Memahami Silent Treatment Sebagai Perilaku Buruk

Memahami Silent Treatment Sebagai Perilaku Buruk

Silent Treatment menjadi topik pembicaraan yang tidak pernah usang untuk dibahas. Sebab banyak yang melakukan perlakuan yang ternyata tidak boleh dilakukan kepada orang lain. Salah satunya adalah Silent Treatment.

Silent Treatment merupakan perlakuan yang mendiamkan lawan bicara yang  dilakukan dengan sengaja. Misalnya jika dalam posisi memiliki masalah dengan orang lain, ia memilih tidak menyelesaikan masalah memilih diam.

Silent Treatment tidak selalu digunakan dalam relasi asmara saja, dalam kehidupan sehari-hari juga dapat digunakan pada relasi orang tua, anak, saudara, dan teman.

Dilansir dari tirto, Silent Treatment merupakan merupakan tindakan menolak berkomunikasi secara verbal dengan orang lain (atau dalam konteks hubungan berarti relasi dengan pasangan).

Silent Treatment dilakukan dengan alasan menghukum lawan bicara agar ia tak melakukan hal yang sama. Hal ini di dasari konflik yang tidak selesaikan dengan komunikasi. Entah ingin menghukum atau karena tidak ngin menyelesaikan masalah.

Selain komunikasi, biasanya dalam relasi-relasi yang terjadi, banyak orang menyelesaikan masalah dengan berteriak, mencaci maki, sampai berdiam diri.

Ego berperan penting disini. Karena jika satu sama lain masih mengedepankan egosentris, masalah tidak dapat  diselesaikan.

Sebagian besar orang menyelesaikan masalah dengan alasan meredam konflik. Padahal jika kita memiliki problem solving, seharusnya dilakukan dengan tindakan komunikasi asertif.

Contoh yang paling dekat soal Silent Treatment adalah ketika kita memiliki masalah kita cenderung mendiamkan lawan bicara kita dan tak berniat memberi tahu soal kesalahan yang dilakukan.

Silent Treatment dilakukan dengan alasan menghukum lawan bicara agar ia tak melakukan hal yang sama. Hal ini di dasari konflik yang tidak selesaikan dengan komunikasi. Entah ingin menghukum atau karena tidak ngin menyelesaikan masalah.  Ego berperan penting disini. Karena jika satu sama lain masih mengedepankan egosentris, masalah tidak dapat  diselesaikan.

Efek Psikologis dan Medis

Silent Treatment layaknya penyiksaan tanpa bekas. Sebab luka yang diberikan tidak berbentuk memar, tetapi  dirasakan sepanjang hari dan mungkin berbulan-bulan. Bagi kita mendiamkan seseorang adalah sepele, tetapi tidak bagi orang lain.

Seseorang yang mengalami Silent Treatment akan merasa bahwa ia tidak cukup baik dalam hubungan pertemanan, percintaan, bahkan sebagai rekan kerja. Ia akan merasa insecure, merasa bersalah, frustasi, dan menyalahkan diri sendiri.

Orang lain disuruh menerka-nerka kesalahan sendiri tanpa dikasih tahu letak salahnya dimana. Tidak semua orang paham bahwa apa yang ia lakukan ternyata menyakiti orang lain.

Metode penghukuman kepada orang lain dengan Silent Treatment merasa bahwa dirinya kuat dan memiliki peran penuh di setiap masalah yang terjadi. Ketika diam sudah dijadikan sebagai solusi, maka korban akan merasakan dampak-dampak psikologis yang membuat ia tidak sadar bahwa ia telah mengalami kekerasan emosional.

Dampak kesehatan juga ikut mempengaruhi tubuh korban. Karena berpikir dan intropeksi tentang kesalahannya, ia akan menjadi sakit kepala, sesak nafas, gugup dan memiliki pannic attack

Kekerasan emosional yang diberikan pelaku Silent Treatment tidak akan menyelesaikan masalah. Masalah diselesaikan dengan komunikasi dan keterbukaan untuk ruang intropeksi diri. Sebaikbaiknya komunikasi  adalah komunikasi  yang asertif.

Secara umum, komunikasi asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain tanpa bermaksud menyerang orang lain.

Hal yang paling penting di komunikasi asertif adalah ketika kamu mampu mengekspresikan perasaan negatif dan positif sesuai tempatnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.