Anakku, Sudah Punya Pacar?

“Kuliahnya lancar?” Ibu bertanya sambil meletakkan seekor bandeng presto di atas nasiku. Hari ini kami makan siang berdua tanpa ayah, kata Ibu beliau tengah menyelesaikan pertemuan dengan rekan bisnisnya, sehingga tak dapat ditinggalkan.

“Lancar Bu, alhamdulillah,” sahutku sambil mulai menyuap nasi besar-besar. Lupa kalau sedang ada di rumah, pikirku masih di kos-kosan, yang lauknya biasa rebutan.

Read More

“Alhamdulillah. Ibadahnya bagaimana? Lancar?” Ibu bertanya lagi.

Aku mengangguk semangat. Aku tahu, Ibu paling bahagia ketika aku menjawab mengenai ini, dibandingkan yang lain. Perempuan berusia setengah abad itu tersenyum, dan mulai menyuap nasi.

“Kamu punya pacar, Nak?”

“Uhuk..!”

“Eh, minum..minum…! Ini, minum..cepat…” Ibu panik, menuangkan air ke dalam gelasku. Demi apa, pertanyaan ibu hampir membuat isi mulutku keluar seluruhnya.

Aku masih terbatuk-batuk, sambil mengusap dada yang sedikit perih.

Rasanya mau batuk saja selamanya, ketika aku menangkap mata ibu menatapku penuh selidik.

“Apa..Bu? Tadi tanya apa…? Nanda tidak dengar.” Cicitku pelan.

Ibu tersenyum pelan, “Anak ibu, punya pacar?” ujarnya mengulangi.

Aku terdiam.

Ibu masih tersenyum, namun tak terlihat seperti menuntutku untuk menjawab cepat. Sampai suapan yang keberapa, kami masih berdiam, ibu masih saja terlihat tenang, sementara aku mati-matian menyusun jawaban.

“Nanda..tidak punya pacar, Bu.” Aku bersuara.

“Hm..hm..” Ibu mengangguk.

“Tapi Nanda…ada perempuan yang Nanda sukai. Di kampus, rekan satu organisasi,” tambahku.

Ibu mendongak, menatap mataku sesaat, lalu tersenyum.

“Anak Ibu sudah besar ya ternyata, Ibu kira masih tertarik pada manisan dan gula-gula, ternyata sekarang sudah bisa tertarik pada wanita ya.”

Aku menggaruk kepala, kikuk. “Ya, begitulah, Bu. Ehehe.”

“Pacaran itu hanyalah status, Anakku.”

“Status, yang definisinya bahkan berjuta, tergantung kepada siapa kita bertanya.”

“Ibu tidak pernah mengatakan anak Ibu tidak boleh melakukannya. Hanya saja. Kita akan definisikan itu, dengan standar kita, secara paten, dan tak ada tawarannya.” Ibu tersenyum.

Aku terdiam, masih mencerna kata-kata ibu.

Ibu tertawa pelan, “nantilah, tunggu Bapak pulang, ayo sekarang makan dulu.”

Aku menyuap nasi lagi, sama besarnya seperti suapan pertama. Rupanya bahasan barusan tidak berimbas apapun pada nafsu makanku.

***

Malam ini aku dan Bapak duduk di teras, selepas sembahyang Isya. Ibu menyuguhkan kami ubi rebus hangat, dan teh melati kesukaan Bapak—yang lantas menjadi kesukaanku.

“Pak…” Ujarku.

“Iya, ada apa? Eh, ubinya dimakan. Mumpung hangat.” Bapak menjawil satu buah ubi berwarna ungu. Aku mengikuti.

“Pak, Nanda menyukai seseorang, teman satu organisasi.” Aku memulai. Bapak mengangguk, memintaku melanjutkan.

“Nanda kenal dia sudah hampir 2 tahun, tapi, tidak dekat, hanya diperhatikan dari jauh. Anaknya santun. Nanda suka dia dalam balutan khimarnya. Tidak cantik, hanya saja…teduh. Dia pintar, Pak. Nanda suka bertukar pikiran dengannya. Dia sangat sopan.”

“Tapi nanda tidak pacaran.” Aku buru-buru menambahkan. Takut.

Bapak menatap jenaka,

“Memangnya kenapa kalau pacaran?”

Aku terdiam, mengangkat bahu, tak paham.

“Ibu dan Bapak dulu juga pacaran,” ujar Bapak. Aku menatap tak percaya.

“Tapi, hanya 6 bulan.” Bapak tertawa renyah. Aku mendelik.

“Kenapa Bapak ajak Ibu pacaran?” Kejarku.

“Karena Bapak sudah yakin akan meminang ibumu.”

Aku tertegun.

“Karena Bapak sudah yakin, bapak sudah sanggup meminta Ibumu pada kakekmu dulu.”

“Apakah kamu pikir Bapakmu ini tampang laki-laki norak yang ajak pacaran tanpa jaminan pernikahan?” Bapak tergelak. Aku meringis singkat. Pikirku begitu juga sih.

“Pacaran..taarufan..kenalan..pra pernikahan..namanya banyak, anakku. Tak bisa satu. Sama saja semua. Sama-sama langkah yang diambil sebelum akhirnya menghalalkan yang belum halal, mengesahkan yang belum sah. Untuk bagaimana nanti pada prosesnya, pada perjalananya, tergantung lagi bagaimana cara kita menyikapinya.”

“Definisi kita tak ada yang sama. Semua tak mau ada cela, kalau dinilai satu-satu.”

“Tak pernah, Bapak dan Ibumu ini melarangmu untuk itu, anakku. Kau laki-laki, pilihlah calon rusukmu sendiri. Bapak dan Ibu percaya, anak kami tak akan di luar kendali.” Bapak tersenyum.

“Hanya saja, pilihlah, di saat waktunya kamu memang sudah pantas untuk memilih.”

“Pilihlah, di saat memang kamu siap untuk memilih.”

“Jagalah fitrah yang diberikan Allah, jangan sampai berubah jadi fitnah.”

“Kalau pilih sekarang, Pak?” tanyaku.

“Memang sudah punya apa, berani-berani memilih? Jajan saja masih ditanggung Bapak. Shalat saja masih dipercik air oleh Ibu, kerja saja masih diseret dari kasur.”

“Bagaimana bisa, kamu bilang berniat memilih sekarang?”

“Kalau Bapak yang jadi wanitanya, walaah, mana mau Bapak. Wong lakinya saja ┬ásibuk urus shalat subuh dan isya yang masih di ujung-ujung.”

Aku merengut. Bapak terpingkal hebat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.