Konsep Pernikahan Yang Perlu Kita Ketahui

Pernikahan
muhammadiyah

Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqh berbahasa arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj. Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan sehari- hari orang arab dan banyak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi.

Hukum Islam mengatur agar perkawinan itu dilakukan dengan akad atau perikatan hukum antara pihak-pihak yang bersangkutan dengan disaksikan dua orang laki-laki.

Read More

Perkawinan menurut Islam ialah suatu perjanjian suci yang kuat dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan membemtuk keluarga yang kekal, santun menyantuni, kasih mengasihi, aman tenteram, bahagia dan kekal.

Pengertian menurut undang-undang tidak hanya sebatas tentang perjanjian yang suci serta sakral, tetapi terdapat beberapa pengertiannya.

Pengertian Pernikahan dalam UU Pernikahan;

1. ikatan lahir batin

maksudnya dalam suatu perkawinan tidak hanya ada ikatan lahir yang diwujudkan dalam bentuk ijab kabul yang dilakukan oleh wali mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki yang disaksikan oleh dua orang saksi yang disertai penyerahan mas kawin.

Ikatan batin yang dimaksud disini diharuskan adanya persetujuan tetapi ikatan batin yang diwujudkan dalam bentuk adanya persetujuan yang ikhlas antara kedua calon mempelai. Tidak terdapat paksaan dari pihak manapun.

 2. antara seorang pria dengan seorang perempuan

maksudnya dalam suatu ikatan perkawinan menurut UU perkawinan hanya boleh terjadi antara seorang pria sebagai suami dengan seorang wanita sebagi isteri. Dengan demikian pasal 1 UU perkawinan menganut azas monogami.

3) membentuk keluarga Bahagia dan kekal

maksudnya perkawinan bertujuan untuk memperoleh ketenangan, kesenangan, kenyamanan, ketentraman lahir dan batin untuk selama-lamanya dalam kehidupan berumah tangga. Dalam arti perkawinan untuk membentuk sebuah keluarga harus mampu membawa ketenangandan ketentraman sampai akhir hayatnya.

 4) berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,

maksudnya perkawinan harus berdasarkan pada ketentuan agama, tidak boleh perkawinan dipisahkan dengan agama. Dalam arti sahnya suatu perkawinan diukur dengan ketentuan yang diatur dalam hukum agama.

Sumber hukum perkawinan di Indonesia terdapat beberapa. Namun girlisme akan memberikan perspektif Al-Qur’an dan Hadits.

Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang perkawinan adalah sebagai

berikut:

Perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup dan tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh

keturunan, guna melangsungkan kehidupan jenisnya terdapat didalam QS. Al-Dzariyat:49, QS.Yasin:36,

QS.al-Hujurat:13, QS.al-Nahl:72.

  1. Perkawinan adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketentraman hidup serta menumbuhkan rasa kasih sayang khususnya antara suami istri, kalangan keluarga yang lebih luas, bahkan dalam kehidupan umat manusia umumnya.
  2. Hal ini dapat dilihat didalam QS. Al-Rum:21, QS.An-nur:32.
  3. Adanya peraturan dalam melakukan hubungan suami istri terdapat di dalam QS. Al-Baqarah:187, 222, dan 223
  4. Aturan-aturan tentang penyelesaian kemelut rumah tangga terdapat di dalam QS.an-Nisa’:35, QS. AlThalaq:1, QS. Al-Baqarah:229-230.
  5.  Aturan tentang masa menunggu (‘iddah) terdapat di dalam QS.al-Baqarah:226-228, 231-232, 234, 236- 237, QS. Al-Thalaq:1-2, 4, 7, dan 66, serta QS alAhzab;49.
  6. Hak dan kewajiban dalam perkawinan terdapat di dalam QS. Al-Baqarah: 228-233, serta QS. An-Nisa’:4.
  7. Peraturan tentang nusyuz dan zhihar terdapat di dalam QS. An-Nisa’:20 dan 128, QS. Al-Mujadalah:2- 4, QS. An-Nur;6-9.

Al Hadist

Meskipun Al-Quran telah memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dengan sangat terperinci sebagaimana disebutkan diatas, tetapi masih diperlukan adanya penjelasan-penjelasan dari sunnah, baik mengenai hal-hal yang tidak disinggung maupun mengenai hal-hal yang telah disebutkan Al-Qur’an secara garis besar.

Beberapa contoh sunnah mengenai hal-hal yang tidak disinggung dalam Al-Quran dapat disebutkan

antara lain sebagai berikut:

  1. Hal-hal yang berhubungan dengan walimah.
  2. Tata cara peminangan.
  3. Saksi dan wali dalam akad nikah

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *