Budayaku Sayang, Budayaku Hilang

  • Whatsapp

Indonesia adalah salah satu Negara kepulauan terbesar di dunia. Dari ujung Sabang sampai Merauke terdapat lebih dari 741 jenis bahasa daerah, lebih dari 16.056 pulau, ratusan jumlah kuliner, tarian, serta permainan tradisional yang tersebar di tiap-tiap daerahnya, membuat Indonesia menjadi Negara yang sangat bhineka. Bahkan saking banyaknya jenis bahasa ini, peneliti luar negeri asal Amerika sampai terkagum-kagum, tentang bagaimana bisa kita sampai sekarang tetap hidup satu dengan banyaknya perbedaan.

Namun sayangnya, keberagaman ini ternyata tidak kita tanggapi dengan begitu antusias. Terlebih lagi ketika pengaruh globalisasi datang dan mengikis batasan tiap-tiap Negara, menjadikan kita sebagai generasi saat ini memiliki terlalu banyak pilihan. Kita begitu terkesima oleh keragaman belahan dunia lain yang sebelumnya tidak pernah kita dengar gaungnya di Indonesia.

Read More

Jadilah kita menganggap rumput di halaman tetangga lebih hijau dari rumput halaman sendiri, padahal rumput mereka adalah rumput sintetis, sedangkan milik kita yang tumbuhnya alami. Sepertinya generasi masa kini Indonesia memperlakukan budaya sama seperti gebetannya. Ketika masa pendekatan, dijajal habis-habisan, lalu ketika sudah dapat malah diangin-anginkan, dan baru bersemangat lagi untuk mengejar setelah mantanan. Hal ini terjadi juga pada generasi dan tradisi, baru ketika sudah hilang dikantongi Negara lain, tetiba menjadi sosok yang sangat peduli dan sepertinya mau memperjuangkan sampai mati.

Perlu kita pahami dan inget bersama bahwa bukan hanya satu atau sekedar dua biji kebudayaan kita yang dicolong oleh Negara lain. Tapi banyak!

BACA JUGA :  Pemilu Berjalan Tak Sesuai Aturan! Bawaslu Perintahkan Pemilu Susulan di Sydney dan Pemilu Ulang di Malaysia

Negara tetangga, Malaysia, adalah yang paling berlangganan dalam hal ambil-ambilan kebudayaan milik orang. Malaysia pernah mengklaim setidaknya sepuluh kekayaan yang kita punya. Mulai dari batik, kemudian ke tari pendet, lalu wayang kulit, alat musik angklung, lagi ke Reog Ponorogo, Kuda Lumping, Lagu Rasa Sayange, kemudian Bunga Rafflesia Arnoldi, hingga mengatakan bahwa Keris adalah salah satu turunan nenek moyang mereka yang asli. Dan tidak cukup sampai di sana, bahkan Malaysia pernah mengklaim bahwa mereka memiliki Rendang. Masakan khas Padang yang secara nyata diakui kelezatannya oleh dunia. Luar biasa.

Jerman, pernah menggunakan batik khas Jawa dalam desain salah satu brand sepatu olah raganya.

Kemudian Amerika, melalui salah satu warna negaranya pernah mengklaim desain Kerajinan Perak Desak Suwarti (Bali) sebagai hak patennya.

Lalu Belanda, pernah mengklaim salah satu kekayaan dari negeri Aceh, yaitu Kopi Gayo, sebagai olahan asli khas Belanda.

Dan Jepang, secara luar biasa mengatakan bahwa Kopi oraja adalah kopi yang dibuat di Jepang dengan olahan asli rakyat mereka sendiri, dengan label KEY COFFEE.

Lalu apa yang kita lakukan sebagai generasi muda saat ini?

Di saat Negara-negara besar lain begitu terkesima sampai jatuh air liurnya melihat kebudayaan kita, kita sebagai tuan rumah malah merayakan kebudayaan orang lain dengan begitu bahagianya. Merasa menjadi gaul dan beken, jika gaya yang diadopsi berasal dari artis luar negeri yang tengah ngetren. Baru setelah nanti isunya mulai melangit, tentang Negara lain dan kebudayaan yang sudah habis dicuri, di sanalah kita kemudian berubah dengan kostum pahlawan (di internet) yang menyumpah para pencuri. Tanpa menyadari bahwa si pencuri masuk, karena kita sendiri yang rumahnya tidak dikunci.

BACA JUGA :  Pasangan “Game Of Thrones” Rose Leslie dan Kit Harrington Resmi Menikah

Kebanggaan akan Indonesia. Hal itulah yang minim pada generasi kita. Rasa sayang atas setiap anugerah Tuhan dari awal Sabang sampai ujung Merauke sepertinya susah sekali muncul kalau saja belum diambil secara diam-diam.

Kenapa sih, sebegitu susahnya merasa bangga, pada halaman hijau yang kita punya?

Apakah perayaan semacam tanggal 14 dengan cokelat, atau menari heboh layaknya sekelompok laki-laki bermata sipit menjadi sebegitu lebih tinggi percaya dirinya dibandingkan harus berhadapan dengan arak-arakan khitanan, iringan musik flute, gemerlap acara dengan tabuhan gong, hingga gemerincing petikan sasando?

Semoga nanti, kita bisa lebih memperhatikan halaman rumah negeri ini. Boleh menengok ke halaman rumah lain, namun jangan sampai jadinya lebih menyukai, apalagi sampai pindah tempat berdiri. Semoga nani, kita bisa menemukan kunci rumah yang pas, agar keesokan harinya bisa terbangun pagi-pagi sekali, dengan kebudayaan yang masih segar dan bebas berpanas.

Sehingga kita tidak perlu lagi meninabobokan generasi selanjutnya nanti, dengan lagu-lagu “Budayaku sayang, budayaku hilang…”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *