Perempuan Masih Menjadi Korban Seksisme !

Perempuan
Sumber : Parapuan

Membicarakan kesetaraan gender pada perempuan hari ini beberapa kelompok telah aware pada kelompok-kelompok yang memperjuangkan hak perempuan; feminisme.

Perempuan yang paling banyak mengalami seksisme

Read More

Kesetaraan gender bukan perkara persaingan antara kaum perempuan dengan kaum laki-laki, melainkan upaya untuk memperjuangkan hak yang harus di dapat laki-laki maupun perempuan.

Perjuangan R.A Kartini seyogyanya mengingatkan kaum perempuan untuk terus memperjuangkan hak-haknya. Sementara untuk mewujudkan kesetaraan gender juga perlu peranan kaum laki-laki untuk berbagi ruang dan peran, serta mendukung kaum perempuan untuk berkembang dan meraih kesempatan seluas-luasnya.

Laki-laki memiliki kesempatan lebih banyak daripada perempuan, karena perempuan masih dianggap sebagai kelompok manusia kedua. Tidak jauh-jauh dari sistem patriaki.

Meskipun dalam perjalanannya perempuan sudah mendapatkan beberapa ruang untuk perempuan berproses yang setara dengan laki-laki, misalnya hari ini banyak perempuan yang diberikan ruang menjadi pemimpin.

Tetapi ruang aman perempuan yang lain masih belum tersedia. Sebut saja soal seksisme pada perempuan. Perempuan mengalami seksisme setiap hari dan sangat disayangkan tidak semua perempuan bahwa ia mengalami seksisme.

Menurut Rahma Santi Zinaida dalam artikelnya, ia menyebutkan bahwa seksisme Seksisme merupakan suatu paham atau bentuk prasangka bersifat negatif terhadap kelompok lain hanya karena perbedaan gender atau jenis kelamin.

Seksisme umumnya menyerang perempuan dan cenderung berujung pada tindakan diskriminasi. Paham seksisme beranggapan bahwa apapun yang terjadi, wanita bersifat lemah, dan posisinya lebih rendah dibanding kaum pria.

Kata “seksisme” ini sendiri menjadi dikenal luas selama gerakan pembebasan perempuan atau Women’s Liberation Movement tahun 1960-an.

Teori feminis telah menjelaskan bahwa  penindasan terhadap perempuan tersebar luas di hampir semua lapisan masyarakat.

Seksisme memiliki 2 bagian, Hostile Sexism dan Benevolent Sexism

1. Hostile Sexism

Memiliki tujuan untuk menjaga dominasi laki-laki yang di ekspresikan dengan cara yang lebih ekstrim, seperti kekerasan.

2. Benevolent Sexism

Lebih tidak kentara dan terlihat positif, tetapi sebenarnya berbahaya. Seksisme ini cenderung manipulatif karena seakan-akan laki-laki memang memiliki tugas untuk menjaga perempuan. Padahal tujuan dari seksisme tetaplah memposisikan dirinya diatas perempuan.

Menurut Gita Savitri, dalam channel Youtobe nya, orang-orang yang masih memiliki pikiran seksisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut; perempuan masih dianggap sebagai manusia yang sekompeten laki-laki, perempuan selalu menjadi manusia kelas kedua, perempuan memiliki tugas domestic saja, dan akan bersikap menggurui setiap kali dengan perempuan (inferior).

Contoh Seksisme Pada Perempuan Menurut Gita Savitri

Perempuan dianggap sebagai makhluk lemah

Disuruh senyum nanti terlihat cantik

“Marah-marah mulu, lagi PMS, ya ?”

The idea of pelakor

Menstruasi yang dianggap menjijikkan dan memalukan, akhirnya membuat perempuan malu untuk menyebut kata “pembalut “

Perempuan berkarir mendapat stigma bahwa ia menelantarkan anak dan suami

Perempuan yang memakai baju kelonggaran dianggap tidak desirable, sedangkan perempuan memakai baju terbuka dianggap nakal

Perempuan yang memakai cadar dianggap oppressed, tapi ketika tidak memakai jilbab ia dianggap tidak tahu agama

Laki-laki dipuji berlebihan ketika momong anak, sedangkan ketika perempuan momong dianggap biasa

Selalu ditanya kapan punya anak, karena jika perempuan belum hamil maka ia belum 100 % perempuan, alasannya karena ia belum merasakan melahirkan

Dampak Seksisme Pada Perempuan

Gambaran perempuan sebagai objek seksual, hampir tidak pernah berubah. Penampilan terhadap perempuan sebagai sang penggoda ketimbang sebagai yang digoda.

Dalam hal ini adanya image masyarakat bahwa tanpa perempuan seksi tidak akan berlangsung proyek desakralisasi seks yang dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat konsumtif yang boros dan mengejar kepuasan belaka

Perempuan mengintenalisasi dirinya bahwa ia memang masyarakat kelompok kedua.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *