Penyuka Warna Pink Bukan Representasi Perempuan saja

Pink
Sumber : Sociolla

Pink menjadi salah satu warna yang diidentikkan dengan perempuan, hal itu bisa kita temui jika terdapat laki-laki yang memakai atribut dan ada warna pink maka ia dianggap menyukai warna perempuan.

Penyuka warna pink direpresentasi perempuan.  Bagaimana bisa, ya ? memang warna pink milik perempuan ?

Read More

Girlisme akan memberikan beberapa rangkuman tentang  warna perempuan.  Yuk baca artikel berikut.

Pink diasosiasikan dengan femininitas merupakan fenomena budaya global dan telah menjadi bagian dari gaya hidup saat ini. Fenomena tersebut tidak datang begitu saja pada masyarakat, sebab itu sudah menggerogoti perspektif masyarakat yang memandang warna pink sebagai warna yang tepat untuk digunakan perempuan.

Sejarah Pink dianggap Sebagai Identitas Perempuan

Pink selalu dianggap sebagai identitas pada perempuan. Namun berdasarkan sejarah, bentuk femininitas

pada warna pink merupakan hasil dari proses transformasi makna yang semula berkonotasi maskulin, yang terjadi di Amerika sebanyak 3 kali antara tahun 1940 hingga akhir tahun 1970.

Makna warna pink yang pertama terjadi saat Perang Dunia I dan II, terjadi transformasi sosial di masyarakat yang berpengaruh terhadap perubahan pemaknaan pada warna pink dari maskulin menjadi feminin.

Makna kedua terjadi pada pertengahan dekade 1950, terjadi perubahan gaya hidup yang revolusioner hasil dari kemajuan ekonomi di Amerika, yang menyebabkan terdapat dua pemaknaan femininitas pada warna pink. Dan transformasi makna yang ke 3 terjadi antara tahun 1960- 1970an, pemaknaan warna pink kemudian berkonotasi feminin dan cenderung bersifat masif hingga saat ini.

Dampak dampak  isu-isu dan gerakan sosial yang berkembang, diantaranya seperti gerakan feminisme,isu lingkungan dan lain-lain.

Teredapat kecenderungan pada masyarakat yang mengidentikan warna pink adalah identitas perempuan.

perempuan lebih memilih benda berwarna pink dibandingkan warna lainnya, termasuk pada orang dewasa yang cenderung menyediakan kebutuhan hidup anak perempuan mereka dengan sesuatu yang berwarna pink.

Pola-pola ini  membentuk cara pandang masyarakat terhadap pemaknaan femininitas pada warna pink sebagai sesuatu yang wajar dan terjadi secara alami, seperti yang diungkapkan Bourdeau (1998) bahwa kekuatan simbolik adalah suatu bentuk kekuasaan yang diberlakukan atas tubuh secara langsung dan seperti sihir, dan kekuasaan itu diberlakukan atas tubuh tanpa menggunakan kekangan fisik apapun.

Perkembangan fenomena warna pink di masyarakat saat ini disebabkan oleh aspek budaya (dalam wacana gender) serta perkembangan tren yang berpengaruh terhadap gaya hidup. Aspek budaya berperan terhadap cara pandang masyarakat dalam memaknai warna pink dengan sifat femininitas, terutama pada budaya patriarki yang menempatkan gender feminin pada posisi yang bersifat lemah.

Asosiasi tersebut merupakan salah satu upaya untuk menempatkan masingmasing gender pada posisinya dengan menggunakan warna sebagai alat legitimasi, sebab pada masing-masing gender memiliki eksistensi yang bersifat relasional.

Konstruksi Pink Sebagai Identitas Perempuan

Masyarakat gender maskulin dan feminin ke dalam bentuk oposisi biner, seperti kuat dan lemah, agresif.

Tren yang ada pada masyarakat memberikan  ruang terhadap pola pemaknaan warna pink dari budaya patriarki, untuk membentuk stereotype pada masyarakat sebagai sesuatu yang ideal untuk diadaptasi menjadi gaya hidup.

Tren warna pink pada umumnya dibentuk, disebarkan, dan dipertahankan yang telah terbentuk akan menciptakan ekosistem yang saling mendukung antara perkembangan tren dan kebutuhan dari gaya hidup, yaitu industri dan permintaan pasar yang menghasilkan

Sampai hari ini warna pink menghasilkan produk-produk konsumsi dengan segmentasi pasar perempuan.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.