Connect with us

Idea

Dilan 1991 : Bukan tentang Cinta Dilan yang Romantis, tapi tentang Roller Coaster Hati Milea yang Dramatis. Ckckck~

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Setelah habis nonton film Dilan 1991, yang terus menggaung di kepalaku itu cuma 1 hal : Kalau ditawari jadi Milea, aku bakalan mikir 1000 kali, walaupun diiming-imingi pakai muka ganteng Iqbaal.

Eh isi tulisan ini banyak spoilernya yaa. Resiko ditanggung sendiri.

Film Dilan 1991 yang saat ini sedang tayang merupakan kisah lanjutan dari Dilan 1990 yang rilis pada tahun 2018 lalu. Pada film Dilan 1990 mengisahkan tentang Neng Milea, yang awalnya benar-benar nggak tahu siapa itu A’ Dilan. Perjalanan dua sejoli ini dari tahap kenalan, gebetan, kode-kodean sampai akhirnya jadian secara manis dikisahkan di sini. Dan bagi aku yang notabene bukan lagi anak SMA, filmnya tetap bisa dinikmati sih. Walaupun kalimat-kalimat manisnya Dilan sering bikin keceplosan gumam, “HALAH, HALAH, HALAAAH…”

Nah, di film Dilan 1991 inilah perjalanan mereka selama pacaran dikisahkan. Aku memulai menonton film ini dengan pikiran yang sudah siap bahwa akhirnya Dilan dan Milea memang harus berpisah. Aku juga tahu secara umum bahwa mereka berpisah karena Milea yang nggak demen sama geng-gengan dan Dilan yang masih senang kumpul sambil nyerang-nyerangan.

Tapi dalam eksekusi filmnya sendiri aku masih nggak punya petunjuk apa-apa.

Awal film dibuka sama banyak hal-hal manis. Yang sebenarnya jauh lebih HALAH…HALAH..HALAAAH dari apa yang ada di Dilan 1990.

Misalnya kaya kalimat Dilan yang bikin aku pingin salto dan koprol di dalam bioskop…

“Milea, cita-cita kamu apa?” Kata Dilan.

Milea jawab, “Jadi pilot. Kamu?”

.

.

.

“Menikah sama kamu.”

Ulalaa, cita-cita Dilan harusnya sangat diapresiasi oleh ikatan tanpa pacaran ya. Dan jadi panutan bagi mereka yang menggebrak semboyan menikah lebih cepat lebih baik.

Awalnya memang manis, dan kita disuguhkan oleh sisi romantis Dilan yang antimainstream, ditambah dengan muka Iqbaal yang bikin susah fokus. Tapi semuanya perlahan berubah saat sudah mulai memasuki tengah cerita. Konflik mulai datang…dan…ini adalah titik yang bikin aku jadi pikir-pikir lagi mau jadi Milea walaupun tiap hari dikasih TTS yang sudah diisi penuh sama Dilan.

Jadi dalam pandanganku saat nonton, Milea ini sebagai seorang anak SMA klas 2 yang kemudian beranjak ke klas 3, dia benar-benar punya hati yang kuat dan mental yang luar biasa.

Kenapa begitu?

Oke coba ya posisikan diri sebagai Milea. Bagi kamu yang sudah berumur tua, coba ingat-ingat dulu kondisi kejiwaan kamu ketika pacaran pas SMA, bayangin deh segimana dramanya kamu hanya karena cowokmu telat bales chat, atau sekedar ketiduran pas janjian, atau ninggalin main game di rental PS, coba deh ingat lagi gimana kamu bersikap ke mereka setelah itu. Atau bahkan sampai sekarang masih kaya begitu?~~

Lalu posisikan gimana rasanya kalau pasanganmu ngelakuin hal yang kamu nggak suka. Dan enggak sukanya itu sangat beralasan, bukan karena hal yang nggak jelas.

Gimana rasanya?

Nah..kalau sudah, posisikan dirimu di Milea, yang punya pacar seorang Panglima Tempur di geng motor. Gengnya ini bukan geng-gengan macam Boy di sinetron Anak Jalanan ya. Tapi beneran bernatem sampai nyerang sekolah, keroyokan, bawa senjata, dan bunuh-bunuhan.

Sebagai Milea yang anak baik-baik, gimana kira-kira kamu akan bersikap?

Dalam film Dilan 1991, Milea benar-benar diuji kekuatan hatinya menghadapi Dilan yang ternyata nggak bisa mengurangi intensitas geng motornya. Pada konflik pertama dimulai dari Dilan yang dikeroyok oleh orang nggak dikenal, sampai babak belur mukanya yang indah itu. Milea datang dan kaget setengah mati. Menodong Dilan siapa pelakunya, tapi bahkan Dilanpun nggak punya petunjuk. Keresahan Milea akhirnya diredakan Dilan dengan jalan-jalan pakai motor di bawah derasnya hujan Bandung. Sambil berandai-andai masa depan, ketawa sama-sama seolah Dilan nggak baru aja digebukin 4 orang antah berantah.

Tapi nyatanya Mliea nggak diberikan waktu buat napas terlalu lama, baru kemarinnya Dilan dikeroyok…beberapa hari berikutnya Milea dapat kabar kalau Dilan tau siapa dalang di balik itu dan berniat balas dendam.

Yap…Dilan mau nyerang.

Milea panik. Mau nyerang apalagi? Bahaya! Nanti kalau kenapa-kenapa gimana??

Anak klas 2 SMA, dihadapkan pada kenyataan bahwa pacarnya adalah pentolan tauran. Yeah…cool.

Kalian yang sukanya sama bad boy silakan maju…aku mundur aja beberapa langkah.

Milea panik luar biasa, dia langsung bergegas cari Dilan…malam itu juga, nggak pakai nunggu ntaran, langsung jalan. Pas sampai di tempat tujuan, Dilan sedang kumpul sama personel geng motornya buat atur strategi nyerang.

Milea apa kabar?

Buat kalian yang sudah nonton, pasti inget gimana muka Milea waktu itu. Kaya rasanya khawatir setengah mati, tapi juga pingin marah. Rasanya nggak pingin kenapa-napa sama orang terkasih tapi juga pingin kasi pelajaran supaya dia jera.

Milea salting? Banget.

Gimana caranya supaya si Dilan nggak berangkat nyerang? Apa kudu minta petunjuk pada jin yang bantuin Bandung Bondowoso bangun 1000 candi??

Milea dengan posisi seorang anak remaja yang baru aja dimanja cinta Dilan, dan langsung dihadapkan pada keadaan yang 180 derajat berbeda harus mikir bolak balik gimana caranya membatalkan penyerangan Dilan. Sampai akhirnya apa mau dikata, Dilan tetap nyerang dan Milea pulang dengan air mata.

Apakah sudah selesai?

Oooh tidak semudah itu~

Beberapa hari menghilang dan nggak bisa ditemui, Milea khawatir setengah mati. Dilan kemana? Gimana kabarnya?

Bayangin dah kalau kalian abis berantem sama pacar dan doi menghilang dalam keadaan mau tauran. Dan beberapa hari setelahnya nggak ada kabar, nggak nelfon sama sekali.

Seolah nggak cukup, berita selanjutnya makin bikin Milea lemas, yap…Dilan ditangkap polisi. Doi masuk penjara karena ternyata bawa pistol punya bapaknya. Reaksi Milea? Cuma dengan muka pucat, ngatur napas, nenangin diri, dinginin otak…

Tapi lagi-lagi, hati Milea diluluhkan oleh Dilan. Dengan ramuan cinta + kata romantis + sekotak roti cokelat. Milea pulang dengan senyum sumringah, seolah-olah sedih yang beberapa hari lalu terobati karena Dilan janji nggak akan pernah nyerang lagi.

TAPI….ternyata tiba-tiba Milea dapat kabar lagi kalau teman satu geng motor Dilan meninggal karena dikeroyok. Hati Milea yang awalnya adem, jadi tiba-tiba bergemuruh lagi. Belum sempurna naiknya si roller coaster, Milea dapat kabar lagi kalau ternyata Dilan nyerang kelompok yang menghabisi nyawa sahabatnya.

Makin lemaslah lutut Milea.

Ini kapan berakhirnya sih :’) Aku yang nonton aja sebenarnya kasian dan lelah sama air mata dan kegundahan Milea :’)

Tiap hari kerjaan rutin Milea adalah harap-harap cemas mikirin apakah Dilan nyerang atau nggak, masih hidup atau udah mati, luka-luka atau baik-baik aja. Milea jadi semacam punya adrenaline rush tiap harinya. Nggak ada masa-masa tenang seharipun. Dan untuk ukuran anak SMA klas 2, menurutku Milea sudah sangat mau bersabar, sebisa yang dia mampu usahakan. Ditambah waktu itu nggak ada zaman chat ataupun SMS, yang bikin komunikasi rasanya berlipat lebih susah. Nggak bisa ngancam pakai P P P P P P!!! Atau “Kalau kamu nggak balas aku block!”

Nggak, dia harus nunggu seharian bahkan lebih untuk sebuah kabar.

Puncaknya adalah Dilan diusir oleh Ayahnya karena melakukan penyerangan. Bahkan orangtua Dilan sendiri nggak paham apa yang sebenarnya dicari anaknya itu. Sampai penjarapun nggak mampu bikin dia jera. Dan apa yang dilakuin Milea?

Milea minta putus.

Dalam pandanganku sendiri, Milea sangat wajar melakukan hal ini. Karena memang Dilan nggak manunjukkan itikad buat mengurangi intensitas geng motornya, dan Milea nggak bisa terus-terusan hidup dengan kondisi roller coaster hati yang begitu curam.

Milea dalam film kebanyakan melakoni scene nangis, scene sendu, gundah, dan rindu. Yang kemudian dimanipulasi ditenangkan Dilan dalam bentuk romansa kalimat-kalimat indah dan pesona cinta. Padahal setelahnya Milea akan jatuh dan sakit lebih dari sebelumnya.

Bayang-bayang Dilan 1990 yang bahagia dan banyak manisnya itu udah nggak ada lagi di film ini. Yang ada justru saya capai sekali lihat Milea harus terus-terusan menahan tangisnya, mendinginkan kepala, dan lagi kenap serangan jantung tiap kali Pian datang bawa berita kalau Dilan terlibat kasus.

Trus ada yang bilang,

“Ya ngapain Milea larang-larang Dilan?”

“Milea emang nggak bisa lebih sabar?”

“Emang nggak bisa nunggu lebih lama?”

Hal yang jadi perbedaan paling besar antara mereka berdua adalah Milea nggak suka geng motor karena bahaya, dan Dilan suka geng motor emang dari sananya. Pada akhirnya jika bertahanpun mereka nggak akan pernah menemukan  titik temu. Kalau Milea tetap ngotot bersama Dilan, dia juga harus menerima kengototan Dilan buat motor-motoran….dan hal ini yang Milea nggak bisa. Dilanpun jika dipaksa untuk bersama Milea, maka dia harus memilih antara Milea atau dirinya….

….dan pada akhirnya dia tetap memilih dirinya sendiri.

Pada film Dilan 1991 kali ini aku salut pada Milea dan pilihannya, entah itu untuk mencoba bertahan bersama Dilan atau pada akhirnya memutuskan untuk berhenti dan berjalan sendiri.

Karena hubungan yang seharusnya dipertahankan adalah hubungan yang membangun keduabelah pihak. Jika bersatu dan bertemu hanya untuk menyakiti dan saling menghancurkan, buat apa?

Milea sadar bahwa dia dan Dilan nggak bisa hanya berputar pada satu masalah yang sama, karena jika seperti itu hubungan yang ada akan sangat sia-sia. Buang tenaga, buang waktu, buang buang rindu, yang datang cuma sendu dan ego yang nggak mau jadi satu.

Jadi…yah….perpisahan mereka adalah hal yang saya syukuri. Nggak apa-apa.

Benar katanya Dilan, kalau ada yang nyakiti Milea, orang itu lebih baik hilang.

Bagus bagi Dilan juga, bisa motor-motoran dan saling serang tanpa takut kena omelan. Win-win solution khan~~

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Idea

Drama Kolosal Pilpres 2019, Sebenarnya Lawan “Kita” Siapa??

Irma El-Mira

Published

on

detikNews

GIRLISME.COM – 17 April 2019 sudah lewat dan saya kira semua drama tahta ini akan selesai. Tapi ternyata episodenya masih berlanjut dengan dramatis, dimulai dengan penolakan kubu 02 akan hasil rekapitulasi suara yang dikeluarkan oleh Quick Count. Detik itu saya sadar kalau…this isnt gonna be easy. Dan benar. Makin ke sini ternyata konfliknya bukan malah reda tapi makin jadi.

Tapi sebenarnya di antara semuanya, satu pertanyaan besar saya…

Kita ini sedang tarung lawan siapa??

Politik Identitas adalah Jalan Ninjaku~

Drama kolosal pemilu Indonesia dimulai jauh sebelum tanggal 17 April 2019. Semuanya dimulai sejak Pilgub 2019 lalu ketika Anies-Sandi Melawan BTP-Djarot…ohiya, di tengah-tengahnya ada Agus-Silvi, hampir lupa.

Politik identitas diartikan sebagai politik perbedaan, yang menekankan strategi pada perbedaan-perbedaan untuk kemudian memunculkan persamaan. Jadi perbedaan dimunculkan dengan sengaja agar membentuk koalisi-koalisi. Jika perbedaan ini tidak ditonjolkan, maka mustahil rasanya menemukan kubu teman dan kubu lawan. Apesnya politik identitas yang ada di Indonesia saat ini dimunculkan dengan dominasi agama. Agama yang mana??

Mana lagi…mana lagi selain yang mayoritas~~

Sejak BTP divonis sebagai aktor penistaan agama, politik identitas telah memecah kita menjadi kubu sesat dan kubu jalan kebenaran. Mulai detik itulah kemudian kualitas diri seseorang ditentukan dari sikap politiknya.

Politik identitas ini terus dibesar-besarkan dengan semangat, ditambah dengan insiden PKI Jokowi, kemudian pembubaran HTI, belum lagi kriminalisasi orang-orang yang mengaku sebagai ustadz. Kita semakin yakin kalau Indonesia CUMA berisi dua jenis ; Yang kafir dan yang tidak kafir. Politik identitas berlatarkan agama makin mewah. Makin seru. Konfilknya bukan cuma di tataran parlemen, tapi sampai ke rumah-rumah.

Asyik!!!

Jalan ninja ini makin terasah seiring dengan berlabuhnya “para ustadz” ke masing-masing kubu. Kita yang rakyat planga-plongo ini jadi dipaksa menentukan mana ustadz yang asli dan mana yang palsu. Yang mana yaaa?? Ya ampun bingung 🙁

 

Semuanya pakai peci, pakai sarung, pakai koko. Semuanya bisa ngaji, bisa dakwah, bisa hafal surat-surat dan ayat walaupun nggak selalu dicek oleh yang dengar. Jadinya makin bingung, sebenarnya yang mana yang ustadz asli dan mana yang cuma doppelganger??

Semuanya klaim untuk kepentingan UMAT.

Katanya demi RAKYAT.

Juga buat kebaikan MASYARAKAT.

Jadi bingung kan, rakyat yang mana? Umat yang mana? Masyarakat yang mana?

Aduh drama kolosalnya makin pelik nih. Setelah kita dipaksa milih jalan ninja, sekarang kita dipaksa buat nentuin kita ini golongan kurma atau golongan babi. Golongan yang halal atau yang haram. Golongan yang nanti beloknya ketemu Malik atau Ridwan.

Kita harus apa sebagai rakyat yang planga plongo ini?

Haruskah kita merelakan saudara dan bertengkar di grup-grup WA keluarga demi politik identitas ini?

Pusingnya kepala Unyil.

Rakyat Planga-Plongo di Bawah Elite yang Planga-Plongo

Akhirnya drama kolosalnya mencapai konflik lanjutan yang lebih seru. Masing-masing barisan sudah ketemu kubu seidentitasnya. Yaitu yang kafir dan yang tidak kafir. Dan yang sumbu panjang versus sumbu pendek. Banyak kampanye kotor dan negatif yang bermunculan, mulai dari isu PKI, isu penistaan agama, isu salah sebut Surat Al-Fatihah, isu mau kontes ngaji, isu ziarah kubur, isu ziarah pembesar agama, isu keluarga yang mau rujuk, isu Orba, isu antek asing, isu saingan umrah.

Wuhuuu…kepala kita sebagai rakyat jelata ini dipenuhi oleh isu yang bertubrukan dan massif, tanpa ada kesempatan untuk menghela napas. Kta harus memproses ledakan informasi, bertarung dengan hoax, melawan segala jenis berita dari berbagai media yang perhari bsa mengeluarkan ratusan judul menarique.

Sekali lagi…kita yang rakyat planga-plongo ini harus apa ya??

Padahal kita sadar nggak sih, yang membuat isu ini adalah mereka yang punya kuasa?

Nggak…kita nggak sadar.

Kita mabok fanatisme atas versi drama yang kita anggap paling juara dan akan masuk surga. Sehingga kita nggak bisa ambil jalan tengah, harus jalan pinggir biar nggak dikick dari grup WA.

Si para elite di atas itu dengan planga-plongonya melanggengkan politik identitas berbasis agama. Sehingga kita juga yang berada di bawahnya mau nggak mau ikut arus. Karena seperti yang tadi saya bilang, kita dipaksa menentukan kita bagian dari yang mana. Kita dipaksa memiliki identitas baru berdasarkan skenario drama yang elite buat.

Kita yang sudah lahir dengan gotong royong, tumbuh dengan rasa korsa, dan besar dengan solidaritas ini makin dibakar dengan bensin agama dan solar demokrasi. Apa jadinya??

Kambing-kambing politik. Dan kuda-kuda elite. Oh…iya..jangan lupa, kita jadi onta-onta agama juga.

Kita kaya nggak punya logika sendiri, selain yang dibuat oleh elite. Kenapa saya pakai kata “elite”? Soalnya ini bukan cuma kerjaan pemerintah sekarang. Banyak juga kerjaan mereka yang nggaka dalam pusaran parlemen tapi punya dampak besar dalam membuat skenario epic.

Elite featuring elite, wow, craziness everywhere.

Pada tahapan ini kita sudah dengan yakin memilih kubu. Bukan Kubu Biasa, karena Kubunya bawa-bawa senjata sakti yang namanya Agama. Siapa berani lawan agama?? Neraka dan dikeluarkan dari KK!

Akibatnya?

Kita yang sudah planga-plongo jadi makin ahem-ahem-iya-iya. Sudahlah ditampuk elite, disodok keluarga, dicacati media…kelar hidup ini.

 

GOLPUT ! BODOAMAT!

Akhirnyaaa muncullah jalan-jalan alternatif bagi rakyat yang planga-plongo ini. Muncul narasi baru, yaitu nggak memilih sama sekali sebagai bentuk pilihannya. Maunya nunjukkin kalau rakyat juga berdaya dan berhak memilih…walaupun itu artinya membiarkan kertas suara tetap kosong. Menganggap kalau pilihan elite 01 ataupun elite 02 sama aja mudharatnya. Sama nggak asiknya. Ogah banget milih dua-duanya!

Saya secara pribadi mengapresiasi jalan ini. Karena di tengah-tengah arus politik elite yang mainstream, muncul sebuah pikiran baru yang bikin kontentasi makin seru. Ide-ide menarik yang keluar dari kebiasaan membuat saya bisa berpikir lebih luas, bukan hanya yang disediakan dalam kandang.

Jenis yang seperti ini yang nggak boleh mati. Di antara kejenuhan, muncullah sebuah pemikiran yang menolak dipaksa. Menolak disuruh jadi kambingnya 01 atau kudanya 02. Walaupun pada akhirnya tujuan adalah sama-sama memunculkan identitas golput, namun tetap saja, yang begini bikin senang. Ada angin segar di luar polusi elite.

 

Aksi Ego dalam Klaim Damai

Kita sampai pada 21 Mei. Dengan lelah dan jenuh setiap hari dipaksa makan narasi politik. Tanpa ampun para elite dengan bahagianya menggelontorkan komentar-komentar yang ditangkap media, kemudian dihias sebegitunya. Saya selalu berpikir…apakah mereka sebagai elite akan sangat bahagia ya melihat kita gelut? Melihat kita saling bunuh?

Tapi saya juga mikir…kenapa sih pada mau jadi kambing dan kuda-kudaan? Kenapa sih mau dimanfaatkan? Kenapa sih mau repot-repot mengeluarkan semua usaha dan tenaga untuk membela narasi mereka? Kenapa sampai jadi fanatik kelas mujaer?

Buntut dari politik identitas ini kemudian sampai ke hari ini…ketika meledak AKSI DAMAI yang (damainya masih dipertanyakan) di Jakarta.

Yaaa, sudah bisa ditebak kan. Bawanya agama mayoritas, klaimnya jihad, katanya menyerang atas nama Allah, imbalannya nanti surga jalur prestasi. Terlepas dari esensi agama yang sebenarnya, tapi aksi-aksi yang muncul dalam politik saat ini sudah bisa dilihat minyak panasnya adalah agama, dan rakyat cuma jadi kerupuknya. Tinggal dipanasi dan digoreng…sisanya akan jadi renyah sendiri. Tangan elite nggak akan ada kotorannya, karena semuanya dilimpahkan ke kuda-kuda di lapangan.

Andai saja para elite mau berbicara dengan tegas, rekonsiliasi satu sama lain, pastinya hal ini nggak perlu pecah dan meleber kemana-mana. Sampai menewaskan, menutup akses jalan, membakar, membatalkan banyak rencana kerja, meliburkan kegiatan sekolah, sampai merusak fasilitas publik.

Nggak perlu…kalau saja ego elite bisa ditampung dalam bejana yang lebih baik lagi…hingga nggak perlu tumpah dan melukai kita rakyat planga-plongo ini.

Dari aksi yang katanya DAMAI ini, ujungnya akan jadi luka. Luka kepercayaan terhadap sesama, terhadap pemerintah, terhadap agama, dan terhadap perbedaan. Yang tinggal di kepala rakyat nantinya akan didominasi oleh hal-hal mengerikan. Ini merugikan bukan hanya secara personal mereka yang terkena dampak aksi, namun juga secara narasi agama yang dibawa, dan kelompok yang dibela. Jarak antar kubu akan jadi makin renggang dan politik identitas yang terbangun akan jadi makin panjang.

Luka kita akan sembuh dalam waktu yang tidak sebentar.

 

Lalu sebenarnya siapa yang sedang kita lawan??

Siapa sebenarnya musuh kita?

Apakah elite? Apakah kubu sebelah? Apakah antek asing? Apakah agama doppelganger?

Siapa??

Apa benang merah dari pergelutan ini sebenarnya?

Saya pun bingung.

Apakah ini perang kafir dan non kafir?

Apakah ini perang 01 dan 02?

Apakah ini perang khilafah atau Pancasila?

Semuanya bergerumul jadi satu, disulut satu terbakar semua. Disiram bensin yang satu luluh lantahnya semuanya.

Kita selama ini luka dan bergumul dengan saudara kita sendiri, tapi apakah sebenarnya kita tahu…apa yang kita lawan? Apa yang ingin kita hentikan? Dan sebenarnya apa yang ingin kita bentuk untuk masa depan?

Apakah kita yang planga-plongo ini sadar, kalau selama ini kita berperang dengan musuh-musuh fatamorgana, yang akhirnya menghancurkan diri kita sendiri?

 

Akhir Drama Kolosal…

Drama kolosal berakhir saat pihak yang jahat tumbang. Selama yang jahat masih hidup konfliknya akan terus muncul dan membolak-balikkan keadaan. Membuat penonton menyumpah serapah tapi akhirnya tetap asyik menonton dan memilih jagoan.

Jadinya kapan drama kolosal Pilpres 2019 ini tuntas??

Tidak akan pernah tuntas. Yang ada hanya pendinginan, tapi konfliknya akan tetap bersarang, menunggu muncul ke permukaan. Kail yang disebar dengan membentuk politik identitas nggak akan semudah itu ditarik dan dibatalkan.

Lalu kita harus apa? Kita yang planga-plongo dengan gengsi segunung yang tetap membela elite tercinta tanpa ampun…harus gimana?

Saya mengutip kata-kata Gus Dur, Presiden Indonesia paling woles yang pernah saya ingat. Waktu itu Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan dan diminta keluar dari istana. Apa sih kata Beliau tentang perebutan tahta?

“Tingginya apa sih jabatan Presiden itu kok sampai harus meneteskan darah manusia Indonesia. Tidak perlu.”

Yang masih buta sama fanatisme kelompok, yang masih mabok sama agama…bangun. Kamu keliru. Egomu membunuh bukan cuma dirimu, tapi negaramu.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Idea

27 Steps of May : Pertunjukan Ruang Hampa Hidup Korban Kekerasan Seksual

Irma El-Mira

Published

on

GIRLISME.COM – Setelah lama menimbang-nimbang, akhirnya saya nonton film ini kemarin malam. Sebenarnya berat buat nonton, karena saya tau di dalam film ini berisi beberapa adegan pemerkosaan, yang saya tau pasti akan membuat saya susah untuk nggak marah dan sedih. Sekedar baca dari berita aja sudah bisa bikin saya menyumpah, apalagi kalau divisualkan dengan baik. Makanya sebenarnya nonton tadi malam merupakan hasil dari pertimbangan panjang.

Dan benar aja….saya mulai terpantik emosinya sejak adegan di latar kedua, sekitar menit kelima. Adegan gang rape.

May adalah gadis berusia 14 tahun, masih SMP. Malam itu May keluar sendiri ke pasar malam, nonton pertunjukkan, makan gula-gula, ketawa-ketawa. Bahagia.

Taunya saat perjalanan pulang, ketika May lewat gang sempit, dia ditarik oleh segerombolan laki-laki dan diperkosa secara bergilir. Mulut May disumpal kain, tangannya disudut puntungan rokok, dan dipaksa makan makanan oplosan sampai muntah.

Ya…May diperlakukan seperti itu sambil dilecuti bajunya dan dipaksa menerima penetrasi alat vital si pemerkosa.

Hanya itu?

Bukan. May dikerjai dari arah depan dan belakang, secara bergiliran dan sekaligus.

Pada adegan-adegan ini saya nggak bisa nahan tangis. Dia baru berusia 14 tahun, masih dalam tahap kenalan sama tubuhnya snediri, dan malangnya diperkosa secara bergilir oleh segerombol lelaki. Saya nggak bisa menghilangkan dari pikiran ini sebagaimana sakit dan traumanya dia.

Secara logika, sayapun nggak mau melakukan hubungan intim apapun bentuknya, walaupun dengan orang yang saya sukai, jika bukan kehendak saya sendiri. Karena akan sangat sakit rasanya jika orang lain menyentuh dan menggerayangi tubuh saya tanpa saya inginkan. Dan May malah dipaksa oleh laki-laki asing, disiksa, diperlakukan bukan hanya disetubuhi namun sampai dibekap, dipaksa makan makanan nggak wajar dan disulut rokok. Dalam pikiran saya nggak bisa membendung akan jadi sesakit apa dia.

Film ini menceritakan efek pemerkosaan itu kepada May dan keluarganya, yaitu Bapak. Kekurangan dalam film ini adalah meloncatkan waktu langsung ke 8 tahun setelahnya, sehingga saya nggak tau di masa-masa sulit di rentang waktu itu apa yang dilakukan oleh Bapak untuk mengusahakan May, merespon May, dan berusaha mendekatkan diri pada May. Yang diperlihatkan pada film langsung pada 8 tahun setelahnya menggambarkan May sebagai seorang gadis yang bahkan nggak PERNAH BICARA sepatah katapun. Bahkan dia nggak pernah berani keluar melebihi batas pintu kamarnya sendiri. May hanya tinggal di dalam sebuah kamar, dan beraktifitas di sana. Ia keluar hanya untuk makan saja.

Hidup May hanya diisi oleh Bapak, yang sayangnya ditunjukkan bukan sebagai sosok yang paham tentang bagaimana caranya menangani korban pemerkosaan.

Bapak juga bingung dan takut melakukan hal-hal yang beresiko mengusik May, karena sekali saja terusik dia akan melukai dirinya sendiri. Bapak buntu, May juga begitu. Keduanya bagai hidup dalam gelembung masing-masing dan nggak saling berhubungan. May sibuk dengan traumanya dan Bapak sibuk melampiaskan rasa bersalahnya pada ring tinju bebas.

Ini memberikan gambaran kondisi masyarakat kita sata ini, yang belum memahami bagaimana cara terbaik untuk merespon kekerasan seksual. Kita kagok, kaku, dan ragu-ragu pada hal yang sebenarnya sudah sangat sering terjadi.

Akibatnya hal ini memutus kemungkinan perubahan dari si penyitas kekerasan seksual, karena kita nggak berusaha membantunya mencari jalan keluar.

Selama ini kita menyepelekan hal-hal terkait pemerkosaan, sebelum akhirnya kena batunya ketika hal itu menimpa orang-orang terdekat kita. Merasa bahwa kekerasan seksual mungkin hanya bagian dari fiksi, sampai kemudian dia benar-benar terjadi. Setelahnya kita mau gimana? Nggak ada. Bingung sendiri dan menyesali diri.

Dalam film ini digambarkan May sangat menderita. Dia hanya bertahan hidup karena siklus, melalui kebiasaan yang dia lakukan sehari-hari. Bangun di pagi hari, membantu Bapak membuat boneka, kemudian makan bersama, dan olahraga sampai capek supaya bisa tidur cepat. Dia harus melawan kilasan-kilasan trauma tentang kejadian pemerkosaan itu dengan cara menghindari segala aktifitas yang mungkin mengingatkannya akan hal itu.

Bajunya hanya satu warna. Ia hanya bisa makan makanan yang polos tanpa rasa, karena traumanya akan makanan oplosan yang diberikan oleh gerombolan preman tersebut membuatnya selalu ketakutan dan memuntahkan segala hal yang memiliki rasa. Ia hanya makan nasi putih, tahu putih dan tauge tanpa bumbu. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 8 tahunpun trauma May masih tetap di sana, nggak beranjak sedikitpun.

Dia terjebak dalam ketakutannya sendiri tanpa tau gimana cara terbaik untuk keluar.

Bagi kamu yang mungkin pernah punya pengalaman masa lalu yang buruk, kamu akan paham gimana tersiksanya ketika kita hidup dengan bayangan hal-hal yang paling ingin kita lupakan.

Yang terus muncul dan jadi hal utama di pikiran. Sampai May harus terus melukai dirinya sendiri untuk bisa tetap sadar. Rasa sakit itu yang membantu dia mengalihkan pikirannya. Selama 8 tahun sendirian tanpa ada yang bantu cari jalan keluar….nggak kebayang gimana sakitnya perempuan berusia 14 tahun dalam diri May.

Sampai akhirnya May ketemu dengan sesosok pesulap, yang diceritakan tinggal di sebelah kamarnya. Pesulap ini diibaratkan sebagai support system, hal yang selama ini May nggak pernah dapatkan. Diceritakan di sana si pesulap ini berusaha meraih May dengan memperlihatkan trik-trik sederhana, yang membuat May nggak harus lagi mengalihkan pikirannya dengan silet. Waktu dan perlakuan yang diberikan si pesulap membuat May mau belajar membuka diri untuk berinteraksi. Walaupun awalnya takut dan stress sendiri, namun ini merupakan sebuah titik balik May untuk keluar dari gelembungnya dan mau menerima hal baru.

Hal ini menunjukkan bahwa support system adalah apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para penyitas kekerasan seksual. Pendukung yang akan membantu dia keluar dari zonanya, dan membuatnya mau berdamai dengan masa lalu. Sesuatu yang justru sangat jarang kita perhatikan.

Bukan lagi saatnya kita melihat korban kekerasan seksual sebagai sebuah aib. Sebagai hal yang harus ditutupi dan membuat malu. Mereka adalah orang yang harusnya dirangkul dan dikuatkan. Bantu mereka percaya bahwa kedepannya mereka masih punya hak yang sama untuk tumbuh sebagai seorang manusia.

Dari langkah-langkah May saya belajar banyak mengenai ruang hampa selama 8 tahun tenggelam dalam trauma. Hal yang selama ini jarang orang berani bicarakan. Dianggap tabu dan dilupakan. Masih selalu dikategorikan ke dalam hal-hal yang membuat aib dan malu.

Kepada May-May lain di luar sana…semua yang nggak baik di waktu dulu, akan jadi membaik kedepannya. We are here for you.

Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Continue Reading

Trending