I Was Raised by A Working Mother, and I Grow Up Well

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Ibu saya seorang pekerja, tepatnya pegawai negeri sipil. Bahkan pekerjaan itu sudah lebih dulu ada daripada saya. Akibatnya pekerjaan ini membuat ibu keluar pagi dan pulang siang, belum lagi kalau ada tugas lapangan dan survei, kerjaan Ibu pasti semakin lama selesainya. Sebagai seorang pegawai negeri Ibu berkali-kali pindah dinas, sehingga dari kecil saya sudah terbiasa dengan pola kerja Ibu yang seperti itu. Yaitu pola kerja yang mengharuskan beliau untuk berada lama di luar rumah dalam waktu yang lama.

Hal ini sebelumnya tidak menganggu pikiran saya, sampai kemudian saat iniĀ  saya mendengar ada beberapa pemikiran bahwa perempuan yang bekerja dan meninggalkan anak di rumah beresiko menjadikannya “kurang keibuan”.

Read More

 

Katanya bekerja itu bikin ia tidak lengkap sebagai ibu. Dan anaknya bisa jadi kurang terurus, atau malah jadi anak pembantu.

 

Stigma ini tentu saja menjadikan perempuan karir di luar sana memiliki cap yang kurang baik…seolah-olah esensi seorang ibu itu sesempit 24 jam diam di rumah saja.

Well, seperti yang ada di judulnya, I was raised by a working mother, and I grow up well. Saya dibesarkan oleh seorang perempuan yang bekerja tiap harinya, dan sampai sekarang saya baik-baik saja, dan tidak kekurangan apa-apa.


Pekerjaan Ibu membuatnya harus berangkat kerja pukul 6.30 pagi, tapi itu bukan berarti saya makannya tidak terurus. Ibu tetap bangun subuh dan menyiapkan perlengkapan saya untuk ke sekolah. Nyiapin sarapan dan juga mengerjakan hal lainnya. Jadinya saya tidak pernah ditinggal dalam kondisi masih kucel dan kelaparan. Justru saya berangkat sekolah dalam keadaan oke dan perut kenyang. Seragam rapi, dan kuncir rambut kiri kanan.

Kuncir rambut?

Iya, Ibu sempat juga menguncir rambut saya. Dan bentuknya tiap hari beda-beda.

Ketika pulang sekolah, saya biasanya pulang sendiri jalan kaki, atau naik becak ramai-ramai. Kondisi rumah ketika pulang tentu saja sepi, karena Ibu dan Bapak saya pekerjaannya sama. Jadinya saya akan sendirian di rumah sampai hampir sore.

Pulang sekolah, di meja makan sudah ada nasi dan lauk. Ibu sudah menyiapkan lauk-lauk kering yang bisa saya makan kapanpun lapar. Sehingga bukan berarti saya nelangsa dan tidak terurus karena Ibu harus bekerja sampai siang bahkan sore hari.

Kadang memang saya merasa rumah sepi dan kosong. Cuma ada suara dari televisi sampai saya tertidur sendiri. Tapi ini bukanlah hal yang menjadi masalah di keluarga kami. Ibu mendidik saya untuk menjadi seorang anak yang mandiri. Saya terbiasa mengurus keperluan sendiri sejak masih TK. Seperti masalah baju, makan, sepatu, perlengkapan sekolah hingga PR dan tugas.

 

Sehingga dari sedini itu memang Ibu juga sudah menyiapkan saya untuk bisa tumbuh menjadi seorang perempuan yang tidak menye-menye dan gampang mengeluh.

 

Ya memang kondisi keluarga mengharuskan Ibu untuk kerja di luar. Sebagai anggota keluarga yang harus saya lakukan adalah memberikan dukungan, yaitu berupa pengertian dan sikap kooperatif, bahwa pekerjaan Ibu tidak berarti membuat saya menjadi anak yang kekurangan kasih sayang–inilah yang Ibu ajarkan kepada saya.

Ibu bekerja sampai sore. Saya tau beliau pasti sangat lelah. Tapi pada malam harinya Ibu selalu ada di kamar dan melihat saya mengerjakan PR. Ibu akan bertanya bagaimana hari yang saya lalui dan apakah ada kejadian-kejadian yang membuat saya tidak nyaman.

Kadang hal ini kami skip, karena Ibu ketiduran. Biasanya karena pekerjaan lapangan hingga menjelang magrib, dan Ibu sudah tidak ada tenaga untuk curhat-curhatan.

 

Tapi hal tidak masalah, karena saya tau bahwa Ibu begitu bukan karena sengaja ingin mengabaikan saya. Saya paham bahwa Ibu bekerja pun untuk saya.

 

Kadang ada beberapa momen yang Ibu tidak bisa memaksa untuk hadir. Seperti beberapa perlombaan yang saya ikuti, atau hari-hari sepi di rumah karena Ibu harus ke luar kota, juga ketika saya sakit dan hanya berdua dengan Bapak, karena Ibu harus mengikuti semacam seminar dari kantor.

Saya juga ingat, saya pernah menangis ketika Ibu waktu itu berangkat ke Bandung, dan saya ingin ikut.

Pada saat itu, Ibu bilang ke saya bahwa Ibu tidak akan tenang bekerja jika saya terus menangis. Apa saya mau Ibu di sana juga sakit karena kepikiran saya?

Kata Ibu saya harus bisa mengerti kalau pekerjaan Ibu memang seperti itu. Toh nanti Ibu juga akan pulang dan bisa ketemu lagi. Iya kan?

 

Saat itu saya berumur 5 tahun dan apa yang Ibu ajarkan kepada saya setiap harinya benar-benar membentuk saya menjadi seorang anak yang mau mengerti, bahwa bukan hanya mau saya saja yang harus dituruti.

Selama ini orang mengira bahwa perempuan yang bekerja tidak akan pernah totalitas menjadi seorang Ibu. Mereka salah, karena Ibu saya tidak begitu. Walaupun Ibu bekerja, tapi beliau tetap tidak pernah absen seharipun menjalankan perannya.

Mungkin yang perlu digaris bawahi adalah sudut pandang tentang “totalitas” sebagai ibu. Menjadi seorang ibu bukan hanya tentang peran domestik layaknya cuci piring, masak, gosok-gosok baju saja. Bukan cuma itu yang dipikirkan lalu perempuan itu dinilai sah menjadi “Ibu”, tapi lebih dari itu, yaitu esensi kasih sayang yang tulus yang dia berikan ke anaknya.

 

Dan apa yang saya rasakan dari Ibu adalah quality beyond quantity. Waktu kami yang tidak banyak bukan berarti kualitasnya juga rendah.

 

Ibu tetap membangun komunikasi yang baik dengan saya dan Bapak. Tetap perhatian. Mengetahui hal-hal kecil yang berubah dari saya. Mencurahkan sebisa beliau untuk ada di tiap-tiap momen penting saya.

Ketika berusia 0 sampai 5 tahun, saya menggunakan asisten rumah tangga di rumah, yang biasa saya panggil Bibi. Ibu merasa merupakan hal yang wajib bagi beliau untuk mencarikan saya bibi yang membawa pengaruh baik, dalam tingkah laku dan perkembangan psikis saya. Karena itu kemudian Ibu lebih menyetujui untuk mengambil asisten yang bisa membaca dan menulis. Jadinya selama di rumah, Ibu mengatakan hal-hal yang harus dia lakukan. Mulai dari makanan, minuman, kebiasaan yang dia harus lakukan bersama saya. Dan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan.

 

Tapi apakah bersama Bibi lebih sering menjadikan saya anak Bibi?

Tidak….

 

Karena seperti yang saya katakan, walaupun quantitas saya bersama Bibi lebih banyak, tapi Bibi bukanlah Ibu. Treatment yang Ibu lakukan kepada saya tidak akan pernah ada duanya jika dibandingkan dengan siapapun. Ibu tetap memegang bagian quality controlnya, dan bibi yang menjadi pelaksana tugasnya. Sehingga walaupun Ibu harus keluar rumah, tapi beliau tetap memastikan bahwa hal-hal yang dipesankan bisa dilakukan dan saya tidak kekurangan suatu apapun.

Saya awalnya juga merasa khawatir, nanti ketika saya memiliki anak, apa yang harus saya pilih, apakah anak atau kerjaan?

Mana waktu yang lebih banyak harus saya sisihkan?

Dan apakah kalau saya lebih banyak meninggalkan anak, artinya saya tidak sayang padanya?

Juga mengenai kata orang yang mengatakan anak saya bakalan jadi anak pembantu, bukan anak ibu.

 

Tapi kemudian saya berkaca pada Ibu dan pengalaman yang saya miliki.

 

Saya mengetahui bahwa kasih sayang Ibu bukanlah apa yang bisa saya ukur sebelah mata. Hanya karena Ibu menghabiskan waktunya untuk bekerja, bukan berarti ia tak sayang pada saya.

 

Sebagian ibu di luar sana saya yakin tengah berjuang untuk keluarganya. Ada yang mengharuskan mereka bekerja dari pagi hingga pagi lagi, ada yang menuntut mereka untuk sekolah lagi, dan ada pula yang mengharuskan mereka meninggalkan rumah dan ke luar negeri sebaga penghasil devisa keluarga.

Namun kepergian itu bukan menandakan bahwa mereka bukanlah ibu yang baik, justru pengorbanan itulah yang menunjukkan betapa mereka meletakkan keluarga di atas kenyamanan mereka sendiri.

 

Dan jangan kira ya mereka melakukan itu dengan suka cita, meninggalkan rumah tanpa beban dan kerinduan ke anaknya, salah besar.

 

Justru merekalah yang seharusnya paling menderita karena tau tidak bisa selalu ada di tengah-tengah momen pertumbuhan buah hatinya.

Menjadi seorang ibu itu tidak akan mudah, apalagi harus bertaruh dengan waktu dan prioritas. Di saat yang sama ada keluarga dan ada tanggungjawab kerja. Namun hal ini tentu saja bisa disikapi lebih bijaksana dengan sikap saling mengerti dan kerjasama dalam keluarga. Bukan lagi saatnya mengatakan dengan gamblang bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah bukanlah seorang ibu yang utuh.

 

Dari Ibu saya belajar bahwa kasih sayang Ibu bukan hanya terpaut pada hal-hal yang tersentuh. Bukan hanya tentang kewajiban domestik dan waktu-waktu yang utuh. Tapi kasih sayang Ibu saya rasakan deras mengalir karena saya bisa merasakan ketulusan beliau…melalui pola pikir saya yang baik, tingkah laku saya yang kooperatif dan mau mengerti, kemandirian yang saya pelajari secara otodidak, dan semangat berjuang bagi seorang perempuan. Melalui itu, kasih sayang Ibu justru saya bawa dan membentuk saya sampai saat ini.

BACA JUGA :  Newt Scamander : Cowok Bukan Cuma Otot Kekar dan Perut Sixpacks!

Related posts