Peran S.K Murti Pada Masa Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Peran
Sumber : Wikipedia

Kalian ingat pada momen kemerdekaan, perempuan yang berperan membantu Fatmawati dalam memberikan bendera merah putih ke tempat dimana soekarno melakukan pengumuman proklamasi kemerdekaan ?

Benar, S.K Trimurti Namanya.

Peran S.K Trimurti dan Fatmawati sebagai perempuan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia

S.K Murti memiliki nama  asli Surastri. Surasti jarang ditulis identitasnya, hal itu mungkin karena Surasti dianggap hanya sebagai pembantu Fatmawati, maka dari itu Trimurti tidak sepopuler Fatmawati.

Soal tulisan sejarah di Indonesia bisa dikatakan masih bersifat male domain, dimana laki-laki selalu menjadi tokoh utama dan perempuan sebagai pameran pembantu.

Menurut sejarawan Kuntowijoyo, sejarah yang ditulis dengan kaum laki-laki sebagai tokoh utama dan perempuan sebagai pemeran pembantu adalah sejarah yang masih Perempuan masih menempati kedudukan sebagai second sex atau dengan kata lain di belakang layar..

Perempuan Dalam Sejarah

Sebenarnya sejak masa kerajaan HinduBudha di Indonesia, banyak tulisan sejarah yang telah membuktikan bahwa perempuan juga kerap menduduki posisi sentral. Ann KumPrajurit Perempuan Jawa: kesaksian Ikhwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad Ke-18 membuktikan bahwa perempuan duduk sebagai prajurit penting pada masa kekuasaan kraton Mangkunegara di Surakarta.

Para perempuan itu bersikap layaknya prajurit laki-laki yang dikenal gagah perkasa. Kenyataan itulah

yang harus terus digali dan ditulis sehingga sejarah tak hanya melulu milik laki-laki.

porsi lebih pada perempuan di lingkup sejarah Indonesia masa sebelum, menjelang dan sesudah kemerdekaan.

Sebenarnya ada beberapa nama perempuan lain yang juga mempunyai peran cukup penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, namun karena tulisan ini ingin memfokuskan pada S.K. Trimurti saja.

S.K. Trimurti dikenal sebagai seorang wartawati. Tulisannya tajam dan cenderung berani sehingga menimbulkan kecurigaan pemerintah Belanda.

Namun demikian S.K.Trimurti tak pernah merasa gentar atau menyerah. Semangat perjuangannya tak pernah padam. Semangat itu diperoleh karena melihat sendiri bagaimana tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh para penjajah terhadap rakyat.

Bagi S.K. Trimurti, pers juga senjata ampuh untuk mengobarkan semangat kemerdekaan di tengah tekanan para penjajah walaupun usaha surat kabarnya harus berulangkali gulung tikar, sejarawan dari Australia dalam bukunya Posisi perempuan secara tradisional sangat dibatasi.

Kewajiban mereka diranah domestik dan ikatan-ikatan budaya membuat perempuan tak bisa bebas terjun ke ranah publik.

Sebenarnya S.K. Trimurti dilahirkan dengan latar belakang keluarga seperti ini, namun ia menentangnya dengan keras. Keterlibatan perempuan dalam organisasi politik formal seperti yang dilakoni oleh SK. Trimurti adalah bentuk perwujudan kesadaran politik perempuan

Perempuan tak harus melulu di ranah domestik. Tak bisa dipungkiri memang bahwa kebangkitan perempuan tersebut juga karena kebangkitan nasionalis anti–kolonial yang kencang berhembus di kalangan para intelektual.

Soekarno sebagai sosok nasionalis yang amat dikenal masa pergerakan, bisa dikatakan maha guru bagi S.K. Trimurti. Pengaruh ajaran Soekarno menjadi tombak bagi S.K. Trimurti untuk berjuang tanpa takut dengan rintangan.

Keberanian S.K. Trimurti untuk berjuang melawan Belanda berangkat dari kekagumannya atas ajaran Soekarno yang saat itu disampaikan lewat pidato-pidatonya.

Bahkan kemudian model perjuangannya pun mengikuti gaya Soekarno, yaitu terbuka, berani, dan non kooperatif.

Perempuan dan laki-laki tak bisa terpisahkan secara kodratnya. Behind every great man, there’s great woman. Pepatah ini tepat untuk menggambarkan sepak terjang S.K. Trimurti dalam pergulatannya di dunia politik maupun pers.

Di samping S.K. Trimurti ada nama besar Sayuti Melik pengetik naskah proklamasi, yang merupakan suaminya.

Mereka dipertemukannya dalam panasnya arus politik masa penjajahan Belanda sampai kemudian menyeret keduanya untuk terlibat secara langsung dalam upacara paling bersejarah yaitu proklamasi 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur no. 56 Jakarta.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.