Connect with us

Idea

Drama Kolosal Pilpres 2019, Sebenarnya Lawan “Kita” Siapa??

Irma El-Mira

Published

on

detikNews

GIRLISME.COM – 17 April 2019 sudah lewat dan saya kira semua drama tahta ini akan selesai. Tapi ternyata episodenya masih berlanjut dengan dramatis, dimulai dengan penolakan kubu 02 akan hasil rekapitulasi suara yang dikeluarkan oleh Quick Count. Detik itu saya sadar kalau…this isnt gonna be easy. Dan benar. Makin ke sini ternyata konfliknya bukan malah reda tapi makin jadi.

Tapi sebenarnya di antara semuanya, satu pertanyaan besar saya…

Kita ini sedang tarung lawan siapa??

Politik Identitas adalah Jalan Ninjaku~

Drama kolosal pemilu Indonesia dimulai jauh sebelum tanggal 17 April 2019. Semuanya dimulai sejak Pilgub 2019 lalu ketika Anies-Sandi Melawan BTP-Djarot…ohiya, di tengah-tengahnya ada Agus-Silvi, hampir lupa.

Politik identitas diartikan sebagai politik perbedaan, yang menekankan strategi pada perbedaan-perbedaan untuk kemudian memunculkan persamaan. Jadi perbedaan dimunculkan dengan sengaja agar membentuk koalisi-koalisi. Jika perbedaan ini tidak ditonjolkan, maka mustahil rasanya menemukan kubu teman dan kubu lawan. Apesnya politik identitas yang ada di Indonesia saat ini dimunculkan dengan dominasi agama. Agama yang mana??

Mana lagi…mana lagi selain yang mayoritas~~

Sejak BTP divonis sebagai aktor penistaan agama, politik identitas telah memecah kita menjadi kubu sesat dan kubu jalan kebenaran. Mulai detik itulah kemudian kualitas diri seseorang ditentukan dari sikap politiknya.

Politik identitas ini terus dibesar-besarkan dengan semangat, ditambah dengan insiden PKI Jokowi, kemudian pembubaran HTI, belum lagi kriminalisasi orang-orang yang mengaku sebagai ustadz. Kita semakin yakin kalau Indonesia CUMA berisi dua jenis ; Yang kafir dan yang tidak kafir. Politik identitas berlatarkan agama makin mewah. Makin seru. Konfilknya bukan cuma di tataran parlemen, tapi sampai ke rumah-rumah.

Asyik!!!

Jalan ninja ini makin terasah seiring dengan berlabuhnya “para ustadz” ke masing-masing kubu. Kita yang rakyat planga-plongo ini jadi dipaksa menentukan mana ustadz yang asli dan mana yang palsu. Yang mana yaaa?? Ya ampun bingung 🙁

 

Semuanya pakai peci, pakai sarung, pakai koko. Semuanya bisa ngaji, bisa dakwah, bisa hafal surat-surat dan ayat walaupun nggak selalu dicek oleh yang dengar. Jadinya makin bingung, sebenarnya yang mana yang ustadz asli dan mana yang cuma doppelganger??

Semuanya klaim untuk kepentingan UMAT.

Katanya demi RAKYAT.

Juga buat kebaikan MASYARAKAT.

Jadi bingung kan, rakyat yang mana? Umat yang mana? Masyarakat yang mana?

Aduh drama kolosalnya makin pelik nih. Setelah kita dipaksa milih jalan ninja, sekarang kita dipaksa buat nentuin kita ini golongan kurma atau golongan babi. Golongan yang halal atau yang haram. Golongan yang nanti beloknya ketemu Malik atau Ridwan.

Kita harus apa sebagai rakyat yang planga plongo ini?

Haruskah kita merelakan saudara dan bertengkar di grup-grup WA keluarga demi politik identitas ini?

Pusingnya kepala Unyil.

Rakyat Planga-Plongo di Bawah Elite yang Planga-Plongo

Akhirnya drama kolosalnya mencapai konflik lanjutan yang lebih seru. Masing-masing barisan sudah ketemu kubu seidentitasnya. Yaitu yang kafir dan yang tidak kafir. Dan yang sumbu panjang versus sumbu pendek. Banyak kampanye kotor dan negatif yang bermunculan, mulai dari isu PKI, isu penistaan agama, isu salah sebut Surat Al-Fatihah, isu mau kontes ngaji, isu ziarah kubur, isu ziarah pembesar agama, isu keluarga yang mau rujuk, isu Orba, isu antek asing, isu saingan umrah.

Wuhuuu…kepala kita sebagai rakyat jelata ini dipenuhi oleh isu yang bertubrukan dan massif, tanpa ada kesempatan untuk menghela napas. Kta harus memproses ledakan informasi, bertarung dengan hoax, melawan segala jenis berita dari berbagai media yang perhari bsa mengeluarkan ratusan judul menarique.

Sekali lagi…kita yang rakyat planga-plongo ini harus apa ya??

Padahal kita sadar nggak sih, yang membuat isu ini adalah mereka yang punya kuasa?

Nggak…kita nggak sadar.

Kita mabok fanatisme atas versi drama yang kita anggap paling juara dan akan masuk surga. Sehingga kita nggak bisa ambil jalan tengah, harus jalan pinggir biar nggak dikick dari grup WA.

Si para elite di atas itu dengan planga-plongonya melanggengkan politik identitas berbasis agama. Sehingga kita juga yang berada di bawahnya mau nggak mau ikut arus. Karena seperti yang tadi saya bilang, kita dipaksa menentukan kita bagian dari yang mana. Kita dipaksa memiliki identitas baru berdasarkan skenario drama yang elite buat.

Kita yang sudah lahir dengan gotong royong, tumbuh dengan rasa korsa, dan besar dengan solidaritas ini makin dibakar dengan bensin agama dan solar demokrasi. Apa jadinya??

Kambing-kambing politik. Dan kuda-kuda elite. Oh…iya..jangan lupa, kita jadi onta-onta agama juga.

Kita kaya nggak punya logika sendiri, selain yang dibuat oleh elite. Kenapa saya pakai kata “elite”? Soalnya ini bukan cuma kerjaan pemerintah sekarang. Banyak juga kerjaan mereka yang nggaka dalam pusaran parlemen tapi punya dampak besar dalam membuat skenario epic.

Elite featuring elite, wow, craziness everywhere.

Pada tahapan ini kita sudah dengan yakin memilih kubu. Bukan Kubu Biasa, karena Kubunya bawa-bawa senjata sakti yang namanya Agama. Siapa berani lawan agama?? Neraka dan dikeluarkan dari KK!

Akibatnya?

Kita yang sudah planga-plongo jadi makin ahem-ahem-iya-iya. Sudahlah ditampuk elite, disodok keluarga, dicacati media…kelar hidup ini.

 

GOLPUT ! BODOAMAT!

Akhirnyaaa muncullah jalan-jalan alternatif bagi rakyat yang planga-plongo ini. Muncul narasi baru, yaitu nggak memilih sama sekali sebagai bentuk pilihannya. Maunya nunjukkin kalau rakyat juga berdaya dan berhak memilih…walaupun itu artinya membiarkan kertas suara tetap kosong. Menganggap kalau pilihan elite 01 ataupun elite 02 sama aja mudharatnya. Sama nggak asiknya. Ogah banget milih dua-duanya!

Saya secara pribadi mengapresiasi jalan ini. Karena di tengah-tengah arus politik elite yang mainstream, muncul sebuah pikiran baru yang bikin kontentasi makin seru. Ide-ide menarik yang keluar dari kebiasaan membuat saya bisa berpikir lebih luas, bukan hanya yang disediakan dalam kandang.

Jenis yang seperti ini yang nggak boleh mati. Di antara kejenuhan, muncullah sebuah pemikiran yang menolak dipaksa. Menolak disuruh jadi kambingnya 01 atau kudanya 02. Walaupun pada akhirnya tujuan adalah sama-sama memunculkan identitas golput, namun tetap saja, yang begini bikin senang. Ada angin segar di luar polusi elite.

