Google Menampilkan Sosok Ini Untuk Memperingati Hari Lahir

Sumber : Tribun Sumsel

Google menampilkan sosok Rasuna Said yang bergambar Dodle.  Hal ini bertepatan dengan hari kelahiran perempuan yang merupakan pahlawan nasional tersebut. Rasuna di tampilan Doodle digambarkan sebagai sosok wanita yang dilengkapi dengan microphone di wajahnya. Latar belakang karikatur berlukiskan banyak wajah perempuan di atas kertas, lengkap dengan sebuah pena.

Dikutip situs resmi Google, Doodle Rasuna itu dalam rangka yang lahir ke 112 yang jatuh pada 14 September.

Sosok guru sekaligus jurnalis ini juga merupakan perempuan kesembilan yang menerima gelar kehormatan pahlawan nasional selain RA Kartini dan Raden Dewi Sartika.

Rasuna Said memiliki keuletan dan kecerdasannya sebagai siswa dengan cepat membuka jalan untuk menjadi asisten guru, yang memotivasi gadis-gadis muda untuk bermimpi besar.

Rasuna pernah menyebut penjajahan merupakan musuh Islam seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an. Istri dari Duski Samad ini kemudian ditangkap dan didakwa dengan penyebaran kebencian oleh pemerintah kolonial.

Hal tersebut menjadikannya wanita Indonesia pertama yang didakwa dengan Speekdelict atau pelanggaran berbicara. Persidangan digunakannya untuk menggaungkan kemerdekaan Indonesia yang lantas disambut meriah massa. Hakim memvonisnya 15 bulan penjara di Semarang.

Biografi Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau lebih dikenal sebagai Rasuna Said lahir pada 14 September 1910 di Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dia adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Rasuna Said juga dikenang sebagai Singa Betina yang menjadi penggerak kemerdekaan Indonesia.

Ia merupakan anak keturunan bangsawan Minang. Ayahnya, Muhammad Said, seorang saudagar dan bekas aktivis pergerakan. Ia dibesarkan di rumah pamannya karena pekerjaan sang ayah yang tidak sering di rumah. Ia terlahir dari keluarga yang sangat taat agama. Rasuna Said bersekolah di sekolah agama yaitu Diniyah School, yang menggabungkan mata pelajaran agama dan mata pelajaran khusus.

Kemudian, sang ayah meminta Rasuna Said untuk melanjutkan pendidikannya di Pesantren Ar-Rasyidiyah. Ia juga sempat mengajar saat sedang sekolah di Diniyah School. Selain seorang yang taat agama, Rasuna said juga berjuang di dunia politik. Pada 23 Oktober 1932, dalam rapat umum bagian perempuanPERMI di Padang, Rasuna menyampaikan pidatonya yang berjudul “Langkah-Langkah Menuju Kemerdekaan Rakyat Indonesia”.

Rasuna Said juga dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Pada tahun 1935 ia pernah memimpin redaksi di sebuah majalah, Raya. Namun, Polisi Rahasia Belanda (PID) mempersulit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawannya.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Ia juga diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RIS). Pada tahun 1947, ia menjadi anggota senior dan ketua bagian perempuan Front Pertahanan Nasional (FPN). Di FPN ini, Buya Hamka didaulat sebagai Ketua, Chatib Sulaiman selaku Sekretaris, dan Oedin mengepalai barisan dari partai politik.

Rasuna Said juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera, serta menjadi Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sebagai seorang muslim yang taat, Rasuna juga aktif berkampanye untuk hak-hak pendidikan dan politik perempuan. Keyakinan reformasinya memberikan dasar untuk mengadvokasi perempuan.

Sebagai seorang muslim yang taat, Rasuna juga aktif berkampanye untuk hak-hak pendidikan dan politik perempuan. Keyakinan reformasinya memberikan dasar untuk mengadvokasi perempuan. Rasuna Said meninggal dunia pada 2 November 1965.

Jenazahnya dimakamkan di TMPN Utama Kalibata, Jakarta Selatan. Rasuna Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1974, berdasarkan SK Nomor 084 / TK / 1974 tertanggal 13 Desember 1974.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.