Connect with us

Idea

Kasus Pelecehan Agni Diketok DAMAI oleh UGM. Dilecehkan dan Diikhlaskan?? Seriusan nih, UGM??

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Kasus Agni (bukan nama sebenarnya), yang dilecehkan oleh temannya sesama mahasiswa UGM pada tahun 2017 lalu ketika sedang menjalani masa KKN ternyata diketok damai oleh pihak UGM.

Saya mengikuti jalan panjang Agni untuk membuka masalah pelecehan yang dialaminya. Peristiwanya terjadi pada tahun 2017 dan baru bisa disuarakan pada tahun 2018. Dan itupun tidak melalui proses yang mudah, hingga kemudian suara Agni bisa didengar. Menyebabkan kasusnya terungkap, dan menarik banyak perhatian. Kasus ini kemudian membuka luka lama perjalanan panjang kasus pelecehan seksual dalam ranah akademik di Indonesia. Perjuangan Agni yang masih terus berjalan sampai saat ini membuat saya terkejut ketika mengetahui bahwa masalah ini pada akhirnya diputuskan damai.

Klaimnya keputusan itu diterima oleh Agni dan HS dengan melewati proses yang matang dan banyak pertimbangan.

Kasus pelecehan berakhir damai??

Bukannya apa-apa, tapi dalam kepala saya, sebagai seseorang yang menyaksikan sebuah kasus pelecehan terjadi di sebuah lembaga pendidikan megah dan mewah, sejujurnya saya berharap sangat besar bahwa kasus ini ujungnya akan mencapai bentuk yang lebih baik daripada sekedar “kekeluargaan”. Saya masih belum bisa terima konteks damai dalam masalah ini…ayolah, ini kasus pelecehan yang sebegitu susahnya untuk disuarakan, belum lagi penderitaan Agni secara personal yang menyiksanya fisik maupun psikis, belum lagi masalah yang harus ditemuinya di kampus yang berkaitan dengan nilai, untuk kemudian berakhir secara “tidak-apa-apa, diikhlaskan saja” membuat saya sedih, kesal, dan marah.

Perjanjian damainya ditandatangani pada 4 Februari 2019 yang lalu, oleh Agni, HS, dan Rektor UGM, Panut Mulyono. Disaksikan juga oleh Dekan Fisipol UGM Erwan Agus Purwanto dan Dekan Teknik UGM Nizam, ayah HS, dan pengacara Agni, Sukiratnasar, yang juga meyakinkan kalau perjanjian ini diterima oleh Agni tanpa paksaan sekalipun.

Hal lain yang sejujurnya membuat saya miris adalah penyelesaian yang dilakukan terhadap pelaku, si HS ini. Ini serius sama sekali tidak diberikan hukuman apapun? Sama sekali??

Dia melecehkan anak orang loh. Dia melakukan tindakan pelecehan seksual secara paksa, kepada seorang perempuan, yang menyebabkan kerugian pada perempuan tersebut…dan dia kemudian sama sekali tidak diberikan ganjaran APAPUN?

Bagaimana mungkin?!

Pelecehan yang kemudian dia tutupi dengan begitu pengecut! Dia lari, dia sembunyi, kemudian ujungnya tindakan dia itu dimaafkan dan diikhlaskan oleh korban dan keluarganya?

You gotta be kidding me.

Dalam wawancara yang dilansir dalam Tirto.id dikatakan bahwa pembawaan kasus ini ke jalur hukum memang menemui kesusahan, karena justru ada beberapa ketidaksesuaian yang ditemukan di lapangan. Tim kode etik UGM juga mengatakan bahwa terjadi perbedaan pendapat di antara mereka mengenai apakah ini perkara kekerasan seksual ataukah perbuatan asusila.

Hingga pada akhirnya kemudian solusi damai ini dicetuskan. Hal ini disampaikan juga oleh pengacara Agni, yang mengatakan bahwa jalan damai merupakan cara untuk melindungi Agni.

Dalam hal ini kalaupun memang benar dari jalur hukumnya tidak diproses karena ada fakta lapangan yang ternyata berbeda, namun setidaknya pihak UGM sebagai payung bisa menunjukkan reaksi yang lebih dari sekedar ‘lapang dada’ atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh mahasiswanya.

Dari awal UGM bersuara, sama sekali tidak ada wacana mengenai hukuman yang bertujuan untuk membuat si HS ini kapok. Tidak ada wacana hukuman jera untuk pelaku. Malahan sejak awal UGM mencanangkan kata damai untuk ini.

Kenapa??

Atau setidaknya menunjukkan pada publik kalau UGM anti yang namanya pelecehan seksual. Menunjukkan pada pelaku dan orang di luar sana bahwa UGM akan bersikap keras dan menolak segala bentuk kekerasan dan tidak pelecehan seksual.

Tidak ada. Malahan dia bisa begitu lancarnya menjalani masa pendidikan, dan akan pakai toga. Wacana DO, bahkan sekedar diskors, atau ditangguhkan masa kuliahnya?? Intinya hukuman yang diberikan secara akademis atas perilakunya yang merugikan. Di sini saya melihat respon UGM seperti melempem.

Kenapa??

Agni ini begitu dirugikan. Tapi kenapa bahkan UGM tidak bisa memberikan efek jera pada HS yang sudah semaunya??

Kenapa malah ujungnya damai dan menerima perilaku kurang ajarnya??

Jujur, saya masih belum bisa mendamaikan diri saya dengan keputusan ini.

Solusi dari hal ini malah dikatakan bahwa HS sebagai pelaku diwajibkan mengikuti konseling wajib (mandatory counseling) sampai selesai, yang ditangani langsung oleh pihak yang ditunjuk UGM. Dalam hal ini Agni juga dimandatkan untuk menjalani konseling trauma sampai selesai, yang juga dilakukan oleh pihak yang ditunjuk oleh UGM. Ditambah dengan biaya pendidikan dan biaya hidup untuk Agni, yang setara dengan konten dalam beasiswa bidikmisi.

Supaya apa?

Supaya keduanya bisa menyelesaikan masa akademiknya pada Mei 2019 ini. Yap, HS dan Agni akan wisuda bersama. Si pelaku dan korbannya akan pakai toga. Bahkan Pak Rektor sudah meminta Fakultas Teknik dan Fisipol untuk mengawasi kegiatan akademik keduanya, agar tidak mendapatkan halangan apapun.

Lagi-lagi saya tidak habis pikir, kenapa malah si pelaku hanya mendapatkan konseling tanpa adanya beban hukuman lain sih? Dia itu pelaku lho. Dia sudah mencelakai anak orang. Merugikan. Dan kemudian pada akhirnya hanya berbuntut konseling?

Kata Pak Rektor HS sudah mengaku salah dan menyesal, dia juga minta maaf. Seolah-olah maafnya dia bisa menjadi legitimasi sebuah kejeraan. Seolah-olah maafnya bisa membayar kerugian korban.

Dalam naskah perjanjian juga hanya dituliskan bahwa HS melakukan “kesalahan saat KKN Juni 2017” tanpa secara eksplisit menjelaskan mengenai apa kesalahan yang telah di perbuat itu. Tidak ada kata pelecehan, ataupun kekerasan seksual.

Kenapa?

Karena katanya ini terkait dengan ujung permasalahan ini yang memang inginnya damai, sehingga kesalahannya tidak dijelaskan dengan gamblang.

Sekali lagi…

kenapa??

Bukannya harusnya ia menolak lupa atas kesalahan yang pernah ia perbuat?

Pak Rektor UGM mengatakan bahwa pengurusan secara damai ini ditujukan agar keduanya bisa segera lulus, dan dapat  untuk bangsa dan Negara.

Baiklah…mari kita lihat dan tunggu apa kiprah si tukang pelecehan ini terhadap bangsanya.

 

Dan walaupun saya tetap tidak mempercayai narasi bahwa Agni menandatangani perjanjian ini berasaskan keihklasan dan sama sekali tidak ada paksaan siapapun. Walaupun saya masih berpikir bahwa ada kepentingan yang lebih besar yang melingkupi keputusan Agni, hingga ia bisa memilih jalan damai dan si pelaku bebas tanpa hukuman apapun. Walaupun saya begitu marah karena tidak ada narasi jera atas perilaku tidak senonoh HS pada Agni, namun saya tetap mendoakan agar Agni tegar dan benar-benar dalam keadaan yang baik.

Walaupun sampai saat ini saya tidak bisa berdamai dengan kedamaian yang dibuat oleh para petinggi UGM itu, tapi saya akan selalu mendoakan agar kedamaian yang sesungguhnya benar dimiliki oleh Agni.

Dan sampai kapanpun, Kami Masih Agni. Dan tetap akan selalu bersama Agni.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Idea

#JusticeforAY : Mau Sampai Kapan Indonesia Hobi Mendamaikan Kebodohan??

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Mulai nulis artikel ini sebenarnya saya harus dalam kondisi kepala dingin dulu, hati juga harus adem dulu, karena takutnya nanti isi artikelnya dipenuhi sumpah serapah semua.

Sebelum ngomong jauh, saya akan rangkum dulu kronologi ketidakberuntungan yang didapatkan oleh AY, siswi SMP di Pontianak yang dikeroyok habis-habisan oleh 12 siswi SMA.

 

Kronologi Pengeroyokan AY oleh 12 Siswi SMA…

Jadi ini adalah asal mula mengapa AY sampai bisa dikeroyok oleh 12 siswi SMA tersebut.

 

Selanjutnya saya akan bahas kronologi kasus pengeroyokannya…

Tanggal 29 Maret 2019

AY dijemput oleh pelaku pada siang hari. Alasannya adalah ingin meminta AY buat mempertemukan mereka dengan kakak sepupunya tersebut. AY mengiyakan, karena memang nggak punya pikiran akan dikeroyok sama sekali, dan sejujurnya dia juga nggak mengenali pelaku, yang ia pahami bahwa mereka adalah teman kakaknya.

AY lalu dibawa ke Jalan Sulawesi dan diinterogasi beberapa pertanyaan. Setelah menjawab, lalu tiba-tiba 3 orang pelaku langsung menghajar AY, yang disambut oleh 9 orang lainnya. AY di sana dalam posisi masih bingung dan juga kaget, karena dia sama sekali nggak paham apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba dijemput, ditanyain, terus dipukul habis-habisan.

AY dihajar di bagian perut, dibenturkan kepalanya di aspal, disiram air, dan salah satu dari mereka mencolokkan jarinya ke alat vital AY dengan tujuan supaya selaput dara AY rusak. Akibatnya bagian vital AY membengkak. Kejadian ini ditemukan oleh warga, yang kemudian melerai si 12 orang yang mengeroyok ini. Warga lalu melihat kondisi AY dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Tanggal 3 April 2019

Hari ini keadaan AY diketahui oleh keluarganya, setelah mengalami muntah-muntah dan mengeluh sakit. Selama dari tanggal 29 Maret saat dikeroyok, AY dipaksa bungkam karena diancam oleh pelaku. Barulah dari sini diketahui bahwa AY sudah mengalami pengeroyokan, dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh orangtuanya.

Tanggal 5 April 2019

KPPAD Kalimantan Barat menerima laporan kasus ini dari ibu AY, dan sebagai responnya AY difasilitasi buat mendapatkan trauma healing. Di hari yang sama, Ibu korban dan para pelaku yang didampingi oleh keluarga mereka maisng-masing melakukan mediasi…tapi hasil akhirnya adalah : tidak ada kata damai.

Tanggal 8 April 2019

KPPAD Kalimantan Barat berkoordinasi dengan Polsek Pontianak Selatan untuk melimpahkan berkas ke Polresta Kota Pontianak, guga melakukan koordinasi dengan sekolah.

Tanggal 9 April 2019

KPPAD menjenguk AY, dan mengatakan bahwa pendampingan bukan hanya akan diberikan untuk korban, tapi juga untuk pelaku, karena mereka semua masih berada dalam kategori di bawah umur.

 

 

 

#JusticeForAY: TIDAK ADA KATA DAMAI…

Pendidikan dan Keluarga…

Dalam membahas mengenai hal ini sebenarnya akan sangat simultan. Kita nggak akan bisa hanya membahas si 12 cewek-cewek beringas ini, tanpa memedulikan keluarga dan pendidikan mereka. Seorang anak yang tumbuh menjadi kejam dan pembuli pastinya sudah melewati proses panjang, sehingga bisa menjadi seperti sekarang. Karena nggak mungkin dong mereka begitu lahir langsung bisa salto dan nampar juga ngehajar. Pasti ada sesuatu yang salah, yang sifatnya laten dan berkembang terus-menerus, maka dari itu bisa memuncak dan ketahuan melalui kejadian ini.

