Penyakit Media Indonesia di Asian Games 2018. Ckckck, Mau Sampai Kapan Sih??

  • Whatsapp

GIRLISME.COM – Asian Games 2018 yang berlangsung di Indonesia nggak bisa dipungkiri lagi kemegahannya. Negara-negara di seluruh Aisa datang, membawa para atlit kebanggaan mereka, untuk mempertaruhkan juara. Banyak cabang olahraga, baik itu indoor maupun outdoor yang diadakan.

Media sebagai sebuah jembatan antara masyarakat dan pemerintah, juga sebagai jembatan antara masyarakat dengan lingkungannya sudah pasti memiliki posisi yang strategis untuk mengabarkan Asian Games, pernak-pernik di dalamnya, hingga hal-hal yang mungkin luput dari layar kaca pemirsa. Semarak Asian Games semakin riuh dengan menanjaknya perolehan medali Indonesia, dari target hanya belasan emas, sekarang kokoh di posisi tiga puluh emas. Menjadikan Indonesia menembus empat besar, berjajar dengan China, Korea juga Jepang.

Read More

Namun ada beberapa hal yang saya rasa menciderai pemberitaan Asian Games ini, yang dilakukan oleh media, yaitu sudut pandang dalam membawakan para atlit kebanggaan Indonesia. Banyak headline berita yang dibawakan oleh media Indonesia yang lebih mengangkat mengenai keadaan tubuh atlit kita, daripada prestasinya. Lebih menyenangkan sepertinya membicarakan tentang wajah dan kemolekan para atlit secara mendalam daripada menjelaskan tentang perjalanan karirnya. Lebih asyik mungkin memperbesar wajah dan betapa mulus kulitnya daripada menerangkan latar belakang pendidikannya.

Penyakit media Indonesia adalah menempatkan para atlit Indonesia dan mancanegara perempuan dalam posisi sebagai objek kenikmatan mata. Bertajuk “Atlit cantik”, “Atlit susah bikin kedip”, “Perempuan cantik”.

Ya kenapa musti cantiknya yang dijadikan judul berita?

BACA JUGA :  Emak Gimana Ini Aku Nggak Sengaja Makan Biji Buah 

Memangnya kalau cantik kenapa? Dan memangnya kalau tidak cantik juga kenapa?

Kok malah tidak fokus ke prestasi dan pencapaiannya?

 

Media menempatkan para atlit perempuan dalam posisi yang lebih dinikmati wajah dan penampilannya daripada fokus ke prestasinya selama berlomba. Hal ini sesungguhnya sebuah penyakit yang harus mulai dihilangkan oleh media kita, karena pemberitaan yang seperti ini hanya akan mengaburkan prestasi-prestasi para atlit dan malah memosisikan mereka pada tempat yang tidak layak, yaitu sebagai sebuah onjek kecantikan semata.

 

 

Media harusnya lebih bisa menempatkan diri, bukan hanya sebagai pengais rating dan komentar yang tinggi, tapi juga mengingat bahwa peran mereka adalah untuk memberikan edukasi.

Posisi media yang sangat penting saat ini mau tidak mau memaksa kita smeua untuk lebih jeli tentang konten yang ada di dalamnya. Apa yang dihadirkan oleh media sangat mungkin mempengaruhi bagaimana cara kita melihat fenomena. Jika media Indonesia secara terus-menerus memberikan pemberitaan yang menjadikan perempuan sebagai objek sasaran kecantikan, lebih dari prestasi yang dimiliki, maka kedepannya penghargaan perempuan juga akan tetap berkutat di satu tempat yang sama, yaitu sebagai objek dengan sudut pandang para pria, yang lebih menekankan pada wajah dan tubuh semata.

 

Saya mengerti bahwa media juga butuh makan, butuh rating dan butuh tambahan berita. Namun alangkah lebih baiknya jika berita tersebut tidak harus mengerdilkan objeknya, apalagi ini dalam posisi bertanding dan laga. Harusnya Jonatan dan Aqsa, juga Aero lebih ditonjolkan mengenai langkah-langkah sulit yang pernah ditempuh hingga bsia menghadirkan emas bagi Indonesia. Bukan malah menjadikan wajah dan penampilan sebagai judul utama.

Penyakit media yang seperti ini justru mengikis empati masyarakat mengenai peluh dan perjuangan pada atlit, dan malah hanya fokus ke wajahnya saja. Juga mengindikasikan bahwa penghargaan lebih akan dimiliki oleh para atlit berparas baik (versi media), dibandingkan oleh atlit yang media anggap hanya memiliki wajah yang standar.

BACA JUGA :  Indonesia DARURAT Kekerasan Perempuan! Cinta Bukan Kekerasan, dan Kekerasan Bukan Cinta.

Padahal seharusnya prestasi dalam dunia perlombaan besar seperti ini, tidak boleh timpang hanya karena rupa. Media Indonesia harus berbenah, dan mulai memikirkan lagi tanggungjawab mereka sebagai pembentuk kognisi masyarakat.

Mau memberikan klarifikasi atau malah mau membodohi?

Related posts