Upacara Adat Mahesa Yang Berasal Dari Surakarta

Adat Mahesa
Sumber : Tribunsolo

Upacara adat identik dengan  tradisi masyarakat tradisional yang masih dianggap memiliki nilai-nilai yang masih cukup relevan bagi kebutuhan masyarakat pendukungnya.

Salah satu adat yang masih dilakukan salah satunya terdapat di Surakarta, upacara adat mahesa jenar.

Upacara adat mahesa Keraton Kasunanan Surakarta menggelar upacara adat Mahesa Lawung, Kamis. Upacara adat ini merupakan ritual kuno yang dilaksanakan setiap bulan Bakso Mulud dan selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menurut perhitungan penanggalan Jawa

Masyarakat jawa masih identik dengan kejawen. Keyakinan yang meski tidak seformal agama resmi,  ia tetap menjadi pedoman Sebagian besar orang jawa yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah adat yang dilestarikan akan mustahil jika dihilangkan, sebab terdapat banyak alasan mengapa adat tidak bisa hilang.

Tujuan Upacara Adat Mahesa

Keraton Surakarta memiliki adat melaksanakan prosesi besar dengan tujuan menyeimbangan alam dan nasib manusia.

Dalam tradisi yang dilaksanakan, sesajen yang dipersiapkan adalah pelengkap kerbau. Kerbau memang aktor penting dalam prosesi mahesa lawung. Tak boleh sembarang kerbau. Yang dipakai haruslah kerbau perjaka atau belum pernah dipekerjakan.

Kepala dan kakinya menjadi sesembahan utama, bersama walang atogo atau berbagai jenis belalang sebagai simbol rakyat jelata. Lewat perngorbanan seekor kerbau, bencana yang menimpa banyak orang diharapkan bisa berkurang. Sebagian besar masyarakat berdarah Jawa percaya, mitos mahesa lawung inti dasarnya adalah sebagai jalan untuk mengontrol alam seperti gunung atau lautan.

Puncak prosesi mendekati inti acara. Kini saatnya membawa sesaji ke hutan dengan berjalan kaki. Alas krendha wahana, inilah hutan keramat yang diyakini sebagai tempat bersemayam Bathari Kalayuwati, pelindung gaib keraton di bagian utara. Di sinilah ritual penanaman kepala kerbau bakal dilaksanakan, termasuk barang-barang mentah lain sebagai tumbal penyelamat.

kepala kerbau adalah sajian utama dari pihak Keraton Surakarta sebagai wujud ucapan terima kasih.

Melibatkan para abdi dalam juga sesepuh keraton, ritual ini menjadi penting karena dilakukan demi keselamatan banyak orang, bahkan negara.

Prosesi ini dikenal dengan sebutan mahesa lawung. Mahesa lawung dalam tradisi Jawa sebetulnya tersimpan pemaknaan dan laku tirakat serta ruwatan. Ini bisa juga disebut meruwat dewa yang salah tempat, sehingga menjadi penyebab segala bencana.

Catatan sejarah tradisi ini mulai tertera pada zaman dinasti Syailendra-Sanjaya yang tampak dalam arca Durga Mahesa Suramandini.

Prosesi mahesa lawung sekarang ini hampir mengikuti tradisi itu, dibunuh dengan cara disembelih sebagai sajian rajasuya.

Kerbau dalam alam pikir kejawaan bukanlah sekadar sesaji ritual. Kerbau adalah simbol penyelamat agar hidup terhindar dari hal-hal buruk.

Menggelar mahesa lawung sama artinya merangkai upacara wilujengan nagari. Menghimpun kesadaran bersama untuk sanggup menderita dan sengsara atau berkorban demi keselamatan dan ketenteraman.

Puncak prosesi mendekati inti acara. Kini saatnya membawa sesaji ke hutan dengan berjalan kaki. Alas krendha wahana, inilah hutan keramat yang diyakini sebagai tempat bersemayam Bathari Kalayuwati, pelindung gaib keraton di bagian utara. Di sinilah ritual penanaman kepala kerbau bakal dilaksanakan, termasuk barang-barang mentah lain sebagai tumbal penyelamat.

Kesakralan Punden Bathari Durga bukanlah sebuah rahasia. Niat suci mengikuti prosesi mahesa lawung adalah harga mati. Andai saja terbesit pikiran buruk, mereka percaya akan memunculkan hal gaib di Punden Bathari Durga. Biasanya, untuk meluluhkan penunggu punden dan menetralisir kekuatan gaib yang buruk, juru kunci rutin memberi sesaji. Dan persembahan kepala kerbau adalah sajian utama dari pihak Keraton Surakarta sebagai wujud ucapan terima kasih.

Doa-doa pun dirapalkan, harapan dipanjatkan. Tepat setelah 40 hari sekatenan, Keraton Surakarta selesai menjalani kewajiban memohon keselamatan. Keselataman yang dirindukan sebab bencana hanya melahirkan ketakutan-ketakutan.(BOG)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.