Cerita Luar Biasa Nadia Murad : dari Tawanan Seks ISIS hingga Pemegang Nobel Perdamaian Dunia…

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Nadia Murad adalah seorang perempuan luar biasa. Bukti nyata bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah, melainkan adalah makhluk yang kuat, berani, dan tak punya rasa takut.

Beberapa waktu yang lalu Nadia Murad dinobatkan sebagai peraih nobel perdamaian. Hal ini bukannya tanpa alasan, sebab perjuangan Nadialah yang kemudian membawa arti begitu besar terhadap para perempuan, yang berada dalam tahanan ISIS. Tak hanya itu, makna perjuangan dan kegigihan Nadia juga menginspirasi semua kalangan, bahwa pada dasarnya semua orang adalah setara dan tak ada pembenaran atas kesewenangan, apalagi terhadap perempuan.

Read More

Kejadian itu terjadi pada tahun 2014 di bulan Agustus. Nadia dan keluarganya merupakan penduduk di kampung yang berbatasan antara Irak dan Suriah, bernama Kocho. Keluarga Nadia hidup dengan bahagia dan damai….sampai kemudian bendera hitam datang dengan truk besar yang berbondong-bondong. Pada detik ISIS menghampiri daerahnya, pada detik itulah kebahagiaan Nadia dan keluarganya tak bersisa.

ISIS membunuh semua laki-laki dewasa, dan menculik anak-anak dan juga perempuan. Anak-anak tersebut akan dilatih menjadi tentara, dan perempuannya dijadikan budak seks. Dilecehkan, mendapatkan kekerasan fisik, psikis, dipaksa melakukan hubungan intim, bahkan dipaksa untuk menikahi anggota ISIS.

Awalnya Nadia pernah mencoba melarikan diri, namun naasnya tidak berhasil. Setelah kejadian tersebut ia lalu dikurung dalam penjara, dan diperkosa beramai-ramai oleh sipir yang menjaga di sana. Kekerasan dan pelecehan yang didapatkan oleh para perempuan memang begitu dahsyat. Mereka bukan lagi dianggap sebagai manusia selayaknya, melainkan sudah sebagai benda yang tak punya hak atas diri sendiri.

BACA JUGA :  Smartgirl Yuk Intip Gaya Seleb-Seleb Ini Saat Umroh! Waaah Makin Cantik!

Mengalami hal pahit itu, Nadia sangat terpukul, ia mengatakan bahkan sudah kapok dan tidak meu melakukan upaya pelolosan diri lagi. Kekerasan seksual yang diterimanya menjadikannya ketakutan, sakit, dan ciut saat itu. Namun kemudians emangatnya membara lagi ketika menemukan celah. Ia kemudian kabur ke perbatasan Irak, dengan dibantu oleh keluarga Mosul. Di sana ia langsung diberikan identitas baru, agar memiliki wali yang menanggungjawabkan, sehingga bebas dari status tawanan ISIS.

3 bulan lebih lamanya Nadiia berjibaku dengan kekerasan seksual, fisik, sakit hati dan air mata. Juga ketakutan dan pemaksaan oleh para anggota ISIS. Tanpa belas kasihan sama sekali, dan tak canggung-canggung memberikan pukulan pada perempuan yang menurut mereka tak layak, membangkang dan tak mau ikut aturan.

Nadia kemudian bergabung di pengungsian warga Yazid, dan di sanalah ia mengisahkan pengalaman yang didapatkan selama diculik dan dipaksa menjaid pelayan seks. Setelah kabur, bahkan trauma Nadia akan apa yang ia dapatkan di ISIS tidak hilang. Ia kerap menangis dan ketakutan, juga menyesali mengapa bisa terjaid hal-hal seperti itu pada dirinya. Namun kemudian tekadnya berubah. Ia mulai bangkit dan melihat kesempatan bahwa perbudakan atas perempuan adalah sesuatu yang harus dihentikan.

Nadia kemudian memulai usaha perjuangannya. Ia merasa memiliki tanggungjawab untuk tidak meninggalkan teman-teman peremouannya dalam kondisi mengenaskan di hadapan ISIS. Ia mkemudian memulai gerakan kampanye melalui organisasi-organisasi besar dunia. layaknya pembicaraan testimon yang ia lakukan di PBB pada tahun 201, yang kemudiian berbuntut pelebaran jejaring dan kampanyenya, untuk menyadarkan masyarakat mengenai kebejatan ISIS.

Pada tahun 2016 kemudian Nadia dianugerahi piagam Vaclav Havel dan Sakrarov. Nadia juga diberikan kehormatan untuk mendapatkan Clinton Global Citizen Award dan Peace Prize dari United Nations Association of Spain. Semua kerja keras Nadia untuk didengarkan oleh masyarakat dunia ini juga mengantarkannya menjadi Duta Persahabatan untuk Martabat Para Penyintas Perdagangan PBB.

BACA JUGA :  4 Hal Penting yang Harus Perempuan Pikirin Sebelum Menuju ke Pernikahan. Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati Kekecewaan, Iya Kan?

Kegigihan Nadia terlus berjalan, malah semakin luar biasa. Ia mendirikan Nadia Initiative, sebuah organisasi yang dibentuk dengan tujuan mengadvokasi perempuan dan kelompok minoritas dan mendampingi pengembangan komunitas saat krisis. Dari sini kemudian ia mengembangkan sebuah organisasi di Sinjar, ketika menyadari bahwa rendahnya perhatian pemerintah dalam menangani kasus-kasus serupa yang begitu marak. Dari sinilah kemudian lahir Sinjar Action Fund (SAF).

Hingga sekarang kegigihan Nadia terus berjalan. Masa lalunya yang begitu kelam bukanlah menjadi penghalang Nadia untuk membantu, melainkan menjadi alasna utama dan motivasi terkuatnya agar perempuan dan kelompok minoritas lainnya bisa bebas dari diskriminasi dan penyiksaan.

Nadia Murad adalah seorang perempuan luar biasa. Bukti nyata bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah, melainkan adalah makhluk yang kuat, berani, dan berdedikasi tinggi.

Ia menghapuskan segala stigma sebelah mata atas dedikasi perempuan. Bukan hanya gender lapis kedua, bukan hanya pejuang domestik, bukan hanya kaum cinta dan penuh kode, namun di atas itu…Nadia membuktikan bahwa perempuan bisa mengubah dunia.

Related posts