Standar Kecantikan Pada Perempuan itu Problematika

Standar Kecantikan
Pngtree

Standar Kecantikan membuat kita mendengar kata “cantik” pertama kali terlintas dalam pikiran kita adalah soal perempuan. Perempuan di normalisasi harus memiliki Kecantikan. Kecantikan  pada perempuan bukan lagi menjadi hal yang relatif, melainkan sudah menjadi hal yang universal. Hal ini disebabkan adanya standar-standar tertentu yang diciptakan pada diri perempuan.

Standar kecantikan pada perempuan  tidak tiba-tiba datang begitu saja. Standar itu dibentuk pada saat zaman penjajahan dan ternyata langgeng sampai pada hari ini. Standar kecantikan ini divalidasi oleh media.

Dilansir dari Magdalena.com, terdapat sejarah pembentukan standar kecantikan Indonesia yang sebetulnya sudah terbentuk dari masa-masa kolonial Belanda.

Hal ini dijelaskan oleh Luh Ayu Saraswati, Profesor Kajian Wanita dari Universitas Hawaii, dan penulis “Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia” mengatakan, di masa pra-penjajahan Belanda, putih tak melulu dilekatkan dengan ras, melainkan sekadar warna.

Setelah itu munculah kepercayaan, reedan bersih ketimbang hitam. Hal ini pun berlanjut hingga masa kolonialisme Belanda, di mana gagasan terkait kecantikan itu bukan cuma kulit putih tetapi perempuan kulit putih berkebangsaan Eropa.

Media cetak ataupun online turut menjadi salah satu  konstruksi kecantikan perempuan menjadi hal yang dibutuhkan. Media memberikan pemahaman tentang konstruksi kecantikan pada diri perempuan terletak pada bagian tubuh dan fisik.

Sepanjang perempuan hidup, perempuan selalu dijadikan target objektivikasi. Sehingga pada akhirnya perempuan selalu mementingkan penampilan

Efek Standar Kecantikan Pada Perempuan

Standar kecantikan yang terjadi pada perempuan terletak pada; kulit perempuan harus putih, tubuh ramping, berambut pirang panjang, dan tinggi, hal ini membuat kita percaya bahwa itulah cantik sesungguhnya.

Maka tidak heran jika saat ini kita melihat banyak sekali perempuan yang berlomba-lomba melakukan perawatan tubuh dari luar, dan mengabaikan kualitas diri seperti kepintaran. Dalam melakukan perawatan tubuh, antara perempuan yang satu dengan yang lain cenderung melakukan kompetisi untuk menjadi yang paling cantik.

Kecantikan seringkali dianggap sebagai suatu relativitas. Artinya, pandangan setiap orang terhadap konsep cantik itu berbeda-beda. Namun, di samping itu, kecantikan juga merupakan hal yang universal pada saat ini. Hal tersebut dikarenakan oleh adanya standar dan kriteria-kriteria yang menjadi patokan untuk mendapat label cantik.

Hal tersebut dinamakan budaya populer (pop culture). Budaya populer diproduksi dalam jumlah yang besar, oleh karena itu membutuhkan adanya standarisasi yang bertujuan untuk menetralkan selera massal dan memuaskan semua lapisan masyarakat.

Perempuan yang seringkali dikatakan sudah bebas dan telah mengalami emansipasi, nyatanya saat ini masih terjebak dalam standarisasi kecantikan yang terkadang membuat tertekan

Banyak perempuan yang mulai membenci dirinya sendiri karena tidak dapat tampil sebagaimana perempuan dalam media yang terkesan sempurna. Insecure soal kecantikan menjadi pembahasan di media hari ini, seperti banyak yang memodifikasi tubuh dan wajar agar terlihat seperti sempurna idealnya masyarakat.

Bagian tubuh yang “kurang” sempurna di mata masyarakat, akan di rubah, poles agar terlihat sempurna. Hal ini media youtobe, Instagram, dan tiktok, juga turut menampilkan banyak informasi terkait public figure yang rela merogoh uang jutaan untuk mendapatkan wajah yang di idealkan.

Lantas setelah tahu efek standar kecantikan, kita yang sadar ini harus bagaimana ?

Jangan merasa mewajibkan diri untuk mengikuti standar kecantikan yang ditampilkan oleh media. Sebabnya kecantikan yang dimiliki oleh orang  lain tidak bisa distandarkan kepada diri yang lain pula.

Menerapkan kepercayaan diri bahwa kita cantik versi diri  kita sendiri.

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *