Connect with us

Idea

Kasus Pelecehan Seksual Perempuan, Mau Sampai Kapan Diabaikan??!

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Kasus pelecehan seksual perempuan bukanlah hal baru untuk dibicarakan, namun ternyata penanganannya tidak pernah ada perkembangan. Baru-baru ini menyeruak beirta tentang pelecehan seksual pada perempuan oleh seorang pengemudi taksi online. Kasus ini kemudian kembali menarik ingatan kita akan kasus-kasus yang ada sejak 2016 lalu, tentang kebejatan pelecehan seksual yang dilakukan dengan menjebak penumpang perempuannya.

Bahkan dalam kasus pelecehan seksual oleh pengemudi taksi online ini bukan hanya melakukan pelecehan fisik, namun juga mencuri harta benda milik korban, dan menyileti tubuh korbannya. Bahkan ada yang sengaja membawa komplotannya di kursi bagian belakang dan menggerayangi tubuh korban selama kurang lebih 2 jam!

Kasus terakhir adalah pelecehan yang dilakukan oleh salah satu mitra Grab, kepada seorang perempuan dengan memaksa untuk mencium bibirnya, dan memaksanya memberikan bintang lima. Kisah ini viral di media sosial dan kemudian ditanggapi oleh pihak Grab. Tanggapan itu kemudian disampaikan juga oleh pihak Grab melalui akun media sosialnya.

Hal yang membuat jengah adalah tanggapan tersebut yang mengatakan bahwa penanganan masalah pelecehan adalah dengan cara memediasi antara korban dengan pelakunya. Namun sampai saat ini tahapan penyelesaian masalah masih mandek karena si korban menolak untuk bertemu.

Apa yang bisa ditarik dari kasus ini?

  1. Poin solusi yag diberikan bukannya memudahkan korban, namun malah menyusahkan. Bagaimana mungkin meminta seorang korban pelecehan seksual untuk bertemu dengan pelaku, dengan kondisi yang masih trauma?
  2. Mediasi yang dilakukan adalah untuk memberikan penjelasan dari pihak pelaku, kepada korban, mengenai MENGAPA DIA BISA MELAKUKAN PELECEHAN. Untuk apa?? Di saat sudah jelas dia melakukan tindakan tersebut, untuk apa penjelasan? Harusnya Grab memberikan solusi lain yang langsung menindak si pelaku, bukan malah mempertemukan dan mediasi, layaknya kasus perceraian suami istri.
  3. Solusi seperti ini sama saja seperti menyalahkan korban karena tidak mau bekerja sama, untuk bertemu dan dimediasi. Oh, ayolah…apakah dikira korban pelecehan seksual bisa sebebas itu bertemu dengan pelaku, layaknya ketemu artis idola??

Setelah kasus ini, kemudian muncul lagi berita viral di sosial media yang mengatakan ternyata si pelaku pelecehan seksual tersebut masih berkeliaran dan malahan masih bisa menarik penumpang. Kenapa bisa??!

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengemudi transportasi online sudah terjadi sejak 2016, kemudian muncul lagi di 2017, hingga saat ini di 2018. Sebenarnya yang harus dipertanyakan di sini adalah keseriusan dari pihak perusahaan dalam menangani masalah ini.

Antisipasinya seperti apa?

Pencegahannya bagaimana?

Laporan peristiwa pelecehan seksual seperti ini terus ada tapi kenapa cuma jadi angin lewat belaka? Mana perbaikannya?

Apakah sesepele itu melihat pelecehan seksual yang terjadi pada perempuan??

Semudah itu pelaku melakukan kejahatannya, semudah dia lepas dari kesalahannya.

Solusi yang  diberikan berkutat pada mediasi dan permintaan maaf, namun setelahnya hilang tiada kabar.

Ini kasus pelecehan seksual atau lebaran ketupat??

Bagi para perempuan yang akan menggunakan jasa transportasi, baik itu online maupun offline, tolong bekali diri dengan penjagaan tubuh yang baik, selalu waspada, dan usahakan selalu hubungi pihak terdekat kapanpun akan menggunakan trasportasi umum.

Bagi kamu yang akan menggunakan taksi online, sebelum naik kamu harus memeriksa bagian belakang mobil untuk memastikan tidak ada komplotan di dalam mobil tersbut, yang bisa saja menjebak kamu. Selanjutnya jangan tidur di perjalanan, usahakanlah tetap melek dan dalam keadaan sadar seutuhnya. Kemudian bekali diri dengan benda-benda yang bisa melindungi dirimu, sebagai tameng jika kedepannya kamu mulai merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan.

Dan bagi kamu yang pernah merasakan hal-hal tidak menyenangkan selama berpergian menggunakan transportasi umum, jangan ragu untuk buka suara dan melaporkannya. Banyak perempuan di luar sana yang justru takut untuk bercerita karena takut dianggap aib dan memalukan.

Tidak.

Kamu harus bersuara. Jangan diam.

Suara adalah cara kita sebagai perempuan saat ini untuk didengarkan dan bukan lagi hanya pasrah diperlakukan secara sepihak.

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter
[jr_instagram id="2"]

Beri Komentar

Trending