2 Alasan Kamu Tidak Boleh Membandingkan Parenting

waktu baca 3 menit
BisnisHebatBunda

Trend Parenting  yang sedang digandrungi oleh banyak kaum muda, ditambah asupan media yang menyuguhkan tips parenting untuk anak-anak yang dilakukan oleh sebagian artis, menambah trend baru soal pola asuh.

Media Youtobe, Instagram, Tiktok, semua memberikan tips-tips parenting. Hal ini membuat para anak muda yang merasa tak di didik seperti layaknya anak artis atau selebgram ia merasa bahwa parenting yang dilakukan oleh orang tuanya salah.

Parenting sendiri menurut Kementrian Pendidikan dan Budaya, Indonesia, Proses interaksi antara orang tua dan anak dalam mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual, dan spiritual sejak anak dalam kandungan sampai dewasa.

Makna parenting tidak hanya sebatas pengasuhan yang baik ala artis, tetapi terdapat proses interaksi di dalamnya. Misalnya, orang tua memarahi anak karena merokok ketika masih remaja, orang tua memarahi anaknya karena bertengkar, contoh-contoh itu termasuk parenting

Selama terjadi kegiatan parenting yang disuguhkan oleh para selebgram, artis-artis sekalipun, dalam benak kita menganggap bahwa segala hal yang dilakukan kepada anaknya sangat manis, hal ini membuat para penonton sangat ingin menjadi orang tua yang baik seperti yang dilakukan para artis-artis.

Perasaan ingin itu juga dipengaruhi karena terdapat perasaan yang tidak pernah mendapatkan seperti itu, akhirnya ketika melihat orang lain merasakan seperti itu, maka dalam hati  sangat menginginkan.

Tapi apakah perasaan ingin hanya sebatas ingin saja ? Tentu tidak. Perasaan ingin itu mulai membesar dan satu persatu perasaan muncul karena ketidakterimaan mengapa ia tak di  didik oleh orang tuanya seperti yang lain?

Baik, saya memahami. Parenting yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak memang belum tergolong sempurna jika kita bicara ideal. Sebab dalam parenting yang dilakukan orang tua kepada anak, pengetahuan yang dimilikinya juga didapatkan dari orang tuanya dan lingkungan.

Terdapat beberapa alasan yang dirangkum dalam dari beberapa sumber

2 Alasan Parenting Yang Dilakukan Orang Kaya dan Golongan Bawah itu Berbeda

Pengetahuan parenting orang tua pun beberapa tidak update lagi, misalnya bahwa orang dahulu membentak anak di depan umum karena aakan memberikan efek malu dan berharap anak tidak melakukan hal yang sama. Tentu saja ketika pola pengasuhan yang diberikan kepada anak sekarang, pemberontakan tentunya yang akan di dapat.

Selain parenting turunan, faktor ekonomi juga mempengaruhi seseorang dalam melakukan parenting. Kok bisa ?

Saya terdapat cerita tentang orang kaya yang memiliki banyak uang. Ia dikenal sebagai anak perempuan yang lemah lembut dan  ia melakukan kebaikan di semua orang, misalnya ia suka memberikan hadiah kepada teman-temannya. Perempuan ini  memiliki suara yang lembut, hampir tidak pernah berbicara dengan suara yang keras.

Lalu terdapat temanku yang lain, ia adalah perempuan yang berpakaian biasa-biasa saja dan ia ketika berbicara suka berteriak dengan alasan bahwa di rumah ia selalu berbicara seperti itu. Perlakuan yang dilakukan tidak jauh-jauh dari sifat yang ia tunjukkan di rumah.

Poin pentingnya, parenting yang dimiliki kedua temanku berbeda.  Temanku pertama ia memiliki uang yang cukup untuk berbuat baik, orang tua tidak pernah memberikan cemohan terhadapanya, menginginkan apapun ia selalu mendapatkan.

Sedangkan temanku satunya ia mengalami banyak problematika di rumah, mulai dari ibu nya yang sering marah-marah karena tak memiliki uang untuk makan, ia seringkali melihat orang tua bertengkar karena hal sepele.

Bagaimanapun kita tidak menampik bahwa orang yang berkecukupan akan memiliki  segala sumber  daya yang dimiliki yang membuat ia tak merasa kekurangan apapun. Anak orang kaya  tak akan pernah mengalami kemarahan karena dampak dari orang tua yang habis dimarahi oleh rentenir karena ke rumahnya mengambil uang hutang beserta bunganya.

Parenting, apapun bentuknya, ia tetaplah parenting. Hargai setiap pola asuh yang dilakukan oleh orang tuamu. Jika dirasa buruk, maka buang yang buruk, jika baik maka lestarikan hal-hal baik dari orang tuamu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *