5 Ketidakadilan Gender Yang Terjadi di Masyarakat

Ketidakadilan Gender
Sunber : Kompasiana.com

Bentuk ketidakdilan gender yang bermula dari penempatan kodrat pada perempuan yang merugikan, ternyata berimbas pada ketidakadilan gender yang terjadi pada perempuan

Efek dari ketidakadilan gender, membuat kita sebagai perempuan, terkadang memaklumi hal yang sebenarnya rugi buat perempuan.

Read More

Peran gender yang dibekukan ditambah dengan adanya ketimpangan relasi kuasa mengakibatkan ketidakadilan gender semakin terlihat.

Ketidakadilan gender memiliki 5 rupa, berikut penjelasannya

1) Ketidakadilan Gender Marginalisasi

Dilansir dari Kumparan.com, Menurut buku Marginalisasi dan Keberadaan Masyarakat oleh Catur Wahyudi, marginalisasi adalah tindakan mengasingkan, meminggirkan, atau melemahkan kuasa kelompok minoritas atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan negara dan kelompok dominan.

Marginalisasi merupakan langkah peminggiran yang dialami oleh perempuan yang mengakibatkan perempuan mengalami kesusahan, kemiskinan, terputusnya pendidikan, minimnya lapangan pekerjaan.

Dampak marginalisasi diakibatkan dari stigma bahwa perempuan hanya mampu mengurusi area domestik saja, akhirnya hal-hal seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, ia hanya bisa diakses oleh laki-laki.

Pemiskinan pada perempuan terjadi ketika perempuan mendapatkan upah hasil kerjanya ia hanya dibayar sedikit dengan alasan perempuan bekerja hanya untuk mencari nafkah tambahan.

2) Subordinasi

Subordinasi adalah keyakinan yang menganggap bahwa salah satu jenis kelamin lebih penting.  Baik itu laki-laki yang dianggap lebih unggul dari perempuan ataupun perempuan yang lebih unggul dari laki-laki.

Nilai-nilai sosial dan budaya di masyarakat telah memilih bahwa laki-laki memiliki superior yang membuat Perempuan dianggap bertanggungjawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi saja.

perempuan sebagai kelompok masyarakat kelas dua, yang berimbas pada berkurangnya hak-hak perempuan termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan.

3) Stereotype

Merupakan pelabelan atau penandaan yang sering bersifat negatif pada salah satu jenis kelamin tertentu.

Secara umum stereotip adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu yang seringkali merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotip bersumber dari perbedaan gender.

Misalnya, stereotip yang berawal dari asumsi bahwa perempuan harus cantik, putih dan kurus. Maka setiap terdapat perempuan yang dirasa cantik maka perempuan itu akan mengalami objektifikasi. Perempuan dianggap objek dan setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotip ini dan menimbulkan anggapan bahwa yang menjadi penyebab perempuan dilecehkan secara seksual adalah akibat kesalahan perempuan itu sendiri.

Masyarakat juga memiliki anggapan (stereotip) bahwa tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami/keluarga. Maka wajar jika kemudian pendidikan maupun pekerjaan/karir perempuan dianggap tidak begitu penting atau dinomorduakan. Hal-hal seperti ini seharusnya tidak bisa dibenarkan.

4) Violence (kekerasan)

Suatu serangan fisik maupun non-fisik yang dapat menyebabkan korban terusik batinnya.

Kekerasan yang terjadi pada perempuan biasanya identik dengan kekerasan secara fisik. Meskipun begitu, kekerasan yang terjadi pada perempuan biasanya terdapat beberapa, seperti; kekerasan emosional dan kekerasan fisik.

Namun, dari semua sumber kekerasan yang ada, salah satu kekerasan terhadap  jenis kelamin tertentu, yakni perempuan, disebabkan oleh anggapan gender yang eksis di masyarakat patriarki (berpusat pada kekuasaan laki-laki). misalnya adanya anggapan bahwa perempuan itu lemah, pasrah, dan menjadi obyek seksual, sehingga menempatkan perempuan sebagai obyek yang mudah diserang.

Kekerasan yang disebabkan oleh eksisnya anggapan gender ini disebut sebagai ‘gender-based violence’ atau ‘kekerasan berbasis gender’.

Misalnya, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga lekat dengan anggapan  bahwa perempuan itu berkedudukan lebih rendah dari suami sehingga suami dapat melakukan kekerasan terhadap istri, seperti memukul, membentak.

5) Double burden (beban kerja)

Suatu bentuk diskriminasi gender dimana beberapa beban kegiatan diemban lebih banyak oleh salah satu jenis kelamin.

Beban kerja yang dimaksud disini diartikan sebagai pekerjaan domestik yang dibebankan pada perempuan yang mengakibatkan segala urusan domestik harus dilakukan oleh perempuan. Kalaupun terdapat suami yang bisa membantu, tetapi suami tidak membantu sama sekali karena ia masih berpikir bahwa tugas domestik adalah pekerjaan perempuan.

Misalnya,  ada seorang perempuan yang bekerja di ranah publik, tetapi ketika di rumah ia masih harus mengurusi hal domestik. Jika ibu tidak membersihkan, maka rumah akan berantakan. Beban yang diberikan kepada perempuan ini yang dimaksud sebagai beban kerja.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *