Setelah Kampus, Kini Muncul Data 40 Masjid DKI yang Diduga Terpapar Radikalisme

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Setelah BNPT mengeluarkan data terkait tujuh kampus yang diduga terpapar paham radikalisme, baru-baru ini wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno juga menyampaikan bahwa pihaknya telah memiliki data 40 masjid yang disebut telah disusupi paham radikal.

https://metro.tempo.co

Read More

“Itu kami juga sudah punya datanya di teman-teman Biro Dikmental dan Bazis. Akan kami arahkan ke kegiatan kami lebih banyak ke sana,” kata Sandiaga di Pulau Untung Jawa, Selasa (5/6).

Sandiaga menduga paham radikalisme muncul dari kemiskinan dan ketidakberdayaan masyarakat. Untuk itu, ia berniat membangun perekonomian di masjid.

“Salah satu masalah terjadinya radikalisme adalah ketidakadilan dan paham, believe, yang terus dimasukan ke anak muda, generasi penerus bangsa kita dan mengambil jalan pintas. Tidak ada cara lain selain pendidikan, kedua berikan kesempatan mereka menjadi pengusaha, dan orang yang sukses dengan program OK OCE,” kata Sandiaga.

Isu masjid radikal di DKI mulai menjadi sorotan setelah Presiden Joko Widodo mengundang 42 tokoh praktisi sosial, budaya, pendidikan, dan agama untuk berdiskusi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin kemarin. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi dan para tokoh membicarakan mengenai adanya paham radikalisme yang diajarkan di sejumlah masjid di Ibu Kota.

Cendekiawan Muslim, Azyumardi Azra mengungkapkan bahwa awalnya topik tersebut dicetuskan oleh salah satu tamu, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid.

“Mbak Alissa mengatakan, sekitar 40 masjid yang dia survei di Jakarta itu penceramahnya radikal, dia (masjid-masjid itu) mengajarkan intoleransi dan radikalisme,” ujar Azyumardi, seusai pertemuan.

BACA JUGA :  Patung Indonesia Dengan Tinggi 121 Meter Jadi Patung Tertinggi Kedua di Dunia

Azyumardi juga menyampaikan bahwa Presiden Jokowi telah mengambil sejumlah langkah untuk mencegah pemahaman radikalisme dan terorisme yang mulai masuk ke rumah ibadah. Salah satunya dengan menggandeng organisasi masyarakat Islam.

“Pak Jokowi menegaskan, sebetulnya masalah itu sedikit banyak sudah diatasi,” kata Azyumardi.

“Beliau menugaskan orang, pimpinan lembaga sosial keagamaan tertentu untuk melakukan perbaikan di dalam masjid, sehingga khatib didominasi oleh orang yang tidak mengajarkan paham khilafah atau daulah Islamiyah,” sambungnya.

Selain Azyumardi, Cendekiawan Muslim sekaligus akademisi Komarudin Hidayat juga ikut berkomentar terkait hal tersebut. Komarudin Hidayat menghimbau  agar pemerintah bekerjasama lebih intens dengan organisasi masyarakat Islam.

“Solusinya memang pengurus masjid BUMN itu lebih selektif dalam menyeleksi penceramahnya. Ini harus lebih dikomunikasikan dengan ormas Islam besar, antara lain Muhammadiyah dan NU. Jadi, memang jangan langsung dari tangan pemerintah, tapi melalui masyarakat,” ujar Komarudin.

Kalau pendapat kamu gimana nih Smartgirl terkait data tersebut?

Related posts