Vaginismus, Penyakit Yang Menyerang Perempuan, Waspadalah

gejala vaginismus
Sumber : Halodoc

Tahukah kamu tentang Vaginismus ? Mungkin penyakit vaginismus masih asing di telinga kita, sebab belum banyak edukasi yang tersampaikan atas vaginsmus.

Vaginismus adalah bentuk gangguan seksual bagi wanita berupa kejang – kejang otot di sekitar mulut vagina. Sunaryo berpendapat bahwa vaginismus adalah spasme (kejang) otot – otot vagina yang menyakitkan pada waktu hubungan seksual

Mari belajar lebih banyak dengan simak artikel ini

Dilansir dari BBC.com, Vaginismus adalah kekakuan otot dinding-dinding vagina yang tidak bisa dikendalikan oleh perempuan sehingga penetrasi vagina tak mampu ditolerir. Penyakit yang diklasifikasi sebagai penyakit organ reproduksi dan saluran kemih ini, secara umum terbagi menjadi dua bagian, yaitu kendala dan kegagalan penetrasi vagina.

kendala penetrasi ditandai dengan gejala; sakit saat penetrasi terjadi walaupun sudah ditambahkan dengan lubrikan tambahan, penetrasi tidak konsisten, penetrasi hanya bisa sebagian terjadi, dan selalu nyeri saat pemeriksaan medis pada vagina.

Beberapa perempuan yang mengalami vaginismus akan merasakan kesakitan yang luar biasa.

annah, yang kini berumur 21 tahun, ingat dengan pengalaman pertamanya berhubungan seks: “Saya selalu dididik bahwa kehilangan keperawanan akan sangat menyakitkan – tapi itu rasanya seperti ada pisau yang dipelintir di dalam vagina Anda.”

Beberapa perempuan menggambarkan rasanya seperti jarum yang ditusuk ke dalam kulit.

Amina*, yang berusia 20an tahun, mengidap vaginismus. Menurutnya, kondisi itu membuat hidupnya berubah.

“Vaginismus telah merenggut pernikahan dan kemampuan saya untuk memiliki kapan saya mau punya anak.”

Vaginismus merupakan gangguan seksual atau penyakit yang ditandai dengan kekejangan otot di sekitar vagina yang mengganggu masuknya penis ke dalam vagina sehingga penetrasi sulit dilakukan.

Dilansir dari halodoc.com, gejala-gejala vaginismus Hubungan seksual yang terasa amat sakit (dispareunia) dengan sesak dan nyeri yang mungkin terasa terbakar atau menyengat.

Menurut  Ledger, Ciri-ciri penderita vaginismus memiliki kategori sebagai berikut :

Mayoritas ciri – ciri wanita yang menderita vaginismus adalah merasakan nyeri pada vulva, kesulitan yang terus – menerus dan berulang – ulang ketika melakukan penetrasi vagina selama hubungan seksual disertai dengan rasa takut dan cemas.

Selama upaya melakukan penetrasi, tubuh mengantisipasi masuknya penis ke dalam vagina dengan mengencangkan otot –otot dasar panggul sehingga secara spontan paha menyempit dan pantat terangkat.

Gebhart dan Schmidt  menyatakan bahwa ciri – ciri wanita yang menderita vaginismus yaitu sulit untuk memasukkan atau bahkan tidak mungkin untuk memasukkan sesuatu ke dalam vagina, seperti penis, tampon dan pemeriksaan ginekologi yang melibatkan usg transvaginal

sedangkan menurut Freud, Vaginismus Menurut Freud penyebab vaginismus adalah ketakutan dan kecemasan yang sangat mendalam.

Penyebab vaginismus paling sering berasal dari rasa takut atau emosi negatif lain tentang hubungan seksual dan kecemasan dalam hubungan perkawinan.

Tanda-tanda Vaginismus

mengalami kesulitan atau bahkan tidak bisa melakukan penetrasi

Nyeri seksual jangka panjang dengan atau tanpa penyebab yang diketahui.

Rasa sakit saat memasang tampon.

Rasa sakit saat pemeriksaan ginekologis.

Mengalami kejang otot atau berhenti bernapas saat mencoba penetrasi.

Ketakutan melakukan hubungan seksual dan penurunan hasrat seksual terkait penetrasi.

Penyebab Vaginismus

Sampai saat ini, penyebab vaginismus masih belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat sejumlah faktor fisik dan non-fisik (mental) yang diduga berperan terhadap terjadinya kelainan ini. Pada kasus yang serius, vaginismus bisa disebabkan oleh kombinasi kedua faktor tersebut.

Penyebab vaginismus non-fisik, antara lain:

Adanya ketakutan untuk berhubungan intim, seperti takut hamil atau takut sakit.

Sedang merasa gelisah atau stres.

Adanya isu dengan pasangan, seperti kekerasan, ketidakpercayaan, hubungan yang sudah menjauh, dan lain-lain.

Pernah mengalami kejadian traumatis, seperti pemerkosaan atau kekerasan.

Pengalaman masa kecil, seperti cara didik orangtua atau paparan gambar seksual.

Mengidap kondisi medis tertentu.

Dampak setelah persalinan.

Perubahan fisik terkait usia.

Trauma pada pelvis.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.