Korban Pemerkosaan Bukannya Diberikan Kekuatan, Malah Dijadikan Bahan Hujatan. Oh, Perempuan…

  • Whatsapp

IllGIRLISME.COM – Apa yang akan kamu pikirkan pertama kali kalau dengar seorang perempuan diperkosa?

“Bajunya minim sih!”

Read More

“Ck, perempuan kok kelayapan sendiri!”

“Makanya perempuan itu pergaulannya dijaga, jangan sembarangan!”

“Wah, kasihan ya, dia sudah rusak!”

“Duh, keluarganya gimana ya, anaknya sudah nggak suci gitu?”

“Dia ada yang mau nikahin nggak ya? Kan korban perkosaan!”

Pernah terpikir tidak kenapa justru kalimat-kalimat seperti itu yang keluar?

Kita sangat terbiasa dengan tipikal masyarakat yang menyalahkan perempuan atas pemerkosaan. Bahkan jarang sekali kalimat-kalimat membangun dan menguatkan disematkan kepada perempuan yang mengalami kemalangan. Anggapannya adalah bahwa perempuan yang diperkosa tersebut adalah hasil dari kelakuannya sendiri.

Perempuan yang diperkosa memang pantas diperkosa.

Ya siapa suruh pakai rok mini?

Ya siapa suruh jalan di tempat sepi?

Ya siapa suruh sendiri?

Ya siapa suruh ini…siapa suruh itu..

Pemikiran selama ini yang kita pelihara adalah perempuan pantas diperlakukan sebagai objek. Perempuan biasa diperlakukan jadi pelampiasan seksual laki-laki. Perempuan bahkan jadi aneh jika memperjuangkan diri mereka sebagai sebuah subjek. Karena itulah ketika perempuan diperkosa, hal pertama yang muncul dalam kepala kita adalah menyalahkan dan mewajarkan itu.

Sangat jarang ditemui pihak yang langsung menyalahkan laki-laki dan mempertanyakan kekurangajarannya menerobos ranah-ranah privat perempuan. Membuka baju, menelanjangi, memaksa hingga Membunuh perempuan setelah diperkosa. Menghujat dan memberikan sanksi sosial layaknya perundungan yang diterima perempuan sebagai korban.

Padahal kurang apa lagi itu? Buktinya sudah jelas bahwa dia tak punya moral dan bahkan sisi kemanusiaan. Namun kenapa justru yang dihujat malah perempuan dan penampilannya? Menyalahkan perempuan dan kelakuannya, sehingga mengabsenkan sisi buas dan tidak tau adab laki-laki?

Semua orang menganggap laki-laki memang kodratnya sebagai penguasa seksual dan perempuan objeknya.

HEI!

Pemikiran itu SALAH.

Perempuan yang diperkosa menderita sakit secara psikis dan juga fisik, belum lagi ditambah dengan beban keluarga, beban sosial, dan beban personal.

Kenapa bisa pikiran jahat seperti ini tumbuh subur dan malah dipelihara? Seharusnya perempuan sebagai korban pemerkosaan bisa mendapatkan bantuan yang membangun dan menguatkan. Membuat lingkungan yang baik dan bukan malah menjebloskannya ke fakta-fakta rumit bahwa dia sudah disrusak, dia tidak suci, dia perempuan nakal, dia perempuan yang sduah tidak punya masa depan. Tidakkah keadaan ini begitu menyedihkan??

Kita harus mulai sadar dan merubah pola pikir mengenai posisi seksual antara laki-laki dan perempuan. Merubah cara pandang tentang respon terhadap para korban kekerasan. Sudahlah dipaksa disetubuhi, direnggut ketenangan hidupnya, diberikan beban malu keluarga, ditambah lagi bisikan nyaring para tetangga.

 

Oh…perempuan.

Betapa malangnya menjadi dirimu.

Bahkan diperkosa dan dipaksa untuk berhubungan intimpun semuanya tetap salahmu.

Dikiranya kau pakai rok mini, padahal seluruh badanmu berbalut kain tebal nan longgar.

Dikiranya kau sengaja keluar sendiri dalam gelap, padahal kau hanya baru selesai belajar dan bekerja keras.

Oh, perempuan. kau bukan hanya korban dari kebodohan masyarakat.

Kau juga bukti sebuah ketidakmajuan dan keterlambatan sosial.

Menyalahkan korban dan mewajarkan pelaku?

Tidak waras.

BACA JUGA :  Mama Bilang Jangan Makan Sambil Tidur Nanti Aku jadi UlarĀ 

Related posts