BNPT Sebut Tujuh Kampus yang Terpapar Paham Radikalisme, Pengamat Terorisme: Data Itu Tidak Berdasar

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Brigjen Pol Ir Hamli belum lama ini mengeluarkan data terkait 7 kampus yang terpapar paham radikalisme. Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar radikalisme.

Tujuh kampus tersebut diantaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan terakhir Universitas Brawijaya (UB).

Read More

Menanggapi data dari BNPT tersebut, menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa radikalisme di dalam perguruan tinggi memang sudah ada sejak 35 tahun lalu.

“Tapi itu kan kejadian sudah lama. Perguruan tinggi itu sejak 1983, mulai tumbuhnya itu akibat kebijakan normalisasi kehidupan kampus,” kata Nasir di Demak, Sabtu (2/6) lalu.Teroris Riau

Nasir juga menghimbau kepada semua perguruan tinggi, untuk menangkal radikalisme di dalam kampus. Setiap rektor harus memantau semua dosen dan mahasiswa yang telah terpapar radikalisme dan harus kembali ke NKRI.

“Nanti itu mari kita jadikan satu pedoman, sehingga nanti sore (Sabtu) saya juga dengan Undip, saya akan sampaikan hal yang sama, malem saya sama Unes, menjelaskan hal yang sama,” ujar Nasir.

Selaras dengan pendapat Mohamad Nasir, anggota Komisi III DPR Arsul Sani mengatakan bahwa perlu adanya upaya untuk mensterilkan kampus dari paham radikalisme. Apabila jangkauan paham tersebut kian meluas di kampus-kampus, diyakini akan menjadi lahan tumbuhnya bibit kelompok terorisme. Oleh karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Intelijen Negara (BIN) harus bekerja lebih keras untuk memetakan kampus-kampus yang terpapar paham radikalisme dan terorisme.

Arsul juga menambahkan perlu adanya kerjasama antara BNPT dan BIN dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Kampus yang diduga terpapar juga mesti dilibatkan.  Ia memandang, perlu dikembangkan pendekatan lunak alias soft approach terkait penangkalan paham radikal di lingkungan kampus.

Berbeda dengan Mohamad Nasir dan Asrul Sani, pengamat terorisme Al Chaidar justru menyebut pernyataan yang diungkapkan salah satu petinggi BNPT tersebut tidak berdasar.

Al Chaidar mengaku selama ini tidak melihat mahasiswa yang menyukai terorisme atau paham-paham radikalisme yang mengarah pada tindakan radikal maupun teror.
“Saya tidak melihat mahasiswa suka terorisme,” kata Al Chaidar saat kepada media, Rabu (30/5).

Al Chaidar mengatakan bahwa jikalau memang terdapat percikan radikalisme yang berkembang di lingkungan kampus, hal tersebut hanya sebagai bentuk radikalisme biasa, dalam arti pola pikir kritis khas mahasiswa.

Misalnya paham kekhilafahan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang banyak dianut mahasiswa, tentu tak akan berujung pada aksi terorisme.

“Misalnya di IPB itu banyak mahasiswa yang dulu ikut mendukung ide khilafah gaya HTI, tapi mereka tetap anti terorisme. Radikalisme di kalangan mahasiswa itu hanya sekadar fanatisme,” lanjutnya.

Al Chaidar juga meminta BNPT untuk menjelaskan bagaimana metode penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data kampus radikalisme tersebut.

“Rinci dong, penelitiannya bagaimana, berapa temuannya, pakai metode apa mereka menelitinya. Wong setahu saya sangat sedikit mahasiswa yang terlibat terorisme, hanya delapan orang saja dari seluruh Indonesia,” katanya.

Nah Smartgirl, gimana nih tanggapan kamu terkait kampus yang diduga terpapar paham radikalisme tersebut?

BACA JUGA :  Hubungan LDR Bikin Khawatir Ya Girls? Mending Cari Tahu 5 Hal Positif yang Justru Bakal Kamu Dapetin dari LDR Yuk...

Related posts