Perempuan Bikin Nafsuan? Oh Iya Ya? Atau Otakmu yang Memang Gampang Terangsang? Terus Salah Siapa? Perempuan? HA!

  • Whatsapp

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pemikiran patriarki yang sangat mendarah daging. Dengan memposisikan perempuan sebagai lapis kedua, patriarki memang merupakan salah satu sumber masalah atas kebiasan perilaku dan pemikiran laki-laki dan perempuan di Indonesia. Salah satunya adalah isu yang menyatakan mengenai perempuan sebagai salah satu pembawa nafsu ke dalam pikiran laki-laki. Hal ini kemudian didukung dengan mindset mengenai perempuan adalah objek pemenuh hasrat esek-esek dari laki-laki. Karenanya kemudian perempuan sering mendapat pembatasan atau warning dalam bagaimana mereka berpakaian. Perempuan harus sopan, menggunakan pakaian tertutup, jangan menggunakan jenis outfit yang sekiranya bisa membangkitkan nafsu si laki-laki ini. Intinya di sini adalah si perempuan jadi objek yang disalahkan kalau sampai si otak laki-laki ini mengalami rangsangan.

Mengenai masalah perempuan, laki-laki, dan nafsu ini, penulis akan memberikan pengandaian sebagai berikut…

Read More

Ibaratnya ada seekor ikan. Semua orang suka makan ikan. Tapi ada yang suka makan ikan goreng, ada yang suka makan ikan rebus, ada yang suka makan ikan sambal, ada yang suka disatai atau ada yang suka disantan. Ketika seseorang menyukai ikan disatai, belum tentu ia juga menyukai ikan yang digoreng. Begitu juga ketika ia suka ikan yang dimasak santan, belum tentu juga ia lahap memakan ikan yang dimasak sambal. Padahal itu sama-sama ikan, tapi cara pengemasan dan masak ikan tersebut menjadikan ikan tersebut nenjadi sesuatu yang berbeda satu sama lain–walaupun intinya sama-sama ikan.

Dan kenapa bisa suka sama ikan yang ini tapi tidak suka ikan yang itu? Ya sederhananya karena masalah selera. Suka yang mana bebas, intinya ya suka aja. Ada alasan atau tidak ada, ya intinya suka. Gitu kan?

Hal ini juga berlaku sama pada laki-laki dan perempuan, juga mengenai nafsu yang katanya menggelinjang sangat hebat ketika perempuan mampir lewat dihadapan mata. Mengapa menyamakan perempuan dengan ikan yang adalah makanan? Karena memang posisi perempuan secara konservatif dipandang tidak ada bedanya seperti ikan yang dianggap sebagai lauk yang “sudah seharusnya” memenuhi “hasrat” lapar.

 

Nafsu yang dirasakan, dorongan seksual yang ada di pikiran laki-laki bukan melulu mengenai bagaimana si perempuan tersebut mengemas diri mereka.

 

Contohnya saja, misalnya seseorang perempuan sudah berpakaian dengan sangat tertutup, menggunakan hampir di sepenuh tubuhnya kain menjuntai dengan tidak ada lekuk sama sekali, apakah kemudian laki-laki absen dari nafsu? Oh, belum tentu.

Tapi kemudian ketika ada perempuan yang pamer paha dan betis kemana-mana, apakah semua laki-laki akan merasa terpincut? Oh belum tentu.

 

Nafsu itu masalah selera. Dan buruknya adalah laki-laki bebas mencap perempuan semau selera mereka sendiri. Sedangkan perempuan hanya menganggap pencappan itu sebagai kodrat mereka.

 

Ada yang merasa terangsang birahinya ketika melihat perempuan dengan badan tertutup rapat, dari atas sampai bawah, tanpa ada celah untuk mengintip. Ada yang merasa terangsang karena paha-paha jenjang yang sudah ditutupi celana. Ada yang merasa tergugah pada pinggul-pinggul perempuan yang tertutup dengan baju kaos.

Masalah yang ada bukan hanya terletak pada bagaimana si perempuan tersebut mengemas tubuhnya, tapi masalah yang tidak kalah besarnya juga jatuh pada bagaimana si laki-laki ini mengemas pikirannya. Sebab pikiran itulah yang bisa menembus masuk ke dalam tengkorak perempuan tidak peduli sebagaimanapun bentuk si perempuan tersebut.

 

Jadinya ketika mendengar mengenai masalah perempuan yang terus-menerus disalahkan karena pakaian inilah, cara jalan itulah, atau kemudian cara berbicaranyalah. Apakah pernah kemudian menyalahkan laki-laki yang justru absen menjaga isi kepalanya?

 

Mau perempuannya menggunakan baju bentukan galon, tutup nasi, atau selimut tebal juga namun jika memang laki-lakinya di dalam otaknya sudah mau memikirkan hal-hal yang vulgar, lalu harus diapakan lagi si perempuan ini?

Jika memang si perempuan sudah menggunakan pakaian biasa yang wajar seperti kebanyakan orang, dengan celana pendek hingga betisnya terlihat. Betis yang sama seperti milik lelaki lainnya, tidak ada bedanya. Tapi kemudian laki-laki tersebut tetap berfantasi liar karena melihatnya.

 

Jika sudah begitu apakah masih menyalahkan si perempuan atau malah harusnya mempertanyakan otak si laki-laki yang terlalu mudah di esek-esek?

 

Selama ini perempuan terlalu dipojokkan pada pikiran laki-laki, di saat yang sama malah laki-laki tidak pernah sebegitu dideskriditkan dan dituntut untuk menjaga isi pikirannya sendiri. Masyarakat Indonesia yang patriarki ini tidak pernah sebegitu hebohnya mencuci otak vulgar laki-laki, tapi malah sebegitu hebatnya mengkritisi perempuan. Menyalahkan dari A sampai Z.

Semuanya karena pikiran mengenai perempuan yang “wajar” dan “sudah seharusnya” jadi objek laki-laki. Karena itu wajar dong jika laki-laki bernafsu? Kan memang sudah memang begitu seharusnya? Karena itu harusnya bukan laki-laki dong yang repot? Tapi perempuan lah yang harusnya bertindak.

 

“Kalau nggak mau diliatin, ya jangan pakaiannya kaya begitu dong?”

Padahal posisinya sama saja. Jika memang kamu sebegitu takutnya bernafsu, wahai laki-laki, mengapa tidak tutup mata saja atau bermain dengan alam, hewan dan pepohonan di hutan ?

“Ya nggak bisa dong. Kan..kan sudah memang kodratnya seperti itu..”

HA!

Penyalahan perempuan atas gairah seksual dan pikiran nakal yang dimiliki oleh laki-laki adalah pikiran kuno patriarki yang harus mulai dirubah. Apalagi laki-laki yang sebegitu hebohnya menyalahkan perempuan, tapi bahkan luput menyalahkan jenis pikiran porno yang dipeliharanya sendiri.

Come on gentleman, let’s be fair. If you insist to blame woman’s appereance for every single time you’re getting horny , don’t you think you should re-educate and wash your brain instead? Cause sometimes the dirt is only on your tiny mind.

Related posts