Kisah Mary, saudara tiri Ratu Elizabeth I yang terkenal kejam

Sumber : IDN Times

Mary I dikenal sebagai ratu yang kejam karena ia telah membunuh ratusan orang. Beberapa fakta tentang Mary telah  dirangkum oleh Girlisme.

 Mary I adalah satu-satunya anak raja yang bertahan hidup

Ratu Mary I merupakan Ratu pertama yang memerintah di Inggris yang terkenal akan kekejamannya. Ia dikenal 100 orang dihukum gantung karena memberontak pada saat kepemimpinannya berlangsung.

Sementara total 275 orang dibakar hidup-hidup di tiang pancang karena tidak sesuai dengan keyakinannya.

Ketika Anne Boleyn melahirkan Elizabeth, Mary dikirim untuk menghadiri Putri muda yang baru di rumahnya. Segera Elizabeth akan dinyatakan sebagai anak haram juga, karena ibunya juga gagal menghasilkan pewaris laki-laki untuk Henry.

Tak lama setelah kematian Anne Boleyn, Henry menikahi Jane Seymour, yang berusaha mendamaikan Raja dengan kedua putrinya. Henry dan Jane mengunjungi Mary dan setelah itu, dia menulis surat kepada Kaisar Romawi Suci Charles V (sepupunya) dan Paus yang menyatakan bahwa pernikahan orang tuanya tidak sah.

Mary I sebenarnya sangat layak naik tahta. Bukan cuma karena dia anak pertama dan satu-satunya, tapi juga karena sang putri mahkota merupakan anak yang cerdas. Sayangnya, ayahnya menginginkan anak laki-laki untuk menjadi penggantinya. Setelah gagal melahirkan anak laki-laki, Raja Henry VIII menceraikan Catherine. Sebagai gantinya, dia menikahi Anne Boleyn pada 1520.

Tidak hanya meninggalkan ibunya, Henry VIII juga membuang Mary Tudor ke Welsh, dan mencoretnya dari daftar pewaris tahta.

Fakta Tentang Mary

Dia dibenci dan suaminya memfitnah dan tak lagi percaya kepadanya sehingga dia sendiri yang disalahkan atas pembantaian kejam itu.

Sementara, aliansi dengan Spanyol menyeret Inggris ke dalam konflik militer dengan Perancis, yang membuatnya harus melepaskan Calais.

Tidak dikaruniai anak dan dilanda kesedihan pada 1558, Mary mengalami sejumlah kehamilan “palsu”, yang kemungkinan adalah kanker rahim.

Sejarawan selama ini menyoroti aspek negatif dari pemerintaha Mary I selama lima tahun.

Mereka melabelinya sebagai sosok yang fanatik terhadap agama dan kegagalan dalam militer. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dia mendapat penilaian kembali.

Sejarawan Anna Whitelock kepada BBC menyatakan, pemerintahan Mary telah mengubah banyak aturan perang, termasuk politik.

Mary I juga merestrukturisasi ekonomi, mengatur kembali milisi, dan membangun kembali angkatan laut.

“Skala pencapaian Mary sering diabaikan. Mary memimpin satu-satunya pemberontakan yang berhasil melawan pemerintah pusat di Inggris pada abad ke-16,” kata Whitelock.

“Dia menghindari penangkapan, memobilisasi kudeta balasan, dan pada saat krisis, dia berani, tegas, dan mahir secara politik,” imbuhnya.

Mary I dikenang karena kegagalannya mempertahankan Calais. Namun sebelumnya, dia mampu membuat pasukan Inggris dan Spanyol melakukan penangkapan Saint-Quentin, yang menewaskan 3.000 orang dan menahan 7.000 orang ditangkap.

Terkait pembantaian, eksekusinya menjadikan dirinya dikenang sebagai Bloody Mary.

Padahal, ayahnya, Raja Henry VIII, juga pernah mengeksekusi 81 orang karena dianggap sesat. Begitu pula dengan saudara tirinya, Ratu Elizabeth I.

Orang Eropa modern menilai mereka yang dianggap sesat sebagai “infeksi” pada badan politik sehingga harus dihancurkan agar tidak meracuni masyarakat

Sebagian besar dari mereka dibakar dan abunya dibuang ke sungai.

Mendapat julukan sebagai “Bloody Mary”

Dibawah kepemimpinannya, Mary mengembalikan katolik sebagai agama resmi Inggris, menghapus banyak hukum agama yang dibuat oleh ayah dan saudara tirinya, dan memulihkan doktrin gereja katolik. Bagi penganut katolik, keberadaan Mary sebagai ratu tentu sangat melegakan.

Tiga tahun setelahnya, Mary membakar sekitar 300 orang protestan yang menolak merubah keyakinannya menjadi katolik. Untuk kejahatannya itu, sang ratu dijuluki “Bloody Mary” oleh rakyatnya sendiri.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.