Mau Nikah Sekarang atau Nanti? Mau Nikah atau Nggak? So What? Itu Hak Perempuan Secara Personal! Hargai dan Hormati.

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Percayalah, menikah sekarang atau nanti. Tua ataupun muda. Cepat ataupun lambat adalah sesuatu yang relatif.

 

Read More

Ukuranmu bukan ukuranku. Aku berhak atas milikku.

Hanya karena buat sebagian orang umur 25 itu berarti perawan tua, bukan berarti di sebagian yang lain umur itu sudah wajib buat menikah. Bilangan angka dan keputusan berumah tangga sesungguhnya sangat subjektif, dan nggak bisa begitu saja disamaratakan antara satu dan yang lainnya.

Pernikahan adalah hak individu. Walaupun nanti di sampingnya banyak hal-hal yang berkaitan, misalnya tuntutan kerjaan mungkin, tuntutan orangtua, lingkungan pertemanan yang sudah married semua, sampai mungkin tekanan lingkungan yang terus menerus mendesak…tapi terlepas dari semua itu, tetaplah keputusan untuk menikah kapan, atau bahkan memilih menikah atau nggak itu merupakan hal yang personal sifatnya.

 

Adalah hal yang menyebalkan ketika seseorang bertanya ke kamu, lebih sering tentang kapan mau nikah dan kapan mau punya anak, dibandingkan pertanyaan tentang pencapaian-pencapaianmu yang lain. Pertanyaan yang kaya gitu efeknya kaya bola salju…dijawab satu, tumbuh seribu.

 

Setelah dikasi bilangan angka target, pastinya nyambung ke komentar-komentar lain, yang intinya kamu harus merevisi atau mikirin ulang tentang keputusan dan batasan umur pernikahan yang kamu ambil. Nyambung lagi ke pertanyaan sudah ada calon apa nggak. Sudah nyoba nyari apa enggak. Trus mau punya anak kapan. Trus jangan lupa rahim perempuan dan kesuburannya terbatas. Hal-hal semacam itu, yang kamu sebagai seorang perempuan dewasa sebenarnya sudah hapal dan tau walaupun nggak dikasih tau.

 

Sebelum nanya macam-macam, kamu harus inget kalau kamu bukan siapa-siapaku.

Entah kenapa rasanya orang-orang lebih bersemangat buat kepo tentang kapan kamu bakalan jadi istri orang, daripada persiapan apa yang kamu punya buat jadi sosok perempuan yang lebih baik. Kamu sekarang sedang sibuk apa, menekuni bidang apa, hobimu apa, hal-hal lain yang substansinya lebih jelas, dibandingkan hal-hal ngawang macam pernikahan yang masih jauh di depan dan harus diraba-raba berdua…bukan sendirian. Ya karena nggak mungkin mau nikah sama diri sendiri, ya kan?

 

“Kapan nikah?”

“Ayoo disegerakan…”

“Kapan nih jadinya resmi?”

“Udah waktunya lho, kamu udah mikirin nggak?”

 

Saya sangat paham bahwa Indonesia itu tumbuh dengan tipe masyarakat yang sangat pedulian, care level maksimal, dan rasa ingin tau di ubun-ubun.

Banyak yang bilang kalau pertanyaan-pertanyaan itu cuma basa basi…yess…tapi mungkin bisa dihentikan, berhubung sudah basi, jadinya nanti kalau ditambah-tambah bakalan diare..kan nggak baik konsumsi yang basi-basi. Ya kan.

Ada yang bilang itu bentuk perhatian dan dukungan…yess thank you, tapi sepertinya nggak semua orang butuh dan mau diperhatikan dengan cara yang seperti itu. Dan sebaiknya dan memang seharusnya  untuk dihargai.

Ada yang bilang kalau itu termasuk mengingatkan, yaitu salah satu dari jenis perbuatan baik antar umat manusia buat ngingetin satu sama lain…yess bener banget, tapi rasa-rasanya ada hal lain yang penting juga buat diingatkan, selain nanyain masalah nikahan dan kapan dung-dung main bayi-bayian.

 

Percayalah bahwa keputusan pernikahan itu sifatnya sangat pribadi, nggak perlu diumbar-umbar sehingga semua orang tau. Nggak perlu dipamerkan setiap saat, biar orang lain ingat. Nggak perlu dikoar-koar sering-sering supaya dapet pengakuan dari semua orang.

 

Kenapa? Karena itu hubungan antar satu cewek dan satu cowok, dan bukan hubungan satu Negara.

 

Yang mana artinya adalah hal yang sah ketika dua orang di dalam hubungan itu nggak mau memberikan informasi ke semua orang. Sama sekali bukan hal yang aneh. Atau bahkan PELIT. Atau SOK misterius. No..no…bukan. Itu karena mereka paham bahwa ada yang namanya ranah privasi pribadi dan ada yang namanya ranah publik atau umum.

