaian seronok yang nggak sesuai dengan nilai Pancasila.

Pancasila tidak mengatur pakaian 🙂

Sejak kapan kemudian yang pakai rok mini melanggar nilai Pancasila? Wah, banyak sekali kalau begitu masyarakat Indonesia yang murtad dari ideologi negara ya?

Yang bikin petisi mungkin lupa kalau pakaian adat Indonesia justru banyak yang pakai pakaian terbuka, a.k.a KEMBEN 🙂

Nilai baik dan buruk yang terdapat dalam petisi sifatnya sangat eksklusif dan hanya berlaku bagi kelompok tertentu, dengan mengabaikan kelompok lain. Sehingga kembali lagi petisi ini rasanya seperti publikasi ketidaksukaan pribadi, dan bukan dengan kenyamanan bersama. Lagipula kalau masalah paha dan dada, dalam tayangan lain hal itu sudah jauh lebih banyak dan lebih sering diperlihatkan. Kenapa nggak diboikot semua acara tv yang ada paha dadanya?

4. GERAKAN DAN EKSPRESI PROVOKATIF??

Teman-teman bisa tonton dan lihat lagi, tidak ada gerakan dalam iklan yang smapai kayang dan memperlihatkan selangkangan. Sehingga gerakan yang provokatif itu maksudnya yang bagaimana??

Justru BlackPink tidak diperlihatkan secara khusus, melainkan memokuskan pada lambang Shopee. Tidak ada bagian tubuh mereka yang dambil secara jelas dan bertujuan untuk eksploitasi, karena sebagian besar dalam iklan memperlihatkan Black Pink dengan gerakan dance yang sedikit karena terbatas durasi.

 

Tuntutan yang diberikan ada dua, yaitu hilangkan iklan tersebut dan boikot Shopee sampai iklannya diturunkan.

Kenapa nggak boikot acara azab dan cinta-cintaan sih?? Atau drama yang isinya kebodohan? Dan pemojokan perempuan? Membahas adab, moral, dan alam bawah sadar yang terganggu, nggak suka sama rok mini dan gerakan provokatif, di saat yang sama malah membiarkan racun yang lebih besar untuk tetap tayang….

….maunya apa? 🙂

 

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Idea

Drama Kolosal Pilpres 2019, Sebenarnya Lawan “Kita” Siapa??

Irma El-Mira

Published

on

detikNews

GIRLISME.COM – 17 April 2019 sudah lewat dan saya kira semua drama tahta ini akan selesai. Tapi ternyata episodenya masih berlanjut dengan dramatis, dimulai dengan penolakan kubu 02 akan hasil rekapitulasi suara yang dikeluarkan oleh Quick Count. Detik itu saya sadar kalau…this isnt gonna be easy. Dan benar. Makin ke sini ternyata konfliknya bukan malah reda tapi makin jadi.

Tapi sebenarnya di antara semuanya, satu pertanyaan besar saya…

Kita ini sedang tarung lawan siapa??

Politik Identitas adalah Jalan Ninjaku~

Drama kolosal pemilu Indonesia dimulai jauh sebelum tanggal 17 April 2019. Semuanya dimulai sejak Pilgub 2019 lalu ketika Anies-Sandi Melawan BTP-Djarot…ohiya, di tengah-tengahnya ada Agus-Silvi, hampir lupa.

Politik identitas diartikan sebagai politik perbedaan, yang menekankan strategi pada perbedaan-perbedaan untuk kemudian memunculkan persamaan. Jadi perbedaan dimunculkan dengan sengaja agar membentuk koalisi-koalisi. Jika perbedaan ini tidak ditonjolkan, maka mustahil rasanya menemukan kubu teman dan kubu lawan. Apesnya politik identitas yang ada di Indonesia saat ini dimunculkan dengan dominasi agama. Agama yang mana??

Mana lagi…mana lagi selain yang mayoritas~~

Sejak BTP divonis sebagai aktor penistaan agama, politik identitas telah memecah kita menjadi kubu sesat dan kubu jalan kebenaran. Mulai detik itulah kemudian kualitas diri seseorang ditentukan dari sikap politiknya.

Politik identitas ini terus dibesar-besarkan dengan semangat, ditambah dengan insiden PKI Jokowi, kemudian pembubaran HTI, belum lagi kriminalisasi orang-orang yang mengaku sebagai ustadz. Kita semakin yakin kalau Indonesia CUMA berisi dua jenis ; Yang kafir dan yang tidak kafir. Politik identitas berlatarkan agama makin mewah. Makin seru. Konfilknya bukan cuma di tataran parlemen, tapi sampai ke rumah-rumah.

Asyik!!!

Jalan ninja ini makin terasah seiring dengan berlabuhnya “para ustadz” ke masing-masing kubu. Kita yang rakyat planga-plongo ini jadi dipaksa menentukan mana ustadz yang asli dan mana yang palsu. Yang mana yaaa?? Ya ampun bingung 🙁

 

Semuanya pakai peci, pakai sarung, pakai koko. Semuanya bisa ngaji, bisa dakwah, bisa hafal surat-surat dan ayat walaupun nggak selalu dicek oleh yang dengar. Jadinya makin bingung, sebenarnya yang mana yang ustadz asli dan mana yang cuma doppelganger??

Semuanya klaim untuk kepentingan UMAT.

Katanya demi RAKYAT.

Juga buat kebaikan MASYARAKAT.

Jadi bingung kan, rakyat yang mana? Umat yang mana? Masyarakat yang mana?

Aduh drama kolosalnya makin pelik nih. Setelah kita dipaksa milih jalan ninja, sekarang kita dipaksa buat nentuin kita ini golongan kurma atau golongan babi. Golongan yang halal atau yang haram. Golongan yang nanti beloknya ketemu Malik atau Ridwan.

Kita harus apa sebagai rakyat yang planga plongo ini?

Haruskah kita merelakan saudara dan bertengkar di grup-grup WA keluarga demi politik identitas ini?

Pusingnya kepala Unyil.

Rakyat Planga-Plongo di Bawah Elite yang Planga-Plongo

Akhirnya drama kolosalnya mencapai konflik lanjutan yang lebih seru. Masing-masing barisan sudah ketemu kubu seidentitasnya. Yaitu yang kafir dan yang tidak kafir. Dan yang sumbu panjang versus sumbu pendek. Banyak kampanye kotor dan negatif yang bermunculan, mulai dari isu PKI, isu penistaan agama, isu salah sebut Surat Al-Fatihah, isu mau kontes ngaji, isu ziarah kubur, isu ziarah pembesar agama, isu keluarga yang mau rujuk, isu Orba, isu antek asing, isu saingan umrah.

Wuhuuu…kepala kita sebagai rakyat jelata ini dipenuhi oleh isu yang bertubrukan dan massif, tanpa ada kesempatan untuk menghela napas. Kta harus memproses ledakan informasi, bertarung dengan hoax, melawan segala jenis berita dari berbagai media yang perhari bsa mengeluarkan ratusan judul menarique.

Sekali lagi…kita yang rakyat planga-plongo ini harus apa ya??

Padahal kita sadar nggak sih, yang membuat isu ini adalah mereka yang punya kuasa?

Nggak…kita nggak sadar.

Kita mabok fanatisme atas versi drama yang kita anggap paling juara dan akan masuk surga. Sehingga kita nggak bisa ambil jalan tengah, harus jalan pinggir biar nggak dikick dari grup WA.

Si para elite di atas itu dengan planga-plongonya melanggengkan politik identitas berbasis agama. Sehingga kita juga yang berada di bawahnya mau nggak mau ikut arus. Karena seperti yang tadi saya bilang, kita dipaksa menentukan kita bagian dari yang mana. Kita dipaksa memiliki identitas baru berdasarkan skenario drama yang elite buat.

Kita yang sudah lahir dengan gotong royong, tumbuh dengan rasa korsa, dan besar dengan solidaritas ini makin dibakar dengan bensin agama dan solar demokrasi. Apa jadinya??

Kambing-kambing politik. Dan kuda-kuda elite. Oh…iya..jangan lupa, kita jadi onta-onta agama juga.

Kita kaya nggak punya logika sendiri, selain yang dibuat oleh elite. Kenapa saya pakai kata “elite”? Soalnya ini bukan cuma kerjaan pemerintah sekarang. Banyak juga kerjaan mereka yang nggaka dalam pusaran parlemen tapi punya dampak besar dalam membuat skenario epic.

Elite featuring elite, wow, craziness everywhere.

Pada tahapan ini kita sudah dengan yakin memilih kubu. Bukan Kubu Biasa, karena Kubunya bawa-bawa senjata sakti yang namanya Agama. Siapa berani lawan agama?? Neraka dan dikeluarkan dari KK!

Akibatnya?

Kita yang sudah planga-plongo jadi makin ahem-ahem-iya-iya. Sudahlah ditampuk elite, disodok keluarga, dicacati media…kelar hidup ini.

 

GOLPUT ! BODOAMAT!

Akhirnyaaa muncullah jalan-jalan alternatif bagi rakyat yang planga-plongo ini. Muncul narasi baru, yaitu nggak memilih sama sekali sebagai bentuk pilihannya. Maunya nunjukkin kalau rakyat juga berdaya dan berhak memilih…walaupun itu artinya membiarkan kertas suara tetap kosong. Menganggap kalau pilihan elite 01 ataupun elite 02 sama aja mudharatnya. Sama nggak asiknya. Ogah banget milih dua-duanya!

Saya secara pribadi mengapresiasi jalan ini. Karena di tengah-tengah arus politik elite yang mainstream, muncul sebuah pikiran baru yang bikin kontentasi makin seru. Ide-ide menarik yang keluar dari kebiasaan membuat saya bisa berpikir lebih luas, bukan hanya yang disediakan dalam kandang.

Jenis yang seperti ini yang nggak boleh mati. Di antara kejenuhan, muncullah sebuah pemikiran yang menolak dipaksa. Menolak disuruh jadi kambingnya 01 atau kudanya 02. Walaupun pada akhirnya tujuan adalah sama-sama memunculkan identitas golput, namun tetap saja, yang begini bikin senang. Ada angin segar di luar polusi elite.

 

Aksi Ego dalam Klaim Damai

Kita sampai pada 21 Mei. Dengan lelah dan jenuh setiap hari dipaksa makan narasi politik. Tanpa ampun para elite dengan bahagianya menggelontorkan komentar-komentar yang ditangkap media, kemudian dihias sebegitunya. Saya selalu berpikir…apakah mereka sebagai elite akan sangat bahagia ya melihat kita gelut? Melihat kita saling bunuh?

Tapi saya juga mikir…kenapa sih pada mau jadi kambing dan kuda-kudaan? Kenapa sih mau dimanfaatkan? Kenapa sih mau repot-repot mengeluarkan semua usaha dan tenaga untuk membela narasi mereka? Kenapa sampai jadi fanatik kelas mujaer?

Buntut dari politik identitas ini kemudian sampai ke hari ini…ketika meledak AKSI DAMAI yang (damainya masih dipertanyakan) di Jakarta.

Yaaa, sudah bisa ditebak kan. Bawanya agama mayoritas, klaimnya jihad, katanya menyerang atas nama Allah, imbalannya nanti surga jalur prestasi. Terlepas dari esensi agama yang sebenarnya, tapi aksi-aksi yang muncul dalam politik saat ini sudah bisa dilihat minyak panasnya adalah agama, dan rakyat cuma jadi kerupuknya. Tinggal dipanasi dan digoreng…sisanya akan jadi renyah sendiri. Tangan elite nggak akan ada kotorannya, karena semuanya dilimpahkan ke kuda-kuda di lapangan.

Andai saja para elite mau berbicara dengan tegas, rekonsiliasi satu sama lain, pastinya hal ini nggak perlu pecah dan meleber kemana-mana. Sampai menewaskan, menutup akses jalan, membakar, membatalkan banyak rencana kerja, meliburkan kegiatan sekolah, sampai merusak fasilitas publik.

Nggak perlu…kalau saja ego elite bisa ditampung dalam bejana yang lebih baik lagi…hingga nggak perlu tumpah dan melukai kita rakyat planga-plongo ini.

Dari aksi yang katanya DAMAI ini, ujungnya akan jadi luka. Luka kepercayaan terhadap sesama, terhadap pemerintah, terhadap agama, dan terhadap perbedaan. Yang tinggal di kepala rakyat nantinya akan didominasi oleh hal-hal mengerikan. Ini merugikan bukan hanya secara personal mereka yang terkena dampak aksi, namun juga secara narasi agama yang dibawa, dan kelompok yang dibela. Jarak antar kubu akan jadi makin renggang dan politik identitas yang terbangun akan jadi makin panjang.

Luka kita akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar.

 

Lalu sebenarnya siapa yang sedang kita lawan??

Siapa sebenarnya musuh kita?

Apakah elite? Apakah kubu sebelah? Apakah antek asing? Apakah agama doppelganger?

Siapa??

Apa benang merah dari pergelutan ini sebenarnya?

Saya pun bingung.

Apakah ini perang kafir dan non kafir?

Apakah ini perang 01 dan 02?

Apakah ini perang khilafah atau Pancasila?

Semuanya bergerumul jadi satu, disulut satu terbakar semua. Disiram bensin yang satu luluh lantahnya semuanya.

Kita selama ini luka dan bergumul dengan saudara kita sendiri, tapi apakah sebenarnya kita tahu…apa yang kita lawan? Apa yang ingin kita hentikan? Dan sebenarnya apa yang ingin kita bentuk untuk masa depan?

Apakah kita yang planga-plongo ini sadar, kalau selama ini kita berperang dengan musuh-musuh fatamorgana, yang akhirnya menghancurkan diri kita sendiri?

 

Akhir Drama Kolosal…

Drama kolosal berakhir saat pihak yang jahat tumbang. Selama yang jahat masih hidup konfliknya akan terus muncul dan membolak-balikkan keadaan. Membuat penonton menyumpah serapah tapi akhirnya tetap asyik menonton dan memilih jagoan.

Jadinya kapan drama kolosal Pilpres 2019 ini tuntas??

Tidak akan pernah tuntas. Yang ada hanya pendinginan, tapi konfliknya akan tetap bersarang, menunggu muncul ke permukaan. Kail yang disebar dengan membentuk politik identitas nggak akan semudah itu ditarik dan dibatalkan.

Lalu kita harus apa? Kita yang planga-plongo dengan gengsi segunung yang tetap membela elite tercinta tanpa ampun…harus gimana?

Saya mengutip kata-kata Gus Dur, Presiden Indonesia paling woles yang pernah saya ingat. Waktu itu Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan dan diminta keluar dari istana. Apa sih kata Beliau tentang perebutan tahta?

“Tingginya apa sih jabatan Presiden itu kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia. Tidak perlu.”

Yang masih buta sama fanatisme kelompok, yang masih mabok sama agama…bangun. Kamu keliru. Egomu membunuh bukan cuma dirimu, tapi negaramu.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Idea

27 Steps of May : Pertunjukan Ruang Hampa Hidup Korban Kekerasan Seksual

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya saya nonton film ini kemarin malam. Sebenarnya berat buat nonton, karena saya tau di dalam film ini berisi beberapa adegan pemerkosaan, yang saya tau pasti akan membuat saya susah untuk nggak marah dan sedih. Sekedar baca dari berita aja sudah bisa bikin saya menyumpah, apalagi kalau divisualkan dengan baik. Makanya sebenarnya nonton tadi malam merupakan hasil dari pertimbangan panjang.

Dan benar aja….saya mulai terpantik emosinya sejak adegan di latar kedua, sekitar menit kelima. Adegan gang rape.

May adalah gadis berusia 14 tahun, masih SMP. Malam itu May keluar sendiri ke pasar malam, nonton pertunjukkan, makan gula-gula, ketawa-ketawa. Bahagia.

Taunya saat perjalanan pulang, ketika May lewat gang sempit, dia ditarik oleh segerombolan laki-laki dan diperkosa secara bergilir. Mulut May disumpal kain, tangannya disudut puntungan rokok, dan dipaksa makan makanan oplosan sampai muntah.

Ya…May diperlakukan seperti itu sambil dilecuti bajunya dan dipaksa menerima penetrasi alat vital si pemerkosa.

Hanya itu?

Bukan. May dikerjai dari arah depan dan belakang, secara bergiliran dan sekaligus.

Pada adegan-adegan ini saya nggak bisa nahan tangis. Dia baru berusia 14 tahun, masih dalam tahap kenalan sama tubuhnya snediri, dan malangnya diperkosa secara bergilir oleh segerombol lelaki. Saya nggak bisa menghilangkan dari pikiran ini sebagaimana sakit dan traumanya dia.

Secara logika, sayapun nggak mau melakukan hubungan intim apapun bentuknya, walaupun dengan orang yang saya sukai, jika bukan kehendak saya sendiri. Karena akan sangat sakit rasanya jika orang lain menyentuh dan menggerayangi tubuh saya tanpa saya inginkan. Dan May malah dipaksa oleh laki-laki asing, disiksa, diperlakukan bukan hanya disetubuhi namun sampai dibekap, dipaksa makan makanan nggak wajar dan disulut rokok. Dalam pikiran saya nggak bisa membendung akan jadi sesakit apa dia.

Film ini menceritakan efek pemerkosaan itu kepada May dan keluarganya, yaitu Bapak. Kekurangan dalam film ini adalah meloncatkan waktu langsung ke 8 tahun setelahnya, sehingga saya nggak tau di masa-masa sulit di rentang waktu itu apa yang dilakukan oleh Bapak untuk mengusahakan May, merespon May, dan berusaha mendekatkan diri pada May. Yang diperlihatkan pada film langsung pada 8 tahun setelahnya menggambarkan May sebagai seorang gadis yang bahkan nggak PERNAH BICARA sepatah katapun. Bahkan dia nggak pernah berani keluar melebihi batas pintu kamarnya sendiri. May hanya tinggal di dalam sebuah kamar, dan beraktifitas di sana. Ia keluar hanya untuk makan saja.

Hidup May hanya diisi oleh Bapak, yang sayangnya ditunjukkan bukan sebagai sosok yang paham tentang bagaimana caranya menangani korban pemerkosaan.

Bapak juga bingung dan takut melakukan hal-hal yang beresiko mengusik May, karena sekali saja terusik dia akan melukai dirinya sendiri. Bapak buntu, May juga begitu. Keduanya bagai hidup dalam gelembung masing-masing dan nggak saling berhubungan. May sibuk dengan traumanya dan Bapak sibuk melampiaskan rasa bersalahnya pada ring tinju bebas.

Ini memberikan gambaran kondisi masyarakat kita sata ini, yang belum memahami bagaimana cara terbaik untuk merespon kekerasan seksual. Kita kagok, kaku, dan ragu-ragu pada hal yang sebenarnya sudah sangat sering terjadi.

Akibatnya hal ini memutus kemungkinan perubahan dari si penyitas kekerasan seksual, karena kita nggak berusaha membantunya mencari jalan keluar.

Selama ini kita menyepelekan hal-hal terkait pemerkosaan, sebelum akhirnya kena batunya ketika hal itu menimpa orang-orang terdekat kita. Merasa bahwa kekerasan seksual mungkin hanya bagian dari fiksi, sampai kemudian dia benar-benar terjadi. Setelahnya kita mau gimana? Nggak ada. Bingung sendiri dan menyesali diri.

Dalam film ini digambarkan May sangat menderita. Dia hanya bertahan hidup karena siklus, melalui kebiasaan yang dia lakukan sehari-hari. Bangun di pagi hari, membantu Bapak membuat boneka, kemudian makan bersama, dan olahraga sampai capek supaya bisa tidur cepat. Dia harus melawan kilasan-kilasan trauma tentang kejadian pemerkosaan itu dengan cara menghindari segala aktifitas yang mungkin mengingatkannya akan hal itu.

Bajunya hanya satu warna. Ia hanya bisa makan makanan yang polos tanpa rasa, karena traumanya akan makanan oplosan yang diberikan oleh gerombolan preman tersebut membuatnya selalu ketakutan dan memuntahkan segala hal yang memiliki rasa. Ia hanya makan nasi putih, tahu putih dan tauge tanpa bumbu. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 8 tahunpun trauma May masih tetap di sana, nggak beranjak sedikitpun.

Dia terjebak dalam ketakutannya sendiri tanpa tau gimana cara terbaik untuk keluar.

Bagi kamu yang mungkin pernah punya pengalaman masa lalu yang buruk, kamu akan paham gimana tersiksanya ketika kita hidup dengan bayangan hal-hal yang paling ingin kita lupakan.

Yang terus muncul dan jadi hal utama di pikiran. Sampai May harus terus melukai dirinya sendiri untuk bisa tetap sadar. Rasa sakit itu yang membantu dia mengalihkan pikirannya. Selama 8 tahun sendirian tanpa ada yang bantu cari jalan keluar….nggak kebayang gimana sakitnya perempuan berusia 14 tahun dalam diri May.

Sampai akhirnya May ketemu dengan sesosok pesulap, yang diceritakan tinggal di sebelah kamarnya. Pesulap ini diibaratkan sebagai support system, hal yang selama ini May nggak pernah dapatkan. Diceritakan di sana si pesulap ini berusaha meraih May dengan memperlihatkan trik-trik sederhana, yang membuat May nggak harus lagi mengalihkan pikirannya dengan silet. Waktu dan perlakuan yang diberikan si pesulap membuat May mau belajar membuka diri untuk berinteraksi. Walaupun awalnya takut dan stress sendiri, namun ini merupakan sebuah titik balik May untuk keluar dari gelembungnya dan mau menerima hal baru.

Hal ini menunjukkan bahwa support system adalah apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para penyitas kekerasan seksual. Pendukung yang akan membantu dia keluar dari zonanya, dan membuatnya mau berdamai dengan masa lalu. Sesuatu yang justru sangat jarang kita perhatikan.

Bukan lagi saatnya kita melihat korban kekerasan seksual sebagai sebuah aib. Sebagai hal yang harus ditutupi dan membuat malu. Mereka adalah orang yang harusnya dirangkul dan dikuatkan. Bantu mereka percaya bahwa kedepannya mereka masih punya hak yang sama untuk tumbuh sebagai seorang manusia.

Dari langkah-langkah May saya belajar banyak mengenai ruang hampa selama 8 tahun tenggelam dalam trauma. Hal yang selama ini jarang orang berani bicarakan. Dianggap tabu dan dilupakan. Masih selalu dikategorikan ke dalam hal-hal yang membuat aib dan malu.

Kepada May-May lain di luar sana…semua yang nggak baik di waktu dulu, akan jadi membaik kedepannya. We are here for you.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Trending