Connect with us

Idea

Dilan 1991 : Bukan tentang Cinta Dilan yang Romantis, tapi tentang Roller Coaster Hati Milea yang Dramatis. Ckckck~

Irma El-Mira

Published

on

Illustrated by Amalia Tri Hapsari

GIRLISME.COM – Setelah habis nonton film Dilan 1991, yang terus menggaung di kepalaku itu cuma 1 hal : Kalau ditawari jadi Milea, aku bakalan mikir 1000 kali, walaupun diiming-imingi pakai muka ganteng Iqbaal.

Eh isi tulisan ini banyak spoilernya yaa. Resiko ditanggung sendiri.

Film Dilan 1991 yang saat ini sedang tayang merupakan kisah lanjutan dari Dilan 1990 yang rilis pada tahun 2018 lalu. Pada film Dilan 1990 mengisahkan tentang Neng Milea, yang awalnya benar-benar nggak tahu siapa itu A’ Dilan. Perjalanan dua sejoli ini dari tahap kenalan, gebetan, kode-kodean sampai akhirnya jadian secara manis dikisahkan di sini. Dan bagi aku yang notabene bukan lagi anak SMA, filmnya tetap bisa dinikmati sih. Walaupun kalimat-kalimat manisnya Dilan sering bikin keceplosan gumam, “HALAH, HALAH, HALAAAH…”

Nah, di film Dilan 1991 inilah perjalanan mereka selama pacaran dikisahkan. Aku memulai menonton film ini dengan pikiran yang sudah siap bahwa akhirnya Dilan dan Milea memang harus berpisah. Aku juga tahu secara umum bahwa mereka berpisah karena Milea yang nggak demen sama geng-gengan dan Dilan yang masih senang kumpul sambil nyerang-nyerangan.

Tapi dalam eksekusi filmnya sendiri aku masih nggak punya petunjuk apa-apa.

Awal film dibuka sama banyak hal-hal manis. Yang sebenarnya jauh lebih HALAH…HALAH..HALAAAH dari apa yang ada di Dilan 1990.

Misalnya kaya kalimat Dilan yang bikin aku pingin salto dan koprol di dalam bioskop…

“Milea, cita-cita kamu apa?” Kata Dilan.

Milea jawab, “Jadi pilot. Kamu?”

.

.

.

“Menikah sama kamu.”

Ulalaa, cita-cita Dilan harusnya sangat diapresiasi oleh ikatan tanpa pacaran ya. Dan jadi panutan bagi mereka yang menggebrak semboyan menikah lebih cepat lebih baik.

Awalnya memang manis, dan kita disuguhkan oleh sisi romantis Dilan yang antimainstream, ditambah dengan muka Iqbaal yang bikin susah fokus. Tapi semuanya perlahan berubah saat sudah mulai memasuki tengah cerita. Konflik mulai datang…dan…ini adalah titik yang bikin aku jadi pikir-pikir lagi mau jadi Milea walaupun tiap hari dikasih TTS yang sudah diisi penuh sama Dilan.

Jadi dalam pandanganku saat nonton, Milea ini sebagai seorang anak SMA klas 2 yang kemudian beranjak ke klas 3, dia benar-benar punya hati yang kuat dan mental yang luar biasa.

Kenapa begitu?

Oke coba ya posisikan diri sebagai Milea. Bagi kamu yang sudah berumur tua, coba ingat-ingat dulu kondisi kejiwaan kamu ketika pacaran pas SMA, bayangin deh segimana dramanya kamu hanya karena cowokmu telat bales chat, atau sekedar ketiduran pas janjian, atau ninggalin main game di rental PS, coba deh ingat lagi gimana kamu bersikap ke mereka setelah itu. Atau bahkan sampai sekarang masih kaya begitu?~~

Lalu posisikan gimana rasanya kalau pasanganmu ngelakuin hal yang kamu nggak suka. Dan enggak sukanya itu sangat beralasan, bukan karena hal yang nggak jelas.

Gimana rasanya?

Nah..kalau sudah, posisikan dirimu di Milea, yang punya pacar seorang Panglima Tempur di geng motor. Gengnya ini bukan geng-gengan macam Boy di sinetron Anak Jalanan ya. Tapi beneran bernatem sampai nyerang sekolah, keroyokan, bawa senjata, dan bunuh-bunuhan.

Sebagai Milea yang anak baik-baik, gimana kira-kira kamu akan bersikap?

Dalam film Dilan 1991, Milea benar-benar diuji kekuatan hatinya menghadapi Dilan yang ternyata nggak bisa mengurangi intensitas geng motornya. Pada konflik pertama dimulai dari Dilan yang dikeroyok oleh orang nggak dikenal, sampai babak belur mukanya yang indah itu. Milea datang dan kaget setengah mati. Menodong Dilan siapa pelakunya, tapi bahkan Dilanpun nggak punya petunjuk. Keresahan Milea akhirnya diredakan Dilan dengan jalan-jalan pakai motor di bawah derasnya hujan Bandung. Sambil berandai-andai masa depan, ketawa sama-sama seolah Dilan nggak baru aja digebukin 4 orang antah berantah.

Tapi nyatanya Mliea nggak diberikan waktu buat napas terlalu lama, baru kemarinnya Dilan dikeroyok…beberapa hari berikutnya Milea dapat kabar kalau Dilan tau siapa dalang di balik itu dan berniat balas dendam.

Yap…Dilan mau nyerang.

Milea panik. Mau nyerang apalagi? Bahaya! Nanti kalau kenapa-kenapa gimana??

Anak klas 2 SMA, dihadapkan pada kenyataan bahwa pacarnya adalah pentolan tauran. Yeah…cool.

Kalian yang sukanya sama bad boy silakan maju…aku mundur aja beberapa langkah.

Milea panik luar biasa, dia langsung bergegas cari Dilan…malam itu juga, nggak pakai nunggu ntaran, langsung jalan. Pas sampai di tempat tujuan, Dilan sedang kumpul sama personel geng motornya buat atur strategi nyerang.

Milea apa kabar?

Buat kalian yang sudah nonton, pasti inget gimana muka Milea waktu itu. Kaya rasanya khawatir setengah mati, tapi juga pingin marah. Rasanya nggak pingin kenapa-napa sama orang terkasih tapi juga pingin kasi pelajaran supaya dia jera.

Milea salting? Banget.

Gimana caranya supaya si Dilan nggak berangkat nyerang? Apa kudu minta petunjuk pada jin yang bantuin Bandung Bondowoso bangun 1000 candi??

Milea dengan posisi seorang anak remaja yang baru aja dimanja cinta Dilan, dan langsung dihadapkan pada keadaan yang 180 derajat berbeda harus mikir bolak balik gimana caranya membatalkan penyerangan Dilan. Sampai akhirnya apa mau dikata, Dilan tetap nyerang dan Milea pulang dengan air mata.

Apakah sudah selesai?

Oooh tidak semudah itu~

Beberapa hari menghilang dan nggak bisa ditemui, Milea khawatir setengah mati. Dilan kemana? Gimana kabarnya?

Bayangin dah kalau kalian abis berantem sama pacar dan doi menghilang dalam keadaan mau tauran. Dan beberapa hari setelahnya nggak ada kabar, nggak nelfon sama sekali.

Seolah nggak cukup, berita selanjutnya makin bikin Milea lemas, yap…Dilan ditangkap polisi. Doi masuk penjara karena ternyata bawa pistol punya bapaknya. Reaksi Milea? Cuma dengan muka pucat, ngatur napas, nenangin diri, dinginin otak…

Tapi lagi-lagi, hati Milea diluluhkan oleh Dilan. Dengan ramuan cinta + kata romantis + sekotak roti cokelat. Milea pulang dengan senyum sumringah, seolah-olah sedih yang beberapa hari lalu terobati karena Dilan janji nggak akan pernah nyerang lagi.

TAPI….ternyata tiba-tiba Milea dapat kabar lagi kalau teman satu geng motor Dilan meninggal karena dikeroyok. Hati Milea yang awalnya adem, jadi tiba-tiba bergemuruh lagi. Belum sempurna naiknya si roller coaster, Milea dapat kabar lagi kalau ternyata Dilan nyerang kelompok yang menghabisi nyawa sahabatnya.

Makin lemaslah lutut Milea.

Ini kapan berakhirnya sih :’) Aku yang nonton aja sebenarnya kasian dan lelah sama air mata dan kegundahan Milea :’)

Tiap hari kerjaan rutin Milea adalah harap-harap cemas mikirin apakah Dilan nyerang atau nggak, masih hidup atau udah mati, luka-luka atau baik-baik aja. Milea jadi semacam punya adrenaline rush tiap harinya. Nggak ada masa-masa tenang seharipun. Dan untuk ukuran anak SMA klas 2, menurutku Milea sudah sangat mau bersabar, sebisa yang dia mampu usahakan. Ditambah waktu itu nggak ada zaman chat ataupun SMS, yang bikin komunikasi rasanya berlipat lebih susah. Nggak bisa ngancam pakai P P P P P P!!! Atau “Kalau kamu nggak balas aku block!”

Nggak, dia harus nunggu seharian bahkan lebih untuk sebuah kabar.

Puncaknya adalah Dilan diusir oleh Ayahnya karena melakukan penyerangan. Bahkan orangtua Dilan sendiri nggak paham apa yang sebenarnya dicari anaknya itu. Sampai penjarapun nggak mampu bikin dia jera. Dan apa yang dilakuin Milea?

Milea minta putus.

Dalam pandanganku sendiri, Milea sangat wajar melakukan hal ini. Karena memang Dilan nggak manunjukkan itikad buat mengurangi intensitas geng motornya, dan Milea nggak bisa terus-terusan hidup dengan kondisi roller coaster hati yang begitu curam.

Milea dalam film kebanyakan melakoni scene nangis, scene sendu, gundah, dan rindu. Yang kemudian dimanipulasi ditenangkan Dilan dalam bentuk romansa kalimat-kalimat indah dan pesona cinta. Padahal setelahnya Milea akan jatuh dan sakit lebih dari sebelumnya.

Bayang-bayang Dilan 1990 yang bahagia dan banyak manisnya itu udah nggak ada lagi di film ini. Yang ada justru saya capai sekali lihat Milea harus terus-terusan menahan tangisnya, mendinginkan kepala, dan lagi kenap serangan jantung tiap kali Pian datang bawa berita kalau Dilan terlibat kasus.

Trus ada yang bilang,

“Ya ngapain Milea larang-larang Dilan?”

“Milea emang nggak bisa lebih sabar?”

“Emang nggak bisa nunggu lebih lama?”

Hal yang jadi perbedaan paling besar antara mereka berdua adalah Milea nggak suka geng motor karena bahaya, dan Dilan suka geng motor emang dari sananya. Pada akhirnya jika bertahanpun mereka nggak akan pernah menemukan  titik temu. Kalau Milea tetap ngotot bersama Dilan, dia juga harus menerima kengototan Dilan buat motor-motoran….dan hal ini yang Milea nggak bisa. Dilanpun jika dipaksa untuk bersama Milea, maka dia harus memilih antara Milea atau dirinya….

….dan pada akhirnya dia tetap memilih dirinya sendiri.

Pada film Dilan 1991 kali ini aku salut pada Milea dan pilihannya, entah itu untuk mencoba bertahan bersama Dilan atau pada akhirnya memutuskan untuk berhenti dan berjalan sendiri.

Karena hubungan yang seharusnya dipertahankan adalah hubungan yang membangun keduabelah pihak. Jika bersatu dan bertemu hanya untuk menyakiti dan saling menghancurkan, buat apa?

Milea sadar bahwa dia dan Dilan nggak bisa hanya berputar pada satu masalah yang sama, karena jika seperti itu hubungan yang ada akan sangat sia-sia. Buang tenaga, buang waktu, buang buang rindu, yang datang cuma sendu dan ego yang nggak mau jadi satu.

Jadi…yah….perpisahan mereka adalah hal yang saya syukuri. Nggak apa-apa.

Benar katanya Dilan, kalau ada yang nyakiti Milea, orang itu lebih baik hilang.

Bagus bagi Dilan juga, bisa motor-motoran dan saling serang tanpa takut kena omelan. Win-win solution khan~~

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg, Jatuh Bangun Jack Ma, Jatuh Bangun Jeff Bezos.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter

Beri Komentar

Trending