Drama Kolosal Pilpres 2019, Sebenarnya Lawan “Kita” Siapa??

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – 17 April 2019 sudah lewat dan saya kira semua drama tahta ini akan selesai. Tapi ternyata episodenya masih berlanjut dengan dramatis, dimulai dengan penolakan kubu 02 akan hasil rekapitulasi suara yang dikeluarkan oleh Quick Count. Detik itu saya sadar kalau…this isnt gonna be easy. Dan benar. Makin ke sini ternyata konfliknya bukan malah reda tapi makin jadi.

Tapi sebenarnya di antara semuanya, satu pertanyaan besar saya…

Read More

Kita ini sedang tarung lawan siapa??

Politik Identitas adalah Jalan Ninjaku~

Drama kolosal pemilu Indonesia dimulai jauh sebelum tanggal 17 April 2019. Semuanya dimulai sejak Pilgub 2019 lalu ketika Anies-Sandi Melawan BTP-Djarot…ohiya, di tengah-tengahnya ada Agus-Silvi, hampir lupa.

Politik identitas diartikan sebagai politik perbedaan, yang menekankan strategi pada perbedaan-perbedaan untuk kemudian memunculkan persamaan. Jadi perbedaan dimunculkan dengan sengaja agar membentuk koalisi-koalisi. Jika perbedaan ini tidak ditonjolkan, maka mustahil rasanya menemukan kubu teman dan kubu lawan. Apesnya politik identitas yang ada di Indonesia saat ini dimunculkan dengan dominasi agama. Agama yang mana??

Mana lagi…mana lagi selain yang mayoritas~~

Sejak BTP divonis sebagai aktor penistaan agama, politik identitas telah memecah kita menjadi kubu sesat dan kubu jalan kebenaran. Mulai detik itulah kemudian kualitas diri seseorang ditentukan dari sikap politiknya.

Politik identitas ini terus dibesar-besarkan dengan semangat, ditambah dengan insiden PKI Jokowi, kemudian pembubaran HTI, belum lagi kriminalisasi orang-orang yang mengaku sebagai ustadz. Kita semakin yakin kalau Indonesia CUMA berisi dua jenis ; Yang kafir dan yang tidak kafir. Politik identitas berlatarkan agama makin mewah. Makin seru. Konfilknya bukan cuma di tataran parlemen, tapi sampai ke rumah-rumah.

Asyik!!!

Jalan ninja ini makin terasah seiring dengan berlabuhnya “para ustadz” ke masing-masing kubu. Kita yang rakyat planga-plongo ini jadi dipaksa menentukan mana ustadz yang asli dan mana yang palsu. Yang mana yaaa?? Ya ampun bingung πŸ™

 

Semuanya pakai peci, pakai sarung, pakai koko. Semuanya bisa ngaji, bisa dakwah, bisa hafal surat-surat dan ayat walaupun nggak selalu dicek oleh yang dengar. Jadinya makin bingung, sebenarnya yang mana yang ustadz asli dan mana yang cuma doppelganger??

Semuanya klaim untuk kepentingan UMAT.

Katanya demi RAKYAT.

Juga buat kebaikan MASYARAKAT.

Jadi bingung kan, rakyat yang mana? Umat yang mana? Masyarakat yang mana?

Aduh drama kolosalnya makin pelik nih. Setelah kita dipaksa milih jalan ninja, sekarang kita dipaksa buat nentuin kita ini golongan kurma atau golongan babi. Golongan yang halal atau yang haram. Golongan yang nanti beloknya ketemu Malik atau Ridwan.

Kita harus apa sebagai rakyat yang planga plongo ini?

Haruskah kita merelakan saudara dan bertengkar di grup-grup WA keluarga demi politik identitas ini?

Pusingnya kepala Unyil.

Rakyat Planga-Plongo di Bawah Elite yang Planga-Plongo

Akhirnya drama kolosalnya mencapai konflik lanjutan yang lebih seru. Masing-masing barisan sudah ketemu kubu seidentitasnya. Yaitu yang kafir dan yang tidak kafir. Dan yang sumbu panjang versus sumbu pendek. Banyak kampanye kotor dan negatif yang bermunculan, mulai dari isu PKI, isu penistaan agama, isu salah sebut Surat Al-Fatihah, isu mau kontes ngaji, isu ziarah kubur, isu ziarah pembesar agama, isu keluarga yang mau rujuk, isu Orba, isu antek asing, isu saingan umrah.

Wuhuuu…kepala kita sebagai rakyat jelata ini dipenuhi oleh isu yang bertubrukan dan massif, tanpa ada kesempatan untuk menghela napas. Kta harus memproses ledakan informasi, bertarung dengan hoax, melawan segala jenis berita dari berbagai media yang perhari bsa mengeluarkan ratusan judul menarique.

Sekali lagi…kita yang rakyat planga-plongo ini harus apa ya??

Padahal kita sadar nggak sih, yang membuat isu ini adalah mereka yang punya kuasa?

Nggak…kita nggak sadar.

Kita mabok fanatisme atas versi drama yang kita anggap paling juara dan akan masuk surga. Sehingga kita nggak bisa ambil jalan tengah, harus jalan pinggir biar nggak dikick dari grup WA.

Si para elite di atas itu dengan planga-plongonya melanggengkan politik identitas berbasis agama. Sehingga kita juga yang berada di bawahnya mau nggak mau ikut arus. Karena seperti yang tadi saya bilang, kita dipaksa menentukan kita bagian dari yang mana. Kita dipaksa memiliki identitas baru berdasarkan skenario drama yang elite buat.

Kita yang sudah lahir dengan gotong royong, tumbuh dengan rasa korsa, dan besar dengan solidaritas ini makin dibakar dengan bensin agama dan solar demokrasi. Apa jadinya??

Kambing-kambing politik. Dan kuda-kuda elite. Oh…iya..jangan lupa, kita jadi onta-onta agama juga.

Kita kaya nggak punya logika sendiri, selain yang dibuat oleh elite. Kenapa saya pakai kata “elite”? Soalnya ini bukan cuma kerjaan pemerintah sekarang. Banyak juga kerjaan mereka yang nggaka dalam pusaran parlemen tapi punya dampak besar dalam membuat skenario epic.

Elite featuring elite, wow, craziness everywhere.

Pada tahapan ini kita sudah dengan yakin memilih kubu. Bukan Kubu Biasa, karena Kubunya bawa-bawa senjata sakti yang namanya Agama. Siapa berani lawan agama?? Neraka dan dikeluarkan dari KK!

Akibatnya?

Kita yang sudah planga-plongo jadi makin ahem-ahem-iya-iya. Sudahlah ditampuk elite, disodok keluarga, dicacati media…kelar hidup ini.

 

GOLPUT ! BODOAMAT!

Akhirnyaaa muncullah jalan-jalan alternatif bagi rakyat yang planga-plongo ini. Muncul narasi baru, yaitu nggak memilih sama sekali sebagai bentuk pilihannya. Maunya nunjukkin kalau rakyat juga berdaya dan berhak memilih…walaupun itu artinya membiarkan kertas suara tetap kosong. Menganggap kalau pilihan elite 01 ataupun elite 02 sama aja mudharatnya. Sama nggak asiknya. Ogah banget milih dua-duanya!

Saya secara pribadi mengapresiasi jalan ini. Karena di tengah-tengah arus politik elite yang mainstream, muncul sebuah pikiran baru yang bikin kontentasi makin seru. Ide-ide menarik yang keluar dari kebiasaan membuat saya bisa berpikir lebih luas, bukan hanya yang disediakan dalam kandang.

Jenis yang seperti ini yang nggak boleh mati. Di antara kejenuhan, muncullah sebuah pemikiran yang menolak dipaksa. Menolak disuruh jadi kambingnya 01 atau kudanya 02. Walaupun pada akhirnya tujuan adalah sama-sama memunculkan identitas golput, namun tetap saja, yang begini bikin senang. Ada angin segar di luar polusi elite.

 

Aksi Ego dalam Klaim Damai

Kita sampai pada 21 Mei. Dengan lelah dan jenuh setiap hari dipaksa makan narasi politik. Tanpa ampun para elite dengan bahagianya menggelontorkan komentar-komentar yang ditangkap media, kemudian dihias sebegitunya. Saya selalu berpikir…apakah mereka sebagai elite akan sangat bahagia ya melihat kita gelut? Melihat kita saling bunuh?

Tapi saya juga mikir…kenapa sih pada mau jadi kambing dan kuda-kudaan? Kenapa sih mau dimanfaatkan? Kenapa sih mau repot-repot mengeluarkan semua usaha dan tenaga untuk membela narasi mereka? Kenapa sampai jadi fanatik kelas mujaer?

Buntut dari politik identitas ini kemudian sampai ke hari ini…ketika meledak AKSI DAMAI yang (damainya masih dipertanyakan) di Jakarta.

Yaaa, sudah bisa ditebak kan. Bawanya agama mayoritas, klaimnya jihad, katanya menyerang atas nama Allah, imbalannya nanti surga jalur prestasi. Terlepas dari esensi agama yang sebenarnya, tapi aksi-aksi yang muncul dalam politik saat ini sudah bisa dilihat minyak panasnya adalah agama, dan rakyat cuma jadi kerupuknya. Tinggal dipanasi dan digoreng…sisanya akan jadi renyah sendiri. Tangan elite nggak akan ada kotorannya, karena semuanya dilimpahkan ke kuda-kuda di lapangan.

Andai saja para elite mau berbicara dengan tegas, rekonsiliasi satu sama lain, pastinya hal ini nggak perlu pecah dan meleber kemana-mana. Sampai menewaskan, menutup akses jalan, membakar, membatalkan banyak rencana kerja, meliburkan kegiatan sekolah, sampai merusak fasilitas publik.

Nggak perlu…kalau saja ego elite bisa ditampung dalam bejana yang lebih baik lagi…hingga nggak perlu tumpah dan melukai kita rakyat planga-plongo ini.

Dari aksi yang katanya DAMAI ini, ujungnya akan jadi luka. Luka kepercayaan terhadap sesama, terhadap pemerintah, terhadap agama, dan terhadap perbedaan. Yang tinggal di kepala rakyat nantinya akan didominasi oleh hal-hal mengerikan. Ini merugikan bukan hanya secara personal mereka yang terkena dampak aksi, namun juga secara narasi agama yang dibawa, dan kelompok yang dibela. Jarak antar kubu akan jadi makin renggang dan politik identitas yang terbangun akan jadi makin panjang.

Luka kita akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar.

 

Lalu sebenarnya siapa yang sedang kita lawan??

Siapa sebenarnya musuh kita?

Apakah elite? Apakah kubu sebelah? Apakah antek asing? Apakah agama doppelganger?

Siapa??

Apa benang merah dari pergelutan ini sebenarnya?

Saya pun bingung.

Apakah ini perang kafir dan non kafir?

Apakah ini perang 01 dan 02?

Apakah ini perang khilafah atau Pancasila?

Semuanya bergerumul jadi satu, disulut satu terbakar semua. Disiram bensin yang satu luluh lantahnya semuanya.

Kita selama ini luka dan bergumul dengan saudara kita sendiri, tapi apakah sebenarnya kita tahu…apa yang kita lawan? Apa yang ingin kita hentikan? Dan sebenarnya apa yang ingin kita bentuk untuk masa depan?

Apakah kita yang planga-plongo ini sadar, kalau selama ini kita berperang dengan musuh-musuh fatamorgana, yang akhirnya menghancurkan diri kita sendiri?

 

Akhir Drama Kolosal…

Drama kolosal berakhir saat pihak yang jahat tumbang. Selama yang jahat masih hidup konfliknya akan terus muncul dan membolak-balikkan keadaan. Membuat penonton menyumpah serapah tapi akhirnya tetap asyik menonton dan memilih jagoan.

Jadinya kapan drama kolosal Pilpres 2019 ini tuntas??

Tidak akan pernah tuntas. Yang ada hanya pendinginan, tapi konfliknya akan tetap bersarang, menunggu muncul ke permukaan. Kail yang disebar dengan membentuk politik identitas nggak akan semudah itu ditarik dan dibatalkan.

Lalu kita harus apa? Kita yang planga-plongo dengan gengsi segunung yang tetap membela elite tercinta tanpa ampun…harus gimana?

Saya mengutip kata-kata Gus Dur, Presiden Indonesia paling woles yang pernah saya ingat. Waktu itu Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan dan diminta keluar dari istana. Apa sih kata Beliau tentang perebutan tahta?

“Tingginya apa sih jabatan Presiden itu kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia. Tidak perlu.”

Yang masih buta sama fanatisme kelompok, yang masih mabok sama agama…bangun. Kamu keliru. Egomu membunuh bukan cuma dirimu, tapi negaramu.

Related posts