Stigma Perempuan Menjadi Ibu Rumah Tangga

hidupkatolik.com

Yogyakarta-  Stigma perempuan yang diberikan masyarakat terhadap perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga di era hari ini ternyata masih ada lho. Hal ini dikarenakan perempuan yang memilih mengurusi rumah dilabeli sebagai istri yang hanya bergantung pada suami.

Ketika perempuan memilih menjadi ibu rumah tangga, stigma terhadap perempuan yang meliputi; kasur, dapur, dan kasur semakin kuat. Padahal porsi ibu rumah tangga sangatlah berat.  Orang Jawa mengenalnya sebagai, “macak, manak, masak”. Bagaimana tidak, dari dinihari sudah bersih-bersih rumah sampai menyiapkan sarapan yang layak untuk anak  dan suami. Setelah sarapan, ibu  membersihkan rumah yang kotor setelah anak pergi ke sekolah dan ayah yang pergi bekerja. Belum mencuci, masak siang, mengasuh anak, memasak makan malam.

Ketika perempuan ditanya soal pekerjaan dan ia menjawab sebagai ibu rumah tangga, maka ia akan dilabeli sebagai pengangguran. Disebut pengangguran karena tak bisa mandiri secara ekonomi.

Sudah tahu beban seorang ibu rumah tangga, mengapa perempuan masih  menerima stigma-stigma buruk  ?

Dalam sebuah hubungan selalu terdapat kesepakatan bersama. Termasuk relasi rumah tangga, suami istri juga harus memiliki kesepakatan bersama atas siapa yang memilih untuk bekerja. Banyak dari relasi rumah tangga, suami memilih mengurusi anak serta rumah dan istri bekerja. Ketika terdapat fenomena ini, laki-laki juga diberi stigma bahwa ia tak layak sebagai suami karena tak mampu menafkahi istri

Hal ini dikarenakan masyarakat kita masih memegang budaya patriaki. Patriaki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan serta mendominasi dalam berbagai peran.

Pekerjaan yang dipandang sebelah mata karena di rumah tidak menghasilkan uang, berbeda dengan perempuan yang memilih berkarir yang memiliki gaji sendiri. Meskipun begitu, menjadi ibu rumah tangga maupun perempuan berkarir itu tidak masalah ya, girls. Perempuan memiliki banyak pilihan untuk berdikari atas dirinya.

Bicara soal pilihan pada perempuan, mengingatkan pada Najwa Sihab terkait wawancaranya di televisi. Pertanyaannya menjadi jurnalis atau ibu rumah tangga ? Tanpa berpikir panjang, Najwa Shihab merespon kurang lebihnya seperti ini, “mengapa perempuan harus disuruh memilih, bukankah kita bisa mendapatkan keduanya. Pertanyaan itu sejak awal menempatkan posisi perempuan seolah-olah tak berdaya”.

Pemaknaan Ibu Rumah Tangga

Bernas.id

Ada baiknya sebelum memberikan stigma perempuan karena ia memilih menjadi ibu rumah tangga, kita pahami dulu makna ibu rumah tangga. Menurut Dwijayanti, Ibu rumah tangga  adalah wanita yang banyak menghabiskan waktu di rumah dan mempersembahkan waktunya untuk mengasuh dan mengurus anak menurut pola yang diberikan masyarakat .

Pemahaman tentang ibu rumah tangga membuat kita berpikir apakah bisa dikategorikan sebagai pekerja atau aktivitas ?

Jika di  telaah lebih dalam lagi, yang termasuk kategori bekerja adalah kegiatan yang menghasilkan sebuah karya yang bernilai imbalan dan berbentuk uang. Sedangkan aktivitas diartikan sebagai sesuatu yang bersifat kegiatan. Pemahaman diatas secara tidak langsung menjelaskan bahwa perempuan yang menjadi ibu rumah tangga merupakan aktivitas yang dilakukan atas dasar nilai-nilai masyarakat.

Peran  ibu rumah tangga yang mengalami subordinasi di lapisan masyarakat juga dipengaruhi pemikiran bahwa perempuan pada dasarnya memang mengurusi hal-hal domestik, sedangkan diluar itu adalah tanggung jawab laki-laki.

Hari ini telah banyak perempuan yang menyuarakan keadilan gender dan meminta keadilan agar posisi perempuan tidak  menjadi manusia kedua. Bisa kita lihat juga bagaimana akses untuk perempuan  di ranah publik sudah banyak dimiliki. Upaya yang dilakukan perempuan dalam menyuarakan hak-hak nya akan tetap dilanjutkan. Karena selain telah disediakan tempat untuk perempuan,  ternyata perempuan diluar sana masih banyak mengalami ketiakadilan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.