Bayi-Bayi Indonesia Pernahkan Alami Hal Ini ?

  • Whatsapp

Jika kamu saat ini sudah hampir mencapai angka 20 tahun, percayalah, hal-hal berikut adalah apa yang kamu rasakan jika harus kembali ke 20 tahun yang lalu, ketika masih dalam masa bayi. Yuk smartgirl kita ulas secara rinci!

1. Dipingit sampai genap 40 hari

Biasanya anak bayi di Indonesia tidak akan diizinkan untuk bepergian jika belum genap mencapai usia 40 hari. Dalam kurun waktu tersebut anak bayi juga biasanya selalu ditemani dan tidak dibiarkan sendirian berada di dalam suatu ruangan. Alasan mengenai tidak diperbolehkannya si bayi untuk berjalan-jalan ini adalah bahwa si bayi masih lemah, sehingga nanti akan rawan terkena virus nyata maupun virus gaib. Nah, ternyata hal ini dibenarkan sebagiannya oleh dunia kesehatan. Bahwa bayi yang usianya masih di bawah 40 hari, memang rawan terkena penyakit, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rendah.

Read More

2. Mengubur ari-ari

Masalah ari-ari ini sepertinya memang bahasan nasional. Mengenai baiknya harus diapakan, dan bagaimana prosesnya. Namun sebagian besar orangtua meyakini bahwa ketika anak mereka lahir, maka ari-arinya harusnya dikuburkan di tempat yang benar-benar baik. Sebab nantinya bisa memberikan efek yang buruk, jika saja diletakkan secara serampangan. Alasan di balik hal ini adalah bahwa ari-ari tersebut merupakan bagian dari tubuh si bayi, bahkan menemaninya selama hidupnya di dalam kandungan. Oleh karena itu, sangatlah tidak lazim apabila bagian diri si bayi tersebut diletakkan secara sembarang. Maka dari itula penguburan dianggap sebagai cara yang baik. Dengan lokasi yang baik pula, agar nantinya tidak terbawa air jikalau hujan ataupun digali oleh binatang.

BACA JUGA :  Duh Aku Lupa Kan Lagi Puasa Kok Minum Ya? Batal Nih Puasanya! Eh Enggak Tau! Ini Smartgirl Penjelasannya..

3. Latihan jalan di atas embun pagi

Konon diceritakan bahwa jika orangtua mengajak anaknya untuk belajar melangkah, maka tempat yang baik adalah ketika pagi hari dan d atas rerumputan yang ada embun-embunnya, sebab manjur untuk membuat sang anak bisa cepar berjalan. Mengenai hal ini, secara orangtua memang niatnya adalah agar si anak belajar jalan sembari bisa menghirup udara segar, yang diyakini bagus untuk melonggarkan paru-parunya. Selain itu mengenai masalah embun, nyatanya secara medis ada pembenarannya. Diakui bahwa adanya si embun ini bisa merangsang saraf tekan pada kaki anak dan kemudian diteruskan ke otak. Ketika anak menginjak rumput maka ia akan merasakans ensasi seperti dipijat dan ini akan merangsangnya untuk berjalan.

 4. Baju tidak dijemur sampai lewat maghrib

Karena di Indonesia sangat kental dengan hal-hal yang bersifat metafisis, maka ketika lepas maghrib pantang masih membiarkan perkakas anak berada di luar. Kabarnya akan dirundungi oleh hal-hal buruk, yang membuat anak gampang sakit. Namun jika dilihat dari sisi medis, alasan selain itu—yang mendukung—adalah bahwa ketika memasuki waktu malam banyak jenis hewan-hewan ecil yang akan datang dan kemungkinan menghinggapi perkakas si anak, itulah nantinya yang ditakutkan datang sembari membawa bakeri.

5. Kalau dilanda diare, artinya tambah pintar

Orangtua kita percaya bahwa ketika sang anak sakit diare, maka hal tersebut pertanda bahwa anak akan mendapatkan kebisaan yang baru. Makna dibalik ini sebenarnya berkaitan dengan respon positif yang dibangun untuk sang anak, agar tidak merasa semakin buruk ketika sakit. Karenanya energy positif ini disalurkan juga melalui orangtua. Selain itu, memang katanya sepengamatan orangtua, bahwa anak yang diare benar adanya menandakan mereka akan memiliki kemampuan yang baru. Secara medisnya, ternyata hal ini tidak disalahkan. Karena biasanya ketika anak diare maka dalam dirinya muncul enzim-enzim baru yang berguna memaksimalkan penyerapan zat gizi. Itulah yang menyebabkan kemudian anak bisa menjadi tambah pintar.

BACA JUGA :  Smartgirl Katanya Candi itu Ada Penunggunya Ya? Masak Sih? Iya, Abdi-Abdi Candinya Yang Nunggu...

 

Kalau smartgirl sendiri gimana? Pernah mengalami hal yang sama? Diskusi yuk di kolom komentar !

 

Editor : Syifa Rosyiana Dewi 

Related posts