Connect with us

Idea

Belajar Bicara Seksualitas! Bukan Tabu, Bukan Aib, Tapi Wajib!

Irma El-Mira

Published

on

TED Blog

GIRLISME.COM – Di Indonesia bahasan seksualitas tidak banyak dibicarakan. Di budaya kita, seksualitas adalah sesuatu yang tabu dan mengndang panik. Disangkanya seksualitas ini selalu berhubungan dengan ranjang dan hubungan intim, padahal bukan.

Akibatnya pembahasan mengenai seksualitas ini kemudian terpinggirkan, dan lebih baik tidak dibahas, apalagi sampai didengar oleh anak-anak…wah..bahaya!

 

Seksualitas di Indonesia dekat kaitannya dengan moral.

 

Akibatnya ketika seseorang yang membicarakan mengenai ini, akan merasa takut kalau dianggap kurang sopan dan saru. Oleh karena itu jarang sekali bahasan mengenai seksualitas ini kita temukan di kehidupan sehari-hari. Padahal bahasan ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita. Kita berinteraksi dengan seksualitas, entah itu organnya, ataupun konten di media dan lingkungan. Sebenarnya tabu mengenai seksualitas bukanlah sesuatu yang tepat. Seksualitas ini seharusnya dibahas dengan cara-cara tertentu, agar baik orangtua ataupun anak tidak malah takut dengannya.

Hak pendidikan kesehatan reproduksi berbeda dengan hak pendidikan seksual, namun keduanya saling bersinggungan satu sama lain. Dan dua aspek ini adalah aspek dasar yang seharusnya didapatkan oleh anak, dalam rangka mengenali diri dan tubuhnya sendiri.

Hak seksualitas bagi laki-laki dan perempuan yang paling dasar adalah mengetahui organ-organ seksualitasnya sendiri. Bisa mendefinisikan mana tubuhnya dan mana tubuh orang lain. Memahami apa hal-hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan pada tubuhnya sendiri dan orang lain.

 

Pengenalan tubuh ini harus dimulai sejak kecil, sehingga anak memahami bahwa ia memiliki privasi di tubuhnya.

 

Ada bagian dan area yang hanya miliknya dan bukan untuk umum. Daerah privat inilah yang harus dia jaga keberadaanya. Ketidaktahuan anak mengenai tubuh dan organ seksualitas dan reproduksi yang dia miliki sangat mungkin menyebabkan ia bingung dengan tubuhnya sendiri.

Itulah sebabnya mengapa di masyarakat kita terkenal ketakutan masa kecil bahwa kalau berciuman bisa saja hamil, atau bahkan berpegangan tangan juga bisa menghasilkan anak. Hal ini tidak lain karena anak tidak mendapatkan edukasi seksual dan reproduksi yang baik. Akibatnya pengetahuan mereka setengah-setengah dan cenderung keliru. Ketidaktahuan ini juga bisa membuat anak lalai, hingga tidak memahami resiko yang akan dia dapatkan jika menginteraksikan tubuhnya dengan tubuh lawan jenisnya. Anak juga jadi lengah terhadap kemungkinan pelecehan seksual.

Hal lain yang bisa kita perhatikan bersama adalah perasaan malu dan takut tiap kali kita, sebagai perempuan mendapat menstruasi. Ada rasa canggung yang luar biasa, kikuk bahkan untuk sekedar bilang sedang mens. Beli pembalut pun malu, dan kalau bisa jangan dilihat siapa-siapa! Padahal momentum menstruasi adalah tanda perempuan dewasa, dan harusnya terjadi.

 

Menstruasi adalah hal biasa pada perempuan, dan menandakan organ reproduksinya berfungsi, sudah bisa menghasilkan indung telur, maka sudah bisa hamil. Namun karena bahasan mengenai ini tidak pernah secara sempurna disampaikan oleh orangtua kita, sebab merasa bingung dan panik, akibatnya kita juga ikut merasa asing dengan menstruasi dan tubuh sendiri,

 

Tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk membicarakan menstruasi, dan vagina tanpa merasa tabu. Padahal seharusnya hal ini diajrkan kepada para perempuan sejak masih anak-anak. Sehingga mereka bisa mengetahui tanpa merasa panik ketika darah keluar dari tubuhnya setiap bulan. Mengenalkannya pada pembalut, juga mengajarkan bagaimana caranya menjalani menstruasi yang sehat.

Namun sekali lagi, di masyarakat kita bahasan mengenai hal-hal seksual dan reproduksi itu tidak sering, masih sembunyi-sembunyi dan malu-malu, padahal luar biasa penting.

Laki-laki yang tidak menerima pendidikan seksual dan reproduksi yang mapan juga akan merasa aneh jika membicarakan perihal mimpi basah dan rangsangan seksual dengan orangtuanya. Akibatnya dia lebih memilih membicarakan ini dengan teman sebayanya. Padahal mimpi basah adalah tandanya mereka mulai dewasa, dan sungguh sebelum saat itu tiba, laki-lakis eharusnya sudah dibekali dulu ilmu pengetahuan tentang itu. Apa yang akan terjadi pada organ repdouksinya, dan apa yang akan terjadi pada organ seksualnya saat itu tiba. Sehingga ia bisa paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika sudah mencapai masa itu.

 

Keterbatasan pendidikan ini yang kemudian menyebabkan anak-anak mencarinya sendiri melalui sumber yang belum tentu kredibel. Akibatnya banyak yang terjebak dalam pengetahuan setengah-setengah dan keliru. Buntut dari kebutaan mengenai pendidikan seksual dan reproduksi ini begitu banyak, salah satunya adalah kehamilan di usia dini, pelecehan seksual, dan penyakit kelamin.

 

Oleh sebab itu sebagai orangtua, saudara, dan remaja, pengenalan dan pembelajaran mengenai seksualitas adalah hal yang harus dilakukan dengan serius. Temukan metode yang cocok bagi anak berdasarkan umur, dan terapkan dnegan kontinyu. Kesalahpahaman tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi akan membuat kita takut akan tubuh sendiri. Padahal tubuh bukan untuk ditakuti, tapi untuk dimengerti dan dipelajari.

Irma El-Mira
Irma El-Mira Husbuyanti ; Yogyakarta ; [email protected] ; Penulis Buku : The Secret Way of Choosing, Jatuh Bangun Mark Zuckerberg.
Irma El-Mira on InstagramIrma El-Mira on Twitter
[jr_instagram id="2"]

Beri Komentar

Trending