 

Aksi Ego dalam Klaim Damai

Kita sampai pada 21 Mei. Dengan lelah dan jenuh setiap hari dipaksa makan narasi politik. Tanpa ampun para elite dengan bahagianya menggelontorkan komentar-komentar yang ditangkap media, kemudian dihias sebegitunya. Saya selalu berpikir…apakah mereka sebagai elite akan sangat bahagia ya melihat kita gelut? Melihat kita saling bunuh?

Tapi saya juga mikir…kenapa sih pada mau jadi kambing dan kuda-kudaan? Kenapa sih mau dimanfaatkan? Kenapa sih mau repot-repot mengeluarkan semua usaha dan tenaga untuk membela narasi mereka? Kenapa sampai jadi fanatik kelas mujaer?

Buntut dari politik identitas ini kemudian sampai ke hari ini…ketika meledak AKSI DAMAI yang (damainya masih dipertanyakan) di Jakarta.

Yaaa, sudah bisa ditebak kan. Bawanya agama mayoritas, klaimnya jihad, katanya menyerang atas nama Allah, imbalannya nanti surga jalur prestasi. Terlepas dari esensi agama yang sebenarnya, tapi aksi-aksi yang muncul dalam politik saat ini sudah bisa dilihat minyak panasnya adalah agama, dan rakyat cuma jadi kerupuknya. Tinggal dipanasi dan digoreng…sisanya akan jadi renyah sendiri. Tangan elite nggak akan ada kotorannya, karena semuanya dilimpahkan ke kuda-kuda di lapangan.

Andai saja para elite mau berbicara dengan tegas, rekonsiliasi satu sama lain, pastinya hal ini nggak perlu pecah dan meleber kemana-mana. Sampai menewaskan, menutup akses jalan, membakar, membatalkan banyak rencana kerja, meliburkan kegiatan sekolah, sampai merusak fasilitas publik.

Nggak perlu…kalau saja ego elite bisa ditampung dalam bejana yang lebih baik lagi…hingga nggak perlu tumpah dan melukai kita rakyat planga-plongo ini.

Dari aksi yang katanya DAMAI ini, ujungnya akan jadi luka. Luka kepercayaan terhadap sesama, terhadap pemerintah, terhadap agama, dan terhadap perbedaan. Yang tinggal di kepala rakyat nantinya akan didominasi oleh hal-hal mengerikan. Ini merugikan bukan hanya secara personal mereka yang terkena dampak aksi, namun juga secara narasi agama yang dibawa, dan kelompok yang dibela. Jarak antar kubu akan jadi makin renggang dan politik identitas yang terbangun akan jadi makin panjang.

Luka kita akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar.

 

Lalu sebenarnya siapa yang sedang kita lawan??

Siapa sebenarnya musuh kita?

Apakah elite? Apakah kubu sebelah? Apakah antek asing? Apakah agama doppelganger?

Siapa??

Apa benang merah dari pergelutan ini sebenarnya?

Saya pun bingung.

Apakah ini perang kafir dan non kafir?

Apakah ini perang 01 dan 02?

Apakah ini perang khilafah atau Pancasila?

Semuanya bergerumul jadi satu, disulut satu terbakar semua. Disiram bensin yang satu luluh lantahnya semuanya.

Kita selama ini luka dan bergumul dengan saudara kita sendiri, tapi apakah sebenarnya kita tahu…apa yang kita lawan? Apa yang ingin kita hentikan? Dan sebenarnya apa yang ingin kita bentuk untuk masa depan?

Apakah kita yang planga-plongo ini sadar, kalau selama ini kita berperang dengan musuh-musuh fatamorgana, yang akhirnya menghancurkan diri kita sendiri?

 

Akhir Drama Kolosal…

Drama kolosal berakhir saat pihak yang jahat tumbang. Selama yang jahat masih hidup konfliknya akan terus muncul dan membolak-balikkan keadaan. Membuat penonton menyumpah serapah tapi akhirnya tetap asyik menonton dan memilih jagoan.

Jadinya kapan drama kolosal Pilpres 2019 ini tuntas??

Tidak akan pernah tuntas. Yang ada hanya pendinginan, tapi konfliknya akan tetap bersarang, menunggu muncul ke permukaan. Kail yang disebar dengan membentuk politik identitas nggak akan semudah itu ditarik dan dibatalkan.

Lalu kita harus apa? Kita yang planga-plongo dengan gengsi segunung yang tetap membela elite tercinta tanpa ampun…harus gimana?

Saya mengutip kata-kata Gus Dur, Presiden Indonesia paling woles yang pernah saya ingat. Waktu itu Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan dan diminta keluar dari istana. Apa sih kata Beliau tentang perebutan tahta?

“Tingginya apa sih jabatan Presiden itu kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia. Tidak perlu.”

Yang masih buta sama fanatisme kelompok, yang masih mabok sama agama…bangun. Kamu keliru. Egomu membunuh bukan cuma dirimu, tapi negaramu.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Idea

27 Steps of May : Pertunjukan Ruang Hampa Hidup Korban Kekerasan Seksual

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya saya nonton film ini kemarin malam. Sebenarnya berat buat nonton, karena saya tau di dalam film ini berisi beberapa adegan pemerkosaan, yang saya tau pasti akan membuat saya susah untuk nggak marah dan sedih. Sekedar baca dari berita aja sudah bisa bikin saya menyumpah, apalagi kalau divisualkan dengan baik. Makanya sebenarnya nonton tadi malam merupakan hasil dari pertimbangan panjang.

Dan benar aja….saya mulai terpantik emosinya sejak adegan di latar kedua, sekitar menit kelima. Adegan gang rape.

May adalah gadis berusia 14 tahun, masih SMP. Malam itu May keluar sendiri ke pasar malam, nonton pertunjukkan, makan gula-gula, ketawa-ketawa. Bahagia.

Taunya saat perjalanan pulang, ketika May lewat gang sempit, dia ditarik oleh segerombolan laki-laki dan diperkosa secara bergilir. Mulut May disumpal kain, tangannya disudut puntungan rokok, dan dipaksa makan makanan oplosan sampai muntah.

Ya…May diperlakukan seperti itu sambil dilecuti bajunya dan dipaksa menerima penetrasi alat vital si pemerkosa.

Hanya itu?

Bukan. May dikerjai dari arah depan dan belakang, secara bergiliran dan sekaligus.

Pada adegan-adegan ini saya nggak bisa nahan tangis. Dia baru berusia 14 tahun, masih dalam tahap kenalan sama tubuhnya snediri, dan malangnya diperkosa secara bergilir oleh segerombol lelaki. Saya nggak bisa menghilangkan dari pikiran ini sebagaimana sakit dan traumanya dia.

Secara logika, sayapun nggak mau melakukan hubungan intim apapun bentuknya, walaupun dengan orang yang saya sukai, jika bukan kehendak saya sendiri. Karena akan sangat sakit rasanya jika orang lain menyentuh dan menggerayangi tubuh saya tanpa saya inginkan. Dan May malah dipaksa oleh laki-laki asing, disiksa, diperlakukan bukan hanya disetubuhi namun sampai dibekap, dipaksa makan makanan nggak wajar dan disulut rokok. Dalam pikiran saya nggak bisa membendung akan jadi sesakit apa dia.

Film ini menceritakan efek pemerkosaan itu kepada May dan keluarganya, yaitu Bapak. Kekurangan dalam film ini adalah meloncatkan waktu langsung ke 8 tahun setelahnya, sehingga saya nggak tau di masa-masa sulit di rentang waktu itu apa yang dilakukan oleh Bapak untuk mengusahakan May, merespon May, dan berusaha mendekatkan diri pada May. Yang diperlihatkan pada film langsung pada 8 tahun setelahnya menggambarkan May sebagai seorang gadis yang bahkan nggak PERNAH BICARA sepatah katapun. Bahkan dia nggak pernah berani keluar melebihi batas pintu kamarnya sendiri. May hanya tinggal di dalam sebuah kamar, dan beraktifitas di sana. Ia keluar hanya untuk makan saja.

Hidup May hanya diisi oleh Bapak, yang sayangnya ditunjukkan bukan sebagai sosok yang paham tentang bagaimana caranya menangani korban pemerkosaan.

Bapak juga bingung dan takut melakukan hal-hal yang beresiko mengusik May, karena sekali saja terusik dia akan melukai dirinya sendiri. Bapak buntu, May juga begitu. Keduanya bagai hidup dalam gelembung masing-masing dan nggak saling berhubungan. May sibuk dengan traumanya dan Bapak sibuk melampiaskan rasa bersalahnya pada ring tinju bebas.

Ini memberikan gambaran kondisi masyarakat kita sata ini, yang belum memahami bagaimana cara terbaik untuk merespon kekerasan seksual. Kita kagok, kaku, dan ragu-ragu pada hal yang sebenarnya sudah sangat sering terjadi.

Akibatnya hal ini memutus kemungkinan perubahan dari si penyitas kekerasan seksual, karena kita nggak berusaha membantunya mencari jalan keluar.

Selama ini kita menyepelekan hal-hal terkait pemerkosaan, sebelum akhirnya kena batunya ketika hal itu menimpa orang-orang terdekat kita. Merasa bahwa kekerasan seksual mungkin hanya bagian dari fiksi, sampai kemudian dia benar-benar terjadi. Setelahnya kita mau gimana? Nggak ada. Bingung sendiri dan menyesali diri.

Dalam film ini digambarkan May sangat menderita. Dia hanya bertahan hidup karena siklus, melalui kebiasaan yang dia lakukan sehari-hari. Bangun di pagi hari, membantu Bapak membuat boneka, kemudian makan bersama, dan olahraga sampai capek supaya bisa tidur cepat. Dia harus melawan kilasan-kilasan trauma tentang kejadian pemerkosaan itu dengan cara menghindari segala aktifitas yang mungkin mengingatkannya akan hal itu.

Bajunya hanya satu warna. Ia hanya bisa makan makanan yang polos tanpa rasa, karena traumanya akan makanan oplosan yang diberikan oleh gerombolan preman tersebut membuatnya selalu ketakutan dan memuntahkan segala hal yang memiliki rasa. Ia hanya makan nasi putih, tahu putih dan tauge tanpa bumbu. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 8 tahunpun trauma May masih tetap di sana, nggak beranjak sedikitpun.

Dia terjebak dalam ketakutannya sendiri tanpa tau gimana cara terbaik untuk keluar.

Bagi kamu yang mungkin pernah punya pengalaman masa lalu yang buruk, kamu akan paham gimana tersiksanya ketika kita hidup dengan bayangan hal-hal yang paling ingin kita lupakan.

Yang terus muncul dan jadi hal utama di pikiran. Sampai May harus terus melukai dirinya sendiri untuk bisa tetap sadar. Rasa sakit itu yang membantu dia mengalihkan pikirannya. Selama 8 tahun sendirian tanpa ada yang bantu cari jalan keluar….nggak kebayang gimana sakitnya perempuan berusia 14 tahun dalam diri May.

Sampai akhirnya May ketemu dengan sesosok pesulap, yang diceritakan tinggal di sebelah kamarnya. Pesulap ini diibaratkan sebagai support system, hal yang selama ini May nggak pernah dapatkan. Diceritakan di sana si pesulap ini berusaha meraih May dengan memperlihatkan trik-trik sederhana, yang membuat May nggak harus lagi mengalihkan pikirannya dengan silet. Waktu dan perlakuan yang diberikan si pesulap membuat May mau belajar membuka diri untuk berinteraksi. Walaupun awalnya takut dan stress sendiri, namun ini merupakan sebuah titik balik May untuk keluar dari gelembungnya dan mau menerima hal baru.

Hal ini menunjukkan bahwa support system adalah apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para penyitas kekerasan seksual. Pendukung yang akan membantu dia keluar dari zonanya, dan membuatnya mau berdamai dengan masa lalu. Sesuatu yang justru sangat jarang kita perhatikan.

Bukan lagi saatnya kita melihat korban kekerasan seksual sebagai sebuah aib. Sebagai hal yang harus ditutupi dan membuat malu. Mereka adalah orang yang harusnya dirangkul dan dikuatkan. Bantu mereka percaya bahwa kedepannya mereka masih punya hak yang sama untuk tumbuh sebagai seorang manusia.

Dari langkah-langkah May saya belajar banyak mengenai ruang hampa selama 8 tahun tenggelam dalam trauma. Hal yang selama ini jarang orang berani bicarakan. Dianggap tabu dan dilupakan. Masih selalu dikategorikan ke dalam hal-hal yang membuat aib dan malu.

Kepada May-May lain di luar sana…semua yang nggak baik di waktu dulu, akan jadi membaik kedepannya. We are here for you.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Idea

#JusticeforAY : Mau Sampai Kapan Indonesia Hobi Mendamaikan Kebodohan??

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Mulai nulis artikel ini sebenarnya saya harus dalam kondisi kepala dingin dulu, hati juga harus adem dulu, karena takutnya nanti isi artikelnya dipenuhi sumpah serapah semua.

Sebelum ngomong jauh, saya akan rangkum dulu kronologi ketidakberuntungan yang didapatkan oleh AY, siswi SMP di Pontianak yang dikeroyok habis-habisan oleh 12 siswi SMA.

 

Kronologi Pengeroyokan AY oleh 12 Siswi SMA…

Jadi ini adalah asal mula mengapa AY sampai bisa dikeroyok oleh 12 siswi SMA tersebut.

 

Selanjutnya saya akan bahas kronologi kasus pengeroyokannya…

Tanggal 29 Maret 2019

AY dijemput oleh pelaku pada siang hari. Alasannya adalah ingin meminta AY buat mempertemukan mereka dengan kakak sepupunya tersebut. AY mengiyakan, karena memang nggak punya pikiran akan dikeroyok sama sekali, dan sejujurnya dia juga nggak mengenali pelaku, yang ia pahami bahwa mereka adalah teman kakaknya.

AY lalu dibawa ke Jalan Sulawesi dan diinterogasi beberapa pertanyaan. Setelah menjawab, lalu tiba-tiba 3 orang pelaku langsung menghajar AY, yang disambut oleh 9 orang lainnya. AY di sana dalam posisi masih bingung dan juga kaget, karena dia sama sekali nggak paham apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba dijemput, ditanyain, terus dipukul habis-habisan.

AY dihajar di bagian perut, dibenturkan kepalanya di aspal, disiram air, dan salah satu dari mereka mencolokkan jarinya ke alat vital AY dengan tujuan supaya selaput dara AY rusak. Akibatnya bagian vital AY membengkak. Kejadian ini ditemukan oleh warga, yang kemudian melerai si 12 orang yang mengeroyok ini. Warga lalu melihat kondisi AY dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Tanggal 3 April 2019

Hari ini keadaan AY diketahui oleh keluarganya, setelah mengalami muntah-muntah dan mengeluh sakit. Selama dari tanggal 29 Maret saat dikeroyok, AY dipaksa bungkam karena diancam oleh pelaku. Barulah dari sini diketahui bahwa AY sudah mengalami pengeroyokan, dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh orangtuanya.

Tanggal 5 April 2019

KPPAD Kalimantan Barat menerima laporan kasus ini dari ibu AY, dan sebagai responnya AY difasilitasi buat mendapatkan trauma healing. Di hari yang sama, Ibu korban dan para pelaku yang didampingi oleh keluarga mereka maisng-masing melakukan mediasi…tapi hasil akhirnya adalah : tidak ada kata damai.

Tanggal 8 April 2019

KPPAD Kalimantan Barat berkoordinasi dengan Polsek Pontianak Selatan untuk melimpahkan berkas ke Polresta Kota Pontianak, guga melakukan koordinasi dengan sekolah.

Tanggal 9 April 2019

KPPAD menjenguk AY, dan mengatakan bahwa pendampingan bukan hanya akan diberikan untuk korban, tapi juga untuk pelaku, karena mereka semua masih berada dalam kategori di bawah umur.

 

 

 

#JusticeForAY: TIDAK ADA KATA DAMAI…

Pendidikan dan Keluarga…

Dalam membahas mengenai hal ini sebenarnya akan sangat simultan. Kita nggak akan bisa hanya membahas si 12 cewek-cewek beringas ini, tanpa memedulikan keluarga dan pendidikan mereka. Seorang anak yang tumbuh menjadi kejam dan pembuli pastinya sudah melewati proses panjang, sehingga bisa menjadi seperti sekarang. Karena nggak mungkin dong mereka begitu lahir langsung bisa salto dan nampar juga ngehajar. Pasti ada sesuatu yang salah, yang sifatnya laten dan berkembang terus-menerus, maka dari itu bisa memuncak dan ketahuan melalui kejadian ini.

Peran orangtua dan lingkungan terdekat sangat berpengaruh dalam bagaimana tumbuh kembang seorang anak. Dengan adanya kejadian seperti ini, ada 12 orang anak perempuan menakutkan, yang dengan percaya diri menjemput korban di tempat kakeknya, kemudian diinterogasi, dan dipukuli bergiliran sampai harus dilarikan ke rumah sakit…di dalam kepala saya menanyakan sebenarnya orangtua mereka selama ini ngapain?? Kemana aja sih orangtuanya??

Kenapa anak-anak ini bisa tumbuh sekejam ini dan melewati batas, sampai merugikan orang lain secara fisik dan psikis…dan orangtuanya nggak tahu? Kenapa si orang tua ini bisa kecolongan besar?? Kenapa??

Kenapa si 12 orang ini setelah mukulin dan bikin anak orang luka-luka masih bisa unggah story, nongkrong di cafe, sampai bikin bumerang di kantor polisi? Apakah setelah kejadian orangtua mereka masih baik-baik aja melepaskan anaknya untuk keluar rumah dan mengunggah konten ke sosial media? Padahal sosial media adalah alasan pengeroyokan ini dimulai?

Seriusan…saya nggak paham.

Karena menyalahkan 12 orang anak perempuan secara membabibuta nggak akan ada hasilnya kalau pangkalnya juga nggak ikut diperhatikan. Hukuman sosial yang diterima melalui sosial media memang akan memberikan efek, tapi reaksi keluarga dan lingkungan terdekat mereka sesungguhnya memegang peran yang besar dalam membuat mereka sadar dan jera.

Selanjutnya..institusi pendidikan,

Hal seperti ini mencoreng nama sekolah. Sangat. Saya jadi mempertanyakan kebecusan sekolah juga dalam menanamkan nilai moral dan pengawasan terhadap anak didiknya. Mengapa si 12 orang ini bisa berubah jadi sebegitu premannya dengan tanpa rasa bersalah di kemudian waktu. Malah masih bisa menganggap perbuatannya wajar, dan mengatakan bahwa mereka belum tentu dipastikan bersalah.

Bukankah tanggungjawab wajib dari sebuh sekolah adalah mencetak pribadi yang unggul secara moral dan intelektual? Kalau seperti ini…berarti alur pendidikan yang mereka tempuh sejak awal sampai SMA saat ini terdapat lubang besar. Kepada siapa lagi harus saya tanyakan mengenai ini kalau bukan kepada lembaga-lembaga inti pembentuk jati diri sejak anak-anak ini masih dini??

Keluarga dan sekolah nggak bisa cuci tangan, angkat tangan dan membiarkan 12 preman berjenis kelamin perempuan ini jadi tumpuan salah. Kenapa? Karena mereka juga salah!!

Saya menulis ini bukan berarti mengerdilkan kesalahan pelaku…namun harus kita ingat bahwa perilaku dan sifat seseorang nggak terbentuk dengan instan. Kebengisan 12 orang anak perempuan yang memunculkan musibah fatal bagi AY merupakan kesimpulan dari bab-bab kehidupan mereka sebelumnya ; bahwa ada yang nggak beres dengan lingkungan mereka.

Kejadian Mengenaskan Seperti Ini, Haruskah Kita Berdamai??

Petisi tentang keadilan untuk AY dalam waktu 7 jam pertama berhasil mengumpulkan satu juta tanda tangan. Menolak keras perdamaian yang sempat diajukan oleh KPPAD.

Masih segar di ingatan kita bersama mengenai kasus pelecehan seksual Agni yang juga dipatok damai oleh UGM, dan kemudian kasus ini mencuat dengan bau damai yang sama. Masyarakat jadinya berang dan menolak keras. Permintaan penghukuman dari penjara, hukuman mati, jangan diluluskan, diskors, diblakclist dari daftar universitas, bahkan sampai banyak yang mendoakan agar 12 pelaku mengalami hal yang serupa, agar mereka bisa jera…

Lagi..lagi…sebenarnya…haruskah kita berdamai dengan kasus ini?

Saya pribadi menolak keras kata damai, kekeluargaan, diikhlaskan, diselesaikan baik-baik untuk SEGALA KASUS BULLYING. Namun bukan berarti kita BOLEH membabibuta memberikan penghukuman kepada pelaku.

Jangan sampai kita menghadirkan AY kedua, ketiga dan seterusnya. Menurut saya momen ini adalah sebuah batu yang mencocok mata kita bersama agar terbuka dan berhenti menyepelekan kasus bullying yang terjadi di kalangan pelajar. Memaksa kita untuk berhenti menyepelekan potensi membahayakan seperti ini. Juga membuat orangtua menjadi lebih melek keadaan anak-anaknya…bahwa mereka bukan batu. Mereka dinamis, memiliki segala potensi baik dan buruk yang seharusnya jangan sampai membuat orangtua menjadi kecolongan. Menjadi pertanda juga  dari sebuah institusi pendidikan bahwa saat ini mereka sudah kehilangan kemampuan untuk membentuk moral peserta didiknya.

Tapi kembali lagi…haruskah kita berdamai?

TIDAK.

 

Sanksi sosial masih ada, jalur hukum terbuka, dan kesempatan rehabilitasi juga bisa diakses. Jangan sampai kasus ini berhenti di tengah jalan dan terbawa angin, karena efek jera pada pelaku nggak akan muncul. Jangan sampai masalah seperti ini diterima dengan lapang dada dan disikapi hanya sekenanya. Jangan. Kalau seperti itu maka bibit-bibit preman akan lebih subur lagi tumbuhnya.

 

Saya marah. Kesal luar biasa terhadap pelaku. Ingin rasanya mereka tahu bagaimana sakitnya menjadi korban. Bagimana tersiksanya menjaid pihak yang dibuli seperti itu. Apa akibat dari perlakuan mereka yang merugikan fisik dan psikis orang lain secara fatal. Namun pada akhirnya tujuan kita adalah untuk menghentikan kasus serupa, jangan sampai ada lagi kesalahan yang sama…dengan memberikan mereka pendidikan dan rasa jera yang sesuai. Mengumumkan pada masyarakat dan anak-anak di luar sana bahwa kesalahan seperti ini sesungguhnya akan diadili.

Dan masalah ini BUKAN HANYA MASALAH MEREKA…tapi MASALAH KITA BERSAMA.

 

Mendoakan kemalangan bagi mereka nggak akan menyelesaikan apapun. Meminta mereka diblacklist dari sekolah dan seluruh universitas juga akan semakin menghasilkan preman yang bodoh…yang bisa jadi lebih kehilangan moral daripada ini.

 

Dalam tulisan ini saya menuntut penyelesaian kasus AY jangan berhenti di kata damai.

Menuntut para orangtua lebih memperhatikan anaknya dan lebih peka terhadap apa yang mereka lakukan di luar sana. Pergaulannya, teman mainnya, kegiatannya…jangan sampai lengah. Karena akan fatal seperti ini.

Menuntut institusi pendidikan dengan lebih serius mengawasi peserta didik. Bagaimana moral adalah sesuatu yang ditanamkan bukan hanya dalam waktu singkat namun harus dilakukan sejak tingkat pendidikan paling awal. Peka dengan adanya potensi geng-geng seperti ini, bullying, dan rasa senioritas yang sangat mungkin muncul di tiap tingkatan pendidikan….sebagai sesuatu yang penting, jangan sampai diabaikan.

Menuntut kita smeua untuk lebih perhatian lagi terhadap lingkungan, dan jangan segan-segan untuk bertindak kalau sampai mengertahui ada aksi serupa. Dengan besarnya lonjakan dukungan kepada AY sata ini saya yakin ini merupakan momen agar kita bisa lebih peka dan merasa marah terhadap kasus bullying….dan nggak lagi mengabaikan dan menyepelekan sebagai sebuah pertengkaran anak-anak.

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Trending