 

Aku berhak menentukan adatku sendiri.

Di Indonesia ini kita punya tardisi buat perempuan bahwa menikahlah di rentang umur 20an. Kalau lewat dari angka 25, udah masuk masa-masa genting dan kemungkinan bakalan ribet nanti kedepannya. Ribet masalah biologis, kesuburan, kemungkinan punya anak, kemungkinan cowok sulit yang mau, dan sebagainya.

Adat yang sebenarnya aneh dan timpang, jika dibandingkan dengan Negara-negara lain, yang ngelihat perempuan belum menikah umur 40 pun masih selow mellow makan bakpaw nggak perlu pasang urat dan pakai gas kenceng-kenceng buat kepo. Timpang juga sama laki-laki yang bebas nikah kapan aja hanya karena spermanya katanya bakalan ada walaupun ssampai kakek kakek. Yang artinya..nggak ada alasan yang bahaya kalau misalnya dia nggak nikah cepet dan buru-buru. Dia bakalan tetep bisa punya anak kok.

Padahal si sperma dan teman-temannya ini juga punya batas subur lho, jadi memang pada akhirnya baik laki maupun perempuan sama-sama punya batas secara biologis. Dan masalah biologis ini bisa banget dikasi perlakuan yang baik dengan pola hidup sehat dan sebagainya. Sehingga nggak mentang-mentang baru umur 26 atau 27 langsung bakalan jadi nggak subur dan susah punya anak bagi perempuan. Please..nggak begitu.

Dan juga menikah itu bukan cuma sekedar menjalankan tutorial buat menghasilkan anak yang lucu-lucu, tapi juga ngejalanin seumur hidup tanggungjawab lahir bathin, dunia akhirat sebagai orangtua dan wali. Jadi sebenarnya alasan maksa perempuan buat menikah cepet karena alasan biologis semata tanpa mikirin softskill lain di balik itu adalah termasuk sesuatu yang prematur.

 

Well then..tiap perempuan bebas menentukan batas wajarnya sendiri buat menikah. Mau itu umur awal 20an, mau awal 30an, atau 40an. Kenapa? Karena dia yang lebih paham butuh dan inginnya dia. Siap atau nggaknya dia. Dan fokus-fokus hidupnya dia mau dibawa kemana.

 

Bukan orang lain, apalagi yang cuman seliweran tiap hari di sosmed dan dan cuman klaksonan di jalan.  Bahkan jika dia lebih milih buat nggak menikahpun, itu selalu balik ke standar-standar dirinya sendiri. Dan yakinlah hal itu adalah sesuatu yang memang seharusnya dia punya. Bukan hak orang lain buat menghakimi atau bahkan lebih sok-sok tau.

Masalah mau kerja dulu, pendidikan dulu, ke sana-kemari dulu, daripada nikahan dan jadi istri orang, adalah hal yang boleh dan memang harus perempuan dapatkan dengan bebas. Karena memang itu haknya dia untuk memenuhi diri secara personal dulu, sebelum nanti menuhin diri sebagai ibu dan istri, juga anggota keluarga dari ipar dan mertuanya.

Atau dia mau menikah di usia awal 20an, mutusin buat tinggal di rumah, main sama anak, kerja dari rumah utuh sepanjang 24 jam, kenapa nggak? Nggak masalah. Boleh. Dan silakan saja. Malahan nantinya dia bakalan munculin banyak hal kreatif buat mendukung kegiatannya dia itu. Dan krena seperti yang saya katakan tadi bahwa memang ukuran kesiapan perempuan satu dan lainnya itu berbeda, dan hanya dia yang tau.

 

 

So, balik lagi ke awal. Angka itu relatif. Tua muda. Cepat lambat. Sekarang nanti. Semuanya adalah hal-hal yang sifatnya karet, dan nggak bisa sama satu orang dengan lainnya. Mulailah paham bahwa kapan perempuan mutusin buat nikah itu adalah sepenuhnya standar dia. Karena itu nggak ada yang “aneh”, “telat”, “kecepetan” untuk itu. Itu haknya dia buat milih dan nentuin batasan yang dia punya. Kamu boleh komentar tapi jangan sok-sok jadi paling tau daripada dia yang ngejalani hidupnya.

Dan inget bukan hak orang lain buat nentuin kapan “batas ideal” tiap perempuan buat nikah dan berkeluarga. Karena dia bakalan fine dan baik-baik aja jalan dengan standar-standar yang dipunyai oleh dirinya sendiri.

BACA JUGA :  Kamu Sunset Hunter? Ini 5 spot sunset di Jogja, Kamu harus kesini!

Related posts