My Media, My Beauty Composer

https://www.ebuzztoday.com

Menjadi cantik sejak dulu hingga sekarang memang sebuah kebutuhan bagi perempuan. Entah itu alasannya untuk menjadi lebih percaya diri, menarik, ataupun karena memang untuk membuat nyaman diri sendiri ketika bercermin. Yang dibahas kali ini adalah cantik permukaan ya, cantik wajah. Mengenai penampilan luar perempuan. Kalau masalah cantik hati, itu akan berbeda urusannya.

Menjadi cantik ini kemudian menghadirkan bermacam tren yang muncul di masyarakat. Mulai dari bagaimana cara berpakaian, mode rambut, jenis dan warna make up, wangi parfum, jenis tas dan sepatu, bahkan sampai ke alis-gigi-bulu mata, tidak luput dari serbuan virus cantik. Perempuan sebenarnya sangat direpotkan dalam masalah ini. Tapi secara natural pasti akan terbawa juga, terlebih lagi karena pengaruh dua hal : teman sepermainan, dan media.

Read More

Jika membahas mengenai media, ia merupakan sesuatu yang ada sejak kita masih usia kanak-kanak. Ada lagi ketika tumbuh menjadi abg labil, sampai kemudian jadi orangtua, ternyata si media ini tetap mendampingi dari masa ke masa. Mengapa? Karena itulah fungsinya. Pemberi edukasi, penyedia informasi, sumber hiburan. Karena itulah, jelas saja bisa dikatakan kita tidak akan bisa hidup tanpa media. Karena jika saja ia tika ada, maka kita akan dapat informasi dari mana?

Ternyata andil si media dalam hal kecantikan ini sangatlah besar. Malahan bisa kita katakan bahwa merekalah yang memproduksi kecantikan tersebut.

Di Indonesia kita mengenal tren kecantikan. Yang berubah dari tahun ke tahun layaknya tren fashion, atau tren kuliner. Kita boleh flashback sebentar, ke media televisi kita di rumah. Tentang iklan-iklan yang kerap kita tonton. Biasanya hal ini terindikasi dalam iklan sabun, shampo, hand and body lotion, parfum, hingga ke iklan makanan dan minuman. Biasanya nilai-nilai cantik ini terselip dengan mudahnya, dan tanpa benar-benar kita sadari.

Media televisi Indonesia mulai terlihat menggencarkan produksi virus cantik ini dari awal tahun 2000an, oleh sebuah brand sabun, yang menggunakan pesona perempuan Indonesia sebagai senjatanya. Semua model yang digunakan rata-rata memiliki ciri khas penampilan yang sama.

Antaranya yaitu Tamara Blezynski, Dian Satro Wardoyo, Feby Febiola, Maria Renata, dan Luna Maya. Ketika itu, kecantikan dilambangkan dengan wajah tirus, postur tubuh langsing semampai, dan rambut panjang. Dari sisi iklan shampo, rata-rata menyuguhkan cantik itu ya layaknya rambut lurus dan hitam legam. Tidak keriting apalagi sampai kribo menjulang dan melebar kemana-mana. Dari hand and body lotion? Cantik itu ya kulit putih, bercahaya, tidak hitam dan kusam. Dari sabun wajah? Cantik itu yang tanpa jerawat. Yang mulus tidak ada kerutannya.

Mulailah perempuan ketika itu berlomba menjadi cantik layaknya iklan di televisi. Perlu diingat, pada saat itu alis masih tipis saja ya, belum tebal, karena memang tren saat itu, alis cantik adalah alis yang tipis dan kecil-kecil.

Kita beranjak lagi pada tahun 2009 ke atas, saat ini, ternyata cantik si bintang sabun bukan lagi yang digadang-gadang. Tapi yang ada adalah cantik seperti kulit asia. Luar biasa. Cantik yang tadinya diidentikkan dengan postur tinggi semampai, hidung bangir, rambut sewarna ombre, tetiba berubah menjadi cantik dengan kulit layaknya seputih Korea dan Jepang. Dengan mata yang lebih sipit, make up yang lebih natural. Saat ini, kecantikan tidak dijual televisi dengan cara yang sama lagi. Mulailah perempuan berikhtiar menjadi cantik lagi. Dengan mengusahakan kulit yang putih—sampai akhirnya lahirlah ketika itu tren bleaching untuk badan. Sekali sikat, blasss putih sampai rambut-rambut tipis di tangan.

Lalu lewatlah masa-masa sabun, kita memasuki tahun 2014 ke atas. Nah, saat ini rupanya cantiknya berbeda lagi. Kali ini, cantik adalah yang….halal…Semua dilabeli dengan kata halal. Mulai dari jenis make up sampai kain jilbab. Bintang iklannya berubah, yang dulunya kebanyakan tebar rambut. Kibar-kibar poni. Digantikan dengan model iklan yang kali ini sudah tertutup dengan jilbab. Mulailah era baru untuk cantik di Indonesia. Pada era ini kita sebagai perempuan mulai mengenal apa itu namanya make up tebal-tebal (alis tebal, lipstick tebal, bulu mata tebal, blush on tebal). Kenapa? Karena itulah yang kita konsumsi di media.

PADAHAL….

Kata siapa sih kulit sawo matang itu tidak cantik?

Kata siapa rambut ikal atau keriting atau bahkan kribo itu tidak spesial?

Kata siapa yang kulitnya berjerawat itu tidak perempuan?

Kata siapa?

Semuanya sesungguhnya cantik sejak awalnya. Walaupun tidak berupa sama dengan yang ada di media. Tapi memang, media itu suka bercanda. Sering membuat lawakan yang sayangnya, bisa berpengaruh merubah hidup penontonnya.

Setelah ini, kedepannya diharapkan kita sebagai penonton, khusunya perempuan itu sendiri, bisa lebih menyadari bahwa cantik tetaplah cantik walaupun tidak persis seperti apa yang diajarkan oleh media. Karena terkadang tutorial yang diberikan oleh media itu tidak lengkap. Hanya lengkapnya di bagian yang menguntungkan mereka saja.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.