Tentang Sunat Perempuan Yang Wajib Kamu Ketahui Girls

sunat

Sunat sudah menjadi salah satu tradisi yang dilakukan orang tua kepada anak-anak. Tujuan khitan dilakukan untuk  menghilangkan kotoran di kelamin agar terhindar dari penyakit-penyakit seksual.

Sunat memiliki arti proses pelepasan atau pemotongan kulup atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Sunat lebih utama dilakukan saat usia anak-anak itu lebih utama karena memang lebih mudah dilakukan ketika masih anak-anak.

Read More

Khitan dilakukan tidak hanya kepada laki-laki, tetapi perempuan juga diharuskan khitan. Tradisi khitan perempuan telah  mentradisi di sejumlah negara seperti Mesir, Sudan dan beberapa negara Arab serta Afrika.

Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam mempraktekkan sunat perempuan atas dasar perintah agama dan meyakininya sebagai bentuk penyucian jiwa.

Sunat  yang memiliki tujuan untuk membersihkan kotoran di area kelamin, ternyata itu hanya berlaku kepada laki-laki, sebab ketika sunat dilakukan kepada perempuan, ia tidak memiliki manfaat apapun dalam tubuh. Hal itu hanya akan berdampak pada sakit yang dirasakan oleh perempuan.

WHO memiliki perspektif soal sunat pada perempuan, bahwa sunat yang dilakukan hanya akan  merasakan dampak berkepanjangan seperti kehilangan kepekaan yang berakibat kesakitan dalam aktivitas seksual.

Dampak selama ini ditimbulkan adalah infeksi vagina, disfungsi seksual, infeksi saluran kencing, sakit kronis, kemandulan, kista kulit, kompilasi saat melahirkan bahkan kematian.

Di Indonesia praktik sunat perempuan pernah dilarang oleh  Pemerintah melalui Surat Edaran Dirjen Bina Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK 00.07.1.31047a tentang Larangan  Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan.

Berdasarkan surat edaran tersebut, sunat perempuan tidak bermanfaat bagi kesehatan, bahkan merugikan dan menyakitkan bagi perempuan.

Setelah mengetahui bahwa sunat pada perempuan tidak memiliki manfaat, sampai hari ini praktek ini tetap dilakukan di Indonesia. Tradisi sunat pada perempuan bisa ditemui di banyak desa-desa, sebab orang desa masih mempercayai bahwa sunat pada perempuan sebagai sesuatu yang harus dilakukan oleh penganut agama islam.

Dilansir dari kapal.com, Misiyah, Direktur Institut KAPAL Perempuan menyatakan bahwa ini merupakan pelanggaran HAM, terjadinya sunat perempuan karena ada pelabelan bahwa perempuan adalah makhluk yang liar, nafsu syahwat tinggi sehingga perempuan harus dikendalikan. Tubuh perempuan dijadikan objek penundukan.

Hal itu juga disampaikan oleh Dian Kartikasari (Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia), menyatakan bahwa sunat perempuan adalah salah satu bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan karena melanggar pasal 133 UU No. 36 yang mengatakan bahwa setiap bayi dan anak berhak terlindungi dan terhindar dari segala bentuk diskriminasi dan tindak kekerasan yang dapat mengganggu kesehatannya.

Sunat Perempuan Dalam sejarahnya

Praktek sunat merupakan bentuk tradisi yang sudah lama dikenal masyarakat Arab jauh sebelum Islam.  Menurut Asriati Jamil dalam artikelnya menyebutkan praktek sunat berkembang di negara-negara Afrika.

Tradisi ini berasal dari Mesir kuno sejak zaman Firaun. Hal ini didukung dengan ditemukannya mumi perempuan dengan klitoris yang terpotong pada abad 16 Masehi.

Buku Takhrij al-Dilalath al-Sammiyyah, menyebutkan sunat perempuan pertama kali dilakukan oleh Hajar istri kedua Nabi Ibrahim yaitu ibu dari Nabi Ismail. Bersamaan dengan praktek sunat itu Hajar menindik kedua daun telinganya.

Tindakan tersebut diyakini sebagai bentuk ritual untuk penyucian jiwa. Itulah yang kemudian menyebabkan Sarah istri pertama Nabi Ibrahim menjadi iri sehingga terdorong untuk melakukan hal yang serupa.

Walaupun sunat pada perempuan  cukup berkembang di kalangan bani israil waktu itu, namun tidak ditemukan secara ilmiah bahwa hal tersebut mereka lakukan atas dasar perintah agama. Sunat perempuan dipraktekkan secara kultural di masyarakat yang didasari mitos-mitos tradisi

 

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *