Menanyakan Kembali Makna Menstruasi : Warna Darah Mens pada Iklan Pembalut, Kenapa Bukan Warna MERAH??

GIRLISME.COM – Pernah nggak kamu mengalami rasa malu ketika sedang mens? Kamu takut ketika teman-temanmu tau, apalagi kalau itu cowok. Pasti rasanya malu sekali.

Pernah nggak kamu tiba-tiba menstruasi trus mau beli pembalut, tapi malu buat nyebut pembalutnya?

Pernah nggak kamu mens tapi malu pakai kata “aku mens”, dan diganti pakai sekedar kata-kata kode, kaya misalnya “Aku dapet.”, “Aku dateng tamu.” atau malah cuma “Aku M”?

Pertanyaannya adalah, kenapa ya perempuan ngerasa malu karena dia menstruasi? Kenapa rasanya kotor banget dan nggak suci?

Dalam beberapa ajaran agama, ada yang nggak membolehkan perempuan yang menstruasi untuk melakukan ibadah seperti biasanya. Dalam keadaan haid ini mereka dianggap dalam keadaan kotor dan perlu bersuci dulu untuk bisa kembali beribadah. Namun walaupun begitu, bukan berarti perempuan yang menstruasi itu memalukan dan harus dianggap tabu. Mindset ini sebenarnya keliru, karena apapun itu, harusnya perempuan merasa bangga dengan menstruasinya sendiri. Sebab memang mentsruasi itu proses biologis yang sangat wajar dan memang seharusnya dialami perempuan. Jadinya ketika perempuan mens, harusnya bukan merasa tabu dan malu, tapi bersyukur, karena sudah bisa melewati satu fase wajib perempuan, yang sekaligus menandakan keadaan organ reproduksinya berjalan dengan baik.

Read More

 

Shouldnt girl be proud of their menstruation and all those period stuffs? Because that’s kinda cool, you know. Somehow that makes you girl anyway. Just don’t be shame or feeling guilty in front of other people because of it. That’s really blessing. Chin up.

 

Pernah nggak kamu mens, dan tembus, sampai ke tempat duduk? Mungkin di bangku sekolah, atau tempat lainnya?

Dan reaksi yang ada adalah kamu jadi malu banget. Kamu sampai harus ngebersihin tempet itu, karena kalau ngggak, nggak ada orang lain yang mau duduk di situ, karena bekas darah mens.

Pernah nggak ketika kamu tembus rasanya maluuuu banget karena ketahuan mens?

Dan tembus itu bikin kamu ngerasa nggak becus banget. Kaya gagal aja gitu. “Ih, kok tembus sih…hiks…”

Padahal kaya dibilangin sebelumnya, menstruasi itu wajar banget bagi perempuan. Kenapa rasanya harus malu tiap kali darah itu keliatan? Padahal kan tembus itupun nggak sengaja kamu lakukan. Kamu langsung cepet-cepet ngebersihin pakaian. Dan rasanya khawatir banget kalau masih ada sisa darahnya—nanti orang-orang tau kamu menstruasi.

 

“Lha kalau tembus memangnya kenapa sih?”

“Ya namanya menstruasi ya wajarlah tembus.”

 

Kalau memang ngebersihin supaya bajunya kelihatan rapi lagi, itu wajar. Tapi kalau malu karena darah menstruasi sendiri….lha…kok malu??

 

Darah menstruasi memang keluar lewat organ intim perempuan, tapi ya trus masa gara-gara itu darahnya jadi cabul? Kan nggak kaya begitu.

Apalagi kalau ngeliat reaksi cowok-cowok tiap kali liat perempuan mens. Ada yang cie-ciein. Ada yang ngejekin. Ada yang mandangin kaya perasaan jijik, soalnya darahnya kan darah kotor.

Hmm, hai cowok…perempuan nggak mens, artinya nanti perempuan nggak bisa semudah itu buat mengandung anak. Ketika perempuan menstruasi, harusnya yang kamu pikirkan adalah bukan hal-hal cabul tentang dari mana darah itu, tapi seharusnya pikiran kalau si cewek itu sudah bisa dianggap sanggup buat menerima tanggungjawab biologis dia sebagai ibu. Kalau ibumu dulu nggak mens, kamu nggak bakal ada.

Jadinya stop being so rude ke cewek-cewek yang menstruasi, terlebih lagi ketika kejadian mereka tembus. Biasa aja. Itu darah manusia bukan nuklir Nagasaki dan Hiroshima.

Menstruasi dan Iklan Pembalut.

Apa yang ditampilkan di media, salah satunya melalui iklan, sebenarnya mencerminkan budaya mayoritas, dan pemikiran general yang ada di tempat iklan tersebut ditampilkan. Iklan akan menampilkan hal-hal yang common, dan mudah diterima oleh budaya masyarakat di tempat tersebut. Membahas iklan yang berkaitan sama menstruasi secara nggak langsung bisa memperlihatkan gimana pandangan umum dan makna menstruasi yang ada di suatu daerah.

Pernah nonton iklan pembalut kan? Pasti pernah.

Iklan pembalut ini udah ada dari dulu-dulu banget. Jenisnya juga banyak, karena mereknya beragam.

Nah, pertanyaannya..pernah nggak kamu nyadar kalau warna darah di iklan pembalut itu selalu biru dan bukan merah?

Kenapa ya?

Pernah nonton film action, horror, atau thriller kan?

Di sana darah muncrat dari ujung ke ujung. Gampang banget nemuin darah dimana-mana. Adegan-adegan sadis pasti nggak jauh dari darah. Ada yang menggenang, ada yang jeplak di tembok, ada yang di tubuhnya berlumuran. Tapi intinya, darah itu gampang banget ditemuin di film.

 

Tapi ketika itu masuk ke ranah pembalut, yang notabenenya adalah penghalang DARAH buat keluar, kok DARAHnya malah nggak ditampilin??

Kalaupun ditampilin, kenapa nggak merah?

 

Kenapa warna darah di iklan pembalut Indonesia lebih milih pakai biru atau putih? Kenapa gapake warna darah asli aja, yaitu merah. Apa yang salah emangnya sama presentasi menstruasi perempuan yang warna merah? Kok bisa malah yang dipilih warna lain. Padahal darah emang merah. Dan perempuan memang kodratnya menstruasi.

Dari visualisasi darah menstruasi yang berwarna biru ngebuat perempuan ngerasa asing dengan bagian tubuhnya sendiri. Bahkan perempuan yang punya darah tersebutpun jadi nggak biasa ngelihat darahnya sendiri yang berwarna merah. Entah kenapa memperlihatkan darah yang berwarna merah itu dianggap sebagai sesuatu yang “kurang sesuai”, “nggak pantas”, dan bahkan “saru” oleh media, makanya dirubah ke warna biru yang sifatnya lebih netral. Tujuannya supaya lebih pantes buat disiarkan dan ditonton.

Bingung juga kenapa darah di film dan sinetron jadi lebih wajar buat ditampilkan, padahal itu konteksnya mengandung kekerasan, daripada darah menstruasi, yang konteksnya emang sesuai sama iklannya yaitu iklan pembalut.

Cara iklan pembalut mendefinisikan menstruasi dan perempuan menjadikan si “tamu bulanan” ini kaya sejenis beban. Beban tembus. Beban capek. Beban ribet. Beban takut kalau aktifitas nggak nyaman.

 

Secara nggak langsung iklan-iklan ini memperlihatkan bahwa perempuan yang menstruasi adalah perempuan yang rempong dan nggak menyukai keadaan biologisnya sendiri.

Pemikiran mengenai perempuan dan menstruasi yang begini sesungguhnya keliru. Nggak seharusnya media nyebarin pemikiran primitif yang nganggep tembus itu sebagai sebuah dosa, dan warna merah itu adalah sebuah tabu. Nggak seharusnya media nyebarin pemikiran bahwa menstruasi itu melemahkan, di saat yang sama harusnya perempuan sadar bahwa menstruasi itu adalah sebuah berkah yang menjadikan diri mereka sebagai benar-benar perempuan.

 

Bodyform melalui Blood Normal. Iklan menstruasi pertama yang memperlihatkan darah sewarna merah.

Kamu tau?

Perihal darah menstruasi dan iklan pembalut yang lebih memilih pakai warna biru ini kejadiannya bukan hanya di Indonesia. Memang secara umum media menganggap kalau cewek menstruasi itu nggak pantas dan kurang sopan buat sekedar ditampilkan sewarna darahnya saja. Sampai akhirnya muncul iklan terbaru, dari merek Bodyform, brand pembalut dari Inggris yang mengusung Blood Normal. Iklan ini merupakan yang pertama, yang memunculkan menstruasi perempuan dengan warna yang benar-benar normal, yaitu merah.

Ohiya, iklannya bisa kamu cek di sini https://www.youtube.com/watch?v=QdW6IRsuXaQ

Di iklan berdurasi 20 detik ini kita bisa melihat cairan merah yang ditumpahkan di atas pembalut. Ada representasi perempuan yang tembus–yang juga warna darahnya sewarna merah. Bahkan latar dan penggambaran dalam iklan lebih didominasi warna merah. Iklan ini bertujuan buat merubah mindset orang-orang yang berpendapat bahwa menstruasi itu aneh, darah perempuan itu tabu, dan keduanya merupakan beban bagi perempuan.

 

Mentsruasi adalah siklus biologis wajar dan normal, yang perempuan memang harus jalani. Berdarah itu normal. Dan tembus itu juga normal. Nggak ada yang salah dengan warna darah yang merah.

Nah, apa kabar iklan Indonesia??

Harapannya kedepan iklan pembalut di Indonesia lebih bisa memberikan representasi yang baik tentang perempuan, dan bagaimana caranya memaknai menstruasi. Peluruhan dinding rahim tiap bulannya pada perempuan adalah hal yang membuat diri mereka menjadi perempuan.

 

Menstruasi adalah siklus berharga yang seharusnya bisa diterima dan dicintai oleh perempuan.

Menstruasi harus bisa diterima dengan bangga, bukannya malah merasa malu dan hina.

 

Perempuan harus bisa mencintai dirinya sendiri, siklusnya, dan darah yang keluar dari tubuhnya, sebagai wujud bahwa dia perempuan yang seutuhnya. Perempuan nggak harus lantas malu hanya karena ketahuan menstruasi.  Sudah nggak perlu lagi malu tiap kali beli pembalut dan kasirnya adalah laki-laki. Nggak perlu lagi takut bilang ke orang lain kalau sebenarnya sedang menstruasi. Nggak perlu lagi mikir kalau menstruasi itu beban, yang isinya  cuman sakit, juga bisa bikin canggung kalau ketahuan orang lain.

Karena sesungguhnya hal ini bukanlah aib, yang harus ditutup-tutupi karena merasa malu. Justru, menstruasi adalah sebuah berkah yang perempuan harus syukuri.

 

Taukah kamu?

Bahwa menstruasi pada perempuan sebenarnya adalah bukti bahwa perempuan itu tiap bulannya bisa kuat dan ngelewatin dysmenorrhea, yang bahkan sakitnya setara dnegan penyakit serangan jantung.

 

Hei…kenapa kamu justru malu dan tabu terhadap hal yang justru ngebuktiin kalau kamu adalah seorang pribadi yang kuat??

 

No Girls.

Kamu harus bangga dengan menstruasimu, nggak lagi merasa malu dengan itu. Hanya dengan begitu, kamu benar-benar bisa bangga menjadi seorang perempuan. Tiap kali kamu pikir kalau menstruasi itu merepotkan dan membawa rasa malu, tepis pikiran itu, dan bersyukurlah, bahwa saat ini, Tuhan sudah kasi kamu berkah melalui darah haid yang muncul setiap bulannya.

Related posts