Peran orangtua dan lingkungan terdekat sangat berpengaruh dalam bagaimana tumbuh kembang seorang anak. Dengan adanya kejadian seperti ini, ada 12 orang anak perempuan menakutkan, yang dengan percaya diri menjemput korban di tempat kakeknya, kemudian diinterogasi, dan dipukuli bergiliran sampai harus dilarikan ke rumah sakit…di dalam kepala saya menanyakan sebenarnya orangtua mereka selama ini ngapain?? Kemana aja sih orangtuanya??

Kenapa anak-anak ini bisa tumbuh sekejam ini dan melewati batas, sampai merugikan orang lain secara fisik dan psikis…dan orangtuanya nggak tahu? Kenapa si orang tua ini bisa kecolongan besar?? Kenapa??

Kenapa si 12 orang ini setelah mukulin dan bikin anak orang luka-luka masih bisa unggah story, nongkrong di cafe, sampai bikin bumerang di kantor polisi? Apakah setelah kejadian orangtua mereka masih baik-baik aja melepaskan anaknya untuk keluar rumah dan mengunggah konten ke sosial media? Padahal sosial media adalah alasan pengeroyokan ini dimulai?

Seriusan…saya nggak paham.

Karena menyalahkan 12 orang anak perempuan secara membabibuta nggak akan ada hasilnya kalau pangkalnya juga nggak ikut diperhatikan. Hukuman sosial yang diterima melalui sosial media memang akan memberikan efek, tapi reaksi keluarga dan lingkungan terdekat mereka sesungguhnya memegang peran yang besar dalam membuat mereka sadar dan jera.

Selanjutnya..institusi pendidikan,

Hal seperti ini mencoreng nama sekolah. Sangat. Saya jadi mempertanyakan kebecusan sekolah juga dalam menanamkan nilai moral dan pengawasan terhadap anak didiknya. Mengapa si 12 orang ini bisa berubah jadi sebegitu premannya dengan tanpa rasa bersalah di kemudian waktu. Malah masih bisa menganggap perbuatannya wajar, dan mengatakan bahwa mereka belum tentu dipastikan bersalah.

Bukankah tanggungjawab wajib dari sebuh sekolah adalah mencetak pribadi yang unggul secara moral dan intelektual? Kalau seperti ini…berarti alur pendidikan yang mereka tempuh sejak awal sampai SMA saat ini terdapat lubang besar. Kepada siapa lagi harus saya tanyakan mengenai ini kalau bukan kepada lembaga-lembaga inti pembentuk jati diri sejak anak-anak ini masih dini??

Keluarga dan sekolah nggak bisa cuci tangan, angkat tangan dan membiarkan 12 preman berjenis kelamin perempuan ini jadi tumpuan salah. Kenapa? Karena mereka juga salah!!

Saya menulis ini bukan berarti mengerdilkan kesalahan pelaku…namun harus kita ingat bahwa perilaku dan sifat seseorang nggak terbentuk dengan instan. Kebengisan 12 orang anak perempuan yang memunculkan musibah fatal bagi AY merupakan kesimpulan dari bab-bab kehidupan mereka sebelumnya ; bahwa ada yang nggak beres dengan lingkungan mereka.

Kejadian Mengenaskan Seperti Ini, Haruskah Kita Berdamai??

Petisi tentang keadilan untuk AY dalam waktu 7 jam pertama berhasil mengumpulkan satu juta tanda tangan. Menolak keras perdamaian yang sempat diajukan oleh KPPAD.

Masih segar di ingatan kita bersama mengenai kasus pelecehan seksual Agni yang juga dipatok damai oleh UGM, dan kemudian kasus ini mencuat dengan bau damai yang sama. Masyarakat jadinya berang dan menolak keras. Permintaan penghukuman dari penjara, hukuman mati, jangan diluluskan, diskors, diblakclist dari daftar universitas, bahkan sampai banyak yang mendoakan agar 12 pelaku mengalami hal yang serupa, agar mereka bisa jera…

Lagi..lagi…sebenarnya…haruskah kita berdamai dengan kasus ini?

Saya pribadi menolak keras kata damai, kekeluargaan, diikhlaskan, diselesaikan baik-baik untuk SEGALA KASUS BULLYING. Namun bukan berarti kita BOLEH membabibuta memberikan penghukuman kepada pelaku.

Jangan sampai kita menghadirkan AY kedua, ketiga dan seterusnya. Menurut saya momen ini adalah sebuah batu yang mencocok mata kita bersama agar terbuka dan berhenti menyepelekan kasus bullying yang terjadi di kalangan pelajar. Memaksa kita untuk berhenti menyepelekan potensi membahayakan seperti ini. Juga membuat orangtua menjadi lebih melek keadaan anak-anaknya…bahwa mereka bukan batu. Mereka dinamis, memiliki segala potensi baik dan buruk yang seharusnya jangan sampai membuat orangtua menjadi kecolongan. Menjadi pertanda juga  dari sebuah institusi pendidikan bahwa saat ini mereka sudah kehilangan kemampuan untuk membentuk moral peserta didiknya.

Tapi kembali lagi…haruskah kita berdamai?

TIDAK.

 

Sanksi sosial masih ada, jalur hukum terbuka, dan kesempatan rehabilitasi juga bisa diakses. Jangan sampai kasus ini berhenti di tengah jalan dan terbawa angin, karena efek jera pada pelaku nggak akan muncul. Jangan sampai masalah seperti ini diterima dengan lapang dada dan disikapi hanya sekenanya. Jangan. Kalau seperti itu maka bibit-bibit preman akan lebih subur lagi tumbuhnya.

 

Saya marah. Kesal luar biasa terhadap pelaku. Ingin rasanya mereka tahu bagaimana sakitnya menjadi korban. Bagimana tersiksanya menjaid pihak yang dibuli seperti itu. Apa akibat dari perlakuan mereka yang merugikan fisik dan psikis orang lain secara fatal. Namun pada akhirnya tujuan kita adalah untuk menghentikan kasus serupa, jangan sampai ada lagi kesalahan yang sama…dengan memberikan mereka pendidikan dan rasa jera yang sesuai. Mengumumkan pada masyarakat dan anak-anak di luar sana bahwa kesalahan seperti ini sesungguhnya akan diadili.

Dan masalah ini BUKAN HANYA MASALAH MEREKA…tapi MASALAH KITA BERSAMA.

 

Mendoakan kemalangan bagi mereka nggak akan menyelesaikan apapun. Meminta mereka diblacklist dari sekolah dan seluruh universitas juga akan semakin menghasilkan preman yang bodoh…yang bisa jadi lebih kehilangan moral daripada ini.

 

Dalam tulisan ini saya menuntut penyelesaian kasus AY jangan berhenti di kata damai.

Menuntut para orangtua lebih memperhatikan anaknya dan lebih peka terhadap apa yang mereka lakukan di luar sana. Pergaulannya, teman mainnya, kegiatannya…jangan sampai lengah. Karena akan fatal seperti ini.

Menuntut institusi pendidikan dengan lebih serius mengawasi peserta didik. Bagaimana moral adalah sesuatu yang ditanamkan bukan hanya dalam waktu singkat namun harus dilakukan sejak tingkat pendidikan paling awal. Peka dengan adanya potensi geng-geng seperti ini, bullying, dan rasa senioritas yang sangat mungkin muncul di tiap tingkatan pendidikan….sebagai sesuatu yang penting, jangan sampai diabaikan.

Menuntut kita smeua untuk lebih perhatian lagi terhadap lingkungan, dan jangan segan-segan untuk bertindak kalau sampai mengertahui ada aksi serupa. Dengan besarnya lonjakan dukungan kepada AY sata ini saya yakin ini merupakan momen agar kita bisa lebih peka dan merasa marah terhadap kasus bullying….dan nggak lagi mengabaikan dan menyepelekan sebagai sebuah pertengkaran anak-anak.

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Idea

Maudy Ayunda : Bawa Aura Optimis atau Malah bikin Diri jadi Tambah Miris??

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Maudi Ayunda sudah melalui S1nya di Oxford University, dan saat ini ketika akan menempuh pendidikan S2 ia jadi rebutan Harvard University dan Stanford University. Fenomena ini langsung jadi highlight dimana-mana, entah itu jadi bahan candaan, bahan motivasi, sampai bahan sindiran. Tapi di balik riuh media sosial ngomongin tentang prestasi Maudi Ayunda tadi, sebenarnya yang begini efeknya kaya gimana sih? Jadi semangat berubah macam power ranger atau malah makin kaya butiran debu?

Ada beberapa sudut pandang yang saya lihat dan amati dari perbincangan di sosial media, ada yang mengatakan begitu bangga akan Maudy Ayunda dan memang pantas buat menjadikan panutan. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Maudy nggak perlu bekerja terlalu keras untuk bisa ada di posisinya sekarang, karena dia memang sudah berada dalam kondisi yang menguntungkan dan mendukungnya untuk menuju jalan yang dia inginkan.

Kedua pandangan ini tentu saja sah, karena memang perspektif tiap orang pastinya nggak bisa disamakan semua. Tapi dari yang saya lihat dari sekian banyak pendapat yang bertebaran, kecenderungannya rata-rata HANYA memperlihatkan kemewahan dari seorang Maudy. Memperlihatkan garis akhirnya, bagaimana dia berhasil, betapa dia sukses mencapai apa yang orang-orang bahkan hanya bisa bayangkan.

Baik dari sisi optimis dan pesimis keduanya memiliki satu celah yang sama ; mereka nggak membicarakan bagaimana proses seorang Maudy yang dulu untuk menjadi Maudy yang sekarang.

 

Maudy yang Nggak Berusaha…

Setiap orang silau karena Maudy sudah ada di tempat yang mumpuni saat ini dan jadi lupa bahwa sebelumnya dia harus berusaha sangat keras, mengubah banyak hal, mengusahakan yang pastinya nggak sepele.

Yang harus kita pahami adalah Maudy Ayunda itu seorang manusia biasa. Dia nggak lahir dalam keadaan langsung jenius, langsung cerdas. Mengertilah bahwa dia menjadi pintar bukan karena kekuatan ajaib. Penyakit yang kita alami saat melihat seseorang sukses adalah fokus pada hasil akhirnya tapi melupakan bahwa dia juga melewati proses yang sama panjangnya.

Okey kita mengatakan bahwa Maudy itu anak orang kaya, keluarganya punya kesadaran pendidikan yang tinggi, dia punya akses, dia nggak harus melakukan pekerjaan kasar layaknya anak-anak di desa, dia nggak perlu usaha ekstra untuk belajar karena lingkungannya sudah tersedia, dia juga nggak perlu capek mikirin bayaran ini dan itu karena masalah uang sudah di luar kepala.

Tapi apakah itu artinya Maudy nggak usaha? NO. BIG NO.

Kalau konteksnya kaya gitu maka semua anak orang kaya bakalan jadi paling pintar, dan anak orang miskin bakalan punya prestasi nol. Tapi nyatanya nggak tuh. Di Indonesia sudah banyak contoh anak-anak cerdas dari keluarga terbatas.

Maudy itu RAJIN. Tolong distempel di pikiran kita semua…dia itu R A J I N.

Dia bilang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan. Setiap hari nangkring di tempat penuh buku itu daripada harus keluar bareng teman-temannya. Sahabat terbaiknya adalah buku, yang menghabiskan waktunya hampir seharian. Dia kecanduan akan BELAJAR. Apakah hal itu adalah sesuatu yang bisa dipaksakan oleh orang lain pada kita? Apakah itu bisa muncul jeng! jeng! ala pensil ajaib?? Enggak.

Rajin itu adalah sebuah perjuangan. Dia dibentuk dengan kesadaran diri sendiri. Maudy itu berjuang untuk menumbuhkan dirinya yang seperti itu. Dan proses itu nggak sebentar, teman-teman yang budiman.

Maudy bukanlah orang ekspert yang sekali baca buku langsung khatam semua ilmu. Nggak. Dia usaha. Apa yang ada di otak dan pikirannya saat ini BUKAN dia dapatkan karena DISKON. Dia beli itu dengan harga penuh.

Yang keliru dari kita ketika merasa pesimis adalah karena kita membandingkan kelemahan kita, dengan kelebihan Maudy, dan kita me-NOL-kan usahanya.

Kita lebih bicarakan tentang segala fasilitas yang dia punya, tapi kita minimkan bahasan tentang bagaimana sebenarnya usaha Maudy atas dirinyalah yang pada kahirnya paling berperan. Tapi kita nggak bahas itu. Kita cuma tau dia anak orang kaya, dia artis, dia sukses, yaaa wajar masuk tempat kuliah bagus. Wajar kalau pintar. Wajar aja kalau gampang. Wjar aja kalau mudah.

Heyyy…orang-orang negara +62, ini tuh nggak mudah bahkan untuk Maudy. Dia melewati keraguan, dia juga insecure, dia bahkan takut dan pesimis dengan harapan yang dia punya. Dia sampai ngerasa kayanya nggak akan mungkin bisa tembus ke Stanford. Seorang dia, yang harus saingan dengan banyak banget orang mumpuni di bidang bisnis, dia sampai mikir kalau yasudah….kalau yang terpenting adalah dia sudah bisa tumbuh dari proses dia mengejar mimpi itu. Dia menghabiskan waktu intensif berbulan-bulan buat nyusun resume dan motivation letter, karena banyaknya pergolakan dan kebingungan tentang gimana cara supaya bisa memberikan hal maksimal. Dan segalanya ini nggak seharusnya kita abaikan dan remehkan. Usaha Maudy itu nggak pernah setengah jalan.

Apa sih inti dari kalimat-kalimat saya ini?

POLA PIKIR Maudy. Itulah yang dia bangun sejak awal. Itulah inti dari apa yang dia punya sekarang, dan itulah yang akan membawa dia melewati masa-masa berat berikutnya. Dan membuat pola pikir R A J I N, U L E T, T E K U N itu nggak gampang. Mempertahankannya juga jauh lebih berat. Nggak adil rasanya ketika Maudy lulus di tempat yang bergengsi dan yang dibahas adalah fasilitas orangtuanya dan ujuk-ujuk langsung meniadakan usahanya.

Walaupun orangtuamu maksain kamu buat belajar, nggak akan mempan kalau kamunya nggak suka belajar.

Walaupun orangtuamu maksain kamu kuliah sampai S10, nggak akan kejadian kalau kamunya nggak tahan.

Walaupun orangtuamu punya uang segepok, fasilitas segunung, dan ambisi selautan, akan mantul juga kalau kamunya nggak punya kesadaran yang sama.

Jadinya pada akhirnya usaha Maudy atas seorang individu juga berperan sangat besar dalam menentukan visi yang dia ingin capai. Fasilitas melimpah nggak akan berguna kalau diri sendiri memang nggak punya target apa-apa.

 

Maudy ya Maudy. Kamu ya Kamu….

Hanya karena Maudy lulus di universitas bergengsi, bukan berarti kamu langsung harus jadi kaya Maudy. Bukan berarti kamu harus lulus di universitas sangat beken. Bukan berarti kamu harus terbang ke luar negeri.

Adanya Maudy bukan berarti menyepelekan usaha yang kamu punya. Menomorsatukan dia, dan membuat kamu jadi keset tulisan welcome. Nggak.

Maudy dan kamu kan punya zona waktu berbeda, zona usaha yang nggak sama dan latar yang pastinya bukan di satu warna. Apa yang ada pada diri Maudy dan nggak ada padamu, bukan negasi dari sebuah kegagalan. Apa yang Maudy bisa capai dan nggak terjadi di kamu bukan berarti hidupmu penuh kesialan. Bukan.

Maudy adalah Maudy dan kamu adalah kamu.

Apa yang harusnya diambil dari Maudy adalah bahwa mimpi itu ada jalannya. Setiap orang berhak punya mimpi. Dan mimpi yang datang adalah hasil dari sebuah usaha panjang.

Kalau kamu berpikir fenomena Maudy makin bikin kamu jadi ngerasa nggak guna, bukan itu intinya. Hanya karena Maudy berhasil, bukan berarti hargamu jadi kecil.

Karena Maudy ya Maudy, dan kamu adalah kamu.

Pada akhirnya apa yang ada dalam cerita Maudy akan jadi racun di kamu kalau nggak bisa melihatnya dari sisi yang lebih adil. Kalau kamu mengambil semuanya tanpa disaring. Bukan cuma cerita Maudy, cerita keberhasilan orang lain akan selamanya kamu lihat dan nilai dengan dangkal, dan abai terhadap proses panjangnya.

Dalam tiap keberhasilan orang lain, sikapmu ini selamanya akan menjadikan kamu butiran debu yang keras kepala.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Trending