Mana yang Benar? Agamis atau Nasionalis

  • Whatsapp

Boleh difahamkan bahwa dari perspektif sejarah tidak ada yang perlu disoalkan antara Islam dan Pancasila. Islam tidak bertentangan dengan pancasila begitupun sebaliknya. Maka sungguh tidak berdasar pemahaman yang membentur Islam dengan pancasila, sebab nilai-nilai dalam Pancasila terdapat pada ajaran agama Islam.

Namun tidak sedikit dari kita yang menempatkan pancasila dan Islam sebagai dua kutub yang berbeda. Suatu kesalahan yang mengakar sampai sekarang. Aksi nyatanya nampak jelas pada Peristiwa Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. Terbentuk dua kubu, menentang atau mendukung kubu Ahok. Sebagaimana Salahudin Wahid menulis di Kompas, kubu yang mendukung dianggap anti islam dan munafiq, sementara pihak penentang dianggap anti-indonesia, intoleran,dan anti kebhinekaan. Yang satu merasa “paling Indonesia”, satunya mengaku “paling Islam”.

Read More

Agaknya, apa yang pernah disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haidar Nashir, dalam koran Replubika(27/11) akhir tahun lalu perlu kita renungi bersama. “ketika terdapat arus aspirasi umat Islam ntuk memperoleh hak dan keadilan, sungguh bukanlah primordialisme. Aspirasi itu ekspresi yang wajar, lebih-lebih salurannya demokratis dan konstitusional. Jangan pandang Islam di negri ini sebagaimana ancaman keindonesiaan dengan segenap pilarnya.”(Indonesia Siapa Punya;2016)

Maka sekali lagi, tidak ada yang perlu dipertentangkan antara menjadi agamis dan nasionalis. Tidak perlu berapi api menyebut sebagai “nasionalis sejati”. Dengan pribadi kita menjadi muslim yang taat serta bersih hati otomatis nasionalisme kita tidak diragukan.

BACA JUGA :  BPN Prabowo-Sandi Klaim Kemenangan Lagi! Prabowo: Saya Akan Undang Ahli Hukum dan Buat Surat Wasiat!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *