Sejarah Pecel

Sumber : TribunTravel

Sejarah Pecel

Pecel biasanya dijadikan sarapan dan makan siang, memberi energi dan gizi yang baik untuk menjalani aktivitas seharian penuh. Hidangan sayur rebus yang disiram sambel kacang ini tak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa Tengah dan sekitar.

Menurut Babad Tanah Jawi, pecel asal muasalnya diceriterakan dihidangkan di daerah Yogyakarta. Dipecel berarti daun daunan yang direbus kemudian dibuang airnya dengan diperas,” kata ahli gastronomi dari Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito.

Murdijati menceritakan pada Babad Tanah Jawi diceritakan pada saat tengah hari Sunan Kalijaga bertemu dengan Ki Gede Pamanahan di pinggir sungai. Ki Gede Pamanahan menghidangkan sepiring sayuran sambel pecel dan nasi

Racikan sayuran yang diguyur bumbu kacang ini ternyata sudah ada sejak abad ke-9. Pecel bahkan diprediksi ‘lahir’ Sebelum Masehi.

Karena komposisinya terdiri dari banyak sayuran, pecel kerap disebut sebagai saladnya Indonesia. Seporsi pecel diracik dengan berbagai sayuran yang direbus. Isiannya beragam mulai dari kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong, daun pepaya hingga kol.

Di beberapa daerah seperti Madiun, pecel punya ciri khas yakni ditambah kembang turi. Siapa sangka, pecel yang sederhana dan terkenal murah meriah ini ternyata sudah ada sejak abad ke-9.

Biasanya sayuran dipecel berupa bayam, kangkung, ubi jalar, daun ketela, daun beluntas, daun pegagan, kecombrang, polong, kacang panjang, kecipir, kecambah. Bahan pecel umumnya didapat di pekarangan, pinggir sawah, bahkan kadang tumbuh liar di tepi jalan.

Sebagai penambah rasa ada sambel pecel yang disiram di atas aneka sayuran rebus tersebut. Sambel pecel dari ulekan kacang tanah halus memiliki cita rasa manis, asam, pedas, dan gurih.

Makanan pecel biasanya dapat ditemukan di pasar-pasar tradisional atau di warung kaki lima pinggir jalan. Salah satu kota yang identik dengan hidangan pecel adalah kota Madiun, dengan pecel Madiun-nya.

Kuliner pecel ketika dihidangkan biasanya memiliki pelengkap seperti kerecek, ayam, lele, atau tempe dan tahu. Beberapa daerah terkadang juga menggunakan mie kuning sebagai pelengkapnya.

Saking terkenalnya kuliner satu ini, sampai-sampai memiliki banyak jenis, seperti pecel Madiun, pecel Ponorogo, pecel bledek, pecel punten, pecel tumpang, pecel kecombrang, pecel ndeso, pecel kenci, dan pecel bunga turi. Masing-masing pecel tersebut memiliki ciri khas masing-masing yang berbeda antara satu dan lainya

Dalam Babad Tanah Jawi tersebut juga menceritakan Ki Gede Pamanahan yang menghidangkan pecel kepada Sunan Kalijaga. Ketika itu saat tengah hari Sunan Kalijaga bertemu dengan Ki Gede Pamanahan di pinggir sungai.

Dan Ki Gede menghidangkan sebuah makanan yang asing, yang belum pernah dilihat Sunan Kalijaga sebelumnya. Yang kemudian membuat Sunan Kalijaga bertanya kepada Ki Gede.

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Ki Gede Pamanahan, “Puniko ron ingkang dipun pecel” yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “ini adalah dedaunan atau sayuran yang telah direbus dan diperas airnya”. Pada umumnya pecel disantap ketika waktu pagi atau siang hari.

Berbeda dengan saus gado-gado dan karedok yang harus dibuat saat ingin disantap, sambel pecel terbilang lebih praktis. Dapat disimpan dan disantap di lain waktu. “Sambel pecel ini berkembang di berbagai daerah. Ada yang bercita rasa daun jeruk purut, ada yang bercita rasa kencur, ada pula yang bercita rasa manis asam yang tinggi,” kata Murdijati.

Setiap daerah memiliki ciri khas pecel tersendiri. Misalnya di Yogyakarta dan sekitar, pecel disajikan dengan tempe dan tahu bacem. Di Solo dan Madiun, pecel disajikan dengan kerupuk karak. Pecel disebutkan Murdijati adalah lambang kesederhanaan dan perjalanan

Di balik kesederhanaannya, pecel kaya akan gizi yang menyehatkan masyarakat.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.