Kamu masih ingat dengan Drama Korea Eve ? Salah satu tokoh  yang menjadi Han So Ra. Dalam drama Eve, ia di diagnose mengidap penyakit Skizofrenia.

Skizofrenia yang  dialami oleh Han So Ra merupakan penyakit mental yang populer, namun tidak semua orang memahami secara spesifik apa penyakit Skizofrenia.

Berikut rangkuman dari beberapa pandangan ahli terhadap Skizofrenia

Makna Skizofrenia

Menurut Soetji Andari, Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku pikiran yang terganggu, berbagai pikiran tidak berhubung secara logis; persepsi dan perhatian yang keliru; afek yang datar atau tidak sesuai; dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang bizarre.

Pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, seringkali terkungkung dalam dunia fantasi yang penuh delusi dan halusinasi.

Menurut Videbeck, Skizofrenia adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan terganggu.

Menurut Hawari, dimana skizofrenia berasal dari dua kata “Skizo” yang artinya retak atau pecah (spilt), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality)

Menurut Direja,  bahwa skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek atau emosi, kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi.

Dilansir dari katadata.com, beberapa jenis gangguan mental Skizofrenia menempati pada peringkat ketiga di tahun 2017, sedangkan pada setahun setelahnya, data yang tertera pada Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi skizofrenia/psikosis di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia/psikosis.

Penyebaran prevalensi tertinggi terdapat di Bali dan DI Yogyakarta dengan masing-masing 11,1 dan 10,4 per 1.000 rumah tangga yang mempunyai ART mengidap skizofrenia/psikosis.

Penyakit mental hadir karena ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosi yang dimiliki. Emosi yang dimiliki pun beragam, yakni emosi positif dan emosi negatif.

Lalu seperti apa penyintas Skizofrenia bisa dideteksi, kalaupun ada, bagaimana ciri-cirinya ?

Menurut Hawari, Skizofrenia Memiliki beberapa jenis

1.  Gejala positif skizofrenia

Gejala positif merupakan gejala yang mencolok, mudah dikenali, menganggu keluarga dan masyarakat serta merupakan salah satu motivasi keluarga untuk membawa pasien berobat.

Gejala-gejala positif yang diperlihatkan pada pasien skizofrenia yaitu:

Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal). Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun pasien tetap meyakini kebenarannya.

Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa rangsangan (stimulus). Misalnya pasien mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara atau bisikian itu.

Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.

Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan, yang ditunjukkan dengan perilaku kekerasan.

2. Gejala negatif skizofrenia

Gejala negatif skizofrenia merupakan gejala yang tersamar dan tidak menggangu keluarga ataupun masyarakat, oleh karenanya pihak keluarga seringkali terlambat membawa pasien berobat. Gejala-gejala negatif yang diperlihatkan pada pasien skizofrenia yaitu:

Alam perasaan (affect) “tumpul” dan “mendatar”. Gambaran alam perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.

Isolasi sosial atau mengasingkan diri (withdrawn) tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).

Kontak emosional amat “miskin”, sukar diajak bicara, pendiam.

Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.

Sulit dalam berpikir abstrak.

Pola pikir stereotip

Meskipun kalian merasa memiliki,merasakan, gejala-gelaja diatas, ada baiknya tetap  berkonsultasi ke layanan-layanan yang tersedia, seperti layanan konseling dan layanan psikolog.