Menapaki Kronologi 52 Tahun Terbunuhnya Ade Irma Suryani Nasution.

  • Whatsapp

“Papa, apa salah Adek?” – Ade Irma Suryani, 1965

Pagi ini cerah. Langit membiru dengan awan satu, dua menggantung lugu. Kerumunan orang yang biasanya kulihat setiap hari, kini mulai ramai lagi. Aku terdiam dan memandangi mereka satu per satu. Bergandengan, saling memeluk dan mengucap sapa. Menguatkan, dengan tetesan air mata di sela-selanya. Ah, memori dan kenangan selalu jelas berleliweran di tempat ini. Hari-hari berangsur membaik belakangan ini, membuatku merasa cukup tenang. Bisa kunikmati dengan perasaan yang lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Sembari menunggu esok hari untuk datang lagi, aku terduduk di sini, meresapi kerumunan wajah-wajah tulus yang menaburkan doa, di atas makamku, dan di sekeliling batu nisanku.

Read More

***

Malam 30 September 1965, Jalan Teuku Umar no. 40, Menteng, Jakarta Pusat

Malam itu kami berkumpul seperti biasanya di rumah. Ada aku, kemudian Papa, dan Mama tentunya. Ada Mbak juga, yang semakin dilengkapi dengan Bibi Mardiah, adik Papa yang kebetulan memang mengunjungi kami. Ah, ada ajudan setia Papa juga, yang sudah kami anggap seperti keluarga. Ia sudah lama bersama Papa dalam tugasnya. Awalnya ia hendak pamit untuk berangkat mengunjungi kerabatnya malam ini, tapi karena kata Papa sudah larut, ia diminta untuk menunda perjalanan, dan disarankan pergi besok pagi-pagi.

Ohiya aku lupa memperkenalkan keluargaku. Papaku, Abdul Haris Nasution, Mamaku Johana Sunarti Nasution, dan Kakak perempuanku, Hendriyanti Sahara. Percayalah walaupun ada gelar Jenderal Besar di depan nama Papa, namun kami adalah keluarga sederhana biasa, sama seperti keluarga lain di luar sana.

Malam itupun sama seperti malam-malam yang lain, kami berkumpul lagi, bercerita ini dan itu, hingga lelah dan mengantuk, sampai akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Andaikan aku tahu bahwa malam itu adalah terakhir kalinya aku merasakan hangatnya keluarga, andaikan aku tahu bahwa setelahnya lingkaran bahagia itu tidak akan pernah lagi sama, andaikan saja bisa…sebentar saja..aku ingin memanjangkan waktunya. Aku tak akan pergi tidur secepat itu.

Aku akan lebih memperhatikan wajah Papa lagi, berlari dan duduk di pangkuan beliau sambil merasakan perutnya bergoyang tiap kali tertawa. Wajah Papa mulai menua, namun ia tetap gagah. Wajah yang selalu menginspirasiku untuk kelak belajar menjadi seperti dirinya, mempertahankan kedaulatan Negara. Akan ku belai lagi wajah Mama, perempuan hebat yang bahkan tak pernah beranjak dari sisi Papa, seberat apapun resiko kerja yang beliau punya. Kemudian tentu saja, aku akan bermain lebih lama lagi dengan Mbak Yanti. Dan dengan ajudan Papa? Akan kupastikan untuk menghafal wajahnya lekat-lekat…agar kelak bisa menyapanya untuk mengucap banyak terimakasih, ketika bertemu kembali di tempat yang lebih jauh.

Malam itu aku sungguh berharap agar keesokan harinya terbangun dengan guncangan Mama meminta untuk mandi dan sarapan. Tak pernah sedikitpun terbersit dalam kepalaku bahwa aku akan dibangunkan oleh deru suara senapan.

Dini hari 1 Oktober 1965, Jalan Teuku Umar no. 40, Menteng, Jakarta Pusat.

Sepertinya Papa terbangun karena suara nyamuk, atau mungkin kedinginan, subuh itu. Lalu kemudian Mama ikut terbangun dan mulai mendengar suara aneh dari luar rumah.

Brak, brak, brak, brak, brak!

Terdengar jelas suara langkah yang mendekat ke arah rumah, dan kemudian disusul dengan pintu rumah kami yang dibuka secara paksa. Kala itu Mama sudah merasakan hal yang tidak baik akan terjadi. Sembari mengintip sedikit dari pintu kamar, ia membathin, “Cakrabirawakah itu?”

“Pak, ada Cakrabirawa di luar,” ungkap Mama pada Papa.

“Baik, biar saya keluar dan menemuinya,” baru saja Papa berniat membuka pintu yang dikunci oleh Mama, tetiba terdengar suara tembakan di dalam rumah. Sontak keduanya tiarap. Mama segera berinisiatif membuka pintu belakang kamar dan menyuruh Papa untuk bersembunyi di rumah Kedutaan Irak, tepat di belakang kamar tidur kami. Bibi Mardiah yang rupanya ikut terbangun mendengar reiut tadi mengendap-endap menyusul Mama dan Papa melewati pintu belakang. Aku saat itu sudah terbangun, dengan keadaan yang luar biasa terkejut dan ketakutan. Bayangkan saja, apa yang bisa kalian harapkan dari anak usia 5 tahun, yang terbangun oleh deru senapan, di rumahnya sendiri? Bingung, takut, terkejut, panik, menjadi satu dalam otakku yang kala itu hanya berisikan boneka.

“Nasution, keluar!” Aku mendengar suara orang asing meneriakkan nama Papa, saat tetiba kurasakan tubuhkan digendong oleh Bibi Mardiah yang ketika itu sangat panik. Tak kusangka dalam keadaan itu ia memutuskan berjalan mendekati pintu yang tadinya ditutup oleh Mama. Ia baru membukanya sedikit yang sesaaat setelahnya langsung diikuti oleh suara tembakan beruntun.

Kebas….

Bisa kurasakan layaknya jantungku tertohok sampai ke lantai…

Punggungku terasa luar biasa ngilu….

Kurasakan perih dan kesakitan yang sangat pada bagian belakang tuubuhku sampai rasanya menarik napas pun mustahil aku lakukan. Tubuhku bergetar, kurasakan cairan hangat sewarna merah gelap mulai membanjiriku. Sampai detik itu aku masih belum memahami bahwa di tubuhku, teah bersarang empat buah peluru segar. Aku tersengal. Ingin rasanya berteriak, namun sakit ini membungkam tenggorokanku.

Mama berlari terkejut, menembus kamar dan kembali menutup pintu yang dibuka oleh Bibi Mardiah tadi, kurasakan bibirnya berkedut pilu menyaksikan baju tidurku yang mulai berganti warna menjadi merah. Bisa kulihat wajah Papa ketika memandangiku. Aku tahu ingin rasanya belaiau masuk kembali ke dalam rumah dan menghadapi para Cakrabirawa itu. Namun Mama menahannya.

“Jangan hiraukan kami, Pak. Selamatkan dirimu, kamulah yang diincar oleh mereka. Saya bersama Ade, selamatkan dirimu, Pak,” kata Mama, yang kemudian disusul lagi oleh suara tembakan, dan akhirnya mendorong seluruh badan Papa berpindah ke bagian rumah kedutaan Irak tersebut.

Setelah Mama memastikan Papa dan Mbak Yanti aman di rumah sebelah, ia ke ruangan tengah, menemui pasukan bersenjata yang sebagian pelurunya tengah kubawa dalam tubuhku.

Kulingkarkan tanganku di lehernya, mengharap bisa sekedar menyesap panas dan sakit yang sangat hebat meninju seluruh bagian belakang tubuhku hingga ke dada, dan perut.

“Ade, masih hidup?” Kudengar Mama bergetar.

“Hidup, Mama..” jawabku.

“Ade hidup terus?” sekali lagi Mama menanyaiku.

“Hidup terus, Mama,” aku menjawab.

“Percuma, kabel telah kami putus. Katakan dimana Nasution?!” gertak seorang bersenjata ketika Mama menghampiri tefon hitam kami untuk menghubungi Pangdam Jaya Umar Wirahadikusuma.

“Bapak tidak ada di sini! Bapak sedang ada di Bandung. Kalian ke sini hanya membunuh anak saya!” Kurasakan suara Mama sangat bergetar geram ketika itu. Inginku memeluknya, menenangkan, namun apa daya, bernapaspun aku sungguh hampir tak kuasa. Lenganku di leher Mama rasanya sudah tak bisa kugantungkan lagi. Barulah kemudian sesaat setelah pasukan Cakrabirawa itu meninggalkan ruang tengah, aku dilarikan rumah sakit. Mendapatkan rawatan yang cepat dengan masuk ke ruang operasi secepat yang tim medis bisa.

***

Harusnya 29 Februari lalu aku menginjak usia 57 tahun. Mungkin bisa kurayakan hari jadiku itu bersama anak-anak, dan cucu-cucu mungil berlari memenuhi seisi rumah. Namun rupanya bagian yang kumiliki tak dirayakan di rumah layaknya yang biasanya dilakukan. Perayaannya kulakukan di sini, tiap kali rombongan orang berdatangan dan menangisi.

Untuk negeri ini, atas apa yang menimpaku saat itu, dan apa yang diterima oleh orang-orang terdekat kami, aku tetap cinta padamu, Indonesia. Bahkan setelah terenggutnya masa kecilku, urungnya aku menemui masa remajaku, dan tak jadinya aku menghadapi masa tua yang selalu kuimpikan akan begitu bahagia, sedikitpun tak pernah aku mampu membencimu, Ibu Pertiwi. Namun pintaku, jangan sampai ada lagi Ade Irma Suryani Nasution yang selanjutnya, yang tubuhnya harus tertembus logam panas naas, hanya untuk membayar sebuah kepicikan politik yang hingga sekarang masih bias.

Ah..dan satu lagi…tak lupa selalu kutitipkan juga tiap tangis dan doa tulus yang mereka bawakan untukku, kepada seseorang yang kala itu menjadikan keselamatan keluarga kami menjadi mungkin, karena ia menyerahkan dirinya kepada pasukan bersenjata, dan mengaku menjadi Papa. Seseorang yang kemudian menemui akhir hidupnya di lubang buaya. Untukmu, Lettu Pierre Andreas Tendean, kami menyayangimu.

BACA JUGA :  Ketika Sahabat Cowokmu Minta Hubungan Lebih dari Pertemanan. Hmm...Yes or No?? Terima atau Tolak Aja??